Allea

Allea
Chapter 36. Berbaikan



"Lo ngapain teriak-teriak, sih? Mana suara lo ngelengking banget lagi!" cecar Iqbal yang refleks bangkit dari kasur Allea.


"Seharusnya aku yang nanya, kamu ngapain tidur di kasur Allea?"


"Cleo, ini kamar Allea. Dan, lo lupa kalau Allea itu adik gue. Wajar kali kalau gue masuk kamarnya. Lagi pula, gue sudah biasa kayak gini. Tidur di atas kasur adik gue," bantah Iqbal tidak mau kalah.


"Aku tahu kalau kamu biasa kayak gini, tapi masalahnya aku juga tidur di kamar Allea dan kamu lupa itu. Harusnya kamu bisa ngargai aku sebagai tamu adik kamu di rumah ini!" Bukan hanya Iqbal, tapi Cleo juga tidak mau kalah darinya.


Vena dan Andre baru saja pulang. Dari ruang tamu, mereka mendengar perdebatan yang terjadi antara Iqbal dan Cleo. Membuat keduanya cepat menghampiri Iqbal dan Cleo.


"Ada apa ini? Kenapa kalian ribut malam-malam begini?" tanya Andre.


"Si Cleo ini masa teriak-teriak. Mana suaranya ngelengking lagi," protes Iqbal.


"Aku teriak bukan tanpa sebab kok, Tante, Om. Aku teriak karena lihat Iqbal tiduran di atas kasur Allea."


"Gue 'kan sudah bilang sama lo kalau gue sudah biasa kayak gitu. Lo saja yang enggak kebiasaan."


"Tapi, Tante ... Aku 'kan orang baru di rumah ini. Meskipun Iqbal biasa kayak gitu, tapi aku ini 'kan orang lain di rumah ini. Beda sama Iqbal dengan Allea."


"Bal, yang dibilang sama Cleo itu benar. Harusnya selama Cleo tinggal di sini, apalagi saat dia tidur di kamar Allea. Harusnya kamu jangan pernah memasuki kamar Allea dengan alasan apapun. Karena Cleo pasti akan canggung dengan adanya kamu di kamar Allea," nasehat Andre.


Vena juga setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. Bagaimanapun Cleo tidak bisa disalahkan, terlebih lagi ia hanya tamu di rumah itu.


"Ya sudah, Cle, kamu masuk ke kamar dan istirahat. Om dan Tante mau ke kamar dulu," kata Vena. Usai berlalunya Vena dan Andre, Cleo tersenyum seolah mengejek Iqbal karena ia mendapati pembelaan dari Vena dan Andre.


"Lo sengaja jadi propokator di rumah ini, supaya gue kena marah?" tebak Iqbal.


"Siapa yang jadi propokator? Lagian apa yang aku katakan benar dan mama papa kamu juga membenarkan apa yang aku bilang." Cleo merasa menang, ia langsung menjulurkan lidahnya ke Iqbal lalu cepat-cepat masuk ke kamar.


"Rasain, anggap saja ini balasan karena kemarin kamu sudah buat aku malu di depan keluarga kamu," batin Cleo yang masih kesal dengan Iqbal kalau mengingat sikapnya kemarin kepadanya.


Allea baru saja sampai di depan rumah Ryan. Ia melihat Ryan yang baru saja pulang entah dari mana. Namun, itu tidak penting dan Allea tidak mau mempermasalahkannya. Sebelum Ryan memasuki rumahnya, Allea segera menghampirinya.


"Ryan ..." Suara Allea membuat Ryan menoleh ke arahnya. Mereka berdua saling tatap dan perasaan itu tidak bisa dibohongi kalau pada kenyataannya sepasang kekasih itu saling merindu. Tidak lama lagi Allea pun langsung memeluk erat tubuh Ryan.


"Maafin aku, Ryan. Aku sudah salah karena menuduh kamu. Aku selalu berpikiran buruk tentang kamu, menuduh kalau kamu punya hubungan dengan Syarla di belakang aku. Padahal semua itu hanya kecemburuan aku dan yang sebenarnya kamu tidak melakukan apa-apa dengannya."


"Aku tahu kalau foto itu jebakan agar aku marah dan hubungan kita hancur, tapi dengan bodohnya aku malah bersikeras memaksa agar kamu mengakuinya. Lantas, bagaimana bisa kamu mengakuinya, sedangkan kamu tidak sama sekali melakukan apapun dengan Syarla?"


Allea melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah lelaki yang menjadi kekasihnya itu dengan perasaan haru.


"Yang ada di dalam hati dan pikiran aku cuma ada kamu. Syarla hanya masa lalu di dalam hidup aku dan sampai kapanpun. Sekarang, aku cuma mau kamu dan bersama kamu selamanya," ucap Ryan.


Kemudian, lelaki itu masuk sebentar ke dalam rumahnya lalu ia keluar kembali membawa kotak perhiasan yang ditunjukannya pada Iqbal tadi.


Ryan menunjukannya pada Allea, lalu ia membukakan dan memberi cincin berlian yang ada di dalam kotak itu ke jari manis Allea. "All, aku mau kamu dan aku secepatnya tunangan. Aku enggak mau kalau kamu ngerasa aku cuma main-main dan dituduh yang enggak-enggak lagi dengan Syarla."


"Kamu ngeledek aku?" tanya Allea sembari tertawa tipis dan Ryan juga menyambut tawaan tipis kekasihnya itu. "Aku sudah minta maaf, lho. Kalau enggak, aku tarik saja permintaan maaf aku dan aku marah lagi sama kamu."


"Jangan dong ... Nanti aku jadi syedih."


"Apaan sih kamu, alay banget," ucap Allea sembari tersenyum simpul.


Allea mulai merasa lega karena sudah berbaikan dengan Ryan. Kini ia percaya kalau Ryan memang seserius itu padanya.


"Sebentar lagi kamu tidak akan pernah bisa merebut Ryan dari aku, Syar, karena cinta Ryan sekarang cuma buat aku," batinnya sembari menatap Ryan dengan senyum yang terlukis indah di bibir Allea.


Allea pulang dalam keadaan bahagia. Sepanjang jalan hingga sampai di rumahnya, kejadian tadi membuatnya. tersenyum-senyum sendiri.


"All, kamu kenapa?" tanya Cleo yang melihat Allea masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu kamar lebih dulu, lalu menjatuhkan dirinya begitu saja ke atas kasur. Cleo yang tadinya sedang duduk di depan meja belajar mengerjakan pekerjaannya, langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Allea.


"All, kamu enggak kerasukan atau salah minum obat, 'kan?" Sekali lagi Cleo bertanya sembari menggoyangkan tangan perempuan itu.


"Lo lihat ini," kata Allea sembari menunjukan cincin berlian yang tersemat di jari manis tangan kanannya. "Ryan ngelamar gue dan dia mau kami ini tunangan."


"Ini serius?" tanya Cleo sembari memegang tangan Allea. Ia senang karena tidak lagi melihat mimik wajah yang sedih dari raut wajah sahabatnya itu.


"All, aku ikut senang. Aku senang banget, selamaaatttt," ucap Cleo memberi selamat sambil memeluk Allea.


Allea menatap langit-langit kamarnya. Ia bercerita panjang lebar pada Cleo, betapa bahagianya dirinya kini.


Ceritanya tidak terhenti sejak tadi, sampai-sampai membuat Cleo tidak fokus melanjutkan pekerjaannya.


"Kamu perempuan yang beruntung banget, All, karena kamu punya semuanya. Enggak seperti aku yang tidak punya siapa-siapa lagi. Orang tua, Kakak, dan pacar, sama sekali aku enggak punya satupun dari itu semua. Sedankan kamu, kamu punya semuanya," batin Cleo sembari menatap Allea yang masih bercerita panjang padanya.