Allea

Allea
Chapter 40. Sesal Tiada Guna



"Kamu kenapa, Bal?" Ryan pun bingung setelah mendapatkan hantaman keras dari Iqbal.


"Harusnya tanya sama diri lo sendiri, apa perbuatan lo sudah wajar? Dan, wajar kalau Allea marah besar sampai enggak mau ketemu lo!"


Di bawah derasnya hujan yang membasahi, mereka berdua berkelahi saling hantam dan saling cecar.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Cleo? Kenapa setelah kamu bicara sama Iqbal malah ngebuatnya marah besar, lalu memukul Ryan?" Cleo diam membisu, ia tidak tahu harus menjawab apa.


Cleo tidak mau keadaan makin rumit kalau Vena dan Andre tahu yang sebenarnya. Maka itu ia memutuskan untuk memberi tahu Iqbal saja. Ia tidak mau juga kalau lelaki dan perempuan paruh baya itu malah khawatir berlebihan. Padahal ini bisa diatasi oleh dirinya dan Iqbal saja.


Andre memaksa Cleo untuk menjawab yang sebenarnya. Disaat hampir saja membuka suara, Allea keluar kamar. "Iqbal dan Ryan kenapa, Ma, Pa?" Perempuan itu tidak sengaja melihat mereka berdua berkelahi. Padahal selama ini Iqbal paling yakin pada Ryan.


Allea melihat wajah Cleo tidak enak ketika ia menatap lekat wajah Cleo. Sudah bisa ditebak kalau Cleo telah menceritakan keseluruhan dari permasalahan yang ada.


"Cleo, kamu kenapa cerita sama Iqbal?"


"All, maafin aku tapi andai pun kamu tidak cerita ke Iqbal, cepat atau lambat semua akan terbongkar. Bukan hanya Iqbal saja, tapi papa dan mama kamu akan tahu semuanya."


"Aku cuma enggak mau melibatkan mereka. Aku cuma mau hubungan aku dan Ryan berakhir dengan cara aku sendiri saja." Allea tidak bisa membiarkan perdebatan itu terus terjadi. Ia pergi berteriak memanggili Iqbal, namun lelaki itu tidak mendengar suara Allea akibat kalah dengan suara deraian hujan.


"Maksud kamu apa, Iqbal? Aku enggak ngerti."


Iqbal mengumpat Ryan dengan sangat kasar, lalu ia cerita semua kabar yang didapatinya dari Cleo.


Suara petir berbunyi lebih deras dari yang tadi. Tidak menyangka kalau Allea sudah tahu apa yang terjadi. Pantas saja ia tidak sudi menemui Ryan saat itu.


Bagaimana terlukanya perasaan Allea saat itu, Ryan sudah bisa menebak. Bahkan ketika Ryan saja yang ada di posisi perempuan itu, ia pasti sangat sakit dan akan melakukan hal yang sama seperti Allea. Menjauh darinya.


"Iqbal, kamu harus dengari penjelasan aku. Aku tidak mungkin lakuin itu, aku dijebak. Kamu tahu persis aku bagaimana dan selama ini cuma kamu yang percaya sama kamu ketika Allea tidak percaya. Tapi, kenapa malah kami ikut menuduh aku?"


"Aku memang selalu berpihak sama kamu, tapi aku tidak menyangka kalau yang aku percaya menyakiti adikku sendiri," kata Iqbal lalu kembali menghantam wajah Ryan hingga membuatnya hampir tersungkur.


"Kalau lo memang benar dan dijebak. Tidak melakukan hal yang tidak benar, lo kasih bukti sama gue sebagai tanda memang lo enggak salah. Kalau enggak, jangan pernah lo dekatin Allea lagi."


Ancaman Iqbal tidak main-main, ia tidak pernah terima jika Allea dipermainkan oleh lelaki lain. Bahkan Rangga yang sebagai sahabat kecilnya saja bisa ditinggalnya dan tidak dianggap lagi sahabat karena sudah menyakiti Allea.


Iqbal masuk, ia langsung menarik masuk Allea ketika perempuan itu berdiri di teras rumah. Lantas, Ryan berdiri tergopoh-gopoh dengan luka memar yang ada dibeberapa bagian wajahnya.


"Karena gue enggak pernah terima lihat lo disakiti sama orang lain, baik dia laki-laki atau sekalipun perempuan!"


"Disakiti?" tanya Vena. "Maksudnya Ryan selingkuh seperti Rangga dulu?"


"Ini belum pasti, Ma, tapi kalau memang benar terbukti Ryan melakukan hal itu. Aku enggak akan maafin dia dan Allea tidak boleh lagi bersamanya," terang Iqbal tegas.


Tidak ada yang bisa dilakukan Ryan, kecuali hanya penyesalan dalam diri. Ia merasa hidupnya hancur karena terlalu menaruh rasa percaya pada mantan kekasih.


Syarla yang dianggapnya baik dan tulus selama itu. Tidak pernah menyalahkan dan berusaha menyakiti orang lain, tapi kini ia sudah berubah jadi monster yang menakutkan untuk dipercaya kembali.


Ryan pun pergi dari sana menemui Syarla ke apartemen. Dengan basah kuyup ia membuat Syarla khawatir.


"Kamu enggak perlu pura-pura khawatir sama aku, Syar. Pura-pura bahagia dengan hubungan aku dan Allea selama ini. Padahal selama ini kamu otak dari semuanya. Kamu melakukan semuanya sendiri dengan rapi, hebat kamu."


"Apa yang kamu maksud, An? Aku enggak ngerti yang kamu bahas apa dan otak dari apa? Aku enggak ngelakuin apa-apa," bantah Syarla. "Oh, apa semua ini karena kejadian apa yang kamu lakukan ke aku?"


"Tutup mulut kamu, cabut perkataan kamu, dan jangan pernah bilang kalau aku yang melakukannya. Padahal kamu menjebak aku dan membuat Allea tahu semuanya."


Manik mata Syarla berkaca-kaca, ia tidak menyangka Ryan menuduhnya dan berkata kasar setelah apa yang dilakukannya. Bukannya harusnya Ryan mempertanggungjawabin perbuatannya? Lantas, kenapa seolah lelaki itu benar dan tidak bersalah.


"Jangan nangis, Syarla. Aku tidak percaya kalau sekarang kamu sepicik ini."


"Cukup, Ryan! Cukup karena kamu menuduh aku yang bukan-bukan. Apa aku harus mengulang dengan perkataan apa yang kamu lakukan dan apa yang kamu ucapkan? Supaya kamu sadar akan perbuatan kamu. Ingat, Ryan, kalau benar aku mengandung anak kamu dan otomatis kamu harus bertanggung jawab," kata Syarla memperingatkan.


"Aku tidak akan membiarkan diri aku menanggung ini semua sendiri, Ryan. Aku enggak peduli bagaimana hubungan kamu dan Allea. Bahkan aku tidak sama sekali peduli dengan perasaan Allea. Yang aku peduli adalah perasaan aku, diri aku, dan bagaimana kamu bertanggung jawab dengan perbuatan kamu ke aku!"


Syarla masuk ke apartemen dan tidak meminta Ryan masuk kali ini. Ia berhasil berpura-pura kesal dan tak berdaya dengan sikap kasar Ryan. Lalu, di dalam apartemen ia tersenyum sembari menyeka air matanya


"Kamu pikir, kamu bisa lari dari aku, Ryan?" gumamnya. "Dulu aku memang pernah tinggalin kamu seorang diri, tapi buat kali ini aku enggak akan biarin kamu lari dari aku lalu dimiliki perempuan itu karena kamu milik aku, Ryan. Dan, sekali lagi aku menegaskan kalau kamu milik aku!" batin Syarla puas.


Syarla berharap kalau dirinya benar-benar hamil dan akhirnya ia bisa menikah dengan Ryan tanpa alasan lelaki itu bisa menolak untuk bertanggung jawab atas diri Syarla.


Ryan begitu kesal dan kehabisan akal untuk berpikir, sedangkan Syarla merasa puas karena berhasil menghancurkan hubungan Allea dengan Ryan dan akhirnya membuat Ryan sebentar lagi jadi miliknya.


"Terima kasih, Ryan. Sebab, dengan cara kamu datang ke apartemen aku tadi malam, itu artinya kamu sudah membuka peluang buat aku miliki kamu," ucap Syarla puas.