Allea

Allea
Chapter 11. Cinta yang Disia-siakan



Malam itu Allea terlihat sibuk di dapur dengan bahan kue dan tepung yang sedikit berserak di atas kitchen set. Suara mixer terdengar hingga ke ruang tengah, membuat Vena dan Andre penasaran soal apa yang dilakukan Allea.


Vena dan Andre menghampiri Allea, mereka melihat jelas wajah yang penuh senyum bahagia menghiasi bibir Allea.


"Allea, kamu lagi ngapain?" tanya Vena.


"Aku lagi buat kue buat Rangga, Ma, Pa. Besok Rangga itu ulang tahun, jadi aku pengen banget ngasih kejutan sama dia. Pasti Rangga senang banget."


Seketika, Vena menatap wajah Andre yang sama bingungnya seperti dirinya. Vena ingin sekali melarang Allea, tapi pasti gadis itu tetap akan melakukan apa yang mau dilakukannya.


Berbeda dengan Andre yang tidak mau melihat Allea terus seperti ini. Membabi buta karena cinta yang sudah mematahkan hatinya. Justru, ia ingin melarang Allea agar tidak melakukan apa-apa lagi untuk pemuda yang sudah mengkhianatinya.


Namun, Vena menghalangi Andre ketika pria paruh baya itu hampir saja membuka suara. Sebagai sesama perempuan, tentu Vena lebih mengerti perasaan Allea ketimbang Andre.


"Aku cuma tidak mau anakku gila gara-gara pemuda itu," kata Andre dengan suara yang mengecil agar tak terdengar Allea.


Vena menoleh ke arah Allea. Melihat wajahnya yang begitu semringah, membuat Vena tidak tega. Wanita itu langsung membawa Andre ke ruang tengah kembali.


"Kenapa kamu bawa aku ke sini, Ma?" tanya Andre sambil mengerutkan dahinya.


"Jangan dulu, Pa. Biarkan saja dulu Allea melakukan apa yang mau dia lakukan."


"Mau sampai kapan? Sampai Allea gila karena tidak berhasil menerima kenyataan bahwa anak kurang ajar itu sudah mengkhianatinya?"


"Pa, Mama tahu dan mengerti maksud Papa. Mama juga tidak mau melihat Allea seperti itu, tapi Allea sudah dewasa. Dia tahu mana yang benar dan salah. Semua tinggal menunggu waktu dan nanti aku ataupun Iqbal akan bicara pelan-pelan sama Allea."


Andre hanya menghela napas. Wajar saja sebagai seorang ayah, ia sangat takut anak perempuannya tidak terkontrol oleh cinta yang membuatnya menderita. Berjuang untuk orang yang sudah menyakitinya, itu hanya membuat semua menjadi sia-sia.


"Percaya sama aku, ya. Aku yakin kalau Allea pasti sadar dengan apa yang dilakukannya sebentar lagi." Vena memberi pengertian pada Andre. Meskipun awalnya sulit, tapi akhirnya berhasil walau lebih banyak berat hati yang dirasakan Andre sebagai papa Allea.


***


Pagi itu Allea sengaja datang lebih pagi demi memberi kejutan pada Rangga. Ia membawa kue yang sudah dibuatnya repot-repot tadi malam hanya untuk Rangga.


Suasana kampus belum seramai seperti biasanya. Allea membawa kue buatannya dan meletakannya di atas meja Rangga. Dari kejauhan ia memantau kedatangan Rangga.


Tidak lama kemudian, terlihat sosok Rangga yang berjalan bersama Daren mengarah kelas mereka. Rangga bingung melihat sebuah kotak putih yang ada di atas mejanya. Rasa penasarannya membuatnya membuka kotak itu.


Sebuah kue dengan tulisan di atas cokelat batang, 'Happy Birthday, Sayang'. Tulisan itu membuat Rangga tersenyum lebar karena tebakannya adalah pemberian Rhea.


Di tengah Daren menggoda Rangga, Iqbal masuk ke kelas dan duduk di kursinya. Ia begitu acuh dengan adanya Rangga dan Daren di sana.


"Gue enggak nyangka, Rhea bisa seromantis ini sama gue." Rangga berkata dengan intonasi membesar agar Iqbal mendengar apa yang dikatakannya.


"Rangga, gimana? Kamu suka sama kuenya? Seperti biasa setiap tahun, aku selalu buatin kamu kue ulang tahun. Ini kue buatan aku, Ngga."


Melihat Allea seperti gadis yang mengemis cinta karena cintanya tak dihargai, membuat Iqbal menghampiri Allea dan menyadarkannya.


"All, lo ngapain di sini?" tanya Iqbal.


"Gue lagi ngasih kejutan buat Rangga, Iqbal."


"Gue tahu, tapi buat apa? Lo harus sadar kalau cowok kayak dia enggak pantas dapati ketulusan dari lo."


"Apaan sih, Iqbal. Gue yakin, Rangga masih punya perasaan yang sama ke gue." Allea masih belum bisa terima kenyataan.


"Maafin gue, Allea. Gue udah enggak bisa lagi sama lo, karena gue sudah sama Rhea. Lebih baik, lo ambil kue ini balik. Makasih atas niat baik lo buat gue, tapi tetap saja gue enggak bisa terima," kata Rangga tanpa peduli rasa sakit Allea.


Allea kembali histeris, ia tidak yakin kalau Rangga menolaknya. Cinta yang dimiliki Rhea untuknya hanya cinta semu yang sesaat akan hilang dimakan waktu, sedangkan cintanya pada Rangga selalu sejati.


Allea memberikan asumsi-asumsi di luar nalar. Mana ada cinta sejati, melainkan cinta ketika sepasang kekasih sudah menjadi suami dan istri. Tapi, Allea tetap menolak kenyataan di depan mata.


Iqbal membawa paksa Allea keluar dari kelasnya. Ia membawa Allea duduk di taman dan di bawah pohon rindang. Dalam tangis Allea, Iqbal memeluknya erat gadis itu. Ia tidak mau melihat gadis itu hancur semakin parah.


"Kamu harus sadar, All, kalau Rangga tidak mencintai kamu lagi. Cowok pengkhianat seperti dia tidak akan pernah pantas mendapatkan perempuan baik seperti kamu. Aku yakin, suatu saat hubungannya dengan Rhea tidak panjang karena hubungan mereka berawal dari sakitnya hati kamu, All."


Dengan lembut, Iqbal mengelus kepala Allea. Terlihat, ketulusan dari sikap Iqbal kepada Allea. Betapa Iqbal mencintai gadis itu, namun perasaan itu dikuburnya demi melindungi Allea. Ia berkorban agar gadis itu tidak menjauhinya.


Allea melepaskan pelukan Iqbal darinya, lalu Iqbal menyeka air matanya. Setelah itu, pemuda itu memegang erat tangan Allea.


"All, setelah nyokap menikah sama bokap lo, gue sudah anggap bokap lo seperti bokap gue sendiri. Gue juga sudah janji bukan hanya sama mama dan papa kita, tapi dengan diri sendiri. Selama gue masih ada di atas bumi ini, dengan sekuat tenaga gue akan menjaga lo."


Mendengar itu, Allea tertawa kecil. Tawa itu terdengar lucu.


"Kenapa lo ketawa?" tanya Iqbal bingung.


"Mana mungkin lo jagain gue terus. Kalau lo sudah nikah dan punya keluarga, pasti waktu lo akan berkurang buat gue dan lo bakal lebih memperioritaskan keluarga lo. Istri dan anak-anak lo."


Iqbal ikut tertawa bersama Allea. Apa yang dikatakan Allea benar. Namun, meskipun begitu Iqbal tetap akan siap memasang badan demi melindungi Allea, sekalipun nanti Allea sudah menikah dengan lelaki pilihannya.


Dari jauh, terlihat Ryan yang sedang menatap lekat wajah Allea. Senyum manis Allea membuatnya tersenyum akibat terpesona karena kecantikan gadis itu.


Allea memang lebih baik dan terlihat lebih cantik disaat seperti ini, dari pada harus menangisi Rangga yang sudah menjadi penjahat hati gadis itu.


"Aku berharap, kamu tidak akan pernah sedih lagi seperti yang sudah-sudah. Sebab, air mata kamu terlalu berharga terbuang sia-sia."