Allea

Allea
Chapter 22. First Kiss



Ryan terlihat sedang berdiri memperhatikan kedatangan sang kekasih yang hanya bisa bertatap muka dari jarak yang sangat jauh melalui video call. Matanya menatap terus ke arah pintu keluar kepulangan para penumpang.


Tidak lama kemudian, muncullah Allea dari arah pintu yang diperhatikan Ryan sejak tadi. Pemuda itu melambaikan tangan, memberi petunjuk pada Allea agar gadis itu bisa menandainya.


Kedua mata Allea mendapati Ryan berdiri di ujung sana. Dengan senyum yang merekah gadis itu menghampiri dan memeluknya erat. Ryan menerima pelukan itu hangat.


"Apa kabar lo?" tanya Allea.


"Seperti yang lo lihat, gue baik-baik saja dan ditambah lagi kalau gue bahagia banget atas kepulangan pacar kesayangan gue ini," ucap Ryan sambil melebarkan kedua tangannya di hadapan Allea.


"Gue juga kengen banget sama lo, Ryan." Allea kembali memeluk erat pemuda itu, serasa tidak ingin melepaskannya. Setelah kepulangannya, membuat Allea semakin mencintai Ryan. Sama seperti Ryan yang tidak pernah berubah sedikitpun dengan perasaannya kepada Allea.


Tidak berlama-lama lagi, Ryan segera membawa gadis itu pulang ke hadapan keluarganya. Sembari membawa koper kekasihnya, ia juga memegangi erat tangan gadis itu.


"Jakarta masih sama kayak dulu, enggak sih?" tanya Allea. Ia ingin tahu keberadaan kota kelahirannya dan kota yang juga menjadi tempatnya dibesarkan setelah lama ditinggal pergi.


"Jakarta masih sama, begini-begini saja. Yang buat beda itu kehidupan gue setelah ditinggal lo pergi." Allea tersipu malu mendengar dirinya digoda oleh Ryan.


"Ryan, selain mengejar mimpi gue di Jerman. Lo ingat 'kan tujuan gue pergi ke sana buat apa?" tanya Allea sembari menoleh ke wajah Ryan. Pemuda itu mengangguk, masih mengingat jelas tujuan kepergiannya.


"Sekarang gue ngerasa sudah lebih baik dari dulu. Semua yang pernah ngebuat gue sakit, sedih sudah enggak ada lagi. Gue harap bersama lo, gue enggak lagi ngerasain luka yang pernah gue alami dulu." Terus terang gadis itu berharap besar kepada Ryan, kepada lelaki yang kini menjadi kekasihnya.


"Gue ngerti apa yang lo mau, All. Gue enggak bisa banyak janji terlalu banyak, tapi gue akan berusaha semampunya untuk tidak mengkhianati dan menyakiti lo."


Tidak lama kemudian, Allea dan Ryan sampai di rumah gadis itu. Terlihat lokasi rumah tampak tak berpenghuni. Tidak terlihat satu orang pun di sekitarnya. Padahal semua orang tahu kalau hari ini adalah hari kepulangan Allea.


Allea membuka handle pintu. Anehnya pintu rumah tidak terkunci, tapi di dalam juga tidak ada siapa-siapa. "Kok pintu enggak di kunci, ya? Tapi enggak ada siapa-siapa di dalam," gumam Allea pada Ryan.


"Mungkin mama dan papa kamu di kamar kali." Ryan menahan diri untuk tetap berpura-pura di depan Allea.


"Sureprise!" Semua orang keluar menampakan diri di hadapan Allea, memberi kejutan padanya. Seketika itu, mereka berhasil membuat gadis itu syok. Jantungnya hampir saja copot, namun tidak dipungkiri kalau ia begitu senang menerima ini semua.


Allea begitu bahagia menerima ini semua. Rasa rindunya kepada mereka sungguh luar biasa. Tidak menyangka kalau hari ini diberi kesempatan untuk bisa pulang, menginjakan kaki di rumah, dan bisa bertemu dengan mereka semua.


"Mama ... Papa ..." Pelukan utama Allea ke arah Vena dan Andre, dua orang yang paling ia rindukan setelah Ryan. Dua orang yang begitu berharga baginya sampai kapanpun. "Aku kangen banget sama Mama dan Papa."


"Akhirnya, kamu pulang ke Jakarta. Setelah ini, Papa mohon kamu jangan pergi ke mana-mana lagi. Sebab, kami enggak sanggup kalau harus jauh lagi dari kamu, Nak," kata Andre.


"Iya, apa lagi gue. Gue bakal kesepian banget pas lo enggak di Jakarta. Enggak ada teman berantem," aku Iqbal. "Lo mau berdiri di situ saja? Enggak kangen gue dan coba meluk gue, kakak lo ini?" Allea menatap haru Iqbal yang sejak dulu selalu berusaha menjaganya baik. Bahkan, rela membuang sahabat lamanya karena sudah menyakiti hatinya.


Kemudian, ia melangkah dan menyambut Iqbal yang sejak tadi sudah berdiri menunggu gadis itu memeluk dirinya. "Makasih, ya, lo sudah tepati janji buat jagain Mama dan Papa. Gue memang enggak salah punya abg kayak lo dan ngandalin lo."


"Sudah kewajiban gue juga buat ngejaga Mama dan Papa. Mereka orang tua kita sama-sama, Allea. Jadi, lo jangan ngerasa sendiri untuk ngejaga Mama sama Papa."


"Papa dan Mama sangat beruntung punya anak seperti kalian berdua. Terima kasih karena kalian selalu akur dan selalu jadi anak yang baik buat kami berdua," kata Andre sembari merangkul kedua anaknya itu.


***


Malam itu di rooftof rumah Allea, ia duduk menatap tengah kota Jakarta bersama Ryan. Memandangi lampu-lampu jalanan yang indahnya tak luput oleh pandangan. Setelah lama tidak bertemu, rasa rindu berkecamuk dalam diri mereka.


"Malam ini kota Jakarta indah banget, ya. Mungkin karena sudah empat tahun gue enggak lihat Jakarta kali, ya? Makanya sekali pulang ke Jakarta, semua tampak berbeda ," kata Allea sembari bersandar di bahu Ryan dengan pandangan yang fokus ke arah ujung kota.


"Bukan karena lo yang sudah lama enggak lihat keadaan Jakarta, tapi karena malam ini ada lo di sini," seru Ryan sembari memuji kekasihnya itu.


Allea menegakan kepalanya dan menatap Ryan. Sepasang mata Allea dan Ryan saling bertemu. Perlahan wajah mereka memaju saling dekat, sampai akhirnya kedua bibir itu saling menyentuh.


"All, terima kasih karena lo sudah bersedia menerima cinta gue. Gue janji bakal ngejaga dan ngelindungi lo," janji Ryan.


"Lo enggak perlu janji sama gue, tapi gue cuma butuh lo ngelakuin semua dengan perbuatan. Gue mau lo buktiin semua dengan sikap lo ke gue. Dan, yang harusnya berterima kasih itu gue. Lo selalu baik sama gue dari dulu. Padahal gue selalu jutek dan cuek sama lo. Bahkan, sampai sekarang lo tetap nunggu gue dengan perasaan yang sama sampai gue balik lagi ke Jakarta."


Memang tidak bisa dipungkiri, usaha Ryan menanti kepulangan Allea dengan begitu setianya perlu diacungkan jempol. Ryan tidak pernah goyah walau hanya sekali.


Bukan tidak banyak yang mencoba mendekatkan diri pada Ryan, hanya saja ia yang menjaga jarak dengan semua perempuan yang mencoba mendekatkan diri karena perasaannya yang masih setia dengan Allea.


Beruntungnya, Allea juga melakukan hal yang sama saat keberadaannya ada di Jerman. Ia menjaga hati dari lelaki mana saja di sana untuk tetap setia pada Ryan, sampai akhirnya tiba waktunya Allea pun kembali ke Jakarta. Kini ia bertemu dan bersatu lagi dengan Ryan.


Tidak ada lagi luka yang menggores di hatinya kini.