Allea

Allea
Chapter 30. Insiden Melukai Hati



Ryan dan Syarla berada di Restoran Seafood yang terkenal di Jakarta. Di sana mereka bertemu dengan beberapa klien yang akan membangun cabang baru restoran di kota Bandung.


Tidak heran mereka meminta perusahaan Ryan dan Syarla sebagai jasa yang mengatur semua pembangunannya, karena memang jasa dari perusahaan Ryan dan Syarla paling bagus di antara semua yang ada.


Allea mengajak Cleo yang batu saja sampai di Jakarta untuk makan di Restoran Seafood. Allea sengaja merekomendasikan restoran tersebut karena ia tahu kalai Cleo sangan mencintai sejenis makanan seafood.


"Cle, aku yakin kalau kamu pasti suka sama restoran pilihan aku. Setelah makan dari sana, pasti besok-besok kamu bakal ngajak aku lagi buat makan di sana," cerita Allea sembari mengemudi mobilnya.


"Kamu yakin? Pokoknya, awas saja kalau enggak enak," ancam Cleo.


"Kalau memang enggak enak, besok-besok aku traktir kamu lagi makan di tempat lain. Kita cari restoran seafood lain yang lebih enak dari ini." Allea dan Cleo tertawa bersama di sepanjang jalan.


Iya, Allea memang sengaja menjemput Cleo dari bandara. Rencana juga ia akan membawanya menginap di rumah. Untungnya, Vena dan Andre sudah lebih dulu menyetujui sebelum Allea membawa Cleo ke rumahnya.


"Siap ini kamu temani aku cari hotel buat nginap, 'kan, All? Soalnya lama di Jerman buat aku lupa sama jalan Jakarta. Kayaknya sudah banyak perubahan di Jakarta."


"Kamu enggak perlu cari hotel sebagai tempat tinggal, Cle. Aku sudah ijin sama mama dan papa aku supaya kamu diijini tinggal di rumah aku selama kamu di Jakarta."


"All, tapi aku enggak enak kalau harus ngerepoti kamu terus. Aku enggak apa-apa kok, aku tinggal di hotel saja, ya." Allea pun menggeleng, ia tidak mau jika Cleo harus menginap di hotel.


"Kalau aku bilang enggak tetap enggak, Cleo. Kamu harus tinggal di rumah aku dan itu harus!" Mendengar Allea terus memaksa dan tidak mau ditolak, membuat Cleo mengiyakan ajakan perempuan itu.


Selama perjalanan hidupnya, Cleo tidak pernah bertemu dengan orang sebaik dan setulus Allea padanya. Ia merasa beruntung karena mempunyai teman baik seperti Allea.


Tidak sengaja Syarla menyenggol minumnya hingga tumpah mengenai Ryan. Seketika itu membuat celana dan jas yang dikenakannya basah dan kotor. "Ya ampun, Ryan, maafin aku. Aku benar-benar tidak sengaja."


Syarla merasa bersalah karena sudah mengacaukan metting hari ini. Ia langsung mengambil kain lap yang ada di atas meja untuk mengelap noda dan air yang ada di pakaian Ryan. Kala itu tidak sengaja tangan Ryan menyentuh tangan Syarla dan membuat mereka diam dan saling tatap.


Lantas, di sana seseorang telah memantaunya. Siapa sangka kalau niatnya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Cleo, ternyata malah melihat yang tidak semestinya.


Allea terdiam membisu sembari melihat Ryan dan Syarla saat itu. Hal yang tidak seharusnya dilihatnya. Nyatanya, lelaki itu sudah berjanji padanya untuk menjaga jarak antara dirinya dan Syarla agar menjaga pikiran negatif Allea.


Namun, kenapa hari ini Allea harus melihat semuanya? Bahkan ia melihat tangan Ryan yang memegang tangan Syarla. Ia juga diam saja saat dengan sadarnya Syarla menyentuhnya.


"Apa-apaan ini?" Allea menghampiri mereka. Ia hilang kendali tanpa sadar kalau ada orang lain di sana. Tentu saja membuat Ryan dan Syarla, termasuk klien mereka kaget.


"Allea, kamu ada di sini?" tanya Ryan.


"Aku yang harusnya tanya, apa yang kalian lakukan? Pegang-pegangan tangan kayak tadi. Apa kalian dua ada main di belakang aku?"


Sungguh Allea malu saat itu, namun kekesalannya lebih besar dari apapun ketika melihat Syarla yang mungkin telah mengambil kesempatan ini agar Ryan kembali luluh padanya.


"Cle, ayo kita pergi dari sini." Allea tidak bicara apa-apa lagi, ia malah menarik tangan Cleo sampai luar restoran.


Ia menangis sesenggukan karena tidak dihargai oleh Ryan, sedangkan Syarla malah tersenyum puas melihat perdebatan mereka.


Awalnya Syarla memang benar-benar tidak sengaja dengan apa yang terjadi barusan, tapi siapa sangka kalau apa yang terjadi barusan malah jadi bumerang untuk Allea dan Ryan. Lantas, menjadi hal yang baik untuknya.


Seakan keberuntungan berpihak padanya dan itu artinya akan semakin mudah baginya untuk mendapati simpatik Ryan. Lalu, ia akan merebut kembali Ryan ke dalam pelukannya seperti dulu.


"Pak Ryan, sepertinya metting hari ini harus kita tunda saja. Karena sudah terlalu ricuh dan tidak enak lagi untuk disambung. Nanti Bapak bisa ajukan jadwal baru untuk kita bahas kembali semuanya. Kami menunggu kabar Bapak dan Bu Syarla."


Lelaki paruh baya itu bersama dengan yang lainnya meninggalkan Ryan dan Syarla di tempat. Ryan benar-benar tidak habis pikir karena Allea harus kekanak-kanakan seperti tadi.


"Ryan, maafin aku, ya. Gara-gara aku semua jadi seperti ini dan kita malah kehilangan klien," kata Syarla menyesal namun sebenarnya ia senang.


"Kamu enggak salah, Syar. Apa yang terjadi tadi itu adalah murni ketidaksengajaan dan aku bisa lihat sendiri."


"Tapi masalah kamu dan Allea, justru buat aku jadi enggak enak. Gara-gara aku, kamu dan Allea malah berantem. Padahal sebelumnya kalian sudah baik-baik saja, 'kan?"


Syarla memasang wajah memelas penuh penyesalan. Wajah itu sungguh berhasil menarik perhatian Ryan yang kerap kali akan merasa iba dan tidak mau menyalahkan Syarla atas apa yang terjadi.


Namun, Ryan selalu saja menyalahkan Allea. Beranggapan bahwa Allea yang kekanankan. Padahal ia tidak tahu kalau kesengajaan Syarla membuat mereka saling berselisih paham terus-menerus.


"Syar, aku bersihkan celana dan jas aku dulu ke toilet. Setelah ini aku antar kamu ke kantor." Setelah Ryan berlalu dari sana, Syarla menatap ke arah Allea yang sedang tersedu-sedu merasakan sakit sembari berjalan ke arah parkiran.


"Kamu pikir, kamu bisa bermain-main dengan aku?" gumamnya sembari tersenyum sinis masih fokus menatap kepergian Allea.


"Kamu enggak bisa ngelawan aku, All. Cepat atau lambat aku bisa mendapati Ryan kembali dari kamu, karena seharusnya laki-laki yang menjadi kekasih kamu adalah milik aku, All!"


Di sana Allea masih begitu sedih, ia merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Apa yang harus dilakukannya setelah ini? Ia sudah terlanjur mencintai Ryan yang selama ini selalu memberikan rasa nyaman padanya.


"All, kamu harus tenang, ya. Kalau sudah tenang aku yakin kalau kita bakal nemu jalan keluar untuk masalah kamu." Cleo yang hanya menyaksikan perdebatan tadi, berusaha menenangkan Allea.


Ia tahu bagaimana rasanya terluka karena di khianati. Karena setelah ditinggal selamanya oleh kedua orang tuanya, Cleo juga merasa dikhianati oleh pacarnya hanya karena ia tidak kaya lagi dan kedua orang tuanya meninggalkan hutang yang banyak.