Allea

Allea
Chapter 28. Orang Ketiga



Syarla dan Ryan masih berada di ruang metting setelah pertemuan mereka dengan klien dari Pramanas Cafe. Ryan dan Syarla memang dibutuhkan untuk memberi solusi dalam pengembangan restoran, baik ingin membuka atau yang sudah membuka restoran.


Syarla duduk tidak jauh dari tempat Ryan duduk. Perempuan itu sengaja mengambil kesempatan dalam suasana ini untuk mendekati Ryan. "Ryan, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Syarla sembari dengan sengaja ia memegang punggung tangan Ryan.


Sadarnya Ryan, dengan cepat ia menarik tangannya. Menjauhi tangannya dari tangan Syarla. "Maaf, Ryan, aku enggak sengaja." Syarla langsung menjauhi tangannya dari lelaki itu.


"Sepertinya setelah ini kita akan membuat proposal cara kerja mengembangkan bisnis dengan mudah dan cepat." Ryan mengalihkan pembahasan. "Aku butuh bantuan kamu untuk mengerjakannya."


Tentu saja Syarla bersedia karena ia akan jadi lebih dekat dengan Ryan. Dan, sampai waktunya tiba Syarla yang sudah menunggu Ryan sejak tadi di Cafe Pelangi sangat kecewa ketika melihat Ryan membawa Allea bergabung dengan mereka.


"Tapi, tidak apa-apa. Ini bisa jadi hal yang bagus," batin Syarla. Ia pun bangkit dari duduknya menyambut kedatangan mereka. Dengan sengaja ia membuat kontraversi di depan Allea.


"Hai, Ryan." Tidak memandang Allea sebagai kekasih Ryan, Syarla langsung cium pipi kanan dan kiri Ryan. Lantas, Ryan sudah kalah cepat untuk menghindar darinya.


Allea menatap dengan kagetnya kepada sikap agresif Syarla pada Ryan. Padahal mereka berteman, tapi kenapa justru Syarla melakukan hal yang lebih dari sekedar teman?


Mereka memilih tempat dan duduk bersama. Di tengah itu, Ryan pergi sebentar meninggalkan Allea dan Syarla berdua ke toilet. Kedua mata Allea menatap wajah Syarla tidak suka. Sikapnya benar membuat resah Allea.


"Syar, kenapa tadi kamu lakuin hal itu?" tanya Allea.


"Lakuin apa, All?"


"Cium pipi kanan dan kiri Ryan." Syarla tertawa kecil.


"All, kamu 'kan pernah tinggal di Jerman dan aku rasa kamu tahu kalau di sana seperti tadi itu hal biasa. Aku ngelakuin itu juga karena sudah kebiasaan di Korea. Jadi, apa salahnya, All? Atau kamu cemburu?"


"Itu di luar negeri dan sekarang kita di Indonesia. Aku rasa tidak sepantasnya," bantah Allea.


"Lagian, aku rasa wajar kalau aku tidak suka lihat Ryan dekat sama perempuan lain. Bukan masalah kalah saing atau apapun itu, tapi karena Ryan pacar aku! Lagian, kamu ini teman lama Ryan, tapi kenapa kelakuan kamu harus berlebihan?"


"Teman lama kamu bilang?" Syarla tertawa kecil sembari menatap Allea. "All, apa yang dibilang Ryan kalau aku ini teman lamanya, itu salah. Aku ini bukan sahabat apalagi teman lama, tapi aku mantan pacar Ryan."


"Aku rasa Ryan sengaja enggak jujur sama kamu karena mau menjaga perasaan kamu saja, tapi sebenarnya ..."


"Sebenarnya apa?" tanya Allea.


Tidak lama kemudian, Syarla melihat Ryan berjalan ke arah mereka. Entah apa yabg dipikirkannya, mendadak ia mempunyai ide dan membuat alibi di depan Ryan.


"Lebih baik kamu jujur sebenarnya apa? Dari awal aku pikir kamu ini baik, tapi ternyata kamu penikung!" Tiba-tiba saja manik mata Syarla berkaca-kaca.


"All, kamu kenapa? Kamu nuduh aku selingkuh sama Ryan?" Allea kaget melihat Syarla yang tiba-tiba berubah drastis dan jadi lembut nada bicaranya. Ternyata, ia baru sadar kalau ada Ryan yang menghampiri mereka.


"Kamu tanya saja sama Allea, Ryan. Aku benar-benar tersinggung dituduh sebagai selingkuhan kamu. Padahal aku sudah jelasin kalau aku dan kamu enggak ada hubungan apapun."


"Benar itu, All?" tanya Ryan.


"Enggak seperti itu ceritanya, An." Allea menepis semua yang dikatakan Syarla dan mencoba menjelaskan yang sebenarnya karena memang kenyataannya tidak demikian. Sayangnya, Ryan tidak percaya sama sekali.


Ryan sudah mengenal lama Syarla dan ia tahu bagaimana sifat Syarla yang tidak akan mungkin mengadu domba yang satu dengan yang lain. Namun, ketidakpercayaan Ryan pada Allea membuatnya sangat kecewa pada lelaki itu.


Allea tidak menyangka kalau Syarla akan melakukan ini. Ia menjebak Allea dengan mudahnya. Padahal mereka begitu dekat.


"Ryan, mungkin Allea memang tidak suka kita bekerja sama. Tapi dia cuma berpura-pura mendukung kamu. Lebih baik kamu kerjakan proposalnya sendiri saja dulu. Dan, kamu coba jelasin semuanya sama Allea karena aku enggak mau dijadikan kambing hitam seperti ini."


Setelah berkata itu, Syarla pergi meninggalkan mereka. Bagaimanapun, Ryan akan menemui Syarla karena dirinya sangat dibutuhkan untuk melakukan pekerjaannya. Iya, Syarla sangat berpengaruh penting untuk Ryan.


Allea kecewa melihat Ryan yang menyesal dengan kepergian Syarla. Bahkan membuat mereka sampai berselisih paham. Tidakkah harusnya Ryan mengerti perasaan Allea yang statusnya adalah kekasihnya?


"All, aku minta tolong kamu ngerti. Aku sengaja ngajak kamu ke sini buat nemani aku dan Syarla supaya tidak ada kesalahpahaman antara kita. Supaya kamu bisa lihat apa yang aku dan Syarla lakukan."


"Aku enggak ada bicara apa-apa sama Syarla, Ryan. Aku cuma bilang kalau aku enggak suka dia terlalu dekat sama kamu seperti tadi. Aku enggak ngerti apa maksudnya buat cerita kalau aku nuduh dia jadi selingkuhan kamu."


"Tapi, All, Syarla enggak mungkin bicara bohong. Apa lagi kalau dia mengadu domba orang lain. Itu buka tipe Syarla. Aku tahu dia seperti apa karena aku sudah kenal lama dengannya."


"Iya, aku tahu kok kalau kamu dan Syarla sudah kenal lama karena Syarla mantan pacar kamu, 'kan? Dan, kamu menutupi semuanya dari aku. Bicara seolah dia teman lama, tapi ternyata hanya karangan-karangan!"


Ryan kaget pas dengar Allea tahu dari mana kalau Syarla adalah mantannya. Reaksi wajah Ryan membuat Allea bisa menebaknya. "Kenapa? Kamu kaget kalau aku tahu kebohongan kamu? Terus kamu berpikir kalau aku tahu dari mana?"


"Maafin aku, All ... Aku enggak bermaksud membohongi kamu. Aku cuma enggak mau nantinya kamu berpikir yang bukan-bukan kalau kamu tahu Syarla mantan aku."


Ternyata, apa yang dibilang Syarla benar kalau Ryan sengaja melakukan itu demi menjaga perasaannya. Padahal kalau saja Ryan jujur, Allea tidak mengapa dan itu lebih baik.


"Berarti benar apa yang dikatakan Syarla kalau kamu merahasiakannya cuma jaga perasaan aku? Lalu, setelah itu diam-diam kalian sering bertemu berdua?" tebak Allea.


"Pikiran kamu terlalu jauh, All. Jangan karena masa lalu kamu dikhianati dengan Rangga dan Rhea, sekarang kamu malah buat atau menyamakan aku sama seperti mereka!" Tiba-tiba nada suara Ryan membesar dan itu membuat Allea tidak habis pikir.


"Maafin aku, All. Aku enggak bermaksud bicara dengan nada besar sama kamu." Manik mata Allea berkaca-kaca, ia langsung pergi meninggalkan Rangga.


Selama empat tahun pacaran, Allea tidak pernah mendengar Ryan bicara besar seperti tadi. Bahkan LDR saja Ryan selalu sabar menunggu. Tapi, semenjak kedatangan Syarla malah merubah semuanya.


Ryan lebih percaya Syarla ketimbang Allea. Kisah yang begitu indah mereka rancang dulu tanpa adanya orang ketiga, kini semuanya berubah begitu saja.