Allea

Allea
Chapter 50. Hari Paling Menghancurkan



Allea berdiri dari kejauhan melihat pria yang di cintainya bersanding dengan wanita lain di atas pelaminan.


Ryan yang perasaannya tidak bisa ditebak dari raut wajahnya, Syarla yang tersenyum lebar atas kemenangannya, sedangkan Allea menyaksikan acara itu dari jauh dalam kesedihannya.


Allea sengaja tidak masuk ke sana karena tidak kuat untuk melihat Ryan bersanding dengan orang lain. Namun, ia memberanikan diri untuk melihat Ryan untuk terakhir kalinya, meskipun dari kejauhan.


Di tengah kebahagiaan Syarla, tidak sengaja ia melihat Allea ada di depan sana. Dengan gaun putih panjang dan span, wanita itu pamit sebentar untuk keluar hanya menemui Allea.


"Aku enggak sangka kalau kamu datang juga ke sini." Langkah kaki Allea terhenti ketika mendengar suara Syarla dari belakangnya saat ia mau melangkah pergi.


"Gue ke sini hanya mau melihat Ryan buat yang terakhir kali. Itu pun karena kebetulan lewat sekitaran sini." Untuk pertama kalinya Allea membuat alibi.


"Apapun itu alasannya, aku sungguh berterima kasih atas kehadiran kamu. Apa kamu tidak mau masuk dan memberi selamat pada mantan kekasih kamu?" Syarla sengaja memancing emosi Allea, tapi wanita itu berusaha seolah biasa saja menahan perasaan yang kian bergebu.


"Maaf, Syarla, gue tidak bisa mampir ke dalam. Gue cuma bisa ngucapin selamat buat lo dan Ryan. Semoga setelah ini hidup kalian bahagia." Tidak berlama-lama, wanita itu segera mengangkat kakinya dari sana meninggalkan Syarla.


Di dalam mobil, Allea merintih menangis. Semua seperti mimpi buruk yang jadi kenyataan. Hatinya benar sangat terluka karena harusnya di hari yang sama dengan hari ini, Allea dan Ryan bertunangan.


"Ryan, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Syarla ketika melihatnya duduk melamun seperti orang tertekan. Namun, kenyataannya pria itu memang tertekan atas pernikahan yang dijalankannya. Bagaimana lagi? Nasi sudah menjadi bubur dan Ryan harus melakukannya kewajibannya kepada Syarla.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit tidak enak badan saja." Ryan berbohong, kenyataannya ia ingin sekali mengakhiri acara ini secepatnya.


Sejenak, pria itu teringat Allea. Ia juga berpikir, seharusnya hari ini jadi hari kebahagiaannya dengan Allea. Di mana ia dan wanita yang di cintainya saling mengikat.


Sesal berkali-kali dalam diri Ryan, namun semua tiada guna lagi. Tidak bisa membalikan segalanya yang sudah berlalu dan terjadi.


Jujur saja, saat itu juga yang ingin dilakukan Ryan adalah menangis. Tidak peduli meski ia sebagai seorang pria yang harusnya bisa lebih tegar dari seorang wanita. Sebab, masalah hati tidak memandang siapa orangnya.


"Ryan, kalau kamu memang sakit lebih baik kita ke kamar saja. Acara ini juga akan tetap berjalan kok meskipun kita tidak di sini." Ryan menolak dan memilih tetap berada di tempatnya sebagai tanda penghormatan kepada para tamu yang sudah datang memenuhi undangan.


Melihat perhatian Syarla padanya, pria itu menatap ke arah Syarla. Sebenarnya perhatian Syarla sekarang dengan perhatian Syarla yang dahulu kala kepada Ryan masih sama saja. Tidak ada yang berubah walau hanya sedikit.


Ketika Ryan menatap Syarla tajam, ia sadar kalau wanita yang ada di hadapannya ini bukan lagi sekedar kekasih atau tunangan, melainkan sudah menjadi istri sahnya.


Memang seharusnya Ryan bisa bersikap baik dan manis pada wanita itu. Tidak terus menyalahkan atas perpisahannya dengan Allea.


Setelah dari acara pernikahan Ryan dan Syarla, Allea minta agar Cleo menjemputnya di alamat yang ia kirimkan.


Mengetahui keadaan Allea, wanita itu dengan secepatnya berada di tempat Allea berada. Cleo melihat Allea yang begitu hancurnya dengan tetesan air mata membanjiri pelupuk mata. "All, kamu enggak apa-apa?" tanya Cleo ketika berada bersama dengan Allea di dalam mobil.


"Gue pikir, gue sanggup hanya dengan memberi kata selamat doang tapi ternyata gue salah, Cle ... Gue enggak sekuat yang gue bayangkan. Gue kalah dengan keadaan yang pada akhirnya ngebut hidup gue hancur berkeping-keping."


Allea mengeluh atas dirinya sendiri. Dirinya seakan dikutuk jadi wanita sial yang selalu gagal dalam percintaan, lalu jadi wanita lemah yang tak berdaya.


"Enggak, All, kamu enggak boleh bicara gini. Ini sama saja kami menyalahkan diri kamu sendiri dan kamu enggak boleh nyalahkan diri kamu. Kamu harus tahu kalau semua yang terjadi karena memang mereka tidak pantas buat kamu, bukan kamu yang lemah dan bodoh. Justru, mereka lah yang bodoh karena sudah melepaskan kamu."


Untunglah, Cleo selalu ada untuk Allea disaat wanita itu membutuhkan teman dalam mengutarakan kesedihannya.


Cleo membawa Allea pulang dalam keadaannya yang lemas dan tak bersuara. Bahkan ketika disapa Vena saja, wanita itu tidak menyahut sama sekali. Ia hanya berjalan ke arah kamarnya dengan di antar oleh Cleo.


"All, aku keluar dulu. Kamu istirahat, ya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa panggil aku," pesan Cleo. Allea hanya mengangguk sembari merebahkan tubuhnya. Kedua matanya menatap kosong ke langit-langit kamar.


Meskipun Cleo sudah menenangkannya, namun itu tidak cukup untuk Allea. Wanita itu hanya diam membisu dalam sepi. Tanpa disadari air matanya mengalir dan merintih menahan luka dalam hati.


"Cleo, Allea kenapa? Kenapa dia bisa sama kamu? Padahal tadi pergi sendiri, 'kan?" tanya Andre ingin tahu alasan kenapa anak perempuannya seperti itu.


"Rupanya Allea pergi ke acara pernikahan Ryan dan Syarla, Om. Setelah itu, Allea nelepon aku supaya aku jemput dia dari sana karena dalam keadaannya seperti itu Allea tidak memungkinkan untuk berkemudi," jelas Cleo.


"Aku semakin tidak ngerti dengan Allea. Harusnya dia sadar untuk tidak sibuk cari tahu tentang Ryan lagi," protes Iqbal.


Sebenarnya semua orang di rumah itu sangat iba melihat Allea, namun Iqbal malah terlihat kesal karena Allea masih saja menaruh hati untuk Ryan. Bahkan ia sampai-sampai mengunjungi dan melihat Ryan terakhir kali di persepsi pernikahan pria itu.


"Allea cuma butuh waktu untuk melupakan Ryan, Bal, Tante, Om." Cleo memberi pengertian pada mereka agar mereka tidak perlu takut tentang Allea.


Bersyukurnya mereka karena Allea bisa bertemu dengan Cleo yang tulus menjaganya sebagai sahabat sejati.


Wanita itu bukan hanya membuat Vena dan Andre saja yang terlihat haru. Iqbal yang awalnya begitu kesal dengannya, terlihat kagum dengan bagaimana setianya Cleo pada Allea.


"Sekali lagi gue mau bilang makasih karena lo selalu jadi orang dan tempat terbaik buat Allea, Cleo," kata Iqbal ketika mereka sedang duduk berdua di atas rooftof.