Allea

Allea
Chapter 20. Jawaban Cinta Dari Allea



Pagi itu adalah awal yang cerah. Allea sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Begitu juga dengan Vena, Andre, dan Iqbal yang akan mengantar kepergiannya.


Jarum jam sudah menuju ke angka setengah delapan. Allea masih menunggu Ryan, berharap pemuda itu akan datang menemuinya untuk terakhir kali dan mengantar kepergiannya.


Allea pergi ke teras rumah. Ia mundar-mandir dengan hati gelisah. Sesekali tatapannya mengarah ke arah jalanan, namun tidak melihat tanda-tanda dari kedatangan Ryan.


Allea membuka kunci handphonenya, ia mencari nama Ryan. Namun, gerakan jari itu terhenti ketika hampir saja meneleponnya. "Enggak, gue enggak boleh nelepon Ryan. Gue harus sabar, pasti dia bakal datang tanpa ditelepon," gumamnya.


"All, mari kita pergi. Takutnya, kamu malah ketinggalan pesawat," ajak Vena.


"Tunggu sebentar lagi, ya, Ma. Katanya, Ryan mau datang ngantar Allea ke bandara. Tunggu lima menit saja lagi, Ma." Vena menuruti permintaan Allea. Vena dan Andre kembali duduk di ruang tengah menunggu sebentar.


"Percuma lo nunggu Ryan. Tadi gue sudah coba nelepon dia, nanya dia bakal ngantar lo ke bandara atau enggak. Tapi katanya, dia enggak bisa karena ada urusan penting," kata Iqbal.


"Lo sok tahu kali. Gue yakin kalau Ryan bakal datang jemput gue. Terus, dia bakal ngantar gue." Keras kepala Allea memang tidak pernah hilang. Ia selalu yakin dengan apa yang dipikirkannya.


Lima menit berlalu, Ryan juga belum kunjung muncul. Wajah Allea terlihat kecewa karena Ryan tidak menampakan diri. Sejenak, pikirannya memikirkan pemuda itu sama dengan Rangga yang memberinya harapan, lalu dihempaskan sangat jauh.


"All, sudah tujuh menit lho, tapi Ryan enggak datang. Mungkin yang dibilang Iqbal memang benar, Ryan ada urusan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Yang terpenting Ryan sudah tahu kalau hari ini jadwal penerbangan kamu ke Jerman, 'kan?"


Allea mengangguk menjawab respon Vena. Mungkin Ryan memang lagi sibuk atau justru malah menjauh darinya sebelum ia mendapati jawaban dari Allea.


Andre masuk ke mobilnya dan duduk di depan kemudi, sedangkan Vena duduk tepat di sebelah Andre. Iqbal memilih pergi dengan mobilnya sendiri. Lantas, gadis itu masih fokus menatap ke arah jalan berkali-kali dengan harapan besar Ryan akan muncul.


Namun, sepertinya harapan itu hanya percuma. Sudah lewat 15 menit, namun Ryan tidak muncul. Allea pun menyusul Andre dan Vena duduk di belakang mereka. Wajah Allea memang tidak bisa dibohongi kalau ia sedang kecewa dengan ketidak adanya kabar dari Ryan.


"All, jangan sedih dong, Sayang. Sampai sana kamu 'kan bisa ngabari Ryan. Kamu juga harus ngerti keadaan Ryan, ya." Vena memberi semangat pada gadis itu dan Andre pun melakukan hal yang sama pada anak kesayangannya itu.


Ternyata Ryan masih duduk dengan perasaan ling-lung dan bingung memikirkan harus pergi atau tidak. Jika ia tidak pergi mengantar Allea, Ryan takut malah menjadi penyesalan untuknya. Namun, jika Ryan pergi mengantar Allea, yang Ryan takuti adalah tidak sanggup melepas kepergiannya.


Ryan hanya takut tidak bisa melepaskan Allea pergi ke Jerman. Padahal kedua orang tuanya memberi ijin, dan bukankah itu hak Allea juga untuk memilih pergi ke sana?


Sesampai di bandara, Allea berjalan lesu dengan wajah teramat sedih. Kedua matanya berkali-kali menatap ke arah pintu masuk bandara, berharap kedatangan Ryan menemuinya.


"All, kamu baik-baik di sana, ya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Papa, Mama atau Iqbal," pesan Andre pada gadis itu.


"Jangan lupa sampai di sana kamu langsung hubungi Tante Jeni. Dia akan bantu semua yang kamu perlukan di Jerman," sambung Vena.


Setelah itu, Allea menatap Iqbal. Ia memeluk pemuda itu dengan sangat nyaman sebagai seorang adik ke kakaknya.


"Gue titip Mama sama Papa, ya. Kalau bisa lo tinggal sama mereka biar ada yang jagain mereka."


"Soal itu hal yang gampang. Nanti gue pikirkan. Dan lo tenang saja, gue pasti jagain Mama sama Papa."


Lagi-lagi manik mata Allea menoleh ke arah pintu masuk bandara. Semakin hari perasaannya ke Ryan, semakin tidak karuan. Ia seperti merasakan perasaan nyaman, seperti dulu yang ia rasakan ketika dekat dengan Rangga.


Ingin sekali Allea menunggu beberapa menit lagi, berharap keajaiban ada dan Ryan berubah pikiran. Namun, tidak bisa karena jadwal penerbangan Allea sebentar lagi akan berangkat.


Allea berjalan masuk menuju lapangan pesawat. Namun, sekali atau dua kali kali lagi ia masih menoleh ke arah yang sama. Sampai akhirnya ia melihat Ryan yang muncul dan berlari menghampirinya.


"Ryan ... Lo datang juga?" tanya Allea saat pemuda itu sudah berdiri di hadapannya.


"Tadi gue ke rumah lo, tapi kata asissten rumah tangga lo, lo sudah pergi. Makanya gue langsung buru-buru ke sini. Maafin gue karena ingkar janji. Harusnya gue ngantar lo dari rumah ke sini."


"Enggak apa-apa, Ryan. Yang penting lo sudah ada di sini. Ryan, sebelum gue pergi ke Jerman, gue mau jawab pertanyaan lo kemarin."


"Lo yakin?" Allea mengangguk yakin. Ia menghela napas lebih dulu sebelum membuka suara.


"Ryan, gue mau jadi pacar lo." Tidak basa-basi lagi, Allea langsung kepermasalahan. Ryan tidak menyangka kalau ia akan diterima Allea secepat ini, tapi yang jelas ia begitu senang.


"Lo serius, All? Gue enggak mimpi, 'kan?"


"Emang tampang gue ada kelihatan bohong? Lo mau nunggu gue sampai balik ke Jakarta, 'kan?" Pemuda itu mengangguk, dengan senang hati ia akan menunggu kepulangan gadis itu. Ryan memeluk Allea erat, akhirnya ia bisa memenangkan hati gadis itu.


Bukan hanya Ryan saja yang bahagia, tapi Vena dan Andre juga sama bahagianya seperti mereka. Iqbal pun begitu, meskipun tidak berhasil memiliki cinta dari gadis itu, namun ia bahagia melihat Allea bahagia dan tidak sedih lagi.


Iqbal memang pemuda berhati besar. Ia bisa menerima semua kenyataan pahit yang sedang dialaminya, sekalipun itu tentang Allea.


"Ryan, gue pergi dulu, ya. Nanti kalau sudah sampai Jerman, gue pasti ngasih lo kabar seperti yang lainnya."


"Lo baik-baik di sana, ya. Harus janji belajar yang rajin supaya dapat nilai yang bagus. Lo harus ingat satu hal, gue bakal nunggu lo. Jadi, selama di sana lo harus tetap fokus sama kuliah lo."


Allea memang tidak beruntung bisa memiliki cinta Rangga, namun ia beruntung karena bertemu dengan Ryan. Pemuda yang dengan tulus akan mencintainya.