Allea

Allea
Chapter 23. Mantan



Di Sun Day's Coffe Allea duduk sendiri menikmati suasana dengan musik slow, ditemani oleh segelas es matcha latte. Sun Day's Coffe memang tempat langganan tempatnya bersantai sejak dulu. Meskipun kenangan bersama mantan kekasih dan mantan sahabat sempat ada di sana, namun tidak membawanya dalam keteringatan soal itu.


Kini Allea lebih sering menghabiskan waktu seorang diri di Sun Day's Coffe jika Ryan sedang sibuk dengan kegiatannya.


"Allea ..." Seorang lelaki menyapanya dan suara itu sangat tidak asing baginya. Ia masih sangat tanda dengan suara yang didengarnya itu. Suara seseorang yang pernah menghampiri kehidupannya dan mengisi kekosongannya. Lalu, setelah itu dengan mudah malah mencampakannya.


Rangga pangling melihat perubahan Allea. Itu membuatnya menyesal karena pernah berkhianat dan menyakitinya.


"Apa kabar, All?" tanya Rangga basa-basi. Ternyata, perasaannya masih sama persis seperti dulu pada Allea. Seputus hubungannya dengan Rhea, ia baru menyadari kalau cinta sesungguhnya untuk gadis yang ada di hadapannya.


"Seperti yang lo lihat, gue lebih baik dari sebelumnya," kata Allea sembari merekahkan senyumnya.


"Gue senang dengarnya, All," seru Rangga. Sejenak, suasana menjadi kaku dan hening karena Allea tidak banyak bicara dengan Rangga. Ia juga merasa tidak nyaman dengan adanya Rangga di sana.


"All, sebenarnya sudah lama gue mau ketemu dan ngobrol sama lo."


"Soal apa?"


"All, gue minta maaf karena sudah mengkhianati dan ninggali lo. Gue malah milih Rhea dari pada lo. Sekarang gue baru sadar kalau perempuan yang benar-benar gue cintai itu adalah lo."


"Lebih baik lo jangan ngomong gitu sama gue karena keputusan lo buat milih Rhea dari pada gue sudah menjadi hal yang tepat," gumam Allea. "Lagian, setelah lo nyakiti gue dan selingkuh sama Rhea. Sekarang, lo mau nyakiti Rhea atau justru merasa menyesal?"


"Gue akui, gue nyesel dengan keputusan gue. Gue dan Rhea sudah putus, All. Ternyata, Rhea enggak sebaik yang gue kira. Diam-diam dia selingkuh di belakang gue," cerita Rangga. Kemudian, ia tertawa kecil untuk menertawakan dirinya. "Gue baru sadar kalau lo perempuan yang baik dan gue yang goblok ngelepasin perempuan baik seperti lo."


Allea tidak menggubris omongan Rangga sama sekali. Bagaimanapun penderitaan Rangga itu sudah menjadi pilihannya.


"All, jujur perasaan gue sama lo masih sama seperti dulu. Kalau lo bisa kasih kesempatan sekali saja buat gue, gue janji enggak akan melakukan kesalahan yang sama." Seakan membujuk rayu, ia sangat berharap pada kesempatan yang diberikan Allea. Sayangnya, Allea tidak termakan omongan yang dianggapnya sebagai tipu muslihat Rangga.


"Jadi, setelah lo disakiti Rhea, sekarang lo sadar kalau gue yang terbaik?" tanya Allea sembari tersenyum sinis. "Terus lo maunya gue nerima lo balik setelah lo nyakiti gue? Maaf, Rangga, gue enggak bisa. Gue sudah berdamai dengan keadaan yang pernah ngebuat gue hancur berantakan."


Dengan tegas Allea menolak, ia tidak mau terjebak lalu kembali terluka. Lagi pula, luka yang dialami oleh Ryan bukan menjadi tanggung jawabnya. "Maaf, Rangga, aku enggak bisa."


Jalan yang sudah diambil tidak akan pernah dikembalikan ke awal mula oleh Allea. Lepas darinya, justru membuat Allea semakin baik.


Rangga duduk seorang diri di Sun Day's Coffe. Dengan penuh sesal ia meratapi diri. Kalau saja tidak gegabah mengambil keputuasan dan tidak termakan godaan Rhea, pasti hari ini ia sedang duduk berdua bersama Allea di tempatnya berada. Sesal tinggallah sesal, yang hilang tidak lagi bisa kembali.


***


"Iqbal, apa-apa sih lo! Ganggu kesenangan gue saja." Bukan mengembalikan snack milik Allea, justru ia malah melahapnya santai. Pantas saja membuat gadis itu marah melihat tingkah saudara tirinya itu.


Sejenak kegaduhan terjadi di antara dua saudara itu. Namun, tiba-tiba saja berhenti karena Vena datang menghampiri dan menjewer telinga Iqbal. "Aw, sakit, Ma ..." Lirih suara Iqbal kesakitan menahan sakitnya dijewer Vena. Allea tertawa melihat Iqbal karena ia menjadi orang yang paling senang melihat Iqbal tersiksa.


"Iqbal, apa kamu tidak bisa kalau tidak jailin Allea? Kasihan Allea kalau kamu jailin dia terus," kata Vena sembari mempelintir telinganya.


"Ampun, Ma. Aku janji enggak ngulangi lagi." Vena melepaskan tangannya dari telinga Iqbal. Setelah itu, lelaki itu memegangi telinganya lantaran kesakitan.


Kejailan itu berhenti berkat Vena, namun Allea dan Iqbal masih duduk di satu tempat yang sama ketika Vena pergi meninggalkan mereka.


"Bahagia banget lo lihat gue menderita," protes Iqbal.


"Salah lo sendiri, kenapa lo jail sama gue. Lagian enggak lihat lo menderita, gue enggak senang." Allea mengakuinya, lalu ia tertawa begitu puas. Gurauan itu terhenti dan tak berkelanjutan, sampai akhirnya Allea membuka suara perihal mantan kekasihnya.


"Hubungan lo sama Rangga, gimana?" tanya Allea.


"Sudah lama gue enggak ketemu sama dia, semenjak kejadian itu."


"Tadi gue ketemu sama Rangga pas gue lagi di Sun Day's Coffe," aku gadis itu.


"Lo serius? Terus gimana?"


"Gimana apa?" tanya Allea balik.


"Lo sama Rangga pas ketemu tadi, gimana?" Allea menceritakan semua yang Rangga inginkan, tapi tidak diinginkan olehnya.


"Gue enggak mau gara-gara masalah ini ngebuat gue dan Ryan jadi salah paham. Lagian, gue dan Rangga sudah jadi masa lalu. Sampai kapanpun gue enggak bisa terima dia balik."


Iya, bagaimanapun Allea tidak ingin menyakiti Ryan. Lelaki itu adalah salah satu lelaki terbaik setelah papanya dan Iqbal. Bagaimana Ryan menjaga perasaannya, ia pun sama juga ingin menjaga perasaan Ryan sebaik mungkin sebagai seorang kekasih.


"Semenjak mengenal Ryan, gue ngerasa lebih baik. Cara dia beda memperlakukan gue dari Rangga. Sama-sama romantis, tapi cara Ryan tidak pernah berlebihan seperti Rangga," cerita Allea.


"Kalau gitu, gue berharap lo bahagia. Gue enggak mau lihat lo sedih lagi seperti dulu. Sebagai seorang abang, gue cuma mau lihat lo bahagia terus, Allea." Iqbal menatap lekat wajah gadis itu. Ia melihat senyum yang indah terlukis di bibirnya, meskipun ia harus menahan perasaannya berkali-kali. Namun, kebahagiaan gadis itu nomor satu baginya.


"Enggak apa-apa, All, kalau lo enggak tahu perasaan gue sampai saat ini. Enggak apa-apa kalau gue harus menahan semuanya sendiri, tapi yang terpenting gue bisa lihat lo bahagia selamanya tanpa ada lagi air mata yang keluar dari mata lo walau hanya setetes, All," batin Iqbal sembari menatap gadis itu dengan senyumnya.