Allea

Allea
Chapter 25. Seseorang yang Lama Tak Bertemu



Hari ini menjadi hari bahagia untuk Allea. Ia yang baru saja keluar dari gedung besar dan mewah dengan pakaian rapi yang melekat di tubuhnya. Ternyata, ia baru saja diterima kerja di perusahaan tersebut.


Allea menghampiri Ryan di dalam mobil yang sejak tadi sudah menunggu gadis itu. Ia juga tidak sabar menunggu kabar gembira dari sang kekasih.


"All, gimana interviewnya? Lo diterima kerja?" Allea memasang wajah cemberut menatap Ryan sebentar. "All, lo enggak diterima, ya?" Perlahan sebuah senyuman terlukis di bibir Allea. Wajah yang semringah terlihat jelas di wajah gadis itu.


"Gue diterima." Refleks Allea memeluk Ryan. Sejenak membuat pemuda itu menjadi gugup, karena selama menjadi kekasihnya belum pernah sekalipun ia memeluk atau mendapati pelukan dari kekasihnya sendiri lantaran LDR.


"Gue senang banget, An, karena perusahaan itu sudah sejak jaman kuliah menjadi incaran gue," seru Allea sembari melepaskan pelukannya dari Ryan. "Ryan, kamu dengarin aku ngomong enggak, sih?"


"Gu ... Gue dengar kok." Berbicara pun membuatnya tertatih karena semakin gugupnya. Nyatanya, lama mereka menjalin kasih malah membuat Ryan menjadi pemalu. Ini semua akibat pelukan kekasihnya yang tidak pernah didapatinya.


"Ryan, lo enggak apa-apa, 'kan?"


"Gue enggak apa-apa," jawab Ryan mencoba menetralkan dirinya agar tidak terlihat aneh di depan Allea. Dan, semakin gugupnya ia sampai lupa memberikan ucapan selamat pada Allea. Ryan memang terlihat lucu saat gugup. Anehnya, hanya dengan Allea saja ia merasakan hal aneh seperti yang ia alami kini.


Allea dan Ryan pergi ke Stadiun Mall membeli semua keperluan Allea, termasuk kemeja untuknya berdinas karena besok sudah harus mulai masuk kerja. Allea benar-benar heboh mencoba kemeja yang ia mau. Semenjak bersama Ryan, keceriaannya kembali seperti sedia kala. Itu artinya, Ryan berhasil membuatnya terus bahagia dan tersenyum tanpa ada air mata yang menetes dari pelupuk mata.


"Karena lo baru saja diterima kerja, semua belanjaan lo ini gue beliin sebagai kado lo diterima di salah satu perusahaan besar." Ryan menbayari semua belanjaan Allea dengan syarat perempuan itu akan selalu semangat menjalani pekerjaannya.


"Lo janji, Sayang? Gue bakal kerja sebaik-baiknya seperti impian yang pernah aku ceritain sama lo." Ryan melihat keseriusan dan semangat yang besar dalam diri sang kekasih.


Sebagai kekasih yang baik, Ryan membawakan belanjaan Allea setelah belanja. Semua keperluannya sudah dipenuhi oleh Ryan. Maklum saja, sekarang Ryan sudah mempunyai perusahaan sendiri dan bisa membeli apa saja dengan penghasilannya sendiri.


Selain sebagai kekasih terbaik, Ryan juga lelaki luar biasa yang sukses di atas kakinya sendiri. Lelaki mandiri tanpa pertolongan orang lain. Kini, ia mempunyai Paradiso Mall di Jakarta dan Bandung yang menjadi salah satu mall yang banyak pengunjungnya.


Setelah menemani Allea, Ryan melajukan mobilnya ke Paradiso Mall. Sudah ada dua minggu ia tak mengunjungi mall itu dan mengontrol semua karyawan di sana.


"An, kenapa tadi tidak belanja di tempat gue saja?" Allea baru menyadari kalau kekasihnya pemilik salah satu mall terbesar dan teramai.


"Enggak apa-apa. Sama saja, 'kan? Yang penting lo senang. Jadi, gur menurut lo saja mau belanja di mana." Ryan ngerti maksud baik gadis itu, namun ia tidak mau malah menaiki ego dan memaksa. Padahal itu bukan kebahagiaan Allea.


"Gue suka banget sama suasana dan susunan mall lo," puji Allea. Allea berkali-kali memuji kinerja Ryan sang pemilik mall. Tidak lama kemudian, handphone milik gadis itu berdering. Wajahnya seketika berubah semringah mendapati telepon dari Cleo, teman kamar dan kuliah sewaktu di Universitas Berlin Jerman. Dengan cepat ibu jarinya menggesek panah hijau dan mendekati handphone itu di telinga.


"Halo, Cle, lo apa kabar?"


"Gue baik, All. Rencananya, gue mau pulang ke Jakarta." Dari seberang sana suaranya terdengar.


"Wah, bagus itu. Gue senang banget, karena gue nantinya bakal ada teman di Jakarta," serunya semringah. "Pokoknya, kasih kabar gue biar gue jemput.


Sudah lama setelah ia kehilangan sahabatnya, sejak itu tidak sekalipun Allea mempunyai sahabat atau sekedar teman ngobrol kecuali Ryan dan Iqbal. Patah hati itu membuatnya tidak ingin mengenal terlalu dekat dengan orang asing, sampai akhirnya sewaktu ia menetap di Jerman beberapa tahun silam disitulah waktunya ia mengenal baik jati diri Cleo karena kebetulan juga menjadi teman satu kamar di asrama.


Rasanya, tidak sabar menunggu kehadiran Cleo di Jakarta. Ia ingin sekali waktu secepatnya berlalu, hingga akhirnya sampai pada Cleo tiba di Jakarta.


"Siapa sih yang nelepon? Senang banget kayaknya?" Ryan penasaran karena sejak tadi melihatnya tersenyum dan bersemringah.


"Tadi itu Cleo, teman satu asrama, satu kampus, satu kelas, dan satu kamar aku juga. Katanya, dia mau pulang ke Jakarta," cerita Allea penuh gairah.


"Wah, kalau teman lo itu balik ke Jakarta, bisa-bisa gue kalah sama dia. Sekarang saja lo menceritakannya sudah senang banget, kayak kalau dia datang lo enggak bakal biarin dia sendirian."


"Enggak dong ... Cleo itu teman baik gue selama di Jerman. Gue senang kalau dia pulang ke Indonesia, ke Jakarta. Tapi, lo ini pacar gue. Jadi, mana mungkin gue lupa sama lo gitu saja pas Cleo datang, Ryan ..." Lirih Allea berkata.


"Gue tadi bercanda, All. Gue tahu bagaimana pacar gue ini. Jadi, gue rasa kalau gue enggak perlu takut kehilangan atau terkalahkan sama siapa pun," seru Ryan kembali bersikap seperti biasa.


Seperti biasa, setelah itu Ryan mengantar Allea pulang setelah itu. Ia selalu memastikan kekasihnya itu sampai dengan selamat ke tujuan. Jadi, yang dilakukan Ryan selalu mengantar dan menjemput ke mana Allea ingin pergi, meski sesibuk apa keseharian Ryan sebagai kekasih.


"Aku langsung balik ke kantor, ya." Allea mengangguk dan ia memperhatikan kepergian mobil Ryan sampai hilang dari pandangannya.


Tiba-tiba handphone Ryan berdering, ia meraihnya. Namun, tidak sengaja ponselnya jatuh dari genggamannya. Ryan mencoba meraih ponselnya yang terjatuh itu. Tapi bukannya dapat, justru ia malah menabrak sebuah benda yang ada di depannya.


Ternyata, sebuah mobil merah yang ditabrak olehnya. Ryan bersamaan dengan mobil itu menepi. Kemudian ia keluar dari mobilnya dan menemui si pemilik mobil merah yang tidak sengaja ditabraknya. Seketika itu, membuat Ryan kaget saat tahu siapa pemiliknya.