
Semenjak kepergian Allea dan Ryan ke rumah pohon pada malam itu, mereka berdua jadi semakin dekat. Allea dan Ryan tampak pergi berdua ke kantin dan hal itu seringkali mereka lakukan setiap hari.
Sejak itu, Allea menjadi pusat perhatian Rangga. Ia merasa mantan kekasihnya itu tidak bisa dengan mudah melupakannya, namun kenyataannya ia selalu melihat Allea tersenyum saat bersama Ryan. Bahkan, Rangga melihat Allea dan Ryan semakin dekat.
"Rangga, aku ngapain sih lihatin Allea dan Ryan? aku cemburu lihat mereka jalan berdua?" tanya Rhea ketika gadis itu melihat Rangga terus saja memperhatikan Allea dan Ryan.
"Mana mungkin aku cemburu. Aku cuma enggak nyangka kalau Allea bisa secepat itu melupakan aku."
"Bagus, dong, kalau dia bisa secepatnya lupa sama kamu. Artinya, dia enggak akan ngusik kamu lagi dan jelas hubungan kita enggak akan pernah terganggu lagi."
Namun, siapa sangka kalau setelah melihat Allea bahagia bersama Ryan malah membuat Rangga tidak suka. Ia begitu marah dan tidak rela melihat kedekatan mereka. Padahal semua orang sudah tahu kalau di antara Allea dan Rangga tidak ada hubungan apa-apa lagi.
Rasa cemburu itu sudah jelas terlihat dari sorot matanya yang memandang Ryan dengan kebencian karena mendekati diri pada Allea. Ingin sekali ia meminta Ryan untuk menjauhi Allea, namun bagaimana caranya? Sedangkan ia tidak lagi berhak atas Allea.
Entahlah, perasaan Rangga mulai goyah. Ia tidak mengerti dengan perasaannya yang kini merasa sesal sudah mengkhianati Allea. Padahal dari awal ia memutuskan gadis itu, Rangga sudah yakin dengan keputusannya memilih Rhea menjadi kekasihnya. Bahkan, ia tega mengkhianati Allea dengan sahabatnya.
"Kamu enggak bohong sama aku, 'kan? Aku enggak akan pernah sudi kalau kamu masih diam-diam memperhatikan Allea di belakang aku!" Rhea terlihat marah, rasa cemburunya yang besar itu sangat membara dan berapi-api melihat Rangga yang pandangannya tidak lepas dari mantan sahabatnya itu.
Rhea pergi meninggalkan Rangga dengan perasaan kesal. Saat itu dengan cepat Rangga pun mengejar kepergiannya. "Rhe, kamu mau ke mana?" Rangga meraih tangan Rhea dan menahannya.
"Kayaknya kamu enggak mandang aku ada. Aku di situ sama kamu, tapi pikiran kamu entah melayang ke mana. Aku tahu kalau kamu lagi mikirin Allea, tapi kamu juga harus tahu kalau dia sudah jadi mantan pacar kamu. Sekarang, aku yang pacar kamu!"
Selisih paham itu terjadi di antara Rangga dan Rhea. Padahal sebelumnya mereka baik-baik saja dan enggan untuk ribut.
"Sudahlah, Rhe, aku sekarang juga sama kamu bukan Allea. Aku cuma sekedar melihat Allea dan Ryan. Lagi pula, hubungan aku dan Allea sudah berakhir." Rangga memberi penjelasan, namun Rhea tidak menerima karena yang ia lihat tidak seperti yang dikatakan Rangga.
Terlukis jelas rasa cemburu dari wajah dan sorot mata pemuda itu, dan jelas saja kalau itu membuat Rhea cemburu karena ia melihat sosok pemuda yang di cintainya masih punya hati pada mantan kekasihnya.
Kenyataannya, setelah mengkhianati Allea, pemuda itu tidak bisa ikhlas membiarkan mantan kekasihnya berjalan dengan pemuda lain. Dan, dari situlah pertengkaran antara Rangga dan Rhea mulai terjadi, sehingga membuat hubungan mereka renggang.
"Rangga, aku enggak buta dan aku jelas ngelihat kalau kamu memperhatikan Allea dan Ryan dengan wajah yang marah dan cemburu. Aku tahu kalau kamu cemburu dan stop untuk baik-baik saja."
Marahnya Rhea melihat Rangga menyangkal. Padahal ia bisa melihat sendiri apa yang sedang dilakukan kekasihnya, meskipun hanya melalui dengan perbuatan saja.
Tidak senang dengan Rangga yang tadi sempat memperhatikan Allea, yang dilakukan Rhea pergi meninggalkannya.
"Rhea!" Rangga memanggil gadis itu, namun Rhea tidak menggubris sama sekali. Ia melanjutkan langkah kakinya begitu saja.
Melihat Allea dan Ryan masuk ke kelas, Rhea segera menghampiri Allea. Ia tidak suka jika perhatian Rangga tertuju hanya kepadanya saja. Bahkan, setelah hubungan antara Allea dan Rangga berakhir.
"He, All! Lo enggak perlu cari perhatian Rangga. Dia pacar gue sekarang dan gue enggak suka perhatiannya malah ke lo terus." Allea kaget ketika dirinya dilabrak oleh Rhea. Padahal Allea tidak tahu-menahu masalah Rangga dan Rhea.
"Apa-apaan sih, lo, Rhe?" tanya Allea bingung.
"Lo sengaja 'kan dekat-dekat Ryan di depan Rangga supaya lo bisa buat Rangga cemburu dan setelah berhasil, Rangga dekatin lo lagi dan kalian balikan?"
"Cukup, Rhe! Lo apa-apaan sih gangguin Allea?" Ryan mencoba membantah Rhea dan membela Allea. Namun, ketika pemuda itu akan melanjutkan perkataannya, Allea menghentikan Ryan. Ia mencoba menjelaskan sendiri untuk membantah pikiran buruk yang ada di dalam kepala Rhea.
"Rhe, semenjak Rangga selingkuh sama lo dan mutusin hubungan kami cuma karena lo dan atas permintaan lo, gue akui kalau gue masih berat ngelepasinnya. Rasanya, gue enggak rela kalau Rangga direbut sama sahabat gue yang ternyata dia parasit dalam hubungan gue dan Rangga!" Allea menjelaskan.
"Tapi, semakin ke sini gue semakin sadar kalau Rangga memang pantasnya sama lo bukan sama gue. Kenapa gue bilang gitu? Karena cowok pengkhianat memang pasangannya cewek pengkhianat. Dan, gue mutusin move on dari kalian berdua. Jadi, kalau lo memang mau bekas pacar gue, silakan saja lo ambil. Gue ikhlas."
Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, Allea langsung meninggalkan Rhea dan duduk di kursinya. Lantas, Ryan hanya diam memperhatikan Allea. Di balik diamnya, ia tersenyum melihat Allea yang kini memang benar sudah move on dan tidak lagi berharap pada Rangga.
Di tengah sebagian orang menceritakan Rhea, justru dari kursinya, Ryan menatap Allea yang berusaha tenang dan mengambil buku dalam tasnya. Namun, Allea merasa dirinya diperhatikan oleh Ryan dan itu membuatnya menoleh kepada Ryan. Dengan sadar Ryan tersenyum pada Allea sambing mengacungkan dua jari ibunya untuk gadis itu.
Ryan merasa apa yang dilakukan dan diucapkan Allea sudah sangat pantas. Pemuda itu merasa bahwa gadis yang menjadi pusat perhatiannya itu pantas merasa bahagia karena Allea memang gadis baik. Sayangnya, tidak semua orang bisa melihat kebaikannya dan bodohnya ada pemuda bodoh seperti Rangga yang mau mengkhianatinya demi gadis lain.
Tidak disangka Allea pun tersenyum pada Ryan untuk membalas senyumnya. Sorot mata Allea sungguh membuatnya terpesona dan terpanah asmara. Mata indah itu tidak pernah gagal membuatnya jatuh hati berkali-kali. Andai Allea tahu bahwa sebenarnya Ryan menyimpan rasa pada.