Allea

Allea
Chapter 49. Tingkah Picik Wanita Itu



Di tengah Allea dan yang lain sedang berkumpul, suara bel berbunyi di pagi hari. Cleo bangkit dari duduknya dan melihat siapa yang datang sepagi ini ke rumah itu.


Cleo melihat seorang wanita yang berdiri membelakanginya ketika ia membuka pintu ruang tamu. Cleo seperti mengenal postur tubuh wanita itu dan benar sekali kalau wanita itu memang Syarla. Sangat tepat sesuai tebakannya.


"Ngapain kamu ke sini? Ada perlu apa?" tanya Cleo ketus. Cleo melihat wanita itu datang sendiri tanpa adanya Ryan. Sepertinya memang sudah dirancang olehnya, namun entah apa tujuannya.


"Siapa yang datang, ya? Cleo lama banget?" gumam Allea kepada Iqbal. "Gue ke depan dulu lihat Cleo, ya."


"Jangan seseram itu dong. Aku ke sini baik-baik kok, cuma mau ketemu dengan Allea," ucap Syarla sedikit berbisik di akhir kalimat. Wanita itu terlihat sangat suka melihat respon Cleo, terlebih lagi jika di hadapannya adalah Allea.


"Kalau kedatangan kamu ke sini hanya karena buat masalah dengan Allea, lebih baik kamu pergi. Maaf, rumah ini tidak nerima orang seperti kamu menginjakan kaki di sini!" cecar Cleo.


"Siapa yang datang, Cle?" tanya Allea dari dalam dan berjalan menghampirinya. Cleo tidak menjawab, wanita itu sangat tidak ingin Allea ke depan dan melihat kedatangan Syarla. Namun, sayangnya sudah terlanjur dan Allea melihat Syarla.


"Ngapain lo ke sini?" tanya Allea lebih ketus dari Cleo tadi.


"Allea Sayang, kamu jangan ketus-ketus banget dong nanya sama aku. Kita 'kan bisa baik-baik bicara. Malah kalau bisa aku dan kamu bisa temanan baik, bukan? Setidaknya kalau kita berteman, kamu bisa lihat Ryan dan aku terus bersama."


"To the point saja apa mau kamu ke sini? Kalau memang tidak penting, lebih baik kamu angkat kaki dari sini." Kesabaran Allea yang selama ini dipendamnya terus, kini tidak bisa ditoleransi.


Ketika Syarla melihat Allea yang emosi, dengan sengaja wanita itu mengeluarkan sebuah undangan pernikahan atas namanya dan Ryan yang tertulis di kertas undangan berwarna kuning emas itu untuk memancing emosi Allea semakin menjadi-jadi.


"Tujuan aku ke sini cuma mau ngantar ini buat kamu. Ryan juga setuju kok kalau kamu diundang ke acara pernikahan kami. Jangan lupa kamu datang, ya, karena kedatangan kamu begitu berarti buat aku dan Ryan."


Permohonan Syarla bukanlah permohonan yang tulus. Semua terlihat seperti meledek karena ingin membuat Allea makin terluka. Syarla benar-benar menegaskan bahwasannya pria bernama Ryan memang miliknya dan akan jadi miliknya.


Setelah memberikannya, Syarla segera pergi dari sana. Lantas, Allea terdiam membisu menatap undangan berwarna emas itu yang di atasnya tertulis jelas nama pria yang sangat ia cintai.


Manik matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tidak mau menunjukan di depan Cleo dirinya lemah. Ia mau terlihat kuat di depan Cleo. "All, aku tahu kalau kamu mau nangis. It's okey, sekarang kamu lagi sama aku bukan Syarla atau Ryan. Kalau pun kamu nangis, silakan dan jangan ditahan."


Iqbal menyusul Allea dan Cleo. Pria itu tidak tahu apa yang ada dipegangan Allea dan apa yang dilihatnya, namun yang ia lihat Allea lagi-lagi dalam keadaan sedih. "All, lo kenapa?"


Iqbal mengambil benda yang ada di tangan Allea ketika melihat kalau itu undangan. Ia menolehkan pandangannya ke wanita yang baru saja pergi dari rumah. Iqbal memang belum pernah melihat Syarla sekalipun, tapi ia bisa menebak kalau itu Syarla.


Kesalnya lagi wanita itu dengan sengaja menambah kesedihan Allea, membuatnya tersulut emosi. Ditambah lagi saat ia melihat undangan itu yang ada nama Ryan dan Syarla. Nama dua orang yang sudah menghancurkan kebahagiaan Allea.


"Cleo, Iqbal mau ke mana?" tanya Allea panik, tapi ia tidak tahu mau menyusul pria itu ke mana. Bahkan Cleo juga tidak tahu. Iqbal benar-benar marah dan ia berkemudi kencang tanpa memperdulikan keselamatannya.


Iqbal sampai di suatu tempat. Ia melihat Ryan dengan wajah datar dan duduk berhadapan dengan Syarla yang sepertinya sedang bahagia karena sudah berhasil merebut kebahagiaan orang lain dan kini membuat orang itu semakin terpuruk.


Iqbal menghampiri Ryan dan ia menarik kera baju Ryan dengan keras dan tanpa takut.


"Iqbal, kamu kenapa?" tanya Ryan bingung karena tiba-tiba saja Iqbal bertindak kasar padanya. Jika memang ini karena Allea, Ryan terima dirinya mendapati kekerasan dari Iqbal namun Ryan meminta untuk diberi kesempatan agar ia bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Braakkkk ...


Satu pukulan melayang ke pipi Ryan, membuat pria itu jatuh terpental bersamaan dengan kursi yang ia duduki.


Iqbal tidak sama sekali memberi kesempatan untuk Ryan menjelaskan apa yang terjadi. Baginya tidak penting karena ia sudah berani menyakiti Allea.


"Lo minta alasan kenapa gue mukul lo, 'kan? Ini alasannya!" kata Iqbal sembari melemparkan undangan yang didapati Allea tadi ke atas meja yang tepatnya di hadapan Ryan.


Dalam hati Syarla mengumpat karena undangan itu bisa ada di tangan Iqbal dan ditunjukannya pada Ryan. Wanita itu takut kalau Ryan benar memegang ancamannya dan akhirnya tidak mau menikahinya.


"Kenapa undangan pernikahan aku bisa sama kamu? Kamu dapat dari mana?" tanya Ryan.


"Lo boleh tanya sama calon istri lo yang picik dan licik ini! Dulu gue mempercayai Allea sama lo karena gue pikir lo cowok yang baik dan bakal jagain Allea, tapi ternyata lo enggak lebih dari sekedar pecundang. Setelah lo nyakitin Allea, lo biarkan perempuan ini ngasih undangan pernikahan kalian ke Allea?" protes Iqbal.


"Atau sebenarnya lo yang sengaja karena enggak cukup menyakiti Allea?" Sekali lagi Iqbal memukul wajah Ryan, lalu ia pergi meninggalkan mereka.


Sepeninggalan Iqbal, Syarla membantu Ryan berdiri. Ia sangat khawatir melihat luka memar yang ada di wajah calon suaminya itu. Namun, semakin kesalnya Ryan bukan berterima kasih tapi justru menghempas tangan wanita itu.


"Aku sudah bilang berapa kali sama kamu, kalau kamu jangan mengusik kehidupan Allea. Tapi kamu malah datang ke rumahnya dengan membawakan dia undangan pernikahan kita," protesnya. "Aku benar-benar tidak ngerti apa yang ada dalam pikiran kamu!"


"Maafin aku, Ryan. Aku cuma berniat baik mau mengundang Allea karena mau baikan dengannya, tapi aku enggak sangka kalau dia sesensitif ini."


Ryan tidak peduli apa yang menjadi alasan wanita itu. Sekali lagi, ia menegaskan lebih tegas lagi padanya. Dan, setelah itu, Ryan pergi begitu saja meninggalkan Syarla. Pria itu tidak peduli dengan apa wanita itu pulang semakin memuncaknya amarah dalam dirinya.