
Seorang wanita berjas putih masuk ke dalam kamar Allea di tengah ia menikmati sarapan pagi bersama Iqbal. Melihat Allea yang sudah baik-baik saja, wanita itu mengijinkan Allea pulang siang ini.
"Serius, Dok, saya sudah bisa pulang?" tanya Allea semringah mendengarnya.
"Iya, kamu boleh pulang. Tapi, kamu harus jaga makannya dan jaga pola tidur agar anemia kamu tidak kumat lagi." Allea mengangguk mengerti.
Selama ini, Allea tidak pernah seperti ini berlebihan. Sampai pada akhirnya, ia di vonis Dokter menderita anemia.
Cklek ...
Tidak lama setelah Dokter itu keluar ruangan Allea, Vena, Andre, dan Cleo datang mengunjungi Allea. Vena langsung memeluk Allea dengan erat. "Kamu jangan seperti ini lagi, ya. Mama dan Papa sampai panik lihat kamu seperti ini," protes wanita paruh baya itu.
"Iya, Ma. Ma, Pa, maafin aku, ya. Kalian sampai panik gara-gara aku."
"Enggak apa-apa, All. Papa dan Mama hanya berharap kalau kamu secepatnya melupakan laki-laki berengsek itu!" cecar Andre.
Allea langsung menatap Iqbal, lalu berpindah ke arah Cleo. Wanita itu sempat kaget kalau kedua orang tuanya sudah tahu masalah yang sedang dialami Allea. Padahal ia pernah minta sama Iqbal ataupun Cleo agar tidak bicara apa-apa.
Semakin tulus dan baik hatinya, Allea sampai tidak mau Vena dan Andre mengetahui kabar putusnya hubungan mereka karena masalah scandal Ryan dan Syarla. Justru, Allea maunya Vena dan Andre tahu mereka putus karena memang tidak ada kecocokan.
Allea tidak mau nama Ryan, lelaki yang masih di cintainya sampai saat ini jelek di mata kedua orang tuanya. Ia sangat menjaga dan menutupi keburukan Ryan.
Baginya, putus hanya perkara biasa untuk sepasang kekasih namun jika sudah terlibat scandal, sudah pasti nama baik Ryan buruk selamanya.
"Gue yang ngasih tahu Mama dan Papa. Jadi, lo jangan ngebereng sama Cleo," kata Iqbal.
"Allea, Papa tahu kalau kamu menjaga nama baik Ryan. Meskipun begitu, tetap saja Mama dan Papa harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan diri kamu, karena kamu ini anak perempuan kami," ucap Andre.
Allea merasa bersalah karena sudah berniat menutupi semua dari mereka. Mereka memang berhak tahu, hanya saja wanita itu takut membuat mama dan papanya khawatir akan dirinya. Allea salah, justru Vena dan Andre akan makin khawatir kalau anak perempuannya mempunyai masalah tapi malah tidak bilang apa-apa.
"Yang dibilang Papa benar. Kami di sini semuanya sayang sekali sama kamu. Jadi, dalam masalah apapun, kamu tetap harus melibatkan kami. Setidaknya minta nasehat kami." Wanita itu mengangguk sembari merekahkan senyum.
Sejak dulu sampai sekarang, Allea memang selalu jadi perempuan yang beruntung karena setelah ditinggal oleh ibu kandung selama-lamanya, Tuhan memberikannya ibu sambung yang baik dan menyayanginya. Hingga akhirnya wanita itu mempunyai keluarga utuh kembali seperti dahulu kala.
Selesai itu, Cleo membantu merapikan semua barang Allea. Mereka membawanya pulang setelah Iqbal mengurus biaya administrasi rumah sakit.
***
Mobil hitam itu memasuki pekarangan rumah dan terparkir di depan garasi. Pelan-pelan Vena menuntun Allea berjalan dan yang lain mengambil tugas masing-masing.
Semua orang masih berada di kamar Allea disaat Cleo sendiri yang sudah memasuki kamarnya.
"Iqbal, Mama dan Papa mau bicara sama kamu. Selagi kita berkumpul di sini dan tidak ada Cleo juga," kata Vena.
"Mau ngobrolin apa, Ma?" Iqbal mengerutkan dahinya bingung. Wanita paruh baya itu bicara apa yang mau dibicarakan. Andre sangat setuju, terutama dengan Allea. Namun, Iqbal masih tidak tahu bisa menerimanya atau tidak karena di hatinya masih ada Allea sampai hari ini.
Iqbal tidak mau kalau pada akhirnya Cleo malah kecewa padanya karena tidak bisa mencintainya. "Ma, Pa, apa enggak lebih baik aku cari sendiri saja perempuan yang bagaimana kalau memang mau aku jadikan pacar?" bantahnya lemah lembut.
"Iqbal, perempuan yang cantik banyak tapi buat Mama dan Papa, Cleo perempuan terbaik untuk jadi pasangan kamu," kata Vena.
"Iya, Bal. Cleo itu hidup sendiri, dia enggak punya siapa-siapa lagi. Mama dan papanya meninggal karena kecelakaan. Gue juga rencana mau jodohi Cleo sama lo sebenarnya, tapi masalah percintaan gue malah hancur berantakan."
"Ma, Pa, nanti aku pikirkan lagi gimana. Aku harus buru-buru pergi ngurusin kerjaan. Aku pergi dulu, ya." Pria itu pergi ke kantor karena memang masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Waktu terus berputar, tidak terasa hari semakin sore dan semakin malam. Suasana rumah tampak sepi karena yang lain sudah tertidur pulas, sedangkan Cleo merasa lapar karena tadi tidak ikut makan malam.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu rumah terbuka, membuat Cleo parno dan ketakutan. Ia berusaha mencari alat bantu untuk berjaga-jaga jika nanti orang yang masuk itu mengambil tindakan bersikap kasar padanya.
Tepat di ruang tamu, samar-samar Cleo memperhatikan seseorang menutup pintu ruang tamu. Cleo tidak tahu pasti itu siapa karena keadaan lampu sudah padam. Dan, dengan keberaniannya ia memukuli orang itu.
Orang itu merintih kesakitan akibat pukulan kuat dari kayu balok yang dipegang Cleo. "Cle, ini gue Iqbal." Sejenak Cleo berhenti karena baru menyadari kalau ternyata Iqbal yang baru saja pulang dari kantor.
"Maafin aku, ya. Aku benar-benar enggak tahu kalau kamu yang pulang," jelas Cleo. "Lagian, kamu ngapain ngendap-ngendap ..." Belum lagi wanita itu siap bicara, Iqbal menutup mulutnya karena suaranya yang ngelengking dan Iqbal takut membuat semua orang bangun karena mereka berdua.
Saat tangan Iqbal menutup mulut Cleo, kedua mata mereka saling bertemu dan tatap-menatap dengan sangat tajam. "Ternyata, Cleo cantik juga. Enggak kalah cantik sama Allea," batin pria itu.
"Maaf, gue enggak bermaksud," kata Iqbal tidak enak karena lancang menyekap mulut wanita itu. Lantas, Cleo malah salah tingkah akibat Iqbal. Sudah lama sekali rasanya ia tidak berinteraksi dengan lawan jenisnya, setelah sempat patah hati dan mengalami hal yang sama persis seperti Allea.
"Enggak apa-apa kok, Bal. Kamu dari mana? Kenapa baru pulang?" tanya Cleo yang sebenarnya tidak tahu harus bertanya apa untuk sekedar berbasa-basi.
"Habis dari kantor, banyak banget kerjaan dan baru tadi selesai semuanya. Lo sendiri kenapa belum tidur?"
"Kebetulan aku belum makan malam, tadi enggak keburu ikut makan malam bareng keluarga kamu. Jadi, ini mau masak mie instan."
"Kebetulan banget gue juga belum makan. Gue bawa makanan, gimana kalau makan bareng?" ajak Iqbal. Cleo mengangguk, menerima ajakan pria itu.
Mereka pergi ke meja makan dan makan bersama di sana. Memikirkan soal ucapan mamanya tadi, Iqbal merasa tidak ada yang salah jika dirinya mendekatkan diri pada Cleo dan coba membuka hati agar ia tidak terus teringat oleh Allea.