
Dari tadi Allea tampak gelisah karena tidak mendapati buku yang dicarinya. Ryan ingin membantu, namun ia tidak tahu buku apa yang sebenarnya dicari gadis itu.
"Sebenarnya buku apa sih yang lo cari?" tanya Ryan mau tahu agar dia bisa membantunya.
"Gue lagi nyari buku buat masuk ke kampus ternama di Jerman. Rencana gue, gue mau ngulang dari semester satu dan ambil jurusan jurnalistik. Kayaknya untuk bisnis manageman, gue ngundurkan diri. Enggak mau lanjut lagi."
"Jadi, lo benaran bakal pindah kuliah ke Jerman?" Allea mengangguk sambil kedua matanya mencari-cari buku yang dicarinya sejak tadi. "Eh, ini buku yang gue cari. Akhirnya dapat juga. Gue bayar ke kasir dulu, ya." Allea melangkah ke kasir, sedangkan Ryan fokus menatap punggung gadis itu.
Selesai membayar, Allea kembali menghampiri Ryan. Mereka berlalu dari sana ke suatu tempat. Ryan membawa Allea ke angkringan anak muda, tapi nyaman.
"Ternyata di Jakarta ada tempat kayak gini, ya? Ih, gue baru tahu dan kalau bukan lo yang bawa gue ke sini, gue enggak bakal tahu," jelas Allea.
Disambilin menunggu makanan datang, tampak Ryan melamun. Ia bingung harus berkata jujur atau tidak perihal perasaannya pada Allea. Namun, kembali lagi seperti apa yang dikatakan Iqbal. Ryan akan menyesal jika tidak menyatakan sesungguhnya perasaannya sebelum gadis itu pergi ke negera yang ingin dipijaknya.
Sama halnya, seperti Iqbal yang menyesal tidak menyatakan perasaannya yang sebenarnya sebelum ia mengetahui Vena dan Andre mempunyai hubungan khusus.
"Ryan, lo kenapa?" Suara gadis itu spontan membuat Ryan tersentak akibat kaget. "Lo kenapa, sih?" lanjut Allea bertanya ingin tahu.
Sejenak Ryan menarik napas dalam-dalam, lalu menghelakannya perlahan untuk merilekskan kepalanya. Ia menatap lekat kedua mata Allea. Pada saat itu, Ryan pun menyatakan perasaannya pada Allea.
Gadis itu terlihat bingung dalam diamnya. Ia tercengang mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Ryan.
"Lo bercanda?" Allea tidak meyakininya, namun itulah yang dirasakan pemuda itu. Ia sungguh jatuh hati pada Allea.
"Gue enggak bercanda, All. Rencananya gue mau bilang nanti disaat ada waktu yang tepat, tapi gue rasa ini adalah waktu yang tepat buat gue bilang semua kebenarannya. Ditambah lo mau pergi ke Jerman, tentunya gue enggak mau menyesal kalau belum mengatakan perasaan gue yang sebenarnya."
Allea bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa pada pemuda yang ada di hadapannya kini. Ia tidak mau membuat Ryan kecewa, apalagi menunggu kepulangannya dari Jerman yang belum tahu kepastiannya. Namun, siapa sangka kalau pemuda itu bisa menebak isi hati Allea.
"Lo kok bisa tahu sama yang gue pikirkan?"
"Kelihatan dari muka lo. Lo nampak bingung mau jawab apa," tebaknya. "All, gue tahu cita-cita lo mau ke Jerman. Gue juga tahu keinginan lo pindah kuliah sampai ke sana bukan cuma semata karena cita-cita lo, tapi karena mau move on dari Rangga dan Rhea. Tapi, gue bakal nunggu kepulangan lo dari Jerman."
"Mana mungkin lo bisa nunggu gue. Pasti lo bakal berpaling dari gue. Rangga yang dekat sama gue saja bisa kecantol sama sahabat gue, apalagi kita yang jauh dan lo baru kenal gue."
Kenyataannya, Ryan meyakini Allea. Ia akan memegang teguh perasaan dan janjinya pada gadis itu dengan hukuman dirinya akan menjauh dengan sendirinya dari kehidupan Allea karena sudah ingkar untuk menanti kepulangan Allea.
"Jangan terlalu dipaksa, An. Gue enggak mau lo maksa semua keinginan yang terpaksa lo jalani cuma karena gue."
"Gue enggak maksa dan gue benar adanya. Gue bakal nunggu sampai nanti gue tamat kuliah, dan sampai lo tamat kuliah dengan waktu yang nambah di dua tahun lagi. Anggap saja semua buat ngelatih kesabaran gue."
"Tapi, Ryan, gue enggak bisa jawab sekarang. Lo tahu sendiri kalau gue masih trauma dan ..." Mendadak Ryan memotong perkataan Allea. Ia sudah tahu apa yang dimaksud gadis itu.
"All, gue enggak minta lo jawab sekarang. Gue bakal nunggu lo balik ke Jakarta dan di situ baru lo jawab pertanyaan gue." Ryan sampai sebegitunya, sampai ia rela menunggu dengan sabar kepulangan Allea.
"Kalau memang lo maunya gitu, terserah lo. Tapi, gue pesan kalau memang ada cewek lain yang lo suka, lo boleh lupain gue dan enggak perlu nunggu gue." Allea sengaja berkata demikian, karena ia tahu di antara dirinya dan Ryan tidak mempunyai hubungan apa-apa untuk saat ini. Bahkan, ketika Allea akan pergi pun, hubungan mereka hanya sebatas teman biasa.
Ryan cukup lega sudah menyatakan perasaannya, meskipun belum mendapat jawaban dari Allea. Yang terpenting adalah disaat ia tidak memiliki beban apapun lagi di dalam relung hati perihal Allea.
Meskipun begitu, Allea tidak menjauhkan diri dari Ryan. Buatnya, Ryan pemuda baik dan karena itu Allea masih mau dekat dengannya seperti hari-hari biasanya. Tertawa bersama, pergi bareng, dan bahkan seringkali meminta pertolongan perihal apa saja tanpa ragu pada Ryan.
"Makasih, ya, Ryan." Mendadak ucapan terima kasih itu membuat Ryan bingung.
"Buat apa, All?"
"Lo selalu berbuat baik sama gue. Meskipun belum lama, tapi lo berusaha jaga gue. Bahkan, setelah lo belum mendapati jawaban dari gue tentang perasaan lo tapi lo masih mau bertahan untuk tetap berada di samping gue," seru Allea sambil menatap fokus ke depan dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Gue enggak bakal lupain lo ketika gue sudah di Jerman," lanjutnya sambil mengalihkan pandangannya kepada pemuda itu. "Gue bakal ingat lo, seperti gue yang selalu ingat Iqbal. Gue janji, ketika gue sudah balik ke Jakarta, gue bakal langsung ngabarin lo. Jangan pernah ganti nomor handphone lo, ya."
Perasaan Allea memang selalu tenang ketika berada dekat dengan Ryan. Tidak tahu kenapa, tapi itu yang gadis itu rasakan. Mungkin karena Ryan memang pemuda yang benar-benar baik, sehingga Allea bisa menilai baik pemuda itu.