Allea

Allea
Chapter 24. Korban Masa Lalu



Ryan menekan gas mobilnya kencang ke arah tempat terjadinya Allea kecelakaan mobil. Perjalanan yang harusnya ditempuh dengan waktu empat puluh menit, kini ia berhasil menempuh dengan waktu dua puluh menit.


Sesampai di tempat kejadian, Ryan melihat adanya Rangga bersama Allea. Sepertinya Rangga sudah sejak tadi ada di sana menamaninya. Ia baru tahu kalau Allea masih berhubungan dengan mantan kekasihnya itu.


"Lo serius enggak kenapa-napa?" Rangga terlihat khawatir saat mengetahui Allea kecelakaan. Untungnya, Rangga lewat saat kejadian itu dan menandai cepat mobil Allea.


"Gue enggak apa-apa, cuma kaki gue sedikit lecet." Allea mencoba berjalan, namun kaki kirinya sedikit sakit akibat kecelakaan itu. Jalannya yang tertatih dan hampir saja terjatuh membuat Rangga cepat memapahnya.


Sepasang mata Allea dan Rangga saling bertemu disaat Rangga menangkap tubuh gadis itu. Rangga terbawa suasana, mengingat kembali kisahnya yang dulu saat masih bersama Allea. Begitu juga Allea, meskipun di antara mereka sudah berakhir sejak lama, namun walau hanya sedikit ia sadar kalau Rangga adalah mantan kekasihnya.


Tersadar, Allea melihat Ryan yang berdiri memperhatikannya bersama Rangga ketika terdengar namanya dipanggil. Refleks, Allea melepaskan dirinya dari genggaman Rangga. "Ryan, sejak kapan lo di situ?" tanya Allea gugup.


"Gue baru saja sampai. Pas lo nelepon dan bilang kecelakaan, gue langsung ke sini. Lo enggak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Ryan mengontrol rasa cemburunya. Ia bersikap seakan tidak terjadi apa-apa.


"Makasih, Ngga, lo sudah bantuin Allea." Tanpa tertebak, Ryan langsung mengangkat tubuh kekasihnya. Entah sengaja atau tidak, tapi caranya menjelaskan kalau gadis yang dulu menjadi kekasihnya kini adalah kekasihnya. Raut wajah Rangga kelihatan tidak enak, ia seakan cemburu dengan apa yang dilihat.


Ryan membawa Allea ke dalam mobilnya. Kemudian, ia menghubungi bengkel langganan teman satu kantornya untuk membawa dan memperbaiki mobil Allea. Setelah itu, tidak memperdulikan Rangga. Ia malah meninggalkannya begitu saja.


Rangga menatap kepergian mobil Ryan, hingga mobilnya hilang dari pandangannya.


Seketika suasana di dalam mobil hening, hanya terdengar suara musik yang distel oleh Ryan. Lelaki itu diam tanpa suara sejak tadi. Wajahnya terlihat jutek dan sedikit kesal. Meskipun Ryan tidak menunjukan amarahnya, namun Allea tahu kalau sang kekasih pasti kesal.


"Ryan." Allea memanggil namanya.


"Kenapa, All?" jawab Ryan masih tetap fokus pada pandangan dan kemudinya.


"Soal Rangga tadi, itu enggak sengaja. Gue enggak tahu tiba-tiba saja dia nongol dan nolongi gue," jelas Allea. Ia tidak mau terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan Ryan. Ia tidak mau membuat Ryan merasa cemburu pada mantan kekasihnya.


"Gue enggak apa-apa, All. Gue tahu kok tadi Rangga cuma bantuin lo. Lagian, lo sudah jadi pacar gue. Terus buat apa gue takut?" tanya Ryan. Gue tahu kalau orang yang masih pacaran bisa saja selingkuh, tapi gue yakin kalau lo enggak gitu. Apalagi kalau lo balik sama Rangga."


Allea menyandarkan posisi duduknya sembari tersenyum lega karena Ryan merasa baik-baik saja. Ia merasa seperti mendapati seorang malaikat dalam hidupnya. Tidak ada yang tahu bagaimana rasa bahagianya memiliki Ryan, selain Tuhanlah yang tahu bahwa dirinya begitu bahagia.


"Kalau dipikirkan berkali-kali, gue merasa beruntung karena punya lo," ucap Allea menoleh ke arah Ryan. "Makasih, karena sudah hadir dalam hidup gue." Senyum merekah diberikannya kepada Ryan.


Tuhan memang adil. Dikala Allea sedang dilanda luka mendalam, seketika itu Tuhan juga mengirimkan seseorang berhati malaikat dan luar biasa. Bagi Allea, Ryan anugerah terindah untuknya.


"Allea," panggil seseorang. Refleks, membuatnya menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia melihat Rhea dan itu hal yang paling tidak disukainya. Bagaimana bisa orang yang sudah mengkhianatinya, tanpa tahu malu memasang wajah tembok dan berani menyapa orang yang menjadi korbannya? Padahal harusnya ia menutup diri dan merasa malu dengan apa yang pernah dilakukannya.


"Lo sudah balik ke Jakarta? Oia, apa kabar?" Rhea bertanya tanpa merasa salah dan sesal. Ia bertanya seolah semua tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Allea.


"Ryan, sepertinya kita harus cepat-cepat masuk. Gue enggak bisa terlalu lama berdiri di sini." Allea mencoba melanjutkan langkah kakinya, namun Rhea mengejarnya dan menahan.


"All, sudah lama kita enggak ketemu. Sepeninggalan lo ke Jerman dulu, ngebuat gue merasa sepi sebenarnya. Gue sadar kalau kesalahan gue fatal dan mungkin lo enggak bisa maafin gue, fine. Tapi lo perlu tahu kalau gue selalu menanti pertemuan kita seperti ini."


"Maaf, Rhe, gue enggak punya waktu."


"Gue sudah putus sama Rangga," ucap Rhea menegaskan.


"Dan kalian putus karena lo selingkuh?" sindir Allea. "Rhe, gue enggak pernah peduli alasan elo dan Rangga bubar. Semenjak lo dan Rangga khianati gue, sejak itu buat gue kalian sudah tertanam di dalam tanah. Dan, lo ngerti 'kan maksud gue? Mati!"


"Gue tahu, kalau gue salah tapi maafin gue ya, All ..."


"Harusnya, lo minta maaf sama gue dari awal. Dari lo awal mula pacaran sama Rangga dan harusnya lo sadar buat ngelepasnya ketika itu. Tapi kenyataannya lo malah melanjutkan kisah cinta lo dengan Rangga. Lo sama sekali enggak peduli, meskipun lo sadar kalau gue memohon!"


Ternyata, hal yang sudah membuatnya lupa belum tentu membuatnya berhasil untuk benar-benar lupa akan kisah masa lalunya. Melihat kembali wajah Rangga mungkin tidak terlalu sakit, tapi ketika melihat kembali Rhea entah kenapa membuat luka itu muncul kembali. Tidakkah Allea sudah lama tidak berada dalam kepedihan itu?


"Kalau lo memang menyesal, lo cukup enggak ngulang hal yang sama seperti dulu. Tapi, kalau lo berharapnya gue maafin lo dan semua berjalan balik lagi seperti dulu, sepertinya gue enggak bisa."


Allea menggandeng tangan Ryan masuk ke dalam mall. Ia tidak peduli lagi dengan Rhea yang ada berdiri di sana. Allea sudah merasa tersakiti dengan apa yang ia berikan pada mereka berdua.


"Gue tahu perasaan lo, All, tapi apa lo enggak mau memaafkan Rhea sedikit saja? Dia pernah jadi sahabat kecil dan keluarga buat lo," seru Ryan.


"Gue tahu, Rhea pernah ada di hidup gue. Menjadi sahabat kecil dan baik gue, yang ternyata tidak menjamin kalau dia akan menjaga perasaan sahabatnya sendiri. Tapi kalau untuk masih berhubungan dengannya, mengulang persahabat seperti yang pernah ada dulu, sepertinya gue enggak bisa."


Gadis itu menutup rapat hatinya untuk menerima kembali Rhea menjadi sahabatnya. Ia tidak mau hidupnya dikelilingi oleh orang-orang seperti Rangga dan Rhea.


"Biarin saja! Mungkin memang lebih baik seperti ini ..."