Allea

Allea
Chapter 43. Allea Memburuk



Dalam sunyi Allea masih terlihat sedih dan hancur. Wajar saja karena keputusannya dengan Ryan masih berjalan tiga hari dan itu belum bisa membuatnya lupa walau sedikit.


"Allea ..." Dari depan kamar Vena mengetuk pintu kamar wanita itu dan memanggilnya, namun tidak terdengar suara sahutan dari dalam kamar.


"Tante, Allea belum mau keluar juga?" tanya Cleo. Semenjak Allea patah hati, wanita itu meminta Cleo pindah kamar ke kamar tamu. Ia tidak mau diganggu meskipun dengan Cleo. Sendiri adalah jalan yang tepat untuk menenangkan diri.


"All, ini Cleo. Buka pintunya dong, All, kamu harus isi perut setidaknya dikit saja." Cleo coba membujuk Allea karena dari kemarin Allea tidak ada keluar kamar. Bahkan makan saja tidak sama sekali.


"Cle, Tante takut Allea sakit karena dia belum ada makan semenjak kejadian itu." Perasaan kalut lahir dari dalam diri Vena. Wanita paruh baya itu juga selalu dan memohon agar Allea keluar kamar, sama seperti yang dipinta Andre dan Iqbal tapi tetap tidak ada respon darinya.


"Aku juga bingung, Tante. Aku juga sudah coba bujuk Allea, tapi tetap sama."


"Sepertinya rasa kecewa Allea kali ini begitu dalam," kata Vena. Bagaimana tidak? Siapa pun akan mengalami sangat terluka jika orang yang di cintai menghamili perempuan lain.


"Tante, kita biarin Allea saja dulu, ya. Mungkin Allea masih butuh waktu sendiri." Vena mengangguk, mengikuti yang dibilang Cleo.


Setelah itu, Cleo pergi ke satu coffe shop. Di sana tanpa sengaja ia dan Syarla saling berpapasan. "Kamu temannya Allea, 'kan?"


Cleo sangat tanda dengan wajah wanita itu. Wanita yang sudah berhasil menghancurkan sahabatnya. Wanita yang sudah membuat Allea tidak karuan beberapa hari ini.


Rasanya ingin sekali Cleo menghabiskan Syarla saat itu juga di tempat tersebut. Tanpa tahu malunya ia menyapa seolah tidak terjadi apa-apa. Tidakkah, harusnya wanita itu merasa bersalah lalu meminta maaf pada Allea. Tapo, tidak dilakukannya sama sekali.


"Gimana keadaan Allea? Masih sehat, 'kan? Atau tidak berdaya?" Cleo tersenyum sinis melihatnya.


"Ternyata, dugaan aku benar kalau kamu perempuan tidak tahu malu. Harusnya Ryan bisa lihat sendiri kalau ternyata selama itu, perempuan yang katanya pernah jadi pujaan hatinya tidak sebaik yang dia nilai. Syar, kamu miris banget ya ternyata ..."


Nada suara Cleo terdengar iba, namun disembarikan dengan senyum sinis menatap Syarla. Cleo tidak tinggal diam. Setelah berhasil menghancurkan sahabatnya, ia tidak diam mendengar sahabatnya dicecar dan dihina.


Begitu kesalnya Syarla mendengar Cleo bicara. Ia begitu malu dengan rekan kerjanya karena dengan begitu nama baiknya kecoreng di depan mereka.


"Jaga mulut kamu! Ryan yang sudah ngambil keputusan ini. Jadi, jangan bilang kalau aku yang ngerebut tapi teman kamu yang tidak becus jaga pacarnya." Syarla mencoba membantah ucapan Cleo.


"Aku enggak ada nyinggung masalah rebut-merebut, lho. Jadi, dengan begini kamu membenarkan kalau kamu memang ngerebut Ryan dari Allea?" tanya Cleo sengaja untuk memancing emosi wanita itu.


Syarla yang tidak tahan dengan hujatan Cleo malah berbuat kasar. Sayangnya, dengan cepat Cleo menangkap tangan Syarla yang dilayangkan ke wajahnya. "Jangan pernah coba-coba kasar sama aku, karena aku bisa lakukan hal yang sama. Bahkan lebih dari ini ke kamu," seru Cleo.


Cleo menghempas kasar tangan Syarla ketika wanita itu berusaha melepaskan genggaman Cleo. Syarla merasa sakit di pergelangan tangannya. Dan, ia pergi meninggalkannya begitu saja.


Tanpa mengetuk pintu dan menunggu kabar dari wanita yang menjadi sekretaris Ryan, Syarla membuka pintu ruangan pria itu persis seperti maling.


"Harusnya kamu bisa ketuk pintu aku dulu sebelum masuk ke ruangan aku. Bukan malah masuk sesuka hati kamu. Paling tidak kamu bisa minta Starla buat kabari aku kalau kamu mau ketemu aku," protes pria itu.


"Buat apa aku bilang sekretaris kamu? Aku ini calon istri kamu dan sebentar lagi kita akan hidup sama-sama. Jadi, hal yang wajar kalau aku datang ke sini dan masuk tanpa bilang-bilang."


"Ini kantor aku. Kalau kamu mau suka-suka, silakan di kantor kamu. Jangan buat bisnis aku sial gara-gara sikap kamu ini!"


"Jadi kamu anggap aku pembawa sial?" Syarla semakin tersulut emosi tanpa tahu diri. "Semua ini gara-gara mantan kamu si Allea itu. Aku ketemu temannya dan dia coba menghina aku."


"Apa hubungannya dengan Allea? Allea tidak salah sama sekali, dia tidak tahu apa-apa. Bahkan saat kamu ngerebut aku dari dia saja, dia baru tahu kalau aku yang berkhianat. Padahal semua ini rencana dari kamu."


Sejenak ucapan Ryan seperti ia membela Allea. Membuat Syarla marah dan tidak terima. "Jadi, kamu berusaha bela mantan kamu itu?"


"Tolong cerna apa yang aku bilang ke kamu. Aku bukan bela Allea, tapi yang aku mau kamu jangan pernah ganggu Allea. Sekarang, aku sudah sama kamu dan aku rasa itu semua sudah cukup buat kamu. Jadi, aku tegasin sekali lagi sama kamu, jangan ganggu Allea lagi!"


Ryan memberi peringatan pada Syarla. Seketika wanita itu tidak senang dengan pembelaan yang dibuat Ryan untuk Allea. "Kamu masih suka sama perempuan itu dan berharap lebih sama dia?" tanya Syarla.


"Kalau seandainya aku jawab masih, kenapa? Alle memang pantas buat dibela. Dia perempuan baik dan enggak akan pernah ngambil kesempatan di balik peluang seperti yang kamu lakukan?"


"Kamu nuduh aku ngambil peluang buat jebak kamu?" Perdebatan itu terus terjadi, sampai-sampai membuat pegawai di kantor Ryan berkumpul akibat mendengar kericuhan itu.


Waktu terus berputar, tapi Allea belum juga keluar dari kamar. Tidak ada tanda-tanda Allea akan menampakan dirinya. Di dalam sana ia hanya tidur seharian tanpa melakukan apa-apa.


Cleo berpikir keras bagaimana caranya Allea mau keluar kamar. Mereka takut Allea benar kenapa-napa di dalam sana. Tidak bisa bayangkan jika sesuatu terjadi pada sahabatnya itu.


Pas jam makan siang, Cleo membawakan makan siang untuk Allea. Ia juga sempat meletakannya di atas meja yang tidak jauh letaknya dari pintu kamar Allea karena wanita itu tidak juga keluar ketika diminta Cleo.


Namun, makanan itu juga tidak tersentuh sama sekali oleh Allea ketika Cleo kembali bermaksud untuk membawa bekas piring kotor Allea.


"Allea belum mau keluar juga?" tanya Iqbal yang tiba-tiba muncul.


Cleo menggeleng kecewa dengan rasa ketakutannya. Tapi, lagi-lagi mereka membiarkan Allea sendiri, sampai akhirnya Andre memaksa masuk dan mendobrak pintu kamar Allea. Dan, di dalam sana mereka menemukan Allea yang sudah lemas tak berdaya dan pucat pasi.