
Ryan langsung menemui Allea ketika ia mendapati kekasihnya keluar rumah menuju mobilnya. Ia mencegah kepergian Allea, namun perempuan itu berusaha untuk menghindar darinya.
"All, aku mohon tunggu sebentar. Dengari penjelasan aku, karena aku tidak pernah bohong sama kamu. Aku enggak pernah berkhianat sedikitpun dari kamu."
"Terus, suara yang aku dengar itu suara siapa? Perempuan di balik telepon itu siapa, Ryan?" Ternyata, Allea belum mengetahui kalau wanita yang sedang bersama Ryan adalah benar Syarla.
Ryan tidak bisa menjelaskan, ia tidak mau jika kejujurannya saat bersama Syarla justru malah membenarkan dugaan Allea kalau selama ini Ryan memang selingkuh di belakangnya bersama Syarla. Padahal yang sebenarnya terjadi Ryan dijebak oleh mantan kekasihnya.
"Jawab aku ... Enggak bisa, 'kan? Kalau begitu dugaan aku benar dan suara itu memang suara kamu meskipun aku enggak tahu siapa perempuan itu."
Ryan terus mencegah Allea pergi, yang ia mau wanita itu mempercayainya. Namun, yang didapatinya tidak sama sekali.
Disaat mereka berdebat dan Allea mencoba melepaskan genggaman tangan Ryan darinya, dari dalam rumah muncul Iqbal dan Cleo karena mendengar keributan dari luar rumah.
Mereka langsung bergerak cepat saat tahu Ryan berusaha mencegah kepergian Allea. "Mau lo apa sih, An? Allea sudah bilang kalau dia enggak mau ketemu sama lo! Harusnya lo jangan maksa Allea," protes Iqbal.
"Selama ini lo yang percaya sama gue, Bal. Gue enggak mungkin mengkhianati Allea."
"Diam lo, Ryan!" Lagi-lagi Iqbal memukul wajah Ryan dan membuatnya jatuh. Di tengah keributan itu, Syarla datang membuat suasana semakin riuh.
"Ngapain lo ke sini? Mau buat masalah setelah lo berhasil buat kacau semuanya?"
"Ryan, aku mau kamu tanggung jawab sama apa yang kamu buat sama aku," kata Syarla mengambil kesempatan di tengah keributan mereka.
Dengan sengaja Syarla berkata demikian untuk memancing emosi Allea. Dan, benar sekali satu pertanyaan ingin tahu keluar dari bibir Allea.
"Apa yang sudah dilakukan Ryan sama kamu, Syar?" tanya Allea dengan keingintahuan yang bergebu-gebu.
Wajah Ryan berubah pucat, ia menatap Syarla berharap bukan wanita itu yang menjelaskan kejadian pada malam itu pada kekasihnya. Sayangnya, Syarla tidak sabar memberi tahu Allea agar wanita itu mengetahui kebenarannya dan secepatnya mengakhiri hubungannya dengan Ryan.
Dengan begitu, Ryan akan jadi miliknya selamanya karena memang harus menikahinya atas apa yang dilakukannya pada malam itu. Baik sadar maupun tidak sadar.
"Jawab aku, apa yang dilakukan Ryan sama kamu!" Dengan liciknya Syarla menjelaskan semua yang terjadi, seolah Ryan tidak sadar atas perbuatannya sendiri. Padahal semua adalah perbuatan Syarla, tapi ia merasa dirinya jadi korban.
Mendengar semua cerita itu, artinya dugaan Allea memang benar kalau wanita di balik telepon itu bersama Ryan saling sahut-menyahut memanglah Syarla.
"Ryan, aku hamil. Aku tidak bohong hanya untuk mendapati perhatian kamu atau mendapati diri kamu. Kamu bisa lihat ini sendiri." Syarla memberikan amplop putih pada pria itu.
Ryan mengambilnya dan membaca jelas surat pernyataan rumah sakit kalau benar adanya wanita itu sedang hamil.
"Cukup, Ryan!" Allea pun bersuara. Baginya sungguh menjijikan pria itu karena berusaha menyangkal dari perbuatannya. Pura-pura tidak tahu dan berusaha lari dari kenyataan.
"Kamu sudah jelas melihat surat rumah sakit yang menyatakan Syarla hamil, lalu kamu juga lihat hasil USG atas nama Syarla. Semua itu sudah cukup menjelaskan kalau Syarla tidak berpura-pura, dia benaran hamil," bantah Allea.
"Aku enggak nyangka kalau kamu menuduh aku. Kamu jelas tahu aku bagaimana, tapi kenapa kamu bisa nuduh aku sejahat ini, Ryan? Oke, kamu mau buktinya? Aku akan kasih," sambung Syarla.
Syarla memberikan ponselnya pada Ryan. Bukan hanya Ryan yang melihat, tapi juga yang lain kecuali Allea karena ia tidak sanggup. Mendengar suara Ryan dan Syarla yang saling sahut-menyahut saja, membuatnya tidak sanggup.
Seketika napasnya terasa sesak dengan detak jantung semakin bergebu-gebu. Allea harus mendengar lagi suara menjijikan itu.
Di dalam video itu, Ryan tidak seperti orang yang sedang tak sadarkan diri atau mabuk. Ia seperti orang sadar akan perbuatannya, tapi terus memaksa Syarla mengikuti maunya.
"Aku sengaja merekam perbuatan kamu untuk membela diri, karena aku tahu kejadian ini tidak akan kamu akui. Aku enggak sanggup kalau harus menanggung semua ini sendiri, makanya aku berusaha membuat bukti supaya kamu mau bertanggung jawab," jelas Syarla.
"Ryan, kalau bukti ini kurang meyakini kamu, aku siap dicek ulang asalkan kamu mau bertanggung jawab atas perbuatan kamu ini."
Allea membuka pintu mobilnya, tapi dengan cepat Ryan menahannya. "Lepasin aku, Ryan. Mulai sekarang antara kita tidak ada apa-apa lagi. Aku cuma minta kamu tanggung jawab atas perbuatan kamu ke Syarla." Dengan getir wanita itu bicara.
Iqbal tidak tahan melihat Ryan berusaha menahan Allea tanpa tahu malu. Harusnya ia biarkan Allea pergi ketika dirinya jelas melakukan kesalahan.
Kesabaran Iqbal memang setipis tissue kalau sudah menyangkut luka Allea, hingga membuat Iqbal kembali memukul Ryan. "Lepasin tangan lo dari Allea!" pinta Iqbal dengan kasar.
Allea mengambil kesempatan pergi setelah genggaman Ryan lepas darinya. Ryan benar-benar lepas kendali karena sejak tadi Iqbal selalu membatalkan niatnya bicara dengan Allea. Membuat Ryan akhirnya juga memukulnya.
Iqbal tertawa tipis menerima pukulan dari Ryan. Menurutnya itu hanya pukulan kecil yang mengenai wajahnya. "Setelah lo nyakitin Allea, lo mukul gue?"
"Kamu yang maksa aku buat mukul kamu."
"Gue peringatin sekali lagi, jangan pernah lo dekatin Allea lagi! Lebih baik lo cepat nikahin Syarla sebelum kehamilannya makin membesar," kata Iqbal sembari memperingati Ryan lalu memukulnya untuk terakhir kali.
"Cukup, Iqbal. Sekarang kita harus cepat cari Allea. Aku takut Allea kenapa-napa," kata Cleo. Iqbal dan Cleo pergi meninggalkan Ryan yang penuh dengan luka memar di wajahnya. Padahal memar yang kemarin saja belum hilang.
Ryan terpuruk dalam kehancuran. Ia yang tidak pernah siap kehilangan Allea, kini malah kehilangannya. Yang dipikirnya akan hidup bahagia dengan wanita pilihannya, justru semua tinggal kenangan. Padahal tinggal selangkah Ryan akan mengikat Allea.
Perasaan Ryan benar-benar hancur karena ia merasa tidak melakukannya, tapi malah dituduh. Ditambah lagi harus kehilangan kekasihnya, membuat lukanya dua kali lipat. Tapi, untuk menyangkal pun percuma karena bukti itu jelas menunjukan Ryan bersama Syarla menikmati malam bersama.
"Ryan, ayo kita pergi dari sini," ajak Syarla. Tapi, Ryan tidak menggubris ajakan Syarla. Justru ia hanya bisa menangis karena apapun yang dicobanya untuk menjelaskan pada Allea, tidak membuat wanita itu kembali padanya.