Allea

Allea
Chapter 21. Cinta Tak Berbalas



Empat Tahun Kemudian


Pagi itu menjadi hari paling bahagia untuk semua mahasiswa dan mahasiswi akhir di Universitas Berlin Jerman. Mereka meraih kemenangan karena telah berhasil berada di ujung pencapaian dalam pendidikan.


Dengan baju wisuda dan toga di atas kepalanya, Allea tersenyum puas melihat langit yang cerah. Dihirupnya dalam-dalam udara segar pagi itu, lalu dihelanya perlahan.


Tidak terasa, akhirnya sebentar lagi Allea akan kembali ke Jakarta. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang-orang yang di cintainya, termasuk sang kekasih Ryan.


"All, selesai ini lo tetap di Jerman cari kerja atau balik ke Jakarta?" tanya Cleo, salah satu warga Jakarta juga.


"Gue balik ke Jakarta. Orang-orang di rumah gue pasti nungguin gue. Kalau lo sendiri, gimana?"


"Sepertinya, gue bakal tetap di Jerman. Lo tahu sendiri, 'kan, kalau nyokap gue sudah lama meninggal. Terus, bulan lalu bokap nyusul nyokap gue. Apalagi gue anak tunggal, jadi lebih baik gue tetap di sini," cerita gadis itu.


Allea mengangguk mengerti. Ia memang masih mempunyai keluarga lengkap, meskipun mama kandungnya telah tiada selama bertahun-tahun. Namun, ia beruntung karena mempunyai Vena walau hanya sebagai Ibu Sambung. Namun, kebaikan wanita itu luar biasa dan sama persis seperti ibu kandung Allea.


Usai acara wisuda, Allea langsung memesan tiket kepulangannya ke Jakarta besok siang. Kemudian, ia segera mengepak seluruh barangnya. Di tengah itu, ponselnya pun berdering.


"Besok lo berangkat jam berapa dari bandara Jerman?" tanya Ryan dari seberang sana.


"Jam sebelas gue sudah mulai penerbangan. Lo jemput gue, 'kan?"


"Kalau misalnya enggak, emangnya boleh?" tanya Ryan sembari menggoda kekasihnya itu dari balik telepon.


"Tidak, dong. Ingat, lo sudah ingkar enggak antar gue waktu gue mau pergi ke Jerman. Jadi, buat kali ini lo harus jemput gue."


"Memang anak perempuan satu ini tahunya nuntut saja. Sekali nuntut yang berlebih lagi," sindir Ryan. Namun, Allea tidak menggubris. Ia hanya tertawa kecil dengan protes Ryan.


Allea dan Ryan mengakhiri telepon mereka. Gadis itu lanjut menyusun semua barangnya. Handle pintu kamar terbuka, ia melihat Cleo masuk dan duduk di atas kasurnya. Iya, Cleo teman sekamar Allea selama mereka tinggal di asrama kampus.


Allea memang memilih tinggal di asrama kampus demi menjaga keselamatannya. Meskipun banyak orang yang tahu kalau Jerman menjadi salah satu negara yang aman, namun tetap saja gadis itu merasa lebih aman jika ada di sekitaran kampus bersama mahasiswa dan mahasiswi lainnya.


***


Setelah enam bulan kepergian Allea terbang menuju Jerman, Iqbal memutuskan untuk tinggal bersama Andre dan Vena. Kehidupan Iqbal sudah tidak kesepian lagi seperti dulu setelah kepergian papa kandungnya.


Setelah memutuskan menikah dengan Vena, Andre memang sudah menganggap Iqbal sebagai anak sendiri. Bahkan, lelaki paruh baya itu sudah menyiapkan satu kamar khusus untuk ditempati oleh Iqbal. Hanya saja memang Iqbal yang masih banyak berpikir.


"Sudah, Ma. Besok aku dan Ryan yang bakal nyiapin semuanya sebelum Ryan jemput Allea di bandara.


"Pokoknya Mama dan Papa serahkan semuanya sama kamu dan juga Ryan. Kami yakin, kalau semua akan berjalan lancar," kata Andre semringah menanti kepulangan anaknya yang sudah bertahun-tahun merantau ke negeri orang.


Iqbal pergi masuk ke kamarnya, ia menatap fotonya bersama Allea yang ada di atas nakas. Ternyata, perasaannya yang sudah sejak lama itu masih ada sampai sekarang. Ia berhasil menyimpan rapi tanpa ada yang tahu.


Perasaan itu dijaga dan disimpannya rapi di dalam lubuk hati paling dalam. Ia tahu Allea tidak akan pernah membalasnya sampai kapanpun, namun ia tetap merasa baik-baik saja.


"Enggak terasa, All, lo sudah pergi empat tahun dari hidup gue. Selama itu, gue enggak melihat lo, tapi perasaan tidak bisa dibohongi kalau gue masih menyimpan rasa yang sama buat lo. Bahkan, gue enggak tahu sampai kapan semuanya ada dan hilang. Dulu gue lihat lo sama Rangga, setelah ini gue bakal terima setiap harinya lihat lo berdua sama Ryan."


Iqbal memandangi foto Allea. Benar sekali semua jelas masih sama seperti dulu dan itu terlihat dari sorot matanya yang memandangi foto Allea. Tidak pernah berubah walau sedikitpun.


Iqbal meletakkan kembali foto itu ke atas nakas. Ia merebahkan tubuhnya dengan mata yang menatap langit-langit kamarnya.


Ternyata benar kata orang, lkalau dunia tidak bisa selamanya kita kendalikan. Cinta yang ingin kita miliki, tidak selamanya akan berhasil.


Dulu sekali, sebelum papa Iqbal meninggal dunia. Ia selalu membuat dunia seakan dunianya sendiri. Hidup bebas sesuai keinginannya, meskipun pada dasarnya Iqbal memang anak yang baik. Ia juga selalu bisa memilih cinta mana yang ingin dimilikinya, tapi tidak untuk kali ini.


Ia tidak bisa memiliki cinta Allea dan inilah yang dinamakan bahwa tidak selamanya dunia bisa ditaklukannya. Sebab, untuk pertama kalinya Iqbal harus menyimpan sendiri cinta yang ia miliki tanpa berbalas.


Di tengah Iqbal sedang melamun, satu notifikasi dari ponselnya masuk. Iqbal membukanya, ternyata itu pesan dari Daren. "Besok anak-anak pada mau kumpul. Lo ikut, 'kan?"


Iqbal hanya membuka dan membacanya, setelah itu ia menutup kembali pesan itu. Sejak kejadian Rangga mengkhianati Allea dan putus dengan gadis itu, hubungan persahabatan mereka memang masih renggang. Tidak ada tanda yang membawa mereka dalam kebaikan selama bertahun-tahun itu.


"Cuma diread doang sama Iqbal," kata Daren kepada salah satu dari mereka. Lantas, Rangga hanya diam tidak berkata apa-apa, sedangkan mereka semua masih tahu apa yang menyebabkan hubungan itu menjadi renggang hingga hari ini.


"Rangga, lo enggak mau coba membuka jalan persahabatan lo sama Iqbal jadi baik-baik lagi seperti enam tahun lalu?" tanya Daren dan yang lain pun menyetujui.


"Gue enggak mau mikirin yang enggak mau gue pikirin!" Bahkan, sampai hari ini pun Rangga tidak mau mengakui kesalahannya. Baginya sangat wajar jika punya hubungan yang kandas di tengah jalan karena merasa bosan.


"Tapi, kenyataannya hubungan lo sama Rhea juga enggak baik-baik saja. Lihat sekarang, lo sudah enggak sama Rhea. Yang ada Rhea malah selingkuh di belakang lo, Bro," seru salah satu dari mereka.


Apa yang dikatakan mereka memang benar. Jika Allea dan Rangga berakhir, bukan tidak jodoh namanya. Tapi justru Rangga yang sudah berselingkuh, yang tidak bisa menjaga hati untuk satu orang saja. Ia lebih memilih bermain api, sampai akhirnya api itu membakar dirinya juga.