Allea

Allea
Chapter 33. Cleo



"All, lo yakin mau nganggap Cleo jadi saudara lo, sama kayak Rhea dulu?" tanya Iqbal memastikan. Ia yang paling ketakutan atas luka yang bisa saja terulang untuk perempuan itu.


"Yakin, dong ... Emang kenapa?"


"Apa lo enggak pikirin dulu lagi? Lo enggak trauma dengan kejadian lo sama Rhea dulu? Rhea saja sahabat lo sendiri bisa nyakiti dan khianati lo, apa lagi Cleo yang baru ketemu di Jerman," protes Iqbal.


"Bayangi saja Rhea sudah dari kecil sahabatan sama lo, tapi tega nyakiti lo. Cleo yang baru empat tahun ketemu, lo yakin? Bisa saja dia jadi lebih brutal dan lebih parah perbuatannya dari Rhea!"


Tidak sengaja Cleo menyenggol vas bunga yang ada di atas buffet saat mendengar ucapan Iqbal, namun dengan cepat ia berhasil menangkapnya. Sejenak membuat Allea dan Iqbal menoleh ke arahnya.


"Cleo ..." Allea tidak habis pikir kalau Cleo akan mendengar semua yang diucapkan oleh Iqbal.


"Maaf, ya, aku enggak sengaja. Enggak bermaksud ganggu kalian berdua." Cleo pergi begitu saja meninggalkan mereka.


"Gara-gara omongan lo ini semua!" Allea marah dengan Iqbal, ia juga tidak habis pikir kalau Iqbal bisa mempunyai pikiran negatif pada Cleo. Padahal Allea tidak masalah dan malah senang.


Allea memang pernah disakiti, dikhianati, hingga membuatnya tak bergairah. Tapi, bukan karena satu atau dua orang yang berbuat salah, justru yang lain pun juga mempunyai sikap yang sama.


Allea menyusul Cleo ke kamar. Iya, mau ke mana lagi Cleo berlari? Tidak mungkin dengan lancang ia pergi ke taman, sedangkan kakinya baru menginjakan rumah itu.


"Cle, kamu enggak apa-apa? Cleo, maafin Iqbal, ya. Dia kalau ngomong memang suka gitu. Suka ngasal tanpa mikir perasaan orang ... Tapi, Cle, maksud Iqbal bukan gitu."


"Iya, aku ngerti kok maksud Iqbal. Dia cuma enggak mau kalau kejadian yang sama terulang sama kamu. Dia tidak mau kalau nantinya kamu malah terluka dan ngerasa sakit lagi."


"Cleo, meskipun Iqbal bicara seperti tadi tapi aku enggak sama sekali memikirkan yang macam-macam tentang kamu. Aku malah berharap kalau di antara kita akan selamanya berhubungan baik tanpa ada masalah lagi."


Tidak sengaja Iqbal mendengar pembicaraan Allea dan Cleo dari depan kamar Allea. Iqbal jadi merasa tidak enak dengan ucapannya sendiri, sehingga membuat Cleo jadi tersinggung.


Tidak langsung menghampirinya, justru Iqbal membiarkan Cleo tenang lebih dulu bersama Allea. Kemudian, ia masuk ke kamarnya.


"Aku tahu kok, All, kalau kamu adalah orang yang baik dan tulus. Makanya itu aku merasa beruntung kenal dan dekat dengan kamu, karena sebelumnya aku enggak pernah kenal sama orang yang baiknya kelewatan seperti kamu ini."


"Sebenarnya Iqbal itu anaknya baik, Cle, tapi memang kadang-kadang suka enggak bisa ngerem ucapannya." Allea benar-benar memberi pengertian pada Cleo. Ia tidak mau membuat Cleo salah paham dan akhirnya sama-sama saling tidak enak.


Keesokan paginya, Allea dan Cleo keluar dari kamar. Cleo melihat adanya Iqbal di depan meja makan.


Suasana hening menyelimuti suasana sarapan pagi. Kejadian tadi malam membuat Allea, Iqbal, dan Cleo membisu tanpa kata. Membuat Vena dan Andre menatap mereka bertiga saling bersamaan.


"Ada apa ini? Kok pada diam semua?" tanya Andre heran.


"Enggak ada apa-apa, Pa. Mungkin Iqbal memang lagi sariawan kali, makanya mogok bicara," kata Allea. "Lagian, Iqbal 'kan juga memang kayak gitu sih, Pa. Setiap hari selalu sariawan. Suaranya terlalu mahal buat dibunyikan," sindir Allea.


Selesai sarapan pagi, Cleo berkeliling sendirian di taman rumah. Rumah yang luas dan mempunyai taman bunga yang sejuk. Sebenarnya Allea termasuk menjadi anak yang beruntung jika dibandingkan dengan Cleo yang tidak memiliki orang tua dan jatuh miskin setelah kepergian mama dan papanya.


"Seperti yang kamu lihat ..." Cleo pun hanya menjawab apa adanya tanpa panjang lebar. Ia tidak mau dicap sebagai perempuan cari muka atau sok dekat setelah mendengar ucapan Iqbal tadi malam.


"Soal ucapan aku tadi malam ..."


"It's okey, Bal. Lagian wajar saja kalau kamu berpikir demikian karena kejadian itu pernah terjadi sama Allea. Hal yang wajar kalau sebagai saudaranya yang kamu mau adalah melindungi Allea dan tidak mau dia merasakan sakit lagi."


Cleo memaklumi ketakutan Iqbal pada malam itu. Jika dirinya menjadi Iqbal, hal yang sama pun akan dilakukannya.


Bahkan saat itu melihat Allea menangis karena Ryan saja, Cleo merasa kasihan padanya dan ingin sekali mengobrak-ngabrik Syarla yang sudah dengan lancang mengambil kesempatan mendekati Ryan.


"Aku cuma mau kamu tahu, kalau aku enggak mungkin melakukan hal jahat pada Allea. Mungkin kamu berpikir mustahil atau tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tapi pada kenyataannya aku sangat berterima kasih sama Allea."


"Aku berterima kasih sama Allea karena dia, aku jadi ngerasain punya keluarga dan saudara. Jadi, sampai kapanpun aku akan ingat niat baik Allea dan tidak mau mengkhianatinya. Kamu tenang saja, aku bukan kacang yang lupa pada kulitnya dan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk tidak berkhianat."


Setelah mengeluarkan ucapan itu, Cleo langsung meninggalkan Iqbal. Melihat kepergian Cleo, Iqbal memandanginya sembari tersenyum mendengar ucapan perempuan itu. "Sekarang aku yakin kalau kamu perempuan yang baik."


Setelah itu, Cleo dan Iqbal bertemu lagi di ruang tengah ketika Cleo dan Allea sedang menikmati acara televisi kesukaan Allea.


"Kalian nonton apa?" tanya Iqbal sembari mendudukan bokongnya.


"Biasa, nonton Lapor Pak," jawab Allea.


"All, aku lupa kalau aku mau nelepon bos aku di Jerman. Aku ke kamar dulu, ya," alibi Cleo mengalihkan.


Kedatangan Iqbal membuat Cleo yang tadi sempat tertawa bersama Allea, kini malah berubah tidak enak. Lantas, Iqbal memperhatikannya yang berjalan terus hingga masuk ke dalam kamar.


"Kenapa? Ngerasa nyesal lo karena sudah ketus sama Cleo? Sudah minta maaf belum lo?"


"Sudah, tapi ya malah kebalik. Malah gue yang dicuekin sama teman lo itu," protes Iqbal.


Mendadak Bel rumah berbunyi. Di antara mereka tidak ada yang menunggu siapa-siapa, sedangkan Vena dan Andre baru saja pergi. Mana mungkin secepat itu balik ke rumah, sedangkan jarak waktunya pergi saja baru lima menit.


"Coba deh lo buka sana. Mana tahu orang penting," titah Iqbal yang secara langsung menolak membukakan pintu.


"Resek banget sih lo. Enggak ngenakan gue banget," dumel Allea sembari bangkit dari duduknya meninggalkan acara televisi kesukaannya, lalu pergi mencari tahu siapa yang datang.


Cklek ...


Allea membuka handle pintu rumahnya. Seketika itu membuat kedua matanya membulat ketika ia melihat seseorang yang berdiri di hadapannya.