
Iqbal terbangun dari tidurnya saat merasakan ada seseorang yang menyelimuti tubuhnya. Perlahan ia membuka kedua mata dan melihat Cleo yang ada di hadapannya. "Cle, lo belum tidur?"
"Maaf, ya, kamu jadi kebangun. Padahal maksud aku cuma mau kasih selimut di badan kamu." Wanita itu merasa tidak enak karena sudah membangunkannya.
"Enggak apa-apa, Cle. Kebetulan aku juga mau lihat keadaan Allea. Kamu kenapa belum tidur?" tanya Iqbal.
"Aku takut ninggalin Allea sendiri."
"Kamu 'kan bisa banguni aku buat gantian." Cleo yang tahu Iqbal sudah sangat lelah sebelum ke rumah sakit akibat banyak kerjaan kantor yang masih harus dikerjakan, membuat Cleo tidak enak membangunkannya.
Sunyi dengan suasana dingin mencekam, hanya denting jarum jam yang berdetak saja yang terdengar. Iqbal dan Cleo duduk di atas kasur sembari menatap lekat ke arah wanita yang ada di atas matras itu dengan selang inpus dan selang oksigen di tubuhnya.
"Semalam pagi aku ketemu Syarla di sebuah restoran," info Cleo. "Melihat perempuan itu ngebuat aku teringat gimana dia ngebuat Allea menderita. Rasanya, yang mau aku lakukan membalasnya."
Cleo mengerahkan seluruh uneg-uneg dalam hatinya agar didengar Iqbal. Tidak satu katapun yang tertinggal untuk dikatakannya. Melihat keadaan sahabatnya itu begini, Cleo ingin menghabiskan Syarla dan membuatnya menderita.
"Jangan, Cle, karena kalau Allea tahu pasti dia juga tidak mau kamu ngelakuin hal itu."
Benar yang dikatakan Iqbal. Cleo tidak boleh salah mengambil tindakan hanya karena amarah yang menggebu-gebu dalam dirinya.
Tidak terasa semakin larut hari, membuat mereka berdua mulai lelah dan kantuk. Kedua mata mereka sama-sama terasa berat untuk masih tetap terbuka lebar, sampai akhirnya tanpa disadari Iqbal dan Cleo tertidur bersama disatu sofa yang sama.
Keesokan harinya, ternyata Allea sudah sadar. Ia membuka perlaban kedua matanya, lalu mengedarkannya. Allea mendapati Iqbal dan Cleo yang tidur dengan posisi duduk saling bersebelahan.
Kepala Cleo yang menyandari atas bahu Iqbal, sedangkan Iqbal tersandar di atas kepala Cleo. Membuat mereka seperti pasangan sebenarnya.
Allea sudah membuka mulut dan hampir membangunkan mereka, tapi ia sebelum keluar suara Allea justru membuat Iqbal dan Cleo terbangun.
Keduanya saling sadar dan tatap-tatapan. Refleks Cleo terkejut melihat dirinya tidak tahu diri malah mendekatkan diri pada Iqbal. "Maafin aku, Bal. Aku enggak sengaja tidur di sini dan harusnya ..." Belum lagi siap Cleo melanjutkan bicaranya, Allea memanggil dua orang yang sedang duduk di atas sofa berwarna cream itu.
"Allea, kamu sudah sadar?"
"Allea, lo sudah sadar?" Iqbal dan Cleo serempak bertanya dan membuay Allea tersenyum. Senyum itu masih terasa getir, tapi ia berusaha seolah keadaan sedang baik-baik saja.
"Kalian ngapain di situ malah berdebat? Oia, aku kenapa bisa ada di sini?"
"Kamu enggak ingat sama sekali?" tanya Cleo. Bagaimana bisa Allea menyadari kronologi dirinya bisa sampai di rumah sakit, sedangkan sejak ia di dalam kamar dan memutuskan tidur terus-menerus untuk menghilangkan kesedihan, sejak itu juga wanita itu tidak sama sekali menyadari kalau ia tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
"Kamu ngurung diri dan enggak mau keluar. Gue, Mama, Papa, dan Cleo sudah minta lo keluar kamar, tapi lo enggak nyahut apa-apa dari dalam sama sekali." Iqbal menceritakan kembali cerita semula.
"Mama dan Papa di rumah. Tadinya Mama mau nunggu di rumah sakit, tapi gue suruh pulang dan akhirnya gue sama Cleo yang jagain lo." Allea memalingkan pandangannya ke langit-langit rumah sakit.
Wajahnya tampak penuh memikirkan sesuatu. Apalagi kalau sebenarnya ia lagi memikirkan Ryan. Sejenak wanita itu memandangi cincin berlian yang tersemat di jari manis kanannya. Cincin berlian dari Ryan dan dipasang oleh pria itu juga dengan penuh cinta. Sekarang, tidak percaya kalau hal ini terjadi.
Ryan yang pernah berkata mencintai dengan sepenuh hati dan berjanji akan menjaga hati. Menjelaskan bahwa tidak ada hubungan serius di antara dirinya dan Syarla. Tapi, bagaimana bisa tidak ada? Sedangkan Syarla mengandung anak Ryan dan artinya diam-diam mereka memang berhubungan. Itu yang ada dalam pikiran Allea.
Diam-diam manik matanya sudah berkaca-kaca, sampai akhirnya tak tertahan dari kedua mata Allea air mata menetes.
"All, kamu sedih lagi, ya? All, kamu enggak boleh terpuruk terus dan kamu harus bisa bangkit."
"Iya, All, seperti waktu itu kamu coba lupain Rangga dan Rhea," sambung Iqbal. Nyatanya melupakan tidak segampang seperti yang dikatakan. Apalagi luka ini lebih parah dari sebelumnya.
"Gue enggak sekuat yang kalian bayangkan disaat gue coba lupain Rangga. Semua berkat Ryan. Dia yang datang nyembuhkan luka ini, sampai akhirnya aku selalu bahagia setiap bersamanya. Namun, kenapa sekarang dia yang mengembalikan luka itu?" Allea menangis sesenggukan.
***
"Kasihan Allea, dia harus menderita seperti ini. Sedih banget lihatnya dan pastinya butuh waktu banyak buat dia sembuh." Cleo menceritakan kondisi Allea yang masih di rumah sakit kepada Vena dan Andre.
Terpancar kesedihan dari wajah wanita paruh baya itu mendengar anak kesayangannya masih di rumah sakit. "Tapi, Tante dan Om jangan takut karena Allea sudah siuman. Tadi terakhir aku lihat, Allea juga sudah mulai senyum," cerita Cleo bersemangat.
Vena dan Andre tampak sedikit lega mendengarnya. Setidaknya anak perempuan mereka sudah mulai siuman.
"Pesan Iqbal kalau besok Om dan Tante mau ke rumah sakit, perginya barengan aku saja. Biar nanti naik mobil Iqbal dan aku yang nyetirin."
"Kamu pulang naik mobil Iqbal?" tanya Vena.
"Iya, Tante. Katanya supaya enggak naik taksi online soalnya sudah malam dan berbahaya." Setelah itu, Cleo pamit masuk ke kamarnya. Entah kenapa semenjak melihat Cleo, Vena maupun Andre sangat menyukainya.
Selama ini mereka tidak pernah melihat anak laki-lakinya memiliki kekasih. Membawa seorang perempuan ke rumah saja tidak pernah, sehingga berasumsi kalau anak lelakinya tidak mempunyai kekasih.
Vena dan Andre berniat menjodohkan Iqbal dengan Cleo. Selain anak yang sopan, di mata Vena dan Andre, wanita itu juga sangat baik. Kalau kata Vena, Cleo menantu idaman karena anaknya begitu smart.
"Harusnya dari dulu kita ketemu dengan Cleo biar Iqbal enggak jomblo berkepanjangan ,ya, Pa," kata Vena sembari memandangi kepergian Cleo.
"Namanya juga takdir, Ma. Takdir pertemuan keluarga kita dengan Cleo sekarang," terang pria paruh baya itu. Vena mengangguk mengerti.
Vena yang sangat menyukai Cleo sejak awal bertemu, benar-benar berharap kalau Iqbal bisa menerima Cleo sebagai kekasihnya nanti.