Allea

Allea
Chapter 12. Susah Move On



Allea duduk melamun di rooftof. Tidak ada siapa pun, tidak ada kebisingan, tidak ada kemunafikan, dan tidak ada pengkhianatan di sana. Hanya angin sepoi yang berseliweran mengikuti arah angin.


Setelah disadarkan Iqbal, gadis itu menjadi diam dan membisu. Lebih suka menyendiri dalam sepi dan dalam diam. Jujur saja, hatinya menolak permohanan Iqbal yang memintanya untuk move on dari Rangga dan memulai kehidupan baru.


Perempuan mana yang bisa melupakan orang yang ia cintai, ketika banyak hal yang sudah dijalani bersama. Mengingat itu membuat Allea sedih dan tidak sanggup menahan pilu serta luka dalam hatinya yang semakin hari semakin membuatnya hancur berkali lipat.


Tidak sengaja Ryan menginjakan kakinya di rooftof itu. Pemuda itu memang begitu suka berada di rooftof. Tenang dengan suasana sepi yang selalu membuat betah.


Manik mata Ryan menoleh ke arah kanannya dan tanpa sengaja ia melihat adanya Allea duduk di sana. Ryan melangkahkan kakinya, lalu menghampiri gadis itu.


"Sendiri aja?"


Suara ngebas itu membuat lamunan Allea buyar, lalu membuatnya menoleh ke arah pemuda itu.


"Ngapain lo di sini? Lo ngikuti gue?" Dengan ketus gadis itu bertanya. Ketika itu manik mata Allea membulat sempurna menatap Ryan.


"Eitsss, sabar. Gue ke sini enggak tahu kalau ada lo di sini. Rooftof memang tempat yang paling gue suka. Suasana sepinya seringkali buat perasaan gue jadi tenang." Allea tidak memperdulikan setiap kata yang diucapkan olehnya.


Allea menatap serius ke arah jalan, kembali dengan pikiran yang masih menuju Rangga.


"Kebanyak cowok memang seperti itu. Janji di awal akan mencintai, tapi sayangnya semua janji dilupakan begitu saja setelah bertemu dengan perempuan lain. Tapi, cowok yang baik akan menjaga kesetiaannya dengan satu perempuan. Ya, kalau gue bilang dalam menjalin hubungan akan lebih baiknya hati-hati dalam memilih."


Mendengar perkataan Ryan, membuat Allea kembali menolehnya. Ia menatap serius kepada wajah pemuda yang baginya sok tahu itu.


"Maksud lo apa?"


"Enggak bermaksud apa-apa," respon Ryan sambil menatap Allea dengan senyuman santai.


"Lo nyindir gue?"


"Upsss, gue enggak maksud," kata Ryan sambil mengangkat kedua tangannya. "Lagian, lo kenapa sensitif banget sih? Biasa ajalah. Semua orang di kampus ini juga sudah tahu masalah lo sama itu cowok brengsek."


Allea bangkit dari duduknya ketika ia mendengar pemuda itu mencecar Rangga. "Jaga mulut lo! Rangga bukan cowok brengsek!" Allea tidak senang mendengar cowok yang di sayangnya, dihina oleh Ryan.


"Nama lo, Allea, 'kan? All, kalau cowok kayak dia bukan brengsek, terus apa? Enggak tahu diri apa pantas untuk sebutannya? Bukannya Ryan menghentikannya, justru ia semakin mencecar Rangga demi agar Allea sadar atas apa yang dilakukan setelah dikhianati.


"Lagian, lo sadar dikit, dong. Jelas-jelas dia khianati lo dan disaat lo pergi, dia juga enggak kejar lo, 'kan? Enggak usah itu, ketika lo mau bunuh diri, emang dia ada nemuin lo?"


Ryan berhasil membuat Allea bungkam tanpa perlawanan. Seketika itu, gadis itu hanya diam dan mungkin saja sedang memikirkan apa yang dikatakan pemuda itu. Benar sekali, Rangga memang tidak melakukan apa-apa untuk Allea saat itu.


"Sudahlah, enggak perlu dipikirkan lagi cowok kayak dia. Kalau sahabat lo aja bisa dipacarinya, suatu saat dia juga bisa lakuin hal yang sama ke sahabat lo. Atau bisa jadi hubungan mereka yang tidak panjang karena berjalan di atas kesedihan lo. Lagian, masih banyak cowok baik, tapi bukan itu cowok."


***


Allea berjalan sendiri menelusuri koridor kampus. Tidak sengaja, ia melihat Rangga yang sedang duduk sendiri dengan buku yang sedang dibacanya.


Ingin sekali Allea menghampirinya seperti dulu lagi. Rhea menyadari ketika Allea memandangi Rangga dengan sangat lekat. Dengan cepat ia melangkah mendekati Rangga dan merangkulnya mesra.


"Sayang, kamu baca buku apa?" tanya Rhea.


"Buku komunikasi, nih. Kamu enggak ada kelas?" Rhea menggeleng karena memang itu kenyataannya.


Allea benar-benar tidak bisa melihat ini. Ia tidak bisa melihat Rangga bersama Rhea karena tidak seharusnya. Allea melangkah satu langkah, namun dari belakang Ryan menarik tangan Allea dan menggelengkan kepala dengan maksud melarang gadis itu menghampiri Rangga.


Tanpa Allea bilang, Ryan tahu apa yang akan dilakukan gadis itu.


Dari kejauhan, Iqbal memperhatikan serius apa yang dilakukan Ryan. Ia bisa menebak dari gerak-geriknya kalau pemuda itu sedang jatuh hati pada adik tirinya itu.


Sayang sekali, Iqbal hanyalah kakak tiri dan sampai kapanpun Allea akan menganggap Iqbal begitu. Banyak hal yang membuatnya melindungi Allea, gadis itu tetap menganggap semua karena cinta seorang Kakak pada adiknya.


Andai saja, Iqbal bisa menyatakan perasaannya tanpa harus kehilangan Allea. Andai saja, setelah itu Iqbal bisa menjadi kekasihnya seperti yang pernah ia harapkan. Namun, harapan itu sudah sirna karena tidak mungkin.


Iqbal yang dulu mempunyai mimpi bisa bersama Allea, kini ia harus mengubur semuanya begitu dalam sampai akhirnya tak terlihat lagi.


Iqbal berlalu dari tempatnya, ia membiarkan Ryan melarang Allea. Pemuda itu pasti bisa melakukannya.


"Tidak perlu, All. Hanya akan membuat kamu tambah terluka." Dengan sengaja Ryan menggenggam dan menggandeng tangan Allea. Lalu, membawa Allea melanjutkan langkah tanpa harus melakukan kesalahan lagi.


Ketika itu, Rangga dan Rhea memperhatikan Allea yang digandeng mesra oleh Ryan. Tapi, memang itu tujuan utama Ryan. Dilihat oleh kedua pengkhianat itu agar mereka berpikir kalau Allea bisa tanpa mereka, terutama tanpa Rangga.


"Maafin aku, All. Aku sengaja melakukan itu supaya kamu tidak merasa terintimidasi oleh mereka. Maaf sekali lagi karena aku lancang," kata Ryan ketika ia berhasil membawa gadis itu ke kelas.


"Harusnya, aku berterima kasih karena kamu sudah selamati aku tadi. Kalau saja kamu enggak datang dan aku nekat, aku bakal mati kutu tadi." Ternyata, Allea merasa bersyukur atas apa yang dilakukan Ryan.


Allea yang jutek kepada Ryan awalnya, akhirnya ia bisa bersikap manis pada pemuda itu. Sejenak, Allea merekahkan senyum dari bibirnya dan itu membuat Ryan merasa senang. Iya, untuk pertama kalinya Allea menebar senyum manisnya kepada Ryan.


Hati pemuda itu menjerit bahagia karena akhirnya mendapati respon baik oleh Allea. Ingin sekali Ryan lompat kegirangan, namun ditahannya di depan Allea.


Setelah itu, Ryan pun pergi mendudukan kursinya. Pandangannya tidak bisa lepas dari Allea. Sorot matanya begitu berbinar saat menatap Allea penuh dengan bahagia. Akhirnya, Ryan bisa membuat Allea bersikap manis padanya.