Allea

Allea
Chapter 44. Darurat



Setelah berhasil mendobrak pintu kamar Allea, Iqbal dan Cleo mendapati wanita itu tak berdaya lemas tergeletak di atas kasurnya.


Wajahnya terlihat pucat, begitu juga bibir Allea yang mempunyai warna merah alami tapi kini tak memiliki warna semakin pucat pasinya.


Selain tubuhnya yang lemas, tubuh Allea juga demam tinggi. Badannya bergetar hebat akibat suhu dingin.


"Bal, kita harus cepat bawa Allea ke rumah sakit," kata Cleo panik. Pria itu menyetujui, Iqbal langsung mengangkat Allea menuju mobil. Dengan cepat Iqbal melajukan mobilnya.


"All, kamu harus bertahan. Ada aku dan Iqbal di sini yang jagain kamu. Kamu harus sehat dan enggak boleh seperti ini." Di kursi belakang Cleo menemani Allea yang sudab terbujur lemas.


Beberapa kali Iqbal melihati Cleo dari spion dalam mobil. Ia melihat betapa tulus sikapnya pada Allea, membuat pria itu tersanjung padanya. Berharap juga ketulusan Cleo bukan hanya saat ini, seperti Rhea yang akhirnya menusuk Allea dari belakang.


"Iqbal, buruan. Aku takut Allea kenapa-napa." Atas permintaan Cleo, pria itu menambah kecepatan laju kemudinya. Dan, akhirnya mereka sampai di Mitra Medica.


Antara Iqbal dan Cleo berpindah tempat. Iqbal mengangkat Allea ke dalam, sedangkan Cleo memindahkan mobil Sport Pajero hitam itu ke parkiran lalu secepatnya menyusul Iqbal yang sedang bersama Allea.


Ternyata, bukan hanya Iqbal yang sedih melihat keironisan keadaan Allea. Cleo juga mengalaminya dan bahkan lebih parah dari pria itu.


Iqbal memperhatikan Cleo gelisah mundar-mandir merasa khawatir. "Cle," panggil Iqbal. Wanita itu menghentikan langkahnya yang ke sana ke mari. "Terima kasih kamu sudah bantu aku bawa Allea ke sini. Tapi kalau boleh tahu, kenapa kamu bisa sepanik ini?"


"Allea itu perempuan baik. Selama ini aku tidak pernah punya sahabat. Bahkan untuk bertemu dengan orang setulus dan sebaik Allea saja tidak pernah, sampai akhirnya Tuhan mempertemukan aku dengan Allea di Jerman," cerita Cleo.


"Siapa sangka kalau dia teman sekamar dan satu kelas aku di universitas. Dan, takdir meminta kami untuk saling mengisi lalu berteman baik. Jujur, aku enggak pernah ketemu orang seperhatian Allea dan aku senang bersahabat dengannya."


"Iqbal, aku cuma takut kehilangan Allea karena aku enggak tahu apakah masih bisa bertemu seseorang sepertinya lagi?" lanjut Cleo berkeluh kesah.


Iqbal menatap wajah Cleo dengan tajamnya. Ia melihat aura positif dalam diri Cleo, hingga membuatnya terus-menerus terharu tanpa putus.


Baru saja Iqbal meraih tangan Cleo dan ingin menyeka air mata yang menetes membasahi pelupuk mata dan kedua pipinya, Vena dan Andre pun menghampiri mereka. "Iqbal, bagaimana keadaan Allea?" tanya Vena.


"Sabar, Ma. Biarkan dulu Iqbal menjelaskan," ucap Andre menenangkan sang istri.


"Gimana Mama mau tenang, Pa. Ini masalah nyawa Allea karena dia tidak makan-makan dan akibatnya jadi seperti ini. Sebenarnya apa alasannya Allea dan Ryan putus, Iqbal?" Vena dan Andre masih belum mengetahui seluk beluk permasalahan anak perempuannya itu.


"Ryan menghamili perempuan lain, Ma, Pa dan kejadian itu ngebuat Allea jadi seperti ini." Betapa terkejutnya Vena dan Andre mendengar pernyataan yang keluar dari bibir Ryan. Seketika membuat wanita paruh baya itu lemas mengetahuinya.


"Awalnya aku pun juga tidak percaya. Apalagi melihat Ryan cinta banget sama Allea, tapu siapa sangka kalau hal yang sama terulang lagi dalam hidup Allea, Pa. Aku pun marah saat mengetahuinya, tapi mau gimanapun Ryan harus bertanggung jawab."


"Dan, pastinya Allea tidak boleh lagi ke luar negeri hanya untuk move on lagi. Kita harus bantu Allea secepatnya move on agar hal ini tidak berlarut menghantuinya," kata Andre.


"Om dan Tante tenang saja, karena aku akan bantu agar Allea bisa kembali seperti dulu lagi. Aku tahu kalau untuk menerima kedua kali hal yang sama bukan mudah, tapi aku yakin kalau Allea pasti bisa melewati semua tanpa harus lari menghindari masalah."


Cleo bersedia selalu ada berada di samping Allea, sampai akhirnya sahabatnya itu kelak normal jadi Allea seperti dulu kala lagi.


***


Lama menunggu Allea dan menatapnya, Cleo tidak lagi melihat keberadaan Iqbal. Padahal tadinya hanya pamit ke kantin sebentar.


Wanita itu sudah bisa menebak kalau dirinya sangat terpukul melihat keadaan adiknya sendiri.


Cleo keluar sebentar meninggalkan Allea untuk mencari Iqbal. Ia sudah pergi ke kantin rumah sakit, hingga mengitari beberapa tempat rumah sakit. Tapi akhirnya, Cleo menemukan Iqbal yang sedang duduk di taman belakang rumah sakit.


"Hei, kamu kenapa?" tanya wanita itu menghampiri Iqbal. "Aku tahu, kamu sedih banget lihat keadaan Allea karena dia adik kamu. Tapi kamu harus bisa kuat supaya bisa ngelindunginya."


"Allea bukan adik kandung gue. Dia adik tiri gue dan papa Allea adalah papa sambung gue." Selama ini Allea tidak ada cerita apa-apa pada Cleo, hingga membuatnya kaget. Tapi Cleo tidak mempermasalahkannya karena ini masalah keluarga. Jadi, wajar saja kalau Allea tidak mau ada orang lain yang mengetahui seluk beluk keluarganya.


Cleo hanya mengangguk menangkap obrolan pria itu. Ia juga tidak banyak tanya, hanya sekedar mendengar apa yang diutarakan Iqbal.


Waktu semakin larut dan jarum jam terus berputar mengitari setiap angkanya.


"Cle, lebih baik lo pulang dan istirahat. Besok lo kerja, kan? Allea biar gue yang jaga," kata Iqbal. Cleo menolak dan justru meminta agar Iqbal saja yang pulang.


Setelah tolak-menolak terjadi, akhirnya keduanya memutuskan menjaga Allea bersama. Lantas, Vena dan Andre menunggu kabar selanjutnya dari Iqbal maupun Cleo dan tetap stay di rumah.


Di tengah sedang menjaga Allea, Cleo melihat Iqbal yang sudah terlelap lebih dulu dari dirinya. Wajah pria itu tampa sedang kelelahan.


Suasana dingin juga menyelimuti ruangan kamar Allea. Cleo melihat ada kain tebal yang terlipat rapi di atas kursi tepat sebelah nakas.


Cleo mengambilnya, lalu perlahan ia menyelimuti badan Iqbal yang dilihatnya sedikit kedinginan. Namun, sejenak membuat Cleo kaget karena tiba-tiba saja Iqbal terbangun dari tidurnya.