Allea

Allea
Chapter 8. Rasa Ingin Mengakhiri



Allea pergi berlari tanpa berkata apa-apa kepada pria yang berhasil memeganginya saat ia hampir terpental. Allea berlari jauh dari area kampus, hingga ia berdiri di atas jembatan tinggi.


Sepasang mata itu menatap ke arah air sungai yang mengalir deras di bawah sana. Jika dirinya terjun bebas ke sana, barangkali rasa sakit yang mendera hatinya bisa hilang dengan sekejap saja. Dan, itulah yang menjadi buah pikiran gadis itu.


Allea masih menangis sesenggukan dengan perasaan pilu dan luka yang belum kunjung sembuh. Beberapa banyak waktu berlalu, tidak membuatnya berhasil melupakan Rangga. Padahal jelas pemuda itu sudah melupakannya begitu cepat dan memilih Rhea dari padanya.


Allea terisak meratapi dirinya. Hatinya sangat tercabik-cabik. Jujur saja, ia sangat menyesal pernah menceritakan dan mengenalkan Rangga pada Rhea.


Allea menaikan satu kakinya ke tembok yang ada di depannya, hingga akhirnya ia sampai di atasnya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, sampai membuatnya hilang kendali. Menginginkan dirinya mati saja dari pada hidup, membuatnya tidak sanggup harus menyaksikan orang yang di cintai bersama dengan gadis lain.


Entah setan apa yang merasuki Allea, sampai membuatnya ingin mengakhiri hidupnya tanpa lebih dulu memikirkan orang sekelilingnya dan yang menyayanginya.


Pria asing yang ada di kampus tadi berhasil menarik tangan Allea demi membatalkan niat gila Allea yang akan mengakhiri dirinya.


Saat di kantin tadi, pria itu sudah melihat wajah Allea yang begitu sedih. Kepergian Allea sudah membuatnya tidak enak dan bisa merasakan bahwa Allea akan melakukan hal yang akan mengakhiri dirinya.


"Kamu siapa, sih? Jangan sok-sokan mau ngehalangi apa yang mau aku lakukan. Kita enggak saling kenal dan jangan ikut campur urusan aku." Allea memberontak saat pria itu berusaha memeganginya agar tidak terpelanting.


"Aku memang tidak tahu masalah kamu, tapi apapun masalah yang kamu hadapi, bunuh diri bukan jalan keluarnya. Hidup kamu masih panjang dan apa kamu enggak memikirkan keluarga kamu kalau saja kamu mati?"


Mendengar itu Allea semakin menangis, tapi juga membuatnya semakin tersulut emosi. Ia tidak peduli, baginya Rangga adalah tujuannya.


Di tengah Allea dan pria itu berdebat, Iqbal yang akan menuju kampus melihat mereka. Iqbal memang sudah lama tidak masuk kuliah semenjak dirinya pergi ke Paris untuk mengurus bisnis papanya. Karena semenjak kepergian papanya, tidak pernah ada lagi yang mengontrol bisnis tersebut.


Lantas, Iqbal yang mengontrol semua itu, hingga membuatnya harus mengambil cuti kuliah beberapa minggu.


"Allea, ngapain dia di situ? Sama siapa?" gumam Iqbal.


Mendadak membuat Iqbal kaget melihat Allea yang berlari ke pinggir jembatan, lalu ingin memanjati jembatan tersebut. Cepat-cepat Iqbal menepikan mobilnya, lalu menolong pria asing itu mencegat perbuatan Allea.


Iqbal memeluk erat Allea dari belakang, tapi gadis itu berusaha lagi memberontak. Sayangnya, kali ini ia tidak bisa berkutik karena tanpa ragu Iqbal dengan sekuat tenaga memeganginya.


"Stop, Allea!"


Seketika membuat Allea yang seperti orang kerasukan, mulai terdiam. Ia menatapi wajah Iqbal, dan baru menyadari adanya saudara tirinya itu. Tentunya saat itu membuat Allea semakin menangis dan jatuh ke pelukan Iqbal.


"Kamu kenapa seperti ini, All? Apa yang terjadi sama kamu?" Iqbal bingung karena ia memang tidak tahu apa-apa tentang kabar Allea. Vena tidak sama sekali memberi kabar kepadanya atas permintaan Allea.


"Rangga dan Rhea." Allea lirih mengucapkan nama kedua orang itu.


"Kenapa dengan Rangga dan Rhea?" Iqbal mengernyit, sedangkan Allea melepaskan pelukannya dari Iqbal dan menatap sendu kepadanya.


"Rangga dan Rhea pacaran. Selama ini Rangga selingkuh dengan Rhea, mereka diam-diam mengkhianati aku ..."


"Rangga punya aku, Iqbal. Rhea enggak berhak atasnya, dia harus kembali ke aku bukan Rhea. Bantu aku, Iqbal ... Bantu aku agar Rangga tetap bersama aku dan lupain Rhea."


"Allea, nanti aku bakal bicara sama Rangga. Sekarang, kamu tenangi diri dulu, ya." Tidak ada kata lagi yang mau dikatakan Iqbal, selain kata-kata itu.


***


Sore itu setelah ia mengantar Allea pulang, Iqbal kembali ke kampus dan mencari Rangga. Rangga maupun Daren belum sama sekali mengetahui kepulangan sahabatnya itu ke Jakarta.


"Rangga!" panggilnya saat melihat kedua sahabatnya duduk bersama. Rangga dan Daren kaget, namun bahagia melihat Iqbal yang sudah di Jakarta karena selama ini mereka kesepian tanpa adanya Iqbal.


Brukkk ...


Baku hantam diberikan Iqbal kepada Rangga, membuat pemuda itu yang belum bersiap-siap malah terpental ke lantai. Pukulan Iqbal ternyata begitu kuat.


"Iqbal, ada apa ini?" tanya Daren.


"Apa-apaan sih lo, Bal? Datang-datang main mukul gue." Ternyata Rangga lupa atas kesalahan yang ia buat. Ia juga lupa kalau sahabatnya itu adalah saudara tiri dari gadis yang sudah ia sakiti. Mustahil jika Allea tidak menceritakan kejadian yang sesungguhnya.


"Lo nyakiti Allea! Kenapa lo selingkuh sama Rhea? Lo tahu Allea dan Rhea sahabatan sejak kecil, dan lo malah ngerusak semuanya." Bukan Rangga yang kaget, tapi justru Daren. Ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang keputusan Rangga dengan Allea dan berpaling ke Rhea.


"Lo selingkuh, Ngga?" tanya Daren tidak percaya. Bukan Rangga menjawab pertanyaan Daren, justru ia membalas perkataan Iqbal.


"Terus, hak lo apa mukul gue? Urusan sama lo apa?" tanya Rangga tidak suka.


"Jelas ada, karena gue saudara tiri Allea. Gue bakal lindungi Allea sampai kapanpun dari cowok seperti lo!"


"Iqbal, lo bersahabat sama gue sudah lama, sedangkan dia jadi saudara tiri lo baru beberapa tahun. Lo yakin lebih bela Allea dari pada gue?"


"Gila lo, Rangga. Allea memang enggak pernah pantas punya cowok kayak lo dan punya sahabat kayak Rhea."


Iqbal pun meninggalkan Rangga dan Daren di tempatnya, sedangkan Daren bingung harus memilih menetap bersama Rangga atau pergi menyusul Iqbal. Sampai akhirnya, ia memilih menetap bersama Rangga.


"Bukannya lo cinta sama Allea, kenapa lo malah selingkuh?" tanya Daren ingin tahu.


"Gue memang sudah enggak cinta lagi sama Allea. Gue lebih nyaman sama Rhea. Gue pun enggak tahu, kenapa, tapi jelasnya itu yang gue rasakan," jelas Rangga.


Daren bingung, apakah sahabatnya itu salah atau tidak. Tapi, kembali lagi kepada perasaan seseorang yang tiba-tiba mencintai, tentu tidak bisa disalahkan.


Perasaan itu datang begitu saja, wajar saja kalau membuat seseorang bisa berubah-rubah. Namun, yang menjadi salah adalah kenapa Rangga tidak jujur kepada Allea sejak awal, tapi malah diam-diam main serong dengan sahabat Allea sendiri. Padahal ia tahu kalau hubungannya dengan Allea masih berstatus pacaran.