Allea

Allea
Chapter 37. Jebakan



Dari jauh Syarla melihat Ryan jalan sembari bergandengan dengan mesra. Syarla tampak tidak senang karena melihat hubungan mereka sudah kembali baik-baik saja. Seketika, membuat Syarla panas dengan kemesraan mereka.


Allea sudah bisa menebak bagaimana reaksi Syarla. Sebelum menampakan diri di depannya, Allea sudah tahu kalau Syarla tidak terima dengan rukunnya Allea dan Ryan.


Syarla kepikiran untuk membuat hubungan Allea dengan Ryan retak kembali. Ia tidak akan membiarkan mereka baik-baik saja. "Ryan itu milik aku, All, kamu tidak boleh memilikinya kecuali aku."


Ryan menyapa Syarla yang sudah menunggunya sejak tadi, begitu juga Allea. Allea tidak bodoh, ia juga sudah menebak kalau Syarla akan membuat strategi baru. Sayangnya, Allea juga tidak akan tinggal diam ketika ada orang ketiga ingin merusak hubungannya.


"Oia, Syarla ... Menurut kamu gimana cincin berlian yang tersemat di jari manis aku? Bagus, bukan?" tanya Allea sembari menunjukan tangannya ke Syarla.


Allea dengan sengaja menanyakan hal itu untuk memberi tahu kalau itu pemberian Ryan. Yang Allea mau adalah agar perempuan itu sadar kalau usahanya yang ingin menghancurkan mereka hanya lah sia-sia.


"Bagus. Cincinnya sangat pas sama kamu, All." Syarla berpura-pura memuji Allea. Padahal itu sangat tidak mungkin bagi Syarla menyukai apapun tentang Allea, sedangkan perempuan itu adalah saingan Syarla.


"Ternyata, Ryan itu pinter banget milihin aku cincin berlian," kata Allea sengaja agar Syarla mengetahuinya. Syarla tidak bisa berkutik apa-apa. Mau marah dan memaki Allea saja tidak bisa karena ada Ryan duduk bersama mereka.


"Ryan beliin aku ini sebagai tanda ngelamar aku, Syar. Jadi, kita mau tunangan dulu. Aku dan Ryan pasti bakal undang kamu." Emosi dalam diri Syarla semakin bergebu-gebu, tapi ia tidak mau mengeluarkannya saat itu juga.


Syarla tidak mau nama baiknya jelek di mata Ryan. Selama ini lelaki itu selalu menganggapnya baik, masih sama seperti dulu sejak pertama mereka bertemu. Kebaikan Syarla juga yang berhasil membuat Ryan dulunya jatuh hati dan memilihnya sebagai kekasih Ryan.


Syarla sangat terkejut mendengar mereka akan tunangan. Pastinya Syarla tidak terima jika Ryan harus bersama dengan perempuan itu. Bagaimanapun, Syarla harus merebut kembali Ryan dan perempuan itu sudah bertekat.


Malam itu setelah pertemuan Syarla dengan Allea dan Ryan, dengan sengaja Syarla menghubungi Ryan. Meminta agar lelaki itu datang menemuinya.


Awalnya Ryan sangat keberatan karena ia sudah berjanji pada Allea tidak akan bertemu dengan Syarla hanya berdua saja. Namun, Ryan kena tipu daya yang dibuat oleh Syarla. Ia mendengar suara Syarla yang menangis tersedu.


Ryan khawatir dan membuatnya dengan cepat langsung terbang ke apartemen Syarla. Padahal jam itu Ryan baru saja pulang usai mengantar Allea pulang setelah dinner mereka.


"Syarla!" teriak Ryan.


Lelaki itu mendapati pintu apartemen Syarla yang tidak terkunci. Di depan kitchen set ia melihat perempuan itu duduk dengan baju tali satu yang jelas menampakan leher, dada, hingga lengannya terlihat jelas lalu dipadukan dengan celana pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya.


Hal itu memang sudah direncanakan Syarla karena ingin memancing Ryan. Syarla yang paling tahu Ryan, bagaimana tipe perempuan yang disukainya. Jelas seperti Syarla, hingga dulu ia pernah tergila-gila pada perempuan itu.


"Syarla, kamu kenapa?" tanya Ryan. Lelaki itu masih memberikan perhatiannya pada Syarla, namun tidak lebih dari seorang teman kepada temannya.


Namun, bagi Syarla itu tidak mengapa karena dengan demikian sudah lebih gampang membuat Ryan mendekat dengannya.


"Aku enggak kenapa-napa, Ryan. Aku tidak mau menceritakannya sama kamu. Yang ada malah membuat kamu ikut andil ke dalamnya. Malam ini aku cuma butuh teman yang nemani aku. Kamu mau 'kan, Ryan?"


Ryan ragu mau menjawab apa, ia bimbang. Tidak bisa berlama-lama bersama Syarla, namun juga tidak bisa membiarkannya dalam keadaan seperti ini.


"Ryan, kamu mau 'kan temani aku di sini?" Sekali lagi Syarla bertanya dengan sengaja karena pertanyaan kedua itu untuk menegaskan ia memang membutuhkan seseorang menemaninya.


"Aku akan temani kamu, Syar. Tapi, aku tidak bisa lama."


"Iya. Enggak apa-apa, An. Sebentar saja sudah lebih dari cukup buat aku. Yang terpenting kamu bersedia menemani aku, setidaknya sampai perasaan aku tenang." Syarla berhasil menjebak Ryan masuk dalam perangkapnya.


Dengan sengaja Syarla menenggak wine yang ada di hadapannya. Ia sengaja melakukan itu di depan Ryan karena Syarla tahu kalau Ryan tidak mau dirinya terkontaminasi oleh minuman berbau alkohol.


"Cukup, Syarla. Kamu tidak boleh minum seperti ini. Apa selama di Korea kamu sering mengonsumsi ini?" tanya Ryan. Lelaki itu tahu persis kalau Syarla tidak pernah menyentuh, apalagi mengkonsumsi minuman seperti itu.


"Selama di Korea, semenjak kita berpisah hidup aku hancur dan penuh sesal, Ryan. Sesekali kalau aku bosan dan merasa jenuh, aku mencoba menenggak alkohol. Sejak aku meninggalkan kamu dan merasa menyesal, sejak itu semuanya dimulai," ucap Syarla membuat alibi.


Syarla sengaja mengarang cerita seakan dirinya sangat hancur setelah perpisahannya dengan Ryan. "Ryan, aku ikhlas kalau kamu mau bertunangan dengan Allea. Aku benar seserius itu membiarkan kamu bahagia jika itu memang keputusan kamu."


Tampak dari penglihatan Ryan, perempuan itu mulai sedikit mabuk tapi ia masih sadar dengan apa yang dikatakannya.


Sebelum Ryan datang mengunjunginya, Syarla sudah menyiapkan minuman untuk Ryan. "Ryan, kamu mau 'kan minum bareng aku?" tanyanya sembari memberikan gelas berisi minuman berwarna orange.


"Aku tahu, kamu tidak akan pernah mau minum alkohol. Makanya itu aku membuatkan kamu minuman ini."


"Terima kasih kamu sudah mengerti, Syar." Ryan pun menenggak minuman itu bersama Syarla. Seketika Syarla memperhatikannya ketika minuman itu masuk ke dalam mulut Ryan dan melewati tenggorokannya. Membuat perempuan itu tersenyum puas.


"Syarla, aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku harus pulang, karena takut kalau nanti Allea menghubungiku."


"Aku ngerti, Ryan. Kamu boleh pulang karena aku sudah merasa tenang." Ryan bangkit dari duduknya, tapi sejenak kepalanya pusing dan matanya berkunang. "Kamu kenapa, Ryan?" tanya Syarla khawatir lelaki itu kenapa-napa.


"Aku enggak tahu, mendadak penglihatan aku kabur dan kepala aku pusing." Syarla memastikan Ryan tidak kenapa-napa.


Entah obat apa yang dicampurkan Syarla dalam minuman Ryan, tapi yang jelas itu serbuk yang membuat Ryan tidak sadar dengan keadaan yang terjadi. Penglihatannya ke Syarla pun seolah ia sedang melihat Allea di hadapannya.


"Allea, kamu di sini bersama aku? Allea, aku mencintai kamu selamanya ..."