
"Ma, Pa, kenalin ini teman aku selama di Jerman, namanya Cleo. Cleo ini juga teman satu asrama aku selama di universitas." Sepulang dari tempat tadi, Allea langsung membawa Cleo ke rumah.
Jika kesedihannya diteruskan, mungkin air matanya tidak akan bisa berhenti. Sebab itu, Allea memaksa dirinya berhenti menangisi Ryan.
Sibuk menyalami Vena dan Andre, namun Iqbal sendiri asyik dengan ponselnya yang terus dikotak-katiknya. "Lo enggak mau kenalan sama teman gue? Atau memang sok belagak mau cuek?" tanya Allea sembari merampas handphone milik Iqbal.
"Apaan sih lo, All. Tinggal bilang saja juga. Siniin handphone gue." Iqbal memang tipekal cowok yang cuek kalau tidak mengenal orang itu. Seperti sekarang ini, ia langsung pergi ke kamarnya setelah berhasil merebut ponselnya dari tangan Allea.
"Maafin Iqbal, ya, Cle. Itu anak memang suka gitu," kata Vena.
"Iya, anaknya resek banget ..." Mereka tertawa serempak karena merasa lucu mendengar ledekan dari mulut Allea.
"Enggak apa-apa kok, Tante. Mungkin karena enggak kenal sama aku, jadi memang gitu." Untungnya, Cleo super pengertian dengan Iqbal yang memang tidak secepat itu akrab dengan orang baru.
Semua disebabkan karena semenjak menyimpan rapat perasaannya untuk Allea, belum ada satu orang atau bisa dikata satu perempuan pun yang berhasil mengisi hati dan ada dihidupnya.
Iqbal mempunyai wajah yang cool dan tampang keren. Sebenarnya, banyak cewek yang dekat dengannya, hanya saja semua itu tidak pernah lebih dari sekedar teman biasa.
Tidak ada yang spesial dalam diri mereka, karena sampai hari ini yang spesial untuknya dan masih di dalam ruang hatinya adalah Allea.
Iya, Allea masih berada di urutan pertama untuknya setelah Vena. Andai ada perempuan lain yang berhasil mengisi ruang hati Iqbal menggantikan Allea, pasti sampai sekarang ia tidak akan kesepian.
"Cle, ini kamar aku. Terserah kamu, kamu mau tidur di kamar aku atau kamar tamu? Kalau kamar tamu ada di sebelah sana." kata Allea sembari menunjuk ke arah keberadaan kamar tamu yang ada di sudut sana.
"Kayaknya aku tidur bareng kamu saja, deh." Allea mengangguk setuju, lalu ia membantu Cleo merapikan semua barang-barangnya.
"Kamu bisa letak semua pakaian kamu di sebelah sini. Kebetulan lemari aku ini kosong. Jadi, kamu bisa memakainya selama di sini. Kalau kamu mau letak keperluan make up kamu, langsung susun saja di atas meja rias," jelas Allea.
"Makasih banget, ya, All. Untung ada kamu, jadi aku terbantu selama di Jakarta."
"Oia, Cle, kamu memangnya niat mau kembali ke Jerman?"
"Aku belum tahu, All. Aku sudah ngerasa nyaman tinggal di Jerman, tapi selama aku di Jakarta siapa tahu berubah pikiran dan aku jadi mau balik tinggal di Jakarta."
"Cle, kalau kamu memang mau balik lagi ke Jakarta, tapi justru merasa sendirian karena sudah tidak ada bokap dan nyokap kamu. Bahkan sanak saudara pun tidak ada karena kamu anak satu-satunya. Kamu bisa menganggap kita di sini keluarga kamu," kata Allea sembari memegang tangannya.
"Aku bersedia jadi saudara kamu walau tidak sedarah daging. Jadi, kamu tidak perlu takut merasa kesepian karena hidup sendiri di sini." Cleo menatap ketulusan Allea yang tanpa main-main.
Cleo memang belum pernah melihat orang setulus Allea. "Terima kasih, All. Kamu baik banget sama aku, sampai-sampai aku bingung harus balas kebaikan kamu dengan apa," ucap Cleo penuh haru.
"Aku memang selalu merasa kesepian dan sendirian. Kadang kala aku pengen banget cerita sesuatu ke orang, tapi aku enggak tahu sama siapa. Buat aku tidak semua orang bisa terima cerita aku dan tidak semua orang juga bisa menyimpan rapat yang aku ceritakan," keluh Cleo.
"Sekarang kamu sudah punya aku, Cle. Aku mau kalau kamu ini jadi saudara aku. Jadi kakak perempuan aku. Kamu mau, 'kan?" Allea berharap Cleo menerima keinginannya.
Lantas, Cleo benar-benar terharu tanpa tahu mau bicara apa. Seakan ia tidak bisa berkata-kata. Hati Allea memang begitu suci, hanya saja orang yang jahat pasti akan memanfaatkan kebaikannya.
Ia menatap kepergian Allea. Rasanya seperti mimpi setelah bertahun-tahun menjalankan kehidupan sendiri tanpa ada siapa-siapa dan sanak saudara.
"Cleo mana, All?" tanya Vena saat ia menyiapkan makan malam.
"Di kamar, Ma. Lagi ngerapiin barang-barangnya yang tinggal sedikit lagi." Allea membantu Vena menyusun rapi peralatan makan dan makanan ke atas meja makan.
"Emang Cleo tinggal di mana, All?" lanjut Vena bertanya.
"Selesai wisuda Cleo mutusin tetap tinggal, bekerja, dan menghabiskan waktu di Jerman, Ma."
"Oia? Emang orang tuanya mengijinkannya?”
"Cleo sudah enggak punya orang tua lagi, Ma. Mama sama papanya sudah lama meninggal, dan Cleo juga anak satu-satunya."
"Terus saudara dari orang tuanya apa enggak nyariin dia?" Allea menjelaskan semua yang pernah diceritakan Cleo waktu mereka masih menjalankan pendidikan di Jerman.
"Kalau dibayangkan, kasihan juga Cleo. Tapi, Mama wajib acungi jempol karena dia anak perempuan tapi berani memutuskan pergi ke negeri orang untuk menjalankan pendidikan dan bekerja di sana."
"Kalau misal Mama jadi Cleo, entahlah ... Mama enggak tahu bakal sanggup atau tidak."
"Mungkin keterpaksaan kali, ya, Ma. Makanya mengharuskan Cleo untuk seperti itu."
Cleo sudah selesai merapikan semua barang-barangnya. Ia segera keluar kamar dan menuju meja makan.
Namun, tidak sengaja lengan Iqbal dan Cleo saling bertabrakan karena Iqbal berjalan tidak melihat-lihat, tapi malah fokus main handphone. Lantas Cleo tidak memperhatikan diri Ryan saat itu.
"Aww ..." Cleo merintih kesakitan karena otot lengan Iqbal yang sedikit kekar itu mengenai tubuhnya. "Maaf, ya ... Aku enggak lihat kamu jalan."
"Enggak masalah. Kamu mau ke meja makan, 'kan?" Cleo mengangguk. Kemudian, ia mengikuti Iqbal dari belakang menuju meja makan.
Mereka melihat sudah ada Allea, Vena, dan Andre di kursinya masing-masing. "Wah, tadi dikenalin sok nolak tapi sekarang malah jalan berdua aja, nih," goda Allea melirik Iqbal."
"Tadi gue sama Cleo enggak sengaja tabrakan pas mau ke sini." Allea membuat bibirnya berbentuk vokal O ketika mendengar alasan Iqbal.
"Resek lo." Allea memanyunkan bibirnya ketika Iqbal mengacak sedikit rambutnya.
Malam itu disaat mereka berkumpul di meja makan, Allea mengumumkan kalau malam ini ia ingin menganggap Cleo seperti kakaknya sendiri.
Vena dan Andre hanya terlihat biasa saja dan bahkan menyetujui keputusan Allea setelah tahu kalau perempuan itu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Namun, tampaknya tidak dengan Iqbal.
Sama persis seperti Rhea dulu, ia selalu bersikap sebaik mungkin dengan sahabat kecilnya itu. Tapi, tetap saja tanpa tahu diri Rhea mengkhianatinya dan merebut Rangga.
Iqbal tidak mau kejadian yang sama terulang lagi pada Allea dan akhirnya untuk kedua kali Allea tersakiti lagi oleh orang luar yang disebut dan dianggapnya saudara.