
Ryan menatap wajah Syarla yang dianggapnya sebagai wajah Allea. Ia membelai lembut wajah perempuan itu. Seketika, Syarla berjalan menuju kamar dan Ryan yang mulai tergoda pun mengikuti langkahnya.
Syarla menaiki kasur dan memposisikan dirinya seperti menggoda Ryan. Saat itu lelaki itu benar-benar lepas kendali, ia melakukan apa yang ingin dilakukannya. Kenyataannya memang itu yang diinginkan Syarla.
Ia rela memberikan cinta dan dirinya disentuh oleh Ryan demi mendapatkan kembali lelaki yang harusnya jadi miliknya.
Syarla merasakan getaran di saku celana Ryan, tapi sepertinya Ryan tidak memperdulikannya karena yang ada dalam pikirannya bersama Allea mengalihkan segala dunianya.
Syarla yang merogoh saku celana Ryan dan melihat nama Allea yang tersemat. Perempuan itu sengaja mengangkat telepon dari Allea dan mengaktifkan lespeaker dari handphone Ryan.
Suara ******* yang saling beradu terdengar dari balik ponsel Allea. Tidak disangka, ia yang mau menanyakan kabar kekasihnya tapi malah mendapatkan kejutan.
Manik matanya pun berkaca-kaca, tangannya bergetar hebat, dan detak jantungnya semakin bergebu-gebu. 'sedang apa Ryan di sana?' Pertanyaan itu muncul, mengisi ruang kepalanya. Siapa wanita yang ada bersamanya malam ini?
Air mata Allea mengalir deras bak air sungai. Mau ngeluarkan suara untuk bertanya saja tidak bisa. Seketika membuatnya membisu dan tidak bisa apa-apa.
Suara ******* itu semakin kuat dan membuat Allea tidak sanggup lagi mendengarnya. Allea segera mematikan teleponnya, ia meringkuk sembari menangis sesenggukan membayangkan hal menjijikan itu dilakukan oleh kekasihnya.
"Sedang apa kamu, Ryan? Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku? Apa perempuan itu Syarla? Tapi, kenapa kamu harus bilang mau tunangan sama aku? Kenapa, Ryan?" Allea tidak bisa membendung air matanya. Rasa sakitnya juga tidak bisa ditepisnya begitu saja.
Ketakutannya untuk dikhianati kedua kalinya benar terjadi. Bahkan ini lebih parah dari apa yang dilakukan Rangga dan Rhea dulu. Jike mereka terang-terangan, tapi masih melakukan hal yang wajar. Namun, Ryan malah lebih parah. Ia melakukan hal paling menjijikan.
"Allea, kamu kenapa?" tanya Cleo saat ia baru saja pulang dari kantor. Cleo langsung menutup rapat pintu kamar agar tidak ada yang tahu kondisi Allea malam itu.
"All, kamu kenapa? Kamu bisa cerita sama aku." Sekali lagi Cleo bertanya sembari duduk di sebelahnya. Allea menatap kedua mata Cleo, sedangkan Cleo bisa merasakan kalau sahabatnya mengalami hal serius dan sangat sakit.
"Ryan, Cle ..."
"Kenapa dengan Ryan? Bukannya hubungan kalian baik-baik saja dan mau tunangan, 'kan?" tanya Cleo yang tidak tahu apa-apa.
"Tadi aku nelepon Ryan, tapi ada yang angkat telepon dari aku. Cuma itu bukan Ryan. Dari sana aku dengar suara menjijikan, Cle. Aku dengan suara ******* dan itu jelas suara Ryan, tapi aku enggak tahu suara perempuan yang aku dengan siapa?"
"Aku malah menebak itu adalah Syarla. Berarti selama ini Ryan berbohong sama aku. Malah di belakang aku, dia melakukan perbuatan yang sangat menjijikan. Hal yang belum sepantasnya ia lakukan," cerita Allea terisak.
"Kamu yakin kalau itu Ryan dan Syarla?"
Mendengar cerita Allea barusan, membuat Cleo tidak percaya kalau Ryan melakukan hal itu. Rasanya, ingin sekali Cleo berkenalan dengan perempuan yang ada bersama dengan Ryan di balik telepon itu.
"Cleo, kamu janji ya untuk jangan dulu cerita ke siapa-siapa tentang ini. Aku enggak mau Mama, Papa, dan Iqbal tahu masalah ini sebelum aku nanya langsung ke Ryan," pinta Allea.
Sesuai permintaan Allea, Cleo akan menjaga rahasia tersebut seperti yang diminta Allea.
Tanpa sadar Ryan benar-benar menganggap Syarla adalah Allea. Lantas, Syarla tidak memberontak sama sekali. Ia menerima dengan pasrah cinta yang diberikan Ryan, yang semestinya diberikan untuk Allea. Namun, bagi Syarla semua itu miliknya. Maka dengan senang hati Syarla merebut tanpa peduli.
Ryan tertidur nyenyak malam itu, sedangkan Syarla memperhatikan wajah lelaki yang ia cintai. Dibelainya lembut wajah Ryan ketika itu. "Kamu memang harusnya milik aku, Ryan. Terima kasih, ya, karena sudah memberikan semuanya buat aku. Aku merasa jadi perempuan yang beruntung karena sebentar lagi kamu akan jadi milik aku, Ryan."
Syarla benar-benar perempuan licik ternyata. Ia rela melakukan hal licik, meskipun dengan cara ekstrim. Sekalipun harus mengorbankan diri, yang terpenting untuknya bisa mendapati apa yang diinginkannya. Dan, itu membuatnya pyas luar biasa.
"Ryan, sebentar lagi kamu bakal jadi milik aku dan sebentar lagi kamu akan menyadari itu. Menyadari kalau kamu bukan buat perempuan itu, tapi dari dulu memang milik aku. Dan, sampai kapanpun tidak akan pernah berubah."
Syarla sangat agresif kalau mengenai Ryan. Bahkan siapa sangka kalau Syarla bisa melakukan hal ini. Semua di luar dugaan.
Keesokan harinya, Syarla tidur dengan satu tangan berada di atas dada Ryan. Lelaki itu bangun dalam keadaan tidak berbusana dan hanya tertutupi selimut. Membuatnya kaget, apalagi saat melihat Syarla yang ada di sampingnya sedang tertidur.
"Syarla, apa-apaan ini?" Suara keras Ryan membuat Syarla terbangun dari tidurnya. Ia pun juga berpura-pura tidak tahu.
"Ryan, apa yang kamu lakuin sama aku?" Syarla menangis melihat kondisi dirinya yang sama dengan Ryan keadaannya. "Tadi malam kamu manggil aku Allea dan kamu bawa aku ke kamar. Padahal aku sudah bilang jangan, tapi kamu maksa dan tetap anggap aku Allea."
Syarla meneteskan air mata palsu dari kedua matanya. Ia menangis seolah menjadi korban Ryan, sedangkan lelaki itu sangat menyesal dan kesal pada dirinya yang bisa-bisa melakukan hal yang tidak semestinya.
Seketika, kepala Ryan sangat pusing setelah bangun dari tidur panjang. Ia tidak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi tadi malam. Bahkan apa yang dilakukannya pada Syarla malam itu, Ryan benar-benar tidak ingat lagi.
"Enggak mungkin aku ngelakuin itu ..." Ryan masih tidak percaya sebenarnya. Ia berharap apa yang diingatnya adalah mimpi.
Serbuk yang dicampurkan Syarla ke dalam minuman Ryan benar-benar luar biasa. Hasil kerjanya sesuai apa yang Syarla inginkan.
"Bagaimana bisa kamu bilang kalau kamu tidak ingat apa-apa, sedangkan ini kenyataannya. Kamu sudah nodai aku dan kalau sesuatu terjadi sama aku, kamu harus tanggung jawab atas perbuatan kamu, Ryan!"
Ryan seperti lelaki yang makan buah simalakama. Ia terintimidasi dengan apa yang terjadi. Jika benar nantinya Syarla akan hamil, entah bagaimana caranya nanti untuk berkata jujur pada Allea, sang pujaan hati.