Allea

Allea
Chapter 16. Rencana Ryan



"Lo kenapa, All?" tanya Ryan yang sejak tadi memperhatikan gadis itu duduk termenung tanpa kata.


"Minggu depan gue bakal pergi ke Jerman."


"Jerman?" tanya Ryan dengan nada terkejut. Dan, Allea mengangguk membenarkan pertanyaan kepastian dari Ryan.


"Sejak putus dengan Rangga dan gue lihat kedekatannya dengan Rhea semakin dekat, ngebuat gue harus move on darinya."


"Apa harus dengan pergi ke Jerman? Lo bisa melanjutkan hidup di Jakarta dengan cara mengacuhkan mereka." Jujur saja ketika mendengar keinginpergian Allea, membuat Ryan kecewa. Bagaimana tidak, sedangkan dirinya sangat menyukainya. Bahkan, berencana untuk menyatakan perasaannya.


Tidak habis pikir kalau belum lama ia dekat dan mengenal akrab gadis itu, tapi malah sudah akan ditinggal pergi jauh.


"Ryan, kenapa muka lo ditekuk gitu? Jangan-jangan lo sedih ya pas tahu gue mau pergi? Tenang saja, gue pasti balik kok ke Jakarta. Jerman hanya tempat sementara buat gue."


Pertanyaan Allea benar kalau Ryan memang kehilangannya. Sekalipun gadis itu akan balik ke Jakarta, namun bagaimana bisa Ryan harus jauh darinya? Memang sebelum mengenal Allea, Ryan tidak pernah mengalami hal seperti ini namun semenjak bertemu Allea semua terasa berubah.


Cerianya yang dulu sempat sirna, kini kembali lagi. Siapa sangka kalau Ryan juga masuk dalam golongan anak yang tidak beruntung. Ditinggal oleh kedua orang tuanya dan dititipkan di panti asuhan, membuatnya seringkali murung.


Kadang kala, ia menghibur dirinya sendiri dengan berbagai macam kegiatan yang menurutnya membuat dirinya bahagia.


Iqbal melihat Ryan sedang duduk seorang diri di taman kampus. Ia menghampiri Ryan, kemudian duduk di sebelahnya sambil memukul pelan bahu pemuda itu. Sejenak, membuat Ryan kaget dan menoleh kepadanya.


"Kalau lo memang suka, saran gue bilang saja sekarang."


"Maksud lo?" tanya Ryan bingung.


"Lo suka sama Allea, 'kan? Sebelum dia pergi ke Jerman hari minggu nanti, lebih baik lo nyatakan perasaan lo secepatnya. Biar Allea tahu gimana perasaan lo ke dia, dan lo juga ngerasa lebih tenang setelah kepergiannya."


Bagaimana bisa Iqbal tahu perihal perasaan Ryan? Ia menebak dengan benar kalau Ryan memang menyukai Allea.


"Gue tahu kok lo memang suka sama Allea. Siapa pun orangnya pasti bisa nebak, cara lo memperhatikan Allea pasti memang naksir sama dia. Itu anak bloon aja yang enggak peka dan paham kalau ada lo yang naksir dia. Jadi, enggak usah kaget lagi."


Iqbal yang masih mencintai Allea, justru mendukung Ryan untuk menyatakan perasaannya. Ia yakin pemuda itu lebih baik dari Rangga. Semua terlihat jelas dari caranya berusaha membuat Allea tersenyum lagi dan menghilangkan rasa sedihnya.


Selepas kepergian Iqbal dari sana, Ryan memikirkan ucapannya. Memang benar yang dikatakan Iqbal, kalau ia harus secepatnya menyatakan perasaannya kepada Allea. Jangan sampai setelah kepergian Allea ke Jerman malah membuatnya menyesal di akhir. Karena bisa jadi gadis itu mempunyai kekasih nantinya di sana.


Sore itu, tampak Ryan sedang merangkai kata-kata yang baik untuk dinyatakannya pada Allea. Ia tampak berdiri di depan cermin kamarnya sambil berbicara dengan pantulan diri yang ada di dalam cermin tersebut.


"All, aku ke sini sebenarnya mau bilang, kalau aku suka sama kamu." Ryan merasa kikuk dengan ucapannya sendiri. Ia merasa kata-kata yang disusunnya sangat tidak tepat untuk dinyatakan pada gadis itu.


"Bagaimana sih ucapan yang pas buat Allea?" gumamnya dengan posisi masih berdiri di depan cermin. "All, maafin aku kalau malam-malam begini datang ke rumah kamu dan ganggu jam istirahat kamu. Sebenarnya, ada yang mau aku bilang. Sebenarnya, aku jatuh cinta sama kamu sejak pertama ketemu." Sekali lagi Ryan merangkai kata-katanya, namun ia merasa aneh.


Ryan menghela napas, lalu ia menjatuhkan dirinya di atas kasur empuknya. Ia menatap langit-langit, berharap ucapan yang keluar nanti akan lebih baik dari yang ia pikirkan. Ditambah dengan harapan Allea akan menerimanya. Kalau bisa gadis itu mengurungkan niatnya untuk pergi ke Jerman.


Tak disangka-sangka, yang dipikirkan ternyata panjang umur. Sedang lagi dipikirkan, namun Allea menghubungi Ryan. Dan, tiba-tiba saja detak jantung Ryan malah tidak karuan. Tidak seperti tadi saat ia bertemu di kampus.


"Ryan, lo mau enggak temani gue nanti malam. Antarin gue ke toko buku. Kebetulan ada buku yang mau gue cari." Suara Allea terdengar dari seberang sana.


Bagaikan Allea bisa menebak isi hati dan isi kepala Ryan. Ketika pemuda itu ingin menyatakan perasaannya pada malam itu pada Allea, justru Allea memintanya untuk menjemput dirinya.


Allea tidak menunggu lama jawaban dari pemuda itu. Ryan begitu cepat menyetujuinya. Jarum jam sudah mendekati ke angka setengah tujuh. Ia harus segera bergegas bersiap diri agar bisa menjemput Allea lebih awal.


Selesai mandi, ia memilih warna pakaian apa yang cocok dikenakan malam ini saat ingin pergi dengan Allea. Atas kasurnya penuh dengan pakaiannya yang sudaj dipilah dan merasa tidak cocok dikenakannya. Sampai akhirnya, Ryan mendapatinya. Ia mengenakan kaos hitam yang membentuk tubuhnya yang sedikit kekas dan celana jeans hitam dengan jaket berwarna merah maroon dan sepatu kets berwarna putih.


Ryan pun melajukan sepeda motornya menuju rumah Allea, hingga ia mendapati gadis itu sudah menunggunya di depan pagar rumahnya. Ryan terpukau sekali lagi melihat kecantikan Allea setelah kemarin lusa sempat terpesona oleh keanggunan gadis itu.


Kecantikan Allea memang tidak ada tanding bagi Ryan, sama seperti kebaikan yang dimiliki oleh gadis itu. Pantas saja Ryan merasa bahwa Rangga pemuda bodoh yang sudah menyakiti perasaan Allea.


"Sudah siap berangkat?" tanya Ryan pada Allea dan gadis itu pun mengangguk. Lalu, ia menaiki sepeda motor besar Ryan.


Sepertinya, Ryan dengan sengaja mengegas sepeda motornya agar Allea memeluknya erat ketika hampir saja terjatuh. Dan, Ryan berhasil. Pelukan itu membuatnya tersenyum-senyum sendiri di balik kekesalan Allea.


"Lo sengaja, ya, mau buat gue jatuh terus kenapa-napa? Ada dendam apa sih, lo, sama gue?" tanya gadis itu dengan nada suara besar karena sudah ada di tengah jalan.


"Gue enggak sengaja. Lagian, salah lo sendiri kenapa enggak mau pegangan. Sudah tahu gue mau ngegas sepeda motor gue." Ryan pun membuat alibi dengan senyum puasnya.


"Jangan geer lo, ya. Gue meluk lo supaya enggak jatuh!" Ryan tersenyum melihat kedua tangan Allea melingkar di pinggangnya.


Ryan tidak peduli sama sekali dengan apapun alasan gadis itu. Yang terpenting baginya, ia mulai berhasil membuat suasana menjadi lebih romantis saat bersama Allea.


"Selangkah lagi, All, gue bakal bilang perasaan gue sama lo," batin pemuda itu.