Allea

Allea
Chapter 7. Jahatnya Seorang Pengkhianat



Kelihatan Allea sedang mencari-cari keberadaan Rangga. Ia berjalan menelusuri koridor kampus sambil menanyai keberadaan Rangga pada satu per satu orang yang mengenal pemuda itu, namun tidak ada yang melihat. Allea masih terus mencari tanpa menyerah, hingga ia mendapati Rangga sedang duduk di taman kampus.


"Itu Rangga, pasti dia lagi nungguin aku," batin Allea.


Gadis itu pun berjalan perlahan, berniat ingin mengejutkannya. Sejenak, Allea melupakan kejadian kemarin yang membuatnya menangis tersedu. Ia masih mempercayai kalau Rangga hanya mencintainya. Sayangnya, di tengah Allea melangkah, ia melihat ada Rhea duduk di samping Rangga sambil menggenggam tangan pemuda itu.


"Rhea!"


Suara itu menggelegar, membuat Rhea dan Rangga kaget. Mereka menoleh ke arah Allea yang dengan amarahnya melangkah semakin dekat dengan Rangga dan Rhea.


"Apa-apaan kamu megang-megang tangan Rangga? Kamu harus tahu kalau Rangga pacar aku, Rhe. Enggak sepantasnya kamu melebihi batas."


"Harusnya kamu yang sadar dan bangun dari tidur kamu, All. Rangga sudah mutusin kamu tadi malam, harusnya kamu bisa nerima semua kenyataan yang ada di depan mata," bantah Rhea.


"Enggak, Rhe. Kamu salah, justru Rangga sama kamu yang tidak cinta."


"Jangan karena kamu enggak bisa terima kenyataan, pada akhirnya membuat kamu gila."


Di tengah perdebatan dua gadis itu, Rangga yang diam dan memperhatikan mereka serius, akhirnya menyadarkan Allea kalau memang dirinya tidak mencintai Allea lagi.


"Cukup, All, apa yang dibilang Rhea benar. Aku tidak mencintai kamu lagi dan sekarang aku juga Rhea, kami pacaran." Rangga harus mengatakan kebenarannya, meskipun ia tahu yang dirasakan mantan kekasihnya itu pasti begitu sakit. Sayangnya, Allea masih tidak terima dikhianati dan diputusi. Ia begitu mencintai Rangga.


"Rangga, aku enggak mau kamu tinggalin. Kamu enggak boleh ninggalin aku." Seperti tidak mempunyai harga diri, Allea memohon pada Rangga untuk tidak diputusin. Kejinya lagi, Rhea malah merasa menang dan memisahkannya dengan Rangga.


"Kenapa kamu tega khianati aku, Rhe? Aku ini sahabat kamu!"


"Karena kamu punya segalanya dan aku enggak. Kamu selalu saja berusaha merebut apa yang aku suka. Setiap aku suka sama laki-laki, selalu mereka menyukai kamu bukan aku. Aku selalu ngalah dan menutup rapat semua dari kamu," jelas Rhea.


"Kali ini, aku enggak akan pernah ngalah lagi. Dari awal aku menyukai Rangga, tapi dia malah pacaran sama kamu."


"Bukan salah aku kalau Rangga milih aku dan pacaran sama aku, Rhe. Yang salah adalah kamu, kamu yang mengkhianati aku dan merebutnya dari aku." Tentu saja Allea tidak mau kalah, karena ia tidak akan tinggal diam jika Rangga bersama Rhea.


"Kalau memang begitu, enggak salah kalau kali ini Rangga milih aku dan mutusin kamu!" Rhea semakin menjadi-jadi mencecar Allea. Padahal harusnya ia merasa bersalah dan menyesali apa yang telah dilakukannya pada Allea. Tapi, justru ia malah merasa benar tanpa tahu malu.


Rhea menarik tangan Rangga, membawanya pergi dari sana. Lantas, Allea mencoba menahan kepergian Rangga. Ia menarik tangannya dan mencoba menepis tangan Rhea. Bukannya Rangga iba, justru ia sendiri yang menepis tangan Allea agar menjauh dari tangannya.


"Sudah cukup, Allea! Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita lagi. Sekali lagi aku tegaskan, kalau aku hanya mencintai Rhea. Aku sudah tidak lagi merasa nyaman berada di dekat kamu. Maaf, Allea, kamu harus bisa terima kalau kita sudah selesai."


Dengan tegas Rangga mengucapkannya tanpa peduli perasaan gadis itu. Dengan begitu saja, ia meninggalkan gadis itu dan pergi bersama Rhea.


Di balik kepergian mereka, Rhea masih sempat menoleh ke belakang menatap Allea. Ia malah tersenyum merasa menang kepada Allea yang menatap kepergian mereka sambil memanggili Rangga.


"Rangga, kamu enggak bisa giniin aku. Aku bakal lakuin apa saja biar kamu balik sama aku!" teriak Allea marah.


Betapa bencinya Allea kepada Rhea yang sudah membuatnya hancur tak berdaya setelah ia merebut kekasihnya.


Setelah tangisnya mulai reda, kesedihan Allea masih saja tak kunjung hilang. Ia tertatih berjalan menelusuri koridor kampus. Isu keputusannya dengan Rangga pun sudah diketahui oleh banyak orang, meski begitu Rhea tidak ambil pusing.


Rhea tidak pernah takut dianggap sebagai perusak hubungan orang lain, ia merasa tahu apa yang telah dilakukannya. Ia merasa berhak bahagia, meskipun dengan Rangga dan dengan cara mengambilnya dari sahabatnya. Kenyataannya, Allea dan Rangga hanya terikat sebagai kekasih bukan suami istri.


"Allea, lo enggak apa-apa?" tanya gadis bernama Lidya itu.


Ia merasa kasihan dengan Allea yang dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya. Semua anak di kampus itu sudah tahu persis, bagaimana persahabatan dan kedekatan Allea dengan Rhea yang tidak bisa dipisahkan. Namun, kali ini hanya karena seorang pemuda, persahabatan itu hancur begitu saja dan tanpa Rhea peduli.


***


Kelihatan Allea sudah tampak tenang setelah ia menghabiskan waktu di perpustakaan, meskipun hanya duduk diam di sudut ruangan tanpa membaca satu buku pun. Kesunyian memang menjadi tempat paling ampuh untuknya menenangkan pikiran dan hati yang sedang terluka.


Namun, meskipun begitu tetap saja belum menyembuhkan luka hati yang digoreskan oleh Rangga dan Rhea.


Allea berjalan keluar dari perpustakaan, ia berjalan menuju kantin. Ia melihat Rangga sedang duduk sendiri tanpa Rhea. Seketika, membuat Allea tersenyum simpul.


"Pasti Rangga nunggu aku. Rangga, kamu memang enggak bisa jauh dari aku karena cinta kamu cuma buat aku, bukan Rhea," gumamnya.


Allea pun melangkah perlahan menghampiri Rangga. Ia menutup kedua mata pemuda itu dengan kedua tangannya. Sejenak, membuat Rangga kaget.


Rangga mencoba membuka tangan yang menutupi matanya dengan tebakannya kalau ia pikir itu adalah Rhea. Nyatanya setelah tangan itu berhasil dilepaskannya, ia tidak melihat Rhea tapi yang ia lihat adalah Allea.


"Kamu ngapain, Allea?"


"Aku tahu kalau kamu lagi nunggu aku, makanya kamu duduk sendiri di sini."


"All, aku enggak nunggu kamu. Aku nunggu Rhea."


"Kamu jangan bohong sama aku, Rangga. Aku tahu kalau kamu enggak akan mungkin bisa khianati aku. Kalau memang kamu nunggu Rhea, mana dia?" Mata Allea mengedar mencari-cari Rhea, tapi tidak mendapatinya.


"Cukup, Allea, aku sudah tidak mencintai kamu. Jadi, cukup untuk berharap aku lagi. Aku sudah bosan sama kamu dan aku lebih nyaman sama Rhea."


"Munafik kamu bilang lebih nyaman sama Rhea, kalau kenyataan yang kamu jalani selama ini sama aku." Allea membantah, ia masih belum bisa terima.


"Cukup, Allea!"


Dari belakang, Rhea pun muncul. Tanpa peduli jika Allea malu atau tidak, ia menarik tangan Allea demi memisahkannya dari Rhea. Tidak sadar kalau itu membuat gadis itu hampir terpental ke lantai. Untungnya, ada seorang pemuda yang menangkap tubuh Allea agar tidak terjatuh.