
Setelah kejadiannya dengan Syarla, Ryan mengurung diri di dalam kamar. Ia terus memikirkan apa yang terjadi di antara ia dan Syarla tadi malam. Berusaha mengingat apa yang terjadi, namun lelaki itu tidak ingat apa-apa.
Ryan hanya teringat kalau malam itu Syarla meneleponnya dan memintanya datang ke apartemen perempuan itu. Di malam itu, Syarla menangis tersedu dan minta untuk ditemani minum sebentar.
Tapi, ketika Ryan bangun di pagi itu, bagaimana mungkin ia bisa dalam keadaan yang tidak wajar bersama Syarla. Kejadian itu benar-benar mimpi buruk yang tidak pernah terduga olehnya akan terjadi.
Suara teriakan keluar dari bibir lelaki itu. Tidak mungkin dirinya melakukan hal yang tidak sepantasnya, sedangkan ia selalu menjaga diri dan cintanya hanya untuk Allea. Menjaga diri agar tidak tergoda dengan wanita lain, apalagi sampai melakukan perbuatan tidak baik.
Teringat sejak tadi Ryan belum mendapati telepon dari Allea. Ia mengambil ponselnya di atas nakas, lalu mencoba menghubungi Allea tapi Ryan tidak mendapati jawaban dari kekasihnya itu.
"Ke mana kamu, All? Apa yang terjadi sama kamu sampai-sampai tidak menerima telepon dari aku?" batin Ryan. Diambilnya kunci mobil, kemudian ia pergi menemui Allea.
Anehnya sampai di sana Allea malah tidak mau menemuinya. Ia menghindar dari Ryan sejak mendengar kejadian itu. Bahkan untuk membayangkannya saja tidak sudi.
"Ryan, lebih baik kamu pergi dari sini karena Allea enggak mau menemui kamu." Cleo menemuinya setelah diminta Allea. Perempuan itu juga tidak menjelaskan apa-apa pada Ryan.
"Cle, aku cuma mau bertemu Allea, menanyakan kenapa dia enggak ada kabar dan sekarang malah tidak mau nemuin aku. Ada apa sebenarnya?"
Dari kamar Allea keluar dan menarik Ryan keluar dari rumahnya. Ryan masih tidak tahu apa salahnya. Allea yang ia lihat hari itu seperti bukan kekasih yang ia kenal selama empat tahun ini. Entah apa yang membuatnya berubah jadi ganas dan tak terkontrol.
"All, kalau aku ada salah, bilang sama aku. Kasih tahu aku dan kamu jangan seperti ini mendadak marah tanpa jelasin apa-apa," pinta Ryan. Tapi, Allea tidak menjawab apa-apa, yang ia mau lelaki itu secepatnya meninggalkan rumahnya.
Cleo memperhatikan Allea dan Ryan yang berdebat hebat. Ia menghampiri sahabatnya itu yang duduk merosot lantaran derita yang dirasakan. Secepat mungkin Cleo mendekap hangat Allea. "All, aku ngerti perasaan kamu dan aku bisa merasakannya."
"Aku enggak mau ketemu dia lagi, Cle. Aku memang enggak melihat apa yang dilakukannya, tapi aku yakin Ryan melakukan yang tidak baik di belakang aku waktu itu," kata Allea.
"Iya, All, aku percaya sama kamu. Kamu enggak mungkin marah tanpa sebab sama seseorang, termasuk sama Ryan."
"All, aku mohon jelaskan apa salah aku." Dari luar Ryan berteriak. Sepertinya Ryan belum sadar kalau sebenarnya Allea sudah mengetahui apa yang terjadi padanya dan Syarla.
Ryan berusaha menggedor sembari memanggil nama Allea, berharap perempuan itu keluar menemuinya kembali dan menjelaskan hal apa yang membuatnya semarah itu padanya.
"Enggak apa-apa kalau kamu enggak mau keluar nemui aku, All, tapi aku bakal nungguin kamu di sini sampai kamu keluar," teriak Ryan.
Di tengah Cleo membawa Allea ke kamarnya, perempuan itu masih menangis pilu. Dari balik tirai kamar ia melihat Ryan yang masih setia menunggu tanpa berpindah tempat.
Suara petir menggelegar, awan hitam perlahan mulai menyelimuti kota Jakarta. Sebuah mobil yang dikemudi Iqbal datang dari kejauhan. Mereka melihat Ryan sembari mengernyitkan dahi akibat bingung dengan apa yang sedang dilakukan lelaki itu.
"Allea marah sama aku, Om. Aku enggak tahu salah aku apa," keluhnya.
"Lo tenang, Ryan. Nanti gue yang ngomong sama Allea." Saat itu Vena mengajak Ryan masuk ke dalam, tapi ia menolak. Ia memilih tetap di tempatnya sampai Allea akan keluar menemuinya.
Tidak peduli jika dirinya dikatain bucin, tetap saja Ryan akan membuktikan kalau ia serius dalam menunggu kekasihnya itu.
Rintik hujan satu per satu menetes turun ke bumi, sampai akhirnya hujan deras menyusul mengguyur. Ryan pun juga ikut kebasahan di bawah derasnya hujan tersebut.
"All, Ryan kehujanan. Dia masih saja berdiri di situ. Kamu yakin enggak mau menemuinya?" tanya Cleo saat memperhatikan Ryan dari balik tirai. Dari atas kasurnya Allea menggeleng.
Vena, Andre, dan Iqbal pun juga melihat Ryan yang basah kuyup. Hampir saja Iqbal membuka pintu membawakannya payung, Allea keluar memberi peringatan untuk tidak membawakannya apapun untuk melindunginya dari hujan.
Vena dan Andre saling tatap bingung melihat Allea yang tidak biasa. "Allea Sayang, kamu kenapa sama Ryan?" tanya Vena menghampirinya. "Kamu yakin mau biarin Ryan? Kasihan dia, All."
"Pokoknya aku minta jangan ada yang ngijini dia masuk atau aku yang akan keluar dari rumah ini!" Allea masuk ke kamar, sedangkan Iqbal mencoba mengejar tapi Cleo mencegah.
"Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Iqbal bertanya sembari menatap tajam mata Cleo. Tatapan itu mengartikan dan menegaskan agar perempuan itu menjawab jujur pertanyaan Iqbal. Lantas, Vena dan Andre menunggu penjelasan Cleo jika memang ia mengetahui yang sebenarnya.
"Ryan, aku mau bicara sama kamu," kata Cleo.
"Kenapa tidak di sini saja? Biar sekalian Om dan Tante bisa tahu apa sebenarnya yang terjadi?" kata Andre tegas.
"Biar aku bicara sama Ryan dulu, Om. Nanti biar Ryan yang kasih tahu sama Om dan Tante. Aku ngerasa tidak enak menjelaskannya sama Om dan Tante."
Vena menyetujui, kemudian Cleo dan Iqbal pergi ke belakang rumah. Di sana Cleo menceritakan semua yang diceritakan Allea.
"Kamu yakin kalau itu suara Ryan?" Awalnya Iqbal tidak percaya kalau Ryan melakukan kesalahan fatal karena ia bisa melihat Ryan seserius itu pada Allea. Tapi, cleo membuatnya tersulut emosi.
"Aku enggak tahu, tapi itu yang diceritakan Allea. Lagian, Allea mana mungkin bohong. Saat itu dia nangis dan aku ada di sana nenanginnya waktu Allea nangis. Aku rasa Allea enggak mungkin nangis kalau itu memang tidak terjadi."
Iqbal mengepal tangannya, wajahnya merah padam. Kemudian, ia kembali ke depan untuk melihat Ryan tanpa memperdulikan Vena dan Andre yang menunggu. Bahkan ia tidak menyahut panggilan Andre.
Ketika melihat Ryan masih berada di luar sana dalam keadaan basah kuyup dan hujan deras masih mengguyur, tanpa peduli Iqbal keluar menghampirinya.
Tanpa berkata apa-apa lelaki itu langsung melayangkan satu kali baku hantam yang begitu kuat. Tentu saja membuat Vena dan Andre syok, sedangkan Cleo tidak menyangka kalau Iqbal memiliki emosi sebesar itu.