
"Belum tapi lagi proses."
Aleta dan Febbi sama sama menoleg ke arah orang yang merangkul mereka dan siapa lagi kalau bukan Alexi Adelardo Early cowok yang katanya bad boy itu.
Aleta yang tau itu Alexi menyingkirkan tangan Alexi dari pundaknya. "Apa sih lo, kaya ibu ibu komplek ikut ikutan aja." Setelah berbicara Aleta berjalan mendahului Alexi dan Febbi.
"Eh spesies gorila, lo suka ya sama temen gue?" Kini Febbi mulai menginterogasi Alexi.
Alexi mengangkat kedua bahunya. "maybe yes maybe no, bukan urusan lo tomboy! Hahaha." Kata Alexi sembari menyentil kening Febbi lalu pergi begitu saja.
"Alexi!" Panggil seseorang dari arah belakang Alexi.
Alexi memutar badannya menjadi menghadap kebelakang. "Eh bro!" Sapa Alexi dengan gaya tos ala ala anak gaul.
"Lah tumben lo Lex jam segini udah dateng, kesambet jin mana nih?" Tanya Tristan sembari memegang puncak kepala Alexi.
"Bapak lo jin! Gua abis bareng bebep Aleta, secarakan ya calon pacar gua yang satu itu kelewat rajin. Hahah."
Tristan mengusap muka Alexi kasar. "Calon pacar nenek lo sepuluh!"
"Nenek gua satu Tan, lo jangan jadi pho di hubungan Kakek ama Nenek gua dong..." Kata Alexi ngaco.
Mon menggelepak kepala Alexi. "Ngaco anjing! Lagian kalo iya juga kakek lo doyan amat ampe punya bini 10 hahaha."
"Ye... Malah nambah ngaco keluarga bambank." Timpal Tristan.
"Eh guys kantin dulu yuk, cowok ganteng laper nih?" Ajak Mon.
"Boleh." Sahut Tristan sedangkan Alexi hanya mengangguk.
Namun di tengah perjalanan mereka bertiga menuju kantin, sosok lelaki ganteng tengah berdiri menghalangi perjalanan mereka. Alexi dkk tidak menghiraukan dan berlalu begitu saja melewatinya, namun tangan kekar milik lelaki tadi sukses membuat Alexi berhenti.
Alexi melihat tangan yang mencengkram pergelangan tangannya lalu beraling menatap sinis ke arah sang pemilik tangan kekar itu. "Lepas!" Alexi berusaha melepaskan tangan itu dari tangannya dan tangan kekar itupun terlepas. Alexi mendekat kearah lelaki itu. "Mau apa lagi lo?"
"Tau dari mana lo rumah Aleta?" Apa kalian bisa menebak itu siapa? Yup, lelaki ganteng bertangan kekar selain Alexi itu Al. "Sama sekali bukan urusan lo." Jawab Alexi santai. Sedamgkan kedua teman Alexi Mon dan Tristan saat ini hanya melihat, di mana ada kekerasan mereka pasti akan turun tangan.
"Selama itu Aleta, itu bakal jadi urusan gua!"
Alexi tertawa remeh. "Haha, emang Aleta siapa lo?"
Al menepuk-nepuk seragam Alexi seolah-olah sedang membersihkannya. "Siapapun gua buat Aleta itu bukan urusan lo." Kata Al lalu berjalan dan dengan sengaja menabrakan bahunya dan Alexi berbenturan. Alexi yang geram langsung menarik tangan Al dan memukul wajah Al sampai mengeluarkan darah sari sudut bibirnya.
Al menyentuh sudut bibirnya dengan ibu jarinya terlihat bercak darah berwarna merah menempel di ibu jarinya. Al tersenyum remeh. "Sorry Lex gua gamau nama gua jelek di sekolah gara-gara gua ribut sama siswa model lo." Setelah berbicara Al berlalu meninggalkan Alexi dan kedua temannya.
"Sini lo berengsek!" Alexi sempat ingin mengejar Al, namun di tahan oleh kedua temannya yaitu Mon Dan Tristan.
"Lex udah! Gak ada gunanya lo ladenin dia." Kata Tristan.
"Iya Lex, buat apa lo ladenin dia?" Timpal Mon.
"Udah ayok kita ke kantin aja dulu." Kata Tristan, namun bukan menjawab Alexi pergi terlebih dahulu mendahului kedua temannya.
____________________________________
"Aleta! Lo kenapa ninggalin gue tadi?" Tanya Febbi setelah sampai di kelasnya.
"Em... Itu gue males aja ngedengerin omong kosongnya Alexi."
Febbi duduk di sebelah Aleta yang memang tempat ia duduk lalu menyenggol pundak Aleta dengan pundaknya. "Wah Alexi beneran suka sama lo nih."
"Ck! Eh btw pelajaran pertama apa? Gue belum sempet nyatet mapel kemaren." Aleta mengalihkan pembicaraan.
"Olahraga, nih gue mau ganti baju." Kata Febbi sembari mengeluarkan baju trening yang ia simpan di tasnya.
"Yaahh... Gue gak bawa bajunya lagi feb.." Kata Aleta panik.
Febbi mengangkat kedua bahunya acuh. "Yaa... Dl! Dah ah gue mau ganti baju dulu."
Aleta memukul bahu Febbi. "Eh sialan lo ya Febb!"
Ketika febbi keluar sembari memasang muka meledek, Alexi masuk ke dalam kelas dengan rambut berantakan dan Aleta bisa lihat ada memar di bagian sudut bibirnya. Kalian ingat bukan kemarin Alexi di pukul oleh Al saat Al baru saja pulang mengantar Aleta? Aleta yang melihat Alexi seperti itu mengerutkan dahinya. "Perasaan tadi gak gitu, memarnya juga...apa tadi gue gak merhatiin? Padahalkan tadi de..." Aleta menampar pipinya sendiri. "Apa sih Aleta ngapain ngebayangin yang tadiiiii...!!!"
Bell berbunyi, Febbi yang tadi sudah kembali ke kelas menepuk pundak Aleta. "Heh ayo udah bel tuh."
"Gue gak pake baju olahraga Feb, gak papa?"
"Ya gak papa kan lo juga anak baru, bilang aja baju olahraganya belum di kasih."
Aleta mengangguk pahm lalu berdiiri dan memegang sebelah tangan Febbi. "Yaudah yuk...!"
Aleta tidak mendengarkan omongan Febbi. "Udah ayok!"
Sekarang febbi dan Aletapun sudah sampai di lapangan, sudah banyak murid kelas IPA 11-2 yang berkumpul di lapangan sekolah. Alexi dkkpun baru saja sampai dan langsung menimbrung di barisan laki-laki.
"Pagi anak-anak!" Sapa sang guru olahraga yang di ketahui bernama Darma.
"Pagi pak..." Sahut seluruh murid.
Sang guru melirik ke arah Aleta dan Febbi berdiri. "Kamu anak baru ya?" Tunjuk pak Darma ke Aleta.
Aleta mengangguk. "Iya pak saya anak baru."
"Baru masuk hari ini?"
"Ah... Engga sih pak dari kemarin."
"Kenapa tidak pakai baju olahraga?"
"Saya lupa pak..." Aleta berkata sembari menundukan kepalanya.
"Maju kamu kedepan!" Titah sang guru dan di turuti Aleta.
"Pak saya juga gak pake baju olahraga nih!" Teriak seseorang.
"Alexi? Maju kamu juga!"
Alexi tersenyum lalu mengangguk baru satu langkah maju Tristan menarik baju bagian belakang Alexi. "Lo bukannya bawa?" Bisik Tristan. Alexi hanya tersenyum lalu menepuk nepuk bahu Tristan, Alexipun maju menghampiri sang guru dan Aleta.
"Kalian lari mengitari lapangan. Alexi 20 putaran, kamu anak baru..."
"Aleta pak." Kata Alexi.
"Iya kamu Aleta 10 putaran."
"Yah pak banyak banget masa 20 putaran." Rengek Alexi.
"Yaudah 25."
"Yah pak..."
"30 putaran! Sekali lagi ngeluh bapak akan tambah terus hukuman kamu!"
"Iyah deh pak.."
"Selesai lari kalian harus ke lapangan basket."
"Iyah pak.." Jawab Aleta dan Alexi berbarengan.
Guru itu pun pergi dari hadapan Alexi dan Aleta. Aleta memukul pundak Alexi lumayan kencang. "Lo sih ngebantah, 30 puteran kan." Kata Aleta lalu mulai berlari mengitari lapangan.
Alexi memegang pundaknya yang di pukul oleh Aleta lalu menyusul Aleta berlari, kini langkah mereka sama. "Kenapa? Perhatian banget..." Goda Alexi.
"Mimpi!" Kata Aleta masih sambil berlari.
"Ngaku aja sih..."
Aleta tidak mendengarkan omongan dari jin yang ada di sampingnya. Yang di fokuskan Aleta sekarang adalah menyelesaikan hukuman yang gurunya beri. Terhitung sekarang Aleta sudah mengitari lapangan 10 putaran sedangkan Alexi 12 putaran.
Selesai, Aleta selesai dengan tugasnya dan berjalan gontai menuju kepiggir lapangan, Aleta terduduk lemas di pinggir lapangan dengan nafas yang tidak teratur. Namun mencegah kram, Aleta meluruskan kakinya yang lemas. Sedangkan Alexi masih harus mengitari lapangan sebanyak 3 putaran lagi. Tidak lama Alexipun menyusul Aleta di pinggir lapangan. Alexi duduk di sebelah Aleta.
Namun sedang mengatur nafasnya dan belum sempat mengobrol atau berbasa basi dengan Aleta. Dari arah samping kiri Aleta dan Alexi datang Al membawa air putih kemasan botol dan menghampiri Aleta.
"Nih, lo pasti haus."
Hai aku kembali nih hehe
Maaf ya kalo partnya itu di bikin sedikit, soalnya authornya pelupa. kadang kalo partnya panjang ceritanya malah jadi gak nyambuk gak tau deh kenapa hehe.
pokoknya dukung terus cerita ini like komen karena apapun bentuk komentar kalian aku pasti akan terima dengan senang hati.
tambahin juga ke favorit biar kalo aku up kalian bisa jadi pembaca pertama, jangan lupa juga kasih like aku menghargai banget like kalian.
terima kasih