
"Aleta.. Al udah dateng nih.." Ibu Aleta berteriak dari luar kamar Aleta.
Cklek! Aleta membuka kenop pintu kamarnya menanpakan Aleta yang begitu cantik malam ini dengan pakaian casual, tidak lupa rambutnya yanh ia biarkan terurai menambah kecantikan Aleta pada malam itu. "Kak Al di mana mah?" Tanya Aleta.
"Di luar sayang, dia udah nungguin kamu tuh." Kata ibu Aleta dan tanpa pikir panjang Aleta berjalan menuju keluar rumah untuk menghampiri Al yang sudah menunggunya. "Hai kak!" Sapa Aleta sembari melambaikan tangannya dan juga menampilkan senyuman di hadapan Al.
Al berdiri dan tersenyum melihat Aleta. "Hai!" Sapa balik Al juga dengan lambaian tangan.
"Jadi mau langsung pergi?" Tanya Aleta dan mendapat anggukan dari sang empu yang di tanya. "Iya sekarang aja." Kata Al penuh dengan semangat.
"Kalo gitu gue panggil mamah gue dulu ya kak?" Al mengangguk. "Mamah? Mah.." Aleta memanggil ibunya, dan keluarlah ibu Aleta. "Ada apa sayang?" Tanya ibu Aleta ketika ia sudah berada di hadapan Aleta dan juga Al.
"Kita mau berangkat tante." Ujar Al.
"Oh udah mau berangkat, yaudah hati hati ya.."
Setelah berpamitan Aleta dan Al berjalan keluar menuju mobil yang Al bawa malam itu. "Kak Al bawa mobil?" Tanya Aleta.
Al mengangguk. "Iya let, lo ga mau? Kita bisa mampir dulu ke rumah gua kita tukar motor."
"Ah gausah kak, ngapain juga. Gapapa kok pake mobil."
Singkat cerita, mereka berdua sudah sampai ke tempat tujuan mereka yaitu restoran di mana dulu ia pernah menghabiskan waktu dengan seorang 'wanita'. Kalian tau 'Wanita' yang di maksud? 'Wanita' yang bersama Al di saat Al dan 'Wanita' itu kecelakaan. Bukan Felly! Melainkan orang lain. Namun, di saat Alexi bertanya siapa 'Wanita' yang bersamanya saat itu? Al tak kunjung memberi jawaban kepada Al. Lalu siapakah 'Wanita' itu?
Kini Aleta dan Al baru saja masuk ke dalam restoran tersebut. Mereka berdua berjalan ke tempat duduk yang menurut mereka nyaman. Al sedikit menarik kursi guna mempersilahkan Aleta untuk duduk. Setelah Aleta duduk, Al pun ikut duduk di hadapan Aleta. Melihat Aleta malam ini, membuat Al yang jatuh cinta pada pandangan pertama itu menjadi semakin menyukai sosok Aleta. Dari raut wajah Aleta, tidak ada kesedihan yang ia tampakan di depan Al. Malah yang Al lihat, senyum palsu Aleta yang selalu menghiasi wajah cantik Aleta itu terlihat tulus. Walau Aleta banyak diam akhir-akhir ini, Aleta tidak pernah sekali pun membahas masalah ia dengan Alexi yang sekarang mereka sedang hadapi. Padahal, Al tahu betul bagaimana perasaan Aleta saat ini.
"Permisi!" Al melambaikan tangan memberi sinyal untuk para pelayan restoran bahwa ia akan memesan.
Tidak pakai lama, pelayan pun datang dengan buku menu yang ia bawa untuk para pelanggang yang datang. Pelayan itu memberikan buku menu ke Aleta dan juga Al. Lama memesan makanan, bahkan sempat saling bertanya ingin memesan apa, Akhirnya mereka memesan makanan dan minuman selera mereka masing masing. Al memberi tahu apa yang mereka pesan supaya sang pelayan bisa mencatat dan menyajikan pesanan mereka. Setelah selesai, pelayan itupun pergi.
"Dulu ini restoran favorit gua." Al memecahkan keheningan.
Kening Aleta berkerut. "Dulu? Terus sekarang udah engga kak?" Tanya Aleta.
"Dia?"
"Iya, 'dia' wanita paling spesial yang pernah gua temuin, 'dia' juga cinta pertama gua. Tapi benar kata orang, cinta pertama itu gak pernah berhasil..." Al menunduk.
"Iya, kaya gue sama Alexi..." Ujar Aleta tanpa sadar. "Ehh!" Aleta menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Emangnya lo sama Alexi kenapa?" Al bertanya berpura pura tidak tahu, padahal di sini Al adalah orang yang paling tahu apa masalah yang sedang Aleta dan Alexi hadapi.
Aleta tertawa hambar. "Haha gapapa kak..."
______________________________________
"Lex.. Kamu serius bakal ngelakuin itu?" Tanya Felly. Kini Felly dan Alexi tengan berada di taman dan duduk di ayunan.
Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas pertanyaan Felly tidak terjawankan oleh Alexi. Alexi hanya diam seperti patung, kini pikiran Alexi benar benar penuh dan memusingkan. Ia tidak tahu harus bercerita dengan siapa lagi, maka dari itu Alexi bercerita kepada Felly. Kini hubungan Alexi dan Aleta tengah memanas, bahkan salah sedikit melangkah saja hubungan mereka mungkin bisa berakhir. Alexi benar benar bingung dengan situasi seperti ini. Di mana ia tidak mau kehilangan kepercayaan dari sang eyang, namun juga tidak mau menyakiti Aleta dengan pergi begitu saja. Berbicara soal Aleta, oh tuhan! Alexi benar benar sangat merindukan sosok Aleta. Aleta yang ceria, Aleta yang pemarah, Aleta yang penyayang, Aleta yang gila belajar. Sungguh! Alexi merindukan semuamuanya dari Aleta. Ingin rasanya Alexi memeluk erat Aleta tanpa melepaskan pelukannya, jika dengan pelukan itu bisa membayar semua kerinduan yang kini Alexi rasa. Namun nihil! Jangannkan untuk memeluk menghilangkan rasa rindu, rasanya menatap Aleta saja seperti sedang di awasi.
Alexi menghela nafas untuk kesekian kalinya, membuat Felly yang tadinya ikut terdiam kini menoleh ke arah Alexi yang benar benar tengah stres. Felly mengelus pundak Alexi lembut membuat Alexi sedikit tersentak dan menoleh ke arsh Felly karena pergerakan Felly yang tiba tiba. "Alexi... Kita makan yuk? Kamu belun makan loh lex dari kemarin.." Bujuk Felly. Benar! Alexi memang tidak makan dari kemarin, entah kenapa Alexi merasa benar benar tidak bergairah melakukan apapun.
"Engga Fell gua gak laper." Ini pertama kalinya Alexi berkata dengan kalimat 'Gua' ke Felly.
"Tapi kamu harus makan lex.."
"Fel?"
"Hm? Kenapa Lex?"
"Bisa gak lo gausah maksa gua? Gua gak laper sekarang. Dan gua lagi gak semangat mau ngapangapain. Jadi tolong lo ikutin gua aja, kalo lo gak mau lo bisa pergi." Alexi berkata tanpa menoleh dan tanpa ekspresi.
Felly menghela nafas. Melihat Alexi yang seperti ini, membuat Felly juga sedih. Ia berpikir, mungkin di saat ia pergi ke luar negri dan di nyatakan meninggal. Alexi sama depresinya seperti ini, membuat rasa bersalah Felly berkecamuk dalam pikirannya sekarang. Felly memperhatikan Alexi cukup lama. Kini ia sadar, bahwa cinta Alexi sudah berpaling ke lain wanita. Alexi sudah mencintai wanita lain itu kenyataannya. Sempat berpikir untuk merebut lagi Alexi ke pelukannya, namun Felly rasa percuma. Perasaan yang pernah ada lalu hilang, tidak akan pernah ada lagi untuk kedua kalinya. Mungkin bisa, namun rasanya tidak akan sama seperti pertama kali. Tugas Felly saat ini hanya menjaga Alexi dan mendekatkan lagi cintanya dengan Aleta. Karena Felly tidak mau, Alexi terpuruk untuk kedua kalinya karena tembok yang sang eyang bangun di antara Alexi dan cintanya.