
Pagi itu seperti biasa. Aleta mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolahnya. Masih terbilang pagi saat itu, masih ada waktu untuk ia bersiap secara santai dan juga bersarapan di rumah.
Tok..tok
"Aleta ayo sarapan sayang..." Panggil ibunya dari balik pintu kamar Aleta.
"Iya mah sebentar, Aleta bentar lagi keluar kok." Sahut Aleta dari dalan kamarnya.
Ibu Aleta kembali ke meja makan yang sudah ada makanan yang akan di santap keluarga kecilnya itu sebagai sarapan.
"Aleta belum selesai mah?" Tanya ayah Aleta begitu sang istri datang menghampiri meja makan.
"Belum pah." Jawabnya sembari menaruh bokongnya di kursi.
Namun tidak lama berselang Aleta datang dengan kondisi sudah rapih. "Pagi mah pah." Sapa Aleta begitu sampai di meja makan.
"Pagi sayang."
"Pagi Aleta..." Sahut ibu dan ayahnya berbarengan. Aletapun duduk dan memakan roti yang telah di siapkan oleh ibunya tadi.
Tin.. Tin..
Suara kelakson mengalihkan pandangan Aleta, dan kedua orang tuanya yang kala itu sedang fokus pada sarapannya. "Siapa itu ya?" Kata Aleta.
"Engga tau tuh, coba sana kamu buka. " Titah ibunya.
Aletapun berdiri dan berjalan menuju pintunya untuk melihat siapa yang membunyikan klakson tadi. Kening Aleta berkerut ia sedikit bingung denfan mobil sedan berwarna hitam terparkir di depan rumahnya. Aletapun membuka pintu rumahnya dan mendekat ke arah mobil hitam itu berada.
Aleta membuka gerbang rumahnya dan mendekat ke arah mobil. Tuk.. Tuk.. Aleta mengetuk kaca mobil, kaca mobil itupun terbuka dan memperlihatkan orang yang ada di dalamnya. Aleta sempat terkejut melihat siapa orang yang berada di dalam mobil tersebut.
"Alexi?"
Yup! Itu Alexi. Hari ini ia membawa mobil ayahnya entah apa alasannya ia membawa mobil ayahnya itu kerumah Aleta. Alexi tersenyum dan melambaikan tangan di hadapan Aleta. "Hai!" Sapa Alexi.
Alexi memberi kode bahwa ia akan membuka pintu mobilnya untuk keluar. Aleta mengerti dan sedikit menjauh dari mobil sedan itu. Setelan Alexi hari ini cukup membuat Aleta terpukau. Ketampanan Alexi bertambah berkali kali lipat dari biasanya. Alexi memakai kaos hitam polos dengan paduan Levis hitam yang pas di kakinya sedikit mengatung dan sedikit robekan di lututnya membuat kesan swag dan cool. Tidak lupa memakai sepatu yang cukup mencolok yaitu sepatu berwarna putih. Rambut Alexi yang kini tertata rapi membuat kesan bad namun tetap rapih.
"Gua kepagian ya jemputnya?" Tanya Alexi.
Aleta mengangguk membenarkan ucapan Alexi. "Hm! Lo kepagian. Lagian juga gue kan udah nolak."
"Lagian yang minta persetujuan lo?" Kata Alexi sembari menoyor pelan Aleta.
"Eh! Ya kalo jemput ginikan harus persetujuan orang yang mau lo jemput dulu dong..."
Alexi menyilangkan tanganya di atas dadanya yang bidang. "Tapi tidak berlaku sama Alexi." Alexi memasang muka sombong.
"Terserah." Aleta menggibas tangannya di hadapan Alexi dan melangkah pergi namub Alexi tahan.
"Mau kemana?"
"Ke dalem lah gue mau lanjut sarapan lagi tau!"
Alexi menunjuk dirinya sendiri. "Terus gua gak lo ajak?"
Aleta bertolak pinggang. "Hah emang lo siapa?"
"Pagi nak Alexi." Sapa balik ibu Aleta "Loh kok ada nak Alexi kamu gak suruh masuk sih Aleta!" Ibu Aleta memukul tangan Aleta cukup keras.
"Aww! Mamah..!!" Aleta memegang tangannya yang di pukul.
Ibu Aleta menggandeng tangan Alexi. "Ayo nak Alexi masuk kita sarapan bareng." Kata ibu Aleta membuat Alexi kegirangan, Alexi menjulurkan lidahnya meledek Aleta yang kini menatapnya dengan wajah kesal. "Ih rese lo!" Aleta mengambil ancang ancang seperti ingin menojok wajah tampan milik Alexi.
Karena Alexi dan ibunya sudah masuk ke dalam rumah, mau tidak mau Aletapun ikut masuk kedalam rumahnya itu. Namun karena Aleta berjalan paling belakang, saat sampai Aleta melihat suasana yang sulit di artikan. Aleta melihat ayahnya dan Alexi saling berpandangan.
"Alexi?"
Di lain tempat di waktu yang sama. Al sedang berjalan turun dati kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu. Al ingin menuju meja makan, ingin ikut bergabung dengan ayah dan ibunya itu.
"Pagi pah mah." Sapa Al ketika sampai di meja makan.
"Pagi Al." Sapa kembali ibunya dengan senyuman yang mengembang di wajah cantiknya.
Saat Al ingin duduk ucapan ayahnya sukses membuat Al mengurungkan niatnya itu. "Kenapa kamu gak sekolah Al?" Tanya Ayahnya dengan nada dingin. Al tidak menjawab, lebih tepatnya Al tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. "Muka kamu juga kenapa bisa ada lebam banyak seperti itu? Kamu berantem di sekolah?" Lagi, Al tidak menjawab. "Pantas aja eyang kamu nambah gak suka sama kamu." Ayahnya tertawa remeh. "Kenapa kamu diam aja hah? Jawab anak sialan!" Bentak sang ayah.
Saat kata 'anak sialan' terucap dari sang ayah, secara otomatis wajah Al menoleh ke arah ayahnya. Al menatap ayahnya dengan tatapan marah dan tidak percaya. "Mas sudah.." Nency berusaha menenangkan sang suami, namun nihil. Emosi Brata sudah tidak bisa terkontrol. Mengingat kejadian kemarin membuat Brata sangat sangat marah yang akhirnya ia lampiaskan kepada Al.
"Anak sialan?" Al mengulang ucapan sang ayah. "Al bukan anak sialan pah!" Tegas Al.
"Kamu memang anak sialan Al!"
"Oh, jadi papah menganggap Al anak sialan? Begitu?"
"Kenapa kamu engga terima?"
Al tersenyum kecut sembari menggelengkan kepalanya. "Al gak heran kenapa Al bisa jadi anak sialan, karena Al yang di urus sama keluarga sialan ini!" Al berkata dengan nada biasa namun sukses memancing emosi Brata.
Plaakk! Brata menampar Al dengan keras. "Dasar anak tidak tau di untung! Seharusnya dulu aku tidak mengambilmu dari panti asuhan itu!"
"Mas!" Nency berusaha melerai namun ia malah terkena gibasan tangan Brata dengan kencang.
"Mamah gapapa?" Tanya Al yang meliht ibunya yang tersungkur jatuh karena sang ayahnya itu.
Al berdiri di hadapan sang ayah. Tatapan mata Al begitu menusuk di hadapan Brata. "Dulu, Al jadikan papah panutan. Tapi setelah Al tau sikap papah yang temperamen kaya gini, ekspetasi bagus tentang papah berubah jadi benci pah!" Al pergi dari hadapan ayahnya. Meninggalkan ayah yang masih diam seribu bahasa. Nency mengejar anaknya yang terlihat akan pergi dari rumah itu.
"Al kamu mau kemana sayang?" Tanya ibunya sembari mengikuti langkah kaki Al. Al tidak menjawab ia hanya fokus pada kegiatannya sekarang mengambil jaket dan kunci motornya yang berada di kamarnya. "Al..." Lagi, Nency memanggil nama Al dengan lembut. Al berhenti ketika ia tepat berada di depan pintu rumah besar itu. Al berbalik menghadap sang ibu kemudian memegang kedua bahunya. Al menghelanafas sebentar. "Mah, Al mau nenangin diri dulu sebentar ok? Engga lama kok." Al berusaha meyakinkan ibunya.
"Janji gak akan lama? Kamu gak akan pergi dari rumah kan?"
Al tersenyum. "Engga dong, Al masih punya alasan bertahan di rumah ini. Yaitu karena mamah."
"Yaudah, tapi kamu hati-hati ya sayang."
Al mengangguk. "Pasti mamahku sayang." Al memeluk ibunya sebentar lalu melepaskan pelukannya. "Al pergi dulu."
Hai maaf banget upnya lama terus hehe. gimana kangen Alexi? btw aku bikin cerita baru loh judulnya PSYCHOPATH jangan lupa mampir dan di baca. cumaa... temanya tentang sekolah di korea gitu sih. ok deh selamat membaca