ALEXI

ALEXI
ALEXI - 25. YANG TIDAK BIASANYA TERJADI



"Ada apa? Tumben banget lo ngajak gua ketemuan?" Kata Al setelah ia mendaratkan bokongnya di kursi cafe itu. Kalian tahu siapa yang mengajak Al untuk bertemu? Yup! Jawabannya adalah Alexi. Alexi menghubungi Al terlebih dahulu untuk mengajak Al bertemu. Momen langka memang Al dan Alexi bertemu berdua seperti ini tampa ada pertengkaran terlebih dahulu di antara mereka.


Namun, inilah Alexi. Ia mengajak Al bertemu bukan tanpa alasan. Tentu ada hal yang harus mereka bicarakan serius. Alexi pikir, di antara mereka sudah banyak kesalah pahaman yang mereka berdua enggan untuk meluruskannya atau sekedar menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sampai-sampai menibulkan dendam dan rasa tidak suka di antara keduanya.


Dengan tatapan dingin ke arah Al, Alexi mulai membuka pembicaraan. "Gua gamau basa basi, gua mau langsung ke intinya aja." Kata Alexi yang langsung dapat anggukan pelan dari Al. "Apa ada anak temen eyang yang nginap di rumah lo?" Tanya Alexi yang membuat kening Al mengerut bingung.


"Lo tau dari mana?" Tanya Al penasaran.


Alexi mengalihkan pandangan ke arah lain. "Berarti bener."


"Emangnya kenapa? Kenapa lo tiba tiba nanya gitu?" Al bertanya tidak sabar.


Alexi kembali melihat ke arah Al dengan wajah yang tanpa ekspresi. "Gua saranin lo harus baik-baik sama dia." Alexi menggantukan omongannya  membiarkan dan meninggalkan Al dengan rasa penasaran yang amat sangat.


Al hendak mengejar Alexi dan juga bertanya apa maksud dari ucapan Alexi tadi kepadanya. Namun Al mengurungkan niatnya, karena menurutnya percuma Alexi tidak akan memberi tahu apa yang di bicarakan tadi. Al mengetuk ngetuk meja itu sembari berpikir. "Alexi, sebenarnya lo mau nyampein apa ke gua?" Gumam Al.


______________________________________


"Hai bidadari." Sapa Alexi begitu ia melihat Aleta yang tengah berjalan menuju gerbang sekolah.


Aleta tersenyum dan menghampiri Alexi yang masih duduk di atas motornya. "Hai!" Sapa balik Aleta tidak lupa senyuman manis khas Aleta yang sedari tadi tidak pudar.


"Mau pulang bareng siapa nih? Aku, atau Brian?" Tanya Alexi. Tapi tunggu! Ada sesuatu yang mengganjal di pendengaran Aleta dengan kalimat yang Alexi ucapkan.


"Ppfftt!!" Aleta menahan tawanya ketika ia sadar bahwa Alexi baru saja mengatakan kata 'aku' di sela sela kalimat yang ia lontarkan.


Alexi memiringkan sedikit kepalanya melihat bingung ke arah Aleta yang tengah memasang wajah aneh karena menahan tawa akibat ulah Alexi. "Kok ketawa sih?" Tanya Alexi sedikit sewot.


Akhirnya tawa Aleta pecah, sungguh Aleta tidak bisa menahan tawa karena kalimat yang menurut Aleta aneh untuk di dengarnya, apa lagi yang berbicara itu Alexi sih cowo bad boy itu. Alexi memegang bahu Aleta dan mengoyang goyangkan tubuh Aleta supaya Aleta berhenti tertawa. "Hei! Aleta? Kamu kenapa sih?" Aleta menghela nafas pelan karena terlalu lelah tertawa.


"Tadi nyadar gak lo ngomong apa?" Alexi memasang wajah seperti memikirkan sesuatu.


"Aku?" Alexi menatap penasaran ke arah Aleta.


Sambil menahan tawanya, Aleta mengangguk membuat wajah Alexi memerah. Alexi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia cengengesan karena malu. "Ya namanya juga orang pacaran, masa manggil lo gue aja sih?" Kata Alexi dengan wajah yang memelas.


"Gue cuma gak biasa aja kok lex..."


"Yaudah, lo mau balik sama gua atau Brian?"


"Lo gue lagi?"


Aleta tersenyum samar. "Yaudah.. Btw gue balik sama lo aja deh, kan lo udah di sini juga.." Aleta merampas helm yang di pegang Alexi lalu memasangnya di kepalanya, lalu tanpa izin Aleta naik ke atas motor Alexi. "Yuk berangkat!" Aleta memeluk pinggang Alexi dari belakang, membuat Alexi kegirangan bukan main. Ini kali pertamanya Aleta mau memeluk Alexi di saat mereka berboncengan, sebelum sebelumnya Aleta selalu menolak dengan Alasan malu.


Tanpa menunggu lama lagi, Alexi menyalakan mesin motornya dan melajukannya ke tempat tujuan mereka yaitu rumah Aleta. "Let's go..!!" Kata Alexi sebelum ia melajukan motornya. Aleta dan Alexipun tertawa bahagia dengan momen kecil namun indah ini.


______________________________________


"Kita mau pergi kemana Al?" Tanya Olin setelah sebelumnya bersiap untuk berjalan jalan.


"lo maunya kemana?" Al berbalik bertanya kepada Olin.


"Tempat favorit kamu aja gimana Al?"


Al menoleh ke arah Olin. "Tempat favorit gua?" Tanya Al dan mendapat Anggukan dari Olin. "Gua gak punya tempat favorit." Kata Al dengan dingin secara tiba-tiba.


Olin terdiam melihat perubahan drastis wajah Al. Ia enggan berbicara lagi, Olin tidak mau membuat Al merasa tidak nyaman ksrenanya. "Kita.. Gak usah kemana-mana deh hari ini, tiba-tiba aku gak enak badan Al. Gimana kalau besok aja? Sekalian aku mikir dulu kita mau kemana." Sebenarnya ini hanya alasan Olin supaya kecanggungan yang ia buat sekarang tidak membebani Al dan juga dirinya.


Al menoleh ke arah Olin yang sebelumnya enggan menatapnya. Dengan tatapan yang sulit di artikan Al seperti ingin berkata sesuatu namun Al tidak bisa mengatakannya kepada Olin. Seolah paham yang di maksud oleh Al Olin langsung meninggalkan Al dengan senyuman.


Al melihat Olin berjalan jauh dari hadapannya, namun Al tidak berniat untuk mengatakan sesuatu atau mencegah Olin. Al hanya terdiam sembari menatap punggung Olin. Al bisa melihat jelas raut wajah Olin yang kecewa namun Olin tidak bisa berbuat apa-apa.


Menurut Al, ia tidak menyukai Olin. Namun yang ia rasa sekarang speperti berbanding terbalik dan membuatbya frustrasi. Al menjatuhkan tubuhnya di atas sofa seraya dengan helaan nafas yang kasar.


Al mengingat kejadian beberapa tahun lalu tepat di saat Al baru saja lulus sekolah menengah pertamanya dan akan masuk di sekolah bonafide seperti SMA Bineka. Al dan Nency berjalan jalan ke kanada berdua hanya berdua. Kalian tahu buksan bahwa Brata ayah Al tidak pernah menyukai Al jadi jangan harap Brata akan mengenyampingkan egoisnya demi anak semata wayangnya itu.


Saat Al baru lulus dari bangku SMP, Al dan Olin saat itu sudah kenal. Jauh dari rencana bisnis yang di buat Oleh sang eyang dan keluarga Olin. Mungkin Olin tidak mengingatnya, namun Al sangat jelas mengingatnya setiap momen persahabatan yang di buat oleh dirinya dan juga Olin.


Al kembali membangunkan badannya berdiri dan berjalan ke arah kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar yang di tempati Olin. Al berhenti sejenak di depan pintu Olin, ia ingin mengetuk pintu namun ia ragu. Sangat berat tangannya untuk di ajak bekerja sama. Namun, akhirnya Al memberaniakan diri untuk mengetuk pintu Olin. Tapi, belun semoat mengetuk pintu kamar Olin sudah terbuka. Olin yang sudah berganti pakaian itu terlihat terkejud dengan kehadiran Al di depan kamarnya.


"Ada apa Al?" Olin berusaha mengatur wajahnya yang tadi kaget.


Al gelagapan ia sendiri saha bingung ingin mengatakan apa. "Ayo kita ke tempat favorit gua." Kata Al dengan lantang.


Untuk yang kedua kalinys Olin kaget sekaligus bingung. "Bukannya... Tadi ksmu bilang gak punya tempat favorit?"


"Udah lo ganti baju lagi, gua tunggu di garasi." Setelah mengatakan itu Al pergi meninggalkan Olin yang masih bingun di buatnya. Setelah Al tidak nampak lagi dari pandangannya, Olin memegang dadanya merasakan degupan jantung yang berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Olinpun masuk dan menutup kembali pintu kamarnya dengan perasaan senang sampai sampai ia menutup kencang pintu kamarnya.


Al yang sudah di bawah juga mengatur napasnya sembari memegang dadanya yang juga berdebar lebih kencang. Al menepuk dahinya sendiri dan mengutuk dirinya sendiri yang bersikap seperti tadi. "Ah bodoh bodoh bodoh! Dasar bodoh lo Al! Ah...!! Bisa gila gua!"


untuk kesekian kalinya aku minta maaf karena telat update, karena beberapa hari yang lalu aku bener bener gak bisa megang hp dan gabisa fokus bikin alur cerita. jadi yang udah setia nunggu Alexi terima kasih!❤