
Singkat cerita mereka sudah menjalani masa pendekatan selama 2 minggu. Selama itu juga Alexi berusaha menunjukan sikap pedulinya terhadap Felly dan juga menujukan bahwa ia benar-benar menyukai Felly. Selama dua minggu itu, Alexi tidak pernah jauh jauh dari Felly, kemanapun Felly pergi kecuali tempat yang di 'kecualikan' Alexi menempel dan mengikuti Felly kemanapun ia pergi. Seperti sekarang ini, Alexi tengah menunggu Felly berlatih paskibara di lapangan sekolahnya terhitung sudah 2 jam Alexi menunggu Felly dengan setia.
Felly menghampiri Alexi kepinggir lapangan di saat ia tengah beristirahat. "Lex lo gak balik aja?" Kata Felly setelah sampai di hadapan Alexi.
Alexi menggelengkan kepalanya. "Gak! Gua mau nunggu lo."
"Tapi gue masih lama loh lex."
"Hm. Gapapa gua tetep mau nunggu."
Felly **** senyumannya sembari menunduk. "Keras kepala banget sih lo!" Kata Felly membuat Alexi tersenyum tanpa sadar. "Eh tapi nanti, kalo gue latihan lagi mending lo nunggunya di kantin aja? Jangan di pinggir lapangan gini panas tau lex."
Alexi menaruh kepalanya di bahu Felly yang kini sedang duduk di sampingnya. "Lo aja bisa kenapa gua engga?"
Kita lewatkan itu.
Lain waktu dan tempat, Alexi tengah berjalan bersama Felly ke salah satu Mall yang ada di jakarta. Hari itu Felly meminta Alexi untuk menemaninya pergi ke toko buku untuk membeli buku yang di butuhkan oleh Felly. Mereka bergandengan tangan layaknya seorang sepasang kekasih, tertawa lepas, makan bersama, main bersama mereka lalui bersama hari itu.
Namun, genggaman tangan Felly dan Alexi terlepas ketika mereka berdua tidak sengaja bertemu dengan Al di sana. "Eh Felly?" Sapa Al ramah ketika ia menyadari keberadaan Felly dan juga Alexi.
Felly tersenyum ramah ke arah Al yang membuat Alexi tidak suka. "Kak Al? Lagi ngapain di sini?" Tanya Felly dengan nada antusias?
"Lagi nganter nyokap."
"Loh terus nyokap lo mana kak?"
"Nyokap ape gebetan?" Cetus Alexi.
Al tidak menghiraukan ucapan Alexi. "Lagi mampir ke salon langganan dia dulu sih."
"Terus kak Al gak ikut aja?"
Al menggelengkan kepalanya. "Engga ah pasti lama banget, lagian juga kebetulan mau ke toko buku mau beli buat ke perluan tugas. Lo sendiri abis ngapain di sini, sama Alexi pula kalian pacaran ya?" Goda Al.
"Ah engga kok! Eh tapi kok kak Al tau nama dia?" Jawab Felly dengan lantang dan percaya diri seolah Felly tidak bisa menjaga perasaan Alexi sedikitpun. Alexi hanya terkejut, namun tidak memasang ekspresi apapun. Lagi pula apa yang di katakan Felly itu benar! Mereka tidak berpacaran. Tapi haruskah di katakan selantang itu di depan Alexi?
Al tertawa. "Haha murid kaya dia gak mungkin gua gak kenal."
Alexi memegang tangan Felly membuat Felly yang tadi sedang fokus ke arah Al kini pandangannya beralih ke arag Alexi yang sedang menatapnya dengan wajah serius. "Ayo kita pulang, nyokap lo nanti nyariin."
"Oh iyah untung lo ingetin lex." Felly menepuk dahinya lalu kembali melihat ke arah Al. "Kak gue duluan ya, takut nyokap nyariin soalnya udah dari tadi gue di sini." Al mengangguk sembari tersenyum. "Dadah kak Al."
Ini lah momen yang di tunggu tunggu.
Alexi sedang sibuk dengan ponselnya, mengetik sesuatu untuk di kirim ke Felly. Kebetulan hari ini adalah hari minggu, dan hari di mana mereka juga sudah membuat janji untuk bertemu di cafe terkenal yang berjarak tidak jauh dengan sekolah mereka.
Alexi sudah sampai di cafe yang sudah mereka tentukan, namun Felly belum datang. Alexi pun coba menghubungi Felly, namun tidak ada balasan dari Felly bahkan saat di telfon oleh Alexi tidak kunjung di jawab oleh Felly.
Satu jam berlalu, Alexi masih setia menunggu datangnya Felly namun nihil bahkan sudah dua jam lebih Felly masih belum datang juga. Berkali kali Alexi mengirim pesan namun tidak kunjung di balas bahkan di telfon, nomor Felly yang semula aktif kini tidak lagi membuat Alexi gugup dan takut terjadi sesuatu oleh Felly.
Alexi memutuskan untuk keluar dari cafe dan mendatangi rumahnya Felly. Namun, baru saja satu langkah keluar dari pintu cafe. Alexi melihat Felly yang sedang berboncengan dengan seorang lelaki yang bisa di ketahui oleh Alexi dari motor yang mereka kendarai sekarang. Itu Al! Yup Al, si ketua osis yang di sayangi oleh guru dan terkenal baik dan kalem.
Alexi mengepalkan tangannya geram. Ia tidak berniat untuk mengikuti Felly dan Al, Alexi memutuskan untuk pulang ke rumah. Kalian harus tau bahwa Alexi dan Felly sudah berpacaran dua hari yang lalu dengan Felly.
Alexi terdiam saat baru saja ia menaiki motornya. Ia berpikir untuk ke rumah Felly alih alih pulang kerumahnya.
Singkat cerita, Felly datang bersama Al dengan wajah penuh kegembiraan. Namun, wajah gembira itu luntur setelah mendapati Alexi tengah duduk di sofa bersama ibunya. "Alexi?"
Alexi tersenyum ke arah Felly. "Kamu udah sampe?" Alexi berkata dengan santai seolah ia tidak tahu apa-apa.
Felly mendekat ke arah Alexi di susul oleh ibunnya Felly yang pamit pergi kesuatu tempat. "Kamu.."
"Ah iya tadi aku nunggu kamu dua jam di cafe tapi kamu gak dateng, jadi aku ke rumah kamu. Tapi mamah kamu bilang kamu lagi pergi jadi aku tunggu aja."
"Lex ini.."
Alexi tersenyum. "Gak apa-apa. Asal kamu jawab pertanyaan aku."
"Apa lex? Kamu jangan nanya yang macem macem deh!" Felly mulai gelisah.
"Aku atau dia Fel?"