
"Alexi?" Begitu kira-kira yang keluar dari mulut ayah Aleta setelah beberapa saat saling tatap dengan Alexi. Aleta mengerutkan dahinya, ia bingung kenapa bisa ayahnya mengetahui teman yang baru beberapa hari ia kenal itu. Selain ibunya, Aleta tidak pernah memperkenalkan Alexi kepada sang ayah. Seingat Aleta waktu itu ibunya dan ayahnya hanya membahas tentang Al tapi tidak dengan Alexi. Mengingat dulu Aleta sangat tidak ingin berteman dengan Alexi.
"Ayah kenal Alexi?" Setelah beberapa saat diam, Aleta membuka suaranya menanyakan hal yang dari tadi ingin ia tanyakan.
Ayah, ibunya, dan Alexi menoleh ke arah Aleta. Ayahnya nampak kebingungan dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Aleta. Padahal pertanyaan semacam itu wajar saja di lontarkan. Ayah Aleta menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba merasa gatal. "Tentu tidak!" Jawab sang ayah dengan spontan.
Aleta menaiki satu Alisnya. "Bener?" Aleta nampak masih tidak percaya, melihat ekspresi wajah sang ayah yang gugup dan ketakutan.
"Lo juga gak kenal ayah gue lex?" Kini pandangan dan pertanyaannya beralih kepada Alexi.
Alexi dengan wajah bingung dan lucu menggelengkan kepalanya. "Terus tadi...kenapa ayah bisa tau nama Alexi?"
Sang ayah tertawa hambar. "Ha.ha.ha ayah liat di internet."
"Internet?" Ujar Aleta dan ibunya bersamaan.
"Iyah internet. Kamu penerus Early Company Group kan?" Tanyanya sambil menunjuk kearah Alexi. "Cucu kedua kan?" Ayah Aleta melanjutkan pertanyaanya.
Alexi mengangguk hanya mengangguk sambil masih memasang wajah bingung. "Udah udah ayo kita lanjut sarapannya." Ibu Aleta memcoba mencairkan suasana. "Ayo Aleta lanjut sarapan kamu."
Aleta mengangguk dan berjalan menghampiri meja makan. "Ayo nak Alexi di makan sarapannya jangan malu malu." Ujar ibu Aleta.
Alexi tersenyum malu. "Iya tante makasih." Alexipun memakan sarapan yang sudah di siapkan di sana. Alexi perlahan lahan memakan sarapannya dengan santai karena terbawa suasana. Ayah Aleta tidak lagi membuat ketegangan atau merusak suasana lagi kini mereka ber4 makan dengan nyaman.
Setelah sarapan mereka habis ayah Aleta berpamitan terlebih dahulu tadi karena mendadak dapat telepon dari kantornya yang membuat ayah Aleta berangkat lebih awal dari biasanya.
"Aleta berangkat dulu ya mah." Aleta berpamitan dengan ibunya sambil mencium punggung tangan sang ibu. "Iya sayang hati-hati ya." Jawab ibunya sembari mengelus sayang rambut Aleta. Aletapun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Alexi juga pamit ya tante." Alexi ikut berpamitan dan mencium tangan ibu Aleta. "Iya hati-hati kamu juga nak Alexi." Ibu Aleta melihat pakaian Alexi dari atas sampai bawah. Ia baru sadar bahwa Alexi dari tadi memakai baju santai bukan baju seragam sekolah. "Kamu gak sekolah nak Alexi?" Tanya ibu Aleta membuat Alexi dan Aleta seketika terkejut dan bingung harus menjawab apa.
Alesi menyenggol Aleta dengan sikutnya di balas senggolan lagi oleh Aleta. Kini mereka saling menoleh satu sama lain karena bingung harus mereka jawab apa pertanyaan ibu Aleta itu. "Kok kalian pada diem dieman gini? Hei Aleta Alexi ini tante nanya loh..."
"Alexi di s..." Baru hendak menjawab pertanyaan, Aleta berbixara terlebih dahulu. "Duh mah udah telat leta sama Alexi berangkat dulu yah dah mah assalamualaikum." Setelah berbicara itu Aleta menarik tangan Alexi untuk masuk kedalam mobilnya. Setelah ia dan Alexi di dalam mobil dengan gerakan seceoat mungkin Alexi mengendarai mobilnya itu.
"Eh.. Waalaikumsallam..." Ibu Aleta tersenyum karena tingkah laku Aleta dan Alexi yang lucu. Sebenarnya ibu Aleta sudah bisa menebak kenapa Alexi tidak memakai seragam sekolah, tapi ia hanya berbasa basi menanyakan itu kepada Alexi karena ingin melihat ekspresi wajah Alexi.
Sedangkan di dalam mobil Aleta dan Alexi terengah engah karena langkahnya yang terburu buru dan hampir tidak bisa nafas tadi saat di depan sang ibu. Aleta dan Alexi saling menoleh sebentar lalu mereka tertawa. Mengingat kejadian tadi seakan akan seperti lelucon yang terus berputar di ingatan Alexi dan Aleta.
"Untung lo langsung bilang gitu sama nyokap lo." Kata Alexi sambil tertawa renyah.
"Iyalah, lo mau mati kalo nyokap gue tau lo lagi di skors."
Suara tawa Alexi dan Aletapun perlahan mulai hilang, kini suara tawa tergantikan oleh keheningan yang menyelimuti mereka berdua. Aleta menelan ludahnya lalu mengalihkan pandangan ke jendela sampingnya sedangkan Alexi mulai memfokuskan arahnya ke jalanan.
Tidak ada yang membuka suara lagi, baik Alexi maupun Aleta sama sama diam dengan pikirannya masing-masing. Sampai mobil Alexi di depan sekolah pun mereka masih diam namun saat Aleta hendak turun Aleta membuka suara. "Makasih lex." Kata Aleta, saat ingin keluar dan membuka pintu tangan Aleta di tahan oleh tangan besar milik Alexi. Secara otomatis Aleta menghentikan pergerakannya dan menoleh kearah Alexi. "Ada apa lex?" Tanya Aleta. Sempat diam beberapa detik akhirnya Alexi berbicara. "Pulang jangan lupa."
"Ah iya gue gak lupa kok." Aleta tersenyum kikuk.
Alexi tersenyum tulus. "Oke."
Aleta masih diam di tempat lalu ia melihat ke arah telapak tangannya yang masih di pegang oleh Alexi. Alexi melirik kearah tangannya lalu ia langsung menarik tangannya dari tangan Aleta. "Sorry."
Sedangkan Aleta yang kini sedang berjalan menuju kelasnya hanya bisa menahan senyuman karena sikap Alexi tadi.
"Woy senyum senyum sendiri aje, kesambet lo ya?" Febbi datang dari arah belakang langsung merangkul Aleta.
"Apaan sih siapa yang senyum senyum?"
"Ayo lo mimpi jorok lu ya semalem?"
Aleta terkejut dan langsung memukul bahu Febbi. "Eh engga lah sembarangan aja lo ngomong!" Kata Aleta, Febbi hanya medingis bahunya yang malang karena terkena pukulan mautnya Aleta.
"Aleta?" Panggil seseorang. Aleta dan Febbi menoleh.
"Siapa?" Tanya Aleta. Karena selain Al, Alexi dan Febbi ia tidak tahu lagi nama teman-temannya walaupun mereka sekelas.
"Agam temen Alexi." Yup itu Agam. Aleta memang belum mengenal sekali teman teman Alexi.
"Oh. Ada apa gam?" Tanya Aleta ramah.
"Tadi gua liat lo turun dari mobilnya Alexi."
Febbi menyenggol lengan Aleta berniat menggoda, namun tidak di hiraukan oleh Aleta. "Kok lo tau itu mobil Alexi?"
Agam tersenyum. "Tau lah, gua kenal sama dia dari smp jadi gua hafal yang di punyain Alexi."
Aleta mengangguk paham. "Ah gituu.."
"Alexi gak sekolah?"
Aleta menggeleng. "Engga dia di skors."
"Pasti gara-gara dia berantem kemarin ya sama Al?"
"Lo tau?"
Agam mengangguk. "Yaudah gua duluan." Agam melirik Febbi. "Gue duluan feb."
Aleta dan Febbi hanya mengangguk. Agampun pergi dari hadapan Aleta dan Febbi yang masih diam di tempat. Aleta melirik kearah Febbi, ia masih setia melihat pergerakan Agam yang perlahan langkahnya mulai menjauh dan hilang.
Aleta menyenggol bahu Febbi dengan bahunya. "Udah kali... Liat Agamnya..." Goda Aleta.
Febbi langsung tersadar dan langsung memasang muka biasa saja. "Apaan sih lo ta! Udah ayo kekelas."
"Ih ih mau cepet ketemu Agam yaa....?"
Febbi melotot kearah Aleta. "Engga!" Jawab Febbi dengan tegas.
"Feb? Lo suka Agam ya?"
mulai bosen sama Alexi ya? huhuhu:(