
"Siang om, tante." Sapa Olin begitu sampai di kediaman Al. Kedatangan Olin tentu di sambut baik dan hangat oleh Brata dan juga Nency, mereka berdua sudah tahu bahwa nanti mereka akan kedatangan tamu istimewa dan juga pentiing.
Brata dan Nency menampilkan senyum terbaik mereka di hadapan Olin saat itu. "Siang.. Kamu pasti Olin kan?" Brata bertanya seramah mungkin kepada Olin.
Olin sedikit mengangguk dan tidak lupa memasang senyuman manis miliknya. "Iya om aku Olin. Tapi... Kedatangan aku yang mendadak ini enggak mengganggu om dan tante kan? Al juga? Apa lagi Olin kan menginap dua minggu lamanya di rumah kalian."
Nency mengelus bahu Olin dengan lembut khas seorang ibu dengan anaknya guna meyakinkan Olin yang tengah ragu. "gak apa-apa Olin, kamu mau tinggal lama pun kami enggak keberatan kok sayang.." Nency mengelus rambut Olin.
"Benar Olin yang di katakan tante Nancy, kami tidak keberatan." Timpal Brata. Brata menoleh ke arah Al yang hanya diam menatapi interaksi antara orang tuanya dan juga Olin. Brata menyenggol lengah Al memberi ia kode supaya Al mengatakan sesuatu untuk Olin.
Al mengerti apa maksud dari sang ayah dan mulai membuka suaranya. "Iya lin gakpapa lo di sini aja. Kalo lo mau jalan jalan juga bilang aja sama gua, gua bakal anter lo." Kata Al namun dengan nada yang datar.
Olim tersenyum ke arah Al, di dalam pikiran Olin saat ini adalah senang karena semua orang yang ada di rumah itu menyambutnya dengan baik. "Iya makasih Al."
Nency mengambil koper yang di pegang Olin. "Yuk tante anter ke kamar kamu." Ajak Nency.
Olin hanya tersenyum lalu mengangguk dan mengikuti Nency menuju kamar tamu. Kamar tamu berletak di atas tepatnya di samping kamar Al. Hal itu membuat Olin senang karena bisa berdekatan dan juga melihat Al setiap hari. Nency dan Olin sudah sampai di pintu kamar yang akan di tempati Olin itu lalu membuka kunci kamarnya dan mereka berduapun masuk.
"Nah ini kamar kamu. Kamu istirahat aja dulu, tante mau ke bawah. Kalau kamu lapar kamu turun aja ke bawah ya.. nanti biar si bibi yang bikinin makanan buat kamu." Jelas Nency.
"Iya tante, makasih ya.."
"Sama sama sayang."
"Oh iya tante, Al enggak sekolah tan?"
"Enggak... Ada sedikit masalah di sekolah. Emangnya kenapa Olin?"
"Ah enggak ko tante.."
"Yaudah, tante tinggal dulu ya? Anggap aja rumah kamu sendiri."
"Ok tante."
Nency pun meninggalkan dan membiarkan Olin beristirahat. Olin membanting tubuhnya yang lelah di atas kasur berukuran king size itu. Olin meraba raba ponselnya yang dari tadi ia pegang di kasur itu lalu langsung melihat ke arah layar ponsel. Tidak ada apapun di sana, tidak ada pesan, tidak ada telpon, intinya tidak ada yang menghubungi dia. Olin mulai mengetik sesuatu di ponselnya dan ternyata ia mengirim pesan untuk ibunya yang berada di kanada.
"Mah aku udah sampai di indonesia, sekarang aku lagi di rumah om Brata dan tante Nency. Mereka baik mah sama aku..." Saat Olin mengetik pesan berisikan memberitahukan pada ibunya bahwa ia sudah sampai dan baik baik saja, namun Olin mengurungkan niatnya. Olin menghela nafas sembari memejamkan matanya, ia teringat bagaimana ia di acuhkan oleh ibu dan ayahnya.
Sehari sebelum keberangkatan...
Saat di meja makan suasannya sangat tegang, bahkan menurut Olin hari hari berkumpul dengan ibu dan ayahnya seperti ini membuat ia tidak nyaman. Tidak ada keharmonisan di keluarga ini, hanya ada ketegangan di setiap harinya. Bahkan Olin seperti di awasi di setiap pergerakannya membuat ia tidak nyaman dan rasanya ingin lari keluar dari rumah itu.
Walaupun Olin adalah anak sematawayang, di perlakukan manja tidak lah berlaku untuk Olin. Setiap yang di lakukan Olin di pantau oleh sang ibu, apa apa yang Olin lakukan juga harus sempurna tampa cacat. Dari sewaktu Olin menginjak sekolah dasar, Olin selalu mendapat peringkat pertama. Kepintaran Olin yang ia dapat saat ini adalah dari ibu dan ayahnya yang selalu menuntut Olin mendapat nilai sempurna mengalahkan teman di kelasnya, bahkan satu sekolahnya.
Cara berjalan Olin yang harus gemulai, cara makan Olin saat di meja makan yang harus benar dan sompan, cara berpakaian Olin yang harus mewah dan glamor menandakan bahwa ia keluarga yang mampu, cara berbicara yang lembut namun tegas, cara menata rambut yang rapih dan terlihat elok, dan cara cara cara lainnya yang bisa di katakan 'sempurna' lainnya. Olin cukup tertekan, namun dia tidak bisa melakukan apa apa selain menuruti peraturan di rumah itu.
"Olin, dad already prepared your ticket to go, to Indonesia." Kata ayah Olin di tengah tengah makan malam yang sunyi itu.
"What? why suddenly? even daddy didn't tell me first." Kata Olin tak terima.
"Turuti saja apa kata ayahmu Olin!" Sahut ibu Olin dengan nada yang pelan namun tetap berkesan menggertak.
"Tapi mom.."
"I do not want to know! anyway, tomorrow at 6 am your plane will depart. meet the Early family there! he is our business!" Kata sang ayah tegas.
Olin mengangguk pasrah. "Ok."
"Good girl."
"Lagi pula saya tidak bisa menolak kan?" Olin sengaja tidak menggunakan bahasa inggris karena ia tahu bahwa sang ayah tidak bisa berbahasa indonesia.
Bukannya menjawab Olin langsung pergi begitu saja dari hadapan ibu dan ayahnya. Ibu Olin hendak mengejar, namun di tahan oleh ayah Olin. Sungguh ini sangat tidak adil sekali untuk Olin. Ia menyayangkan dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apa apa untuk melawan ketidak adilan ini. Olin tidak bisa menyampaikan pendapatnya, yang kedua orang tuanya tahu adalah suka tidak suka Olim harus melakukan yang mereka suruh.
Tok.. Tok.. Suara ketukan pintu menyadarkan Olin dari lamunanya. Olin langsung mendudukan tubuhnya di bibir kasur itu. "Yah.. Masuk aja.." Kata Olin berusaha memasang muka biasa saja dan menghapus air mata yang tanpa izin menetes ke pipi Olin.
Pintu kamar yang Olin tempati terbuka. "Al?" Kata Olin setelah ia melihat pelaku yang tadi mengetuk pintu kamarnya itu.
"Gua ganggu?" Kata Al dengan masih di posisi yang sama.
Dengan cepat Olin menggelengkan kepalanya. "Oh enggak kok Al! Ada apa?"
"Kalo lo gak capek, lo mau jalan jalan? Cari... Angin.. Nanti malem gimana?"
Olin sempat berpikir sejenak. "Um... Boleh." Kata Olin sembari tersenyum.
"Ok. Kalo gitu sampe nanti malem.."
"O.. Ok!" Olin berkata kikuk.
Lalu Al langsung menutup kembali pintu kamar Olin dan menyisakan Olin yang sedang memegang dadanya merasakan jantungnya yang berdetak dua kali lebih kencang ah tidak! Tiga, empat, lima kali lebih kencang!
_____________________________________
Tok.. Tok.. Tok..
"Aleta! Woy bantuin gua ngerjain pr matematika dong... Susah banget dah!"
Karena saat itu Aleta tengah mengerjakan tugas rumahnya sore hari suara ketukan pintu dan suara bising dari mulut Brian membuat konsentrasi Aleta berkurang, dari dalam kamarnya ia sedang mengumpat karena kesal terhadap sepupunya itu. Aleta memang sengaja belajar lebih awal, supaya ia bisa lebih leluasa mengirim chat dengan Alexi tanpa harus memikirkan soal belajar dan tugas rumah lagi. Karena sudah tidak bisa menahan berisiknya Brian, Aleta pun bangun dan membuka pintu kamarnya yang ia kunci.
"Ya tuhan... Brian... Ada apa sih..?!" Tanya Aleta begitu ia membuka pintu kamarnya.
Brian mengangkat buku catatan matemtikanya dan menunjuk nujuk seolah olah memberi tahu Aleta bahwa itu tugas rumah yang harus di kerjakan. "Ini, pr gua susah banget ta.. Plis yaa bantuin gua ngerjain pr mtk ini..?" Brian sedikit memohon kepada Aleta.
Aleta menghela nafas. "Gue aja punya pr belom kelar, lo lagi minta di bantuin sama gue." Kata Aleta geram. "Udah mending sana lo pergi deh! Kerjain sendiri sana." Tanpa basa basi Aleta langsung membanting pintu dan mengunci lagi pintu kamarnya.
"Leta..." Aleta tidak menghiraukan Brian sa sekali yang tengah memanggil manggil namanya dari balik pintu.
______________________________________
"Eyang?" Sapa Alexi begitu ia melihat sang eyang yang baru saja keluar dari kamarnya dan menghampirinya di ruang tamu. Alexi memang di hubungi oleh sang eyang untuk datang ke rumah besar itu, dengan Alsan ada hal penting yang sang eyang akan sampaikan. Karena Alexi sedari dulu tidak pernah mengecewakan eyangnya, tanpa ragu Alexi langsung mengiyakan apa yang di suruh oleh sang eyang.
"Duduk cucuku." Titah sang eyang dan langsung di turuti oleh Alexi, Alexi pun duduk berhadap hadapan dengan dengan sang eyang. Sang eyang yang duduk di kursi single tersenyum ke arah Alexi. "Pasti kaget ya eyang tiba tiba telpon kamu, nyuruh kamu ke sini?"
Alexi tersenyum. "Iya eyang Alexi sedikit kaget. Memangnya ada apa eyang?"
"Begini cucukku..." Neandro berkata dengan nada serius. "Anak teman eyang datang ke indonesia, dia sekarang sedang berada di rumah Brata om kamu. Jadi eyang mau kamu bantu eyang mendekatkan anak teman eyang dengan Al. Bagaimana?"
"Tapi eyang... Eyang kan tau sendiri, Alexi dan Al tidak akur dari dulu."
"Eyang tau.." Neandro berkata dengan nada santai. "Kamu hanya perlu mengikuti apa yang eyang suruh."
"Tapi eyang..."
"Alexi.. Alexi.. Kamu kan cucu eyang yang paling eyang sayang dan percaya, kamu tidak mau kan percayaan eyang hilang karena kamu tidak mau menuruti apa kata eyang?"
Perkataan sang eyang membuat Alezi bingung. Di satu sisi, Alexi bukan lah orang yang mencampuri urusan orang lain. Namun di sisi lain, ia tidak ingin merusak kepercayaan sang eyang. Sempat lama berpikir, Alexi pun menjawab pertanyaan sang eyang.
Alexi menghela nafas. " Baik eyang, Alexi akan bantu eyang. "