ALEXI

ALEXI
ALEXI - 37. PERPISAHAN



"Alexi dia siapa?" Tanya sang ayah begitu ia tahu anak semata wayangnya itu berada tepat di balik tubuhnya.


Alexi diam memandangi Aleta dengan lekat. Manik mata Aleta memancarkan kesedihan dan kerinduan sosok Alexi yang menyayanginya, benar benar rindu! Acara saling pandang itu cukup lama, sampai sang ayah yang sebelumnya melontarkan pertanyaan sedikit kesal namun bingung juga dengan ekspresi wajah Alexi saat ini.


Ansell bernalik menghadap Alexi. "Alexi jawab pertanyaan papah, siapa dia?" Tanya sang ayah santai namun menuntut.


Alexi melirik Ansell. "Pacar Alexi."


"Lex.. Eyang kamu pasti engga setuju." Ujar sang ibu yang baru saja datang menghampiri yang kini membuat semua mata tertuju padanya. "Kamu tau kan lex eyang kamu kaya gimana? Bukan mamah melarang kamu untuk mempunyai pacar! Tapi baik kamu atau.. Aleta? Pasti akan sama sama sakit nanti akhirnya." Sang ibu mendekat ke arah Aleta. "Lebih baik kalian akhirin ini semua ya? Sebelum salah satu dari kalian atau bahkan kalian berdua merasakan yang seharusnya gak kalian rasakan di usia muda ini." Jelas sang ibu.


"Benar kata mamah kamu lex.. Kamu bisa kejar dia saat kamu cukup bisa melawan semua keadaan." Kata Ansell.


"Om? Tante? Bisa Aleta bicara?" Aleta mulai memberanikan diri untuk membuka suara. Semua pandangan tertuju pada dirinya. Alexi, Brian, ayah, dan ibu Alexi tidak luput memandang Aleta. Aleta menarik napas kini arah pandanganya menatap lurus ke arah Alexi. "Lex..? Mamah papah kamu benar. Seharusnya kita gak gini! Kita seharusnya mengfokuskan diri untuk sekolah dan belajar. Aku sama kamu masih terlalu muda, masih banyak hal yang harus kita lalui di usia kita sekarang. Lex.. Kedengarannya memang egois.." Aleta memberi jeda. "... Tapi seharusnya kita gak melakukan ini dari awal. Aku yang salah! Aku yang memberi celah supaya kamu masuk di kehidupan aku sampai di keadaan ini. Aku nyerah lex. Sekarang kamu sama kehidupan kamu dan aku akan sama kehidupan aku."


"Aleta!" Alexi membentak ia tidak setuju dengan apa yang di ucapkan Aleta.


"Lex.. Hidup kamu sama aku itu masih panjang, masih banyak hal hal yang belum kita lalui di masa yang akan datang. Aku udah pikirin ini matang matang. Aku akan sekolah di luar negri dan ngejar cita cita aku! Dan kamu lex.. Tolong kejar mimpi kamu, mimpi mamah papah kamu." Pandangan Aleta beralih kepada kedua orang tua Alexi. "Om tante, maaf Aleta ganggu malam malam. Habis ini Aleta janji gak akan ganggu Alexi. Permisi.." Aleta berbalik dan melangkah jauh keluar dari rumah Alexi. Alexi hendak mengejar Aleta untuk membuat Aleta berhenti dan menarik semua kata katanya tadi, namun sial tubuh Alexi tidak bisa dengan mudah melangkah. Seolah hati dan pikirannya tidak sama.


______________________________________


"Al?"


Al berbalik. "Olin, kenapa?"


Olin tersenyum ke arah Al. "Besok aku pulang ke kanada Al." Ucapan Olin sukses membuat Al terkejut.


"Loh, bukannya masih ada waktu beberapa hari lagi?"


Bukannya menjawab pertanyaan Al, Olin malah tersenyum manis namun ada luka di mata Olin lalu tidak lama Olin mengalihkan pandangannya menjadi lurus. Olin menghela nafas. "Kamu tau gak Al, apa yang buat aku itu sukaaaa banget sama indonesia?" Tanyanya tanpa berpaling.


"Apa?"


"Kamu."


"Gua?"


Olin kembali menatap Al. "Karena di sini, di indonesia ada kamu. Mau secantik apapun di sini, kalo gak ada kamu mungkin aku cuma suka bali gak suka jakarta." Jawab Olin sembari tertawa kecil.


Al tersenyum di hadapan Olin untuk pertama kalinya.


"Al?"


"Hm?"


"Untuk pertama kalinya kamu senyum ke aku.. "


Setelah Olin mengatakan itu, perlahan senyuman yang mengembang di wajah Al mulai memudar. Dengan serius Al menatap ke arah Olin yang juga kini sedang menatapnya. "Mau ke taman?" Olin bertanya mencairkan susasana yanh canggung.


Olin dan Al mulai berjalan. Di sepanjang perjalanan mereka, baik Al maupun Olin tidak ada yang membuka suara hanya hening yang di iringi dengan suara jangkrik yang terdengar saling bersahutan. Olin mengambil langkah lebih lambat dari Al dan kini posisi Al di depan sedangkan Olin satu langkah di belakang Al. Olin menatap pundak Al dengan sendu, betapa ia sangat mencintai lelaki yang di hadapannya namun tak sanggup untuk menggapainya. Benteng yang Al buat terlalu tinggi, membuat Olin tidak mampu melalui benteng itu. Olin tahu, sangat tahu bahwa lelaki itu Al sedang mencintai orang lain. Olin tertawa remeh, tertawa remeh pada dirinya sendiri. Olin dengan bangga datang ke indonesia untuk mencuri hati Al, namun ternyata ekspetasi tu terlalu tinggi sampai Olin harus jatuh karena melihat realita yang sesungguhnya.


Tuk! Langkah kaki Al tiba tiba berhenti membuat Olin di belakangnya menabrak tubuh bagian belakang Al. "Kenapa sih Al?" Tanya Olin seraya dengan tangannya yang mengusap usap dahinya.


Al berbalik menghadap Olin. "Kenapa diem aja? Gua kira lo diem diem pergi." Al menatap intens Olin.


"Pft!" Olin menahan tawanya.


"Kenapa!"


"Takut banget ya aku tinggal?" Tanya Olin menggoda Al.


"Jangan salah paham! Gua cuma gak mau lo di belakang gua terus gua ajak ngobrol dan ternyata lo gak ada." Kata Al coba menjelaskan.


"Hm! Iya iya.." Olin memasang muka meledek.


Al mendorong tubuh Olin ke arah depan. "Jalan duluan!"


Dengan tawa yang ia tahan, Olin melangkah maju mendahului Al. Olin menengok ke arah Al dan mendapati pandangan mereka bertemu, dengan segera Al memalingkan wajahnya dari Olin. Olin kembali menatap lurus, ia tersenyum melihat Al yang seperti ini.


_____________________________________


"Ta.. Lo gapapa?" Tanya Brian begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil.


Aleta menggelengkan kepalanya pelan.


"Leta lo yakin sama apa yang lo ucapin tadi?" Tanya Brian memastikan sepupunya itu tidak menyesal dengan keputusan yang ia buat itu.


Aleta menoleh, ia menatap wajah Brian dengan mata yang berkaca kaca. Brian bisa melihat jelas bahwa keputusan itu bukan Aleta yang ingin, ini juga berat untuk Aleta. Namun,  Aleta merasa ini adalah langkah terbaik untuk ia dan juga Alexi.


Aleta menggeleng gelengkan kepalanya. "Seharusnya gue gak bilang gitu Brian! Gue seharusnya gak bilang gitu! Itu.. Itu tiba tiba aja..!" Ujar Aleta dengan air mata yang menetes.


"Alexi pasti paham ta kenapa lo tadi bilang gitu.."


"Tadi lo liat kan Brian muka Alexi? Alexi sedih banget! Tapi... Cuma ini yang bisa gue lakuin buat dia! Buat Alexi! Gue gak mau Brian, dia terus terusan merasa bersalah sama apa yang terjadi di masa lalu."


Brian mengerutkan dahinya. "Masa lalu? Emang masa lalu apa yang ngebuat Alexi merasa bersalah?"


"Gue gak bisa ngejelasin! karena gue, Alexi dan dia juga rumit buat ngejelasin situasinya.."


"Maksudnya gimana sih ta?" Tanya Brian yang entah mengapa terdengar sangat menuntut jawaban dari Aleta.


"Pada intinya.. Alexi pernah punya pacar sebelum sampai akhirnya dia kecelakaan dan.. Asumsi gue itu eyangnya yang ngelakuin itu semua."


"Apa?!"