ALEXI

ALEXI
ALEXI - 17 SAKIT HATI



Kini Aleta dan Alexi sedang menikmati makan bakso pinggir jalan. Padahal Alexi sudah menawarkan untuk makan di restoran atau setidaknya rumah makan yang sedikit nyaman. Namun, Aleta menolak karena Aleta lebih suka makanan kaki lima yang murah dan juga banyak berbanding dengan restoran yang berharga mahal dan juga berporsi lebih sedikit.


Lagi pula, Aleta sudah di ajarkan sederhana oleh ayah dan ibu Aleta. Aleta bukan keturunan orang yang kaya raya, tetapi keluarga Aleta memiliki ekonomi yang memcukupi, rumah yang bagus, dan juga mobil yang keren. Mungkin banyak yang bertanya-tanya apa pekerjaan ayah Aleta.


Ayah Aleta bekerja di kantor kejaksaan. Sebelum menjadi jaksa seperti sekarang, ayah Aleta dulunya pernah menjadi pengacara veteran di kantor swasta. Namun, karena suatu Alasan yang membuat ayah Aleta mengundurkan diri dan beralih profesi menjadi seorang jaksa.


"Gimana enak kan?" Tanya Aleta di sela-sela makannya.


Alexi tidak bisa mengelak bahwa bakso kaki lima jauh lebih enak dengan bakso yang berada di restoran atau tempat makan elite lainnya. "Lumayan."


"Tukang bakso ini tuh langganan gue pas gue pindah ke jakarta."


"Nanti jadi langganan kita." Ujar Alexi santai membuat Aleta yang tengah mengunyah baksonya tersedak.


Uhuk.. Uhuk.. Alexi menyodorkan minuman ke hadapan Aleta. "Makasih."


"Makanya kalo makan pelan-pelan haha." Alexi tertawa membuat Aleta kesal, Aleta memukul mukul tubuh Alexi. "Aw aw! Sakit."


Aleta tidak menjawab, ia memilih kembali memakan baksonya dengan wajah yang sudah merah karena menahan marah dan juga malu. Alexi yang duduk di samping Aleta hanya tersenyum melihatnya. Ia terpukau dengan Aleta, sungguh Aleta benar-benar membuatnya jatuh sejatuhnya.


"Aleta?"


Aleta menoleh.


"Gua suka sama lo.."


Aleta terdiam, sungguh pernyataan yang sudah ia hindari tadi ternyata di lontarkan lagi oleh Alexi. Jantung Aleta sudah tidak bisa terkontrol, ia tidak tahu apa yang harus ia katakan seolah mulutnya kini terkunci rapat. Pandangan Aleta tidak luput dari Alexi begitu pun sebaliknya. Mereka sama-sama terdiam membisu.


Oh ayolah Aleta beri jawaban yang terbaik untuk Alexi. Alexi bukan orang jahat yang seperti orang orang ceritakan, hanya saja Alexi mempunyai alasan di balik itu semua.


"Lo... Nembak gue?" Tanya Aleta dengan wajah yang sangat serius.


"Iya.. Jadi..?"


"Maaf lex.." Ucapan Aleta membuat Alexi menghela nafas dan menundukan kepalanya menahan kekecewaan. Baiklah Alexi kau harus menerima konsekuensinya bahwa kau sudah di tolak oleh Aleta. Itu yang ada di pikiran Alexi sekarang.


Aleta menyentuh dan menangkup wajah Alexi dengan kedua telapak tangannya lalu tersenyum. "Gue gak bisa nolak." Ucapan Aleta tadi sukses membuat Alexi membulatkan matanya kaget, ia tidak percaya Aleta menerimanya.


"Lo.. Nerima gue?" Dengan ragu Alexi menanyakan kembali kepada Aleta, ia ingin meyakinkan lagi bahwa yang Alexi dengan dari Aleta tadi benar dan bukan ilusi.


Aleta mengangguk. "Iya.."


"Makasih.. Aleta."



Al yang sedang berdiri menguping pembicaraan ibunya dengan sang kakek di ruang tamu tadi membuat hati Al seakan di sayat oleh pisau yang sangat tajam. Tubuh Al pun melemas ia tidak menyangkan bahwa kakeknya sangat benci dengan kehadirannya di keluarga ini.


"Hah! Kakek tua itu benar-benar benci gua! Tapi kenapa? Karena gua anak pungut? Karena gua dari panti asuhan? Karena gua bukan keturunan darah Early?!"


Al berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Ia mendekat ke arah wastafel dan menyalakan keran. Ia membasuh mukanya dengan kasar! Ia sungguh kesal, kecewa, marah tanpa tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa pergi tapi jika bertahan itu akan membuat dirinya sakit.


"Tuhan gak adil, dia kasih kebahagian buat Alexi tapi enggak dengan gua! Tuhan kasih semua kasih sayang orang tua sama kakek tapi enggak sama gua! AARRGGHHH!!" Al sudah tidak kuat menahan beban lagi, Al sangat kesal karena dia pengecut! Tidak bisa berbuat apa-apa di situasi seperti ini.


Tok.. Tok "Al mamah bawa makanan buat kamu sayang." Suara sang ibu membuat Al menoleh dan berbalik berjalan menuju pintu untuk membuka pintu kamarnya yang sebelumnya ia kunci.


Cklek.


Al membuka pintu, terlihatlah sosok malaikat satu satunya dalam rumah itu yaitu ibunya. Sang ibu membawa namoan berisikan makanan dan minuman yang ia siapkan untuk anak tersayangnya yaitu Al.


"Nih makan ya sayang." Sang ibu menyodorkan nampan berisi makanan itu ke hadapan Al. Dengan senyuman yang mengembang Al menerimanya. "Makasih ya mah."


"Sama sama sayang. Yaudah kamu makan dulu kalau ada perlu apa apa sms kalau gak chat mamah aja."


"Iya mah makasih ya."


Al mundur beberapa langkah untuk menutup pintunya. Al berjalan dan menaruh nampan berisi makanan itu di atas meja belajarnya ia sungguh tidak berselera makan hari ini. Dia tidak perdukikan kesehatannya, karena pada kenyataannya tidak ada yang peduli selain ibunya.


Al mendudukan bonkongnya di tepi kasur. "Aleta lagi apa ya? Apa gua kerumahnya aja? Gua harus kerumahnya." Setelah bergumam sendiri Al mengambil jaket, helm, dan kunci motornya yang berada di atas nakas. Al pun dengan langkah cepat keluar dari rumah itu.


"Al kamu mau kemana?" Langkah kaki Al berhenti ketika suara Nency sampai ke telinganya.


"Mau kerumah temen dulu mah."


"Tapi nanti pulangkan kamu?"


"Pulang dong mah, kalo papah udah pulang terus udah tidur juga aku bakal udah sampe rumah." Al mencium kening ibunya. "Al pergi mah."


"Iya hati-hati sayang..."


Al mengangguk lalu kembali berjalan menuju garasi tempat ia memarkirkan motornya. Begitu di garasi, Al pun langsung melajukan motornya menuju rumah Aleta.


Al sangat antusias saat pikirannya secara tiba-tiba ingin menemui Aleta, Al pikir itu adalah pertanda bahwa Aleta juga tengah memikirkan dirinya. Itulah sebabnya Al sangat ingin kerumah Aleta sekarang juga.


Al sangat menyukai Aleta dari saat mereka secara tidak sengaja bertabrakan di sekolah. Al menganggap Aleta adalah pengganti Felly wanita yang sangat ia cintai itu.


Sebenarnya Al sama sekali belum bisa melupakan sosok Felly di dalam hidupnya. Setelah kejadian itu yang membuaT Felly harus meregang nyawa, Al sama sekali tidak berselera mencitai wanita manapun. Namun, setelah Aleta masuk ke dalam hidupnya ia seperti melihat Felly bangkit dari kematiannya.


Al sudah sampai di dekat rumah Aleta, hanya di dekat rumah Aleta bukan di depan rumah Aleta. Ak sengaja berhenti sedikit jauh dari rumah Aleta, karena wanita yang ia sukai sedang bersama lelaki lain.


Yup! Aleta sedang bersama Alexi di depan rumahnya, sedang bercanda layaknya pasangan yang baru menjalin kasih. Hati Al memanas ia harus merasakan sakit hati kedua kalinya. Tangan Al mengepal. "Kenapa selalu lo Alexi!"