ALEXI

ALEXI
ALEXI - 10. BERTEMU CAMER



Setelah kepergian Alexi, Aleta masih terpaku di tempat tanpa pergerakan sekalipun. Membuat Aleta terkesan seperti patung di depan kelasnya. Entah kenapa, perasaan aneh muncul saat Alexi mengabaikannya tadi.



Oh ayolah Aleta tidak mungkin kan kau merasa sakit seperti orang yang di campakan?



Dari ke jauhan Al melihat Aleta yang sedang berdiri. Beberapa kali Al memanggil dari ke jauhan namun tidak ada jawaban sama sekali dari Aleta membuat Al bingung.



"Hey Aleta kok bengong?" Al menepuk pundak Aleta yang sedang melamun membuat Aleta kaget.



"Eh kak Al?"



"Kenapa bengong aja tadi? Kesambet loh mana sendirian lagi." Al menakut nakuti Aleta.



"Ih apaan sih kak jangan nakut-nakutin deh..!!" Aleta refleks memeluk tangan Al.



Al tertawa melihat wajah Aleta yang ketakutan dan beekesan lucu menurut Al. "Loh kok ketawa sih?" Tanya Aleta sebal sembari melepaskan tangannya yang berada di tangan Al.



"Ya lagian lo lucu banget kalo lagi ketakutan gitu."



"Apaan sih lo kak!" Aleta menyembunyikan wajahnya yang memerah.



"Ah! Oiyah, nanti kita gak bisa pulang bareng. Gak apa-apa kan?"



Aleta mengangguk. "Iya gak apa-apa kak."



"Salam aja ya buat tante, nanti gua bakal main kalo bonyok di muka udah sembuh."



"Ok. Eh btw lo di hukum kak?"



"Hm, di skors seminggu."



"Hah? Alexi juga?" Aleta bertanya heboh.



"Iya dia juga emang kenapa? Lo khawatir?"



Aleta sempat terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan Al. "Hah khawatir?" Aleta mencari alasan. "Haha engga lah!" Aleta tertawa hambar.



"Oh gitu, yaudah gua balik duluan ya.."



Aleta mengangguk. "Iya kak, hati-hati lo."



Al tersenyum. "Iyaaa.." Katanya sambil sedikit mengelus puncak kepala Aleta.



Setelah kepergian Al, Aleta memutuskan untuk masuk ke kelasnya dan mempelajari sedikit materi dari buku, supaya saat nanti di pelajarkan Aleta bisa menjawab. Begitulah Aleta, sangat terobsesi dengan nilai bagus. Karena menurutnya wanita yang mempunyai otak yang cerdas, ada poin plus tersendiri.



Karena saat itu kebetulan pelajaran selanjutnya adalah matematika. Mungkin menurut kebanyakan orang tidak suka dan cenderung membenci pelajaran matematika. Tapi lain halnya dengan Aleta yang sangat menyukai matematika. Saaf Aleta menginjak sekolah dasar pun Aleta sudah suka dengan pelajaran yang berbau perhitungan itu. Tidak heran dia selalu mendapat peringkat pertama di sekolahnya.



Tidak lama kemudian, Febbi dan murid yang lain sudah satu persatu memasuki kelas. "Heh lagi ngapain lo?" Febbi datang membuat konsentrasi Aleta pun buyar.



"Lagi gali kuburan lo! Ya lagi belajar lah Feb...!" Aleta menjawab dengan kesal.



Febbi tertawa. "Hahaha selow napa mba orang cuma nanya juga."



"Ya lagian bikin konsentrasi gue ilang aja."



"Hahah iya iya maaf yaelah."



"Eh btw feb, Alexi di skors."



Febbi terkejut. "Di skors kenapa?"



"Emang lo gak tau?"



Febbu menggelengkan kepalanya. "Engga."



"Alexi berantem tadi sama Al."



"Lo tau dari mana?"



"Tadi gue denger gosip dan kak Al juga ngomong sama gue, bahwa dia sama Alwxi di skors."



"Berapa lama?"



"Satu minggu."



"Lo tau mereka ribut gara-gara apa?"



Aleta menggeleng. "Enggak, gak mungkin juga gue tanya-tanya sampe situ bukan urusan gue lagi feb."



"Iya juga sih lo bener."







Waktu pulang sekolah pun tiba. Murid murid dari kelas 10 sampai kelas 12 pun sudah memadati seluruh daerah sekolah. Tidak terkecuali Aleta den Febbi yang kini sedang berada di depan gerbang sekolahan untuk menunggu ojek online yang mereka pesan.



"Abang ojol lo udah sampe mana ta?" Tanya Febbi, Aleta pun melihat aplikasi ojol miliknya.



"Bentar lagi sampe sih kalo di aplikasinya."



Namun tidak lama sang ojol yang di pesan Febbi datang terlebih dahulu. "Febbiola ya?" Tanya abang ojol. "Iya bang itu saya." Febbi mengenakan helm yang di sodorkan sang ojol. "Gue duluan ya ta."



Aleta mengangguk. "Iya, hati-hati." Febbi hanya mengangkat ibu jarinya.



Tidak berselang lama pun abang ojek online yang di pesan oleh Aleta juga datang. "Aleta ya?" Aleta mengangguk. "Iya mas." Abang ojol itu pun memberikan helm dan di pakai oleh Aleta, Aleta pun naik ke atas motor ojol itu. "Sesuai aplikasi kak?" Tanya abang ojol. "Iya mas sesuai aplikasinya."



Sang abang ojol itupun melajukan motornya menuju rumah Aleta. Karena suasana pulang sekolah dan juga istirahat para pegawai membuat suasana kala itu sedikit ramai dan cenderung sedikit macet membuat perjalanan pulang Aleta sedikit terlambat dari biasanya.



Sekitar 30 menit membelah jalanan ibukota yang ramai, Aleta dan abang ojek online pun sampai di depan rumah Aleta. Namun saat hendak turun Aleta melihat seseorang sedang duduk di atas motor di depan gerbang rumahnya. Setelah selesai dengan urusan ojol, Aleta menghampiri orang itu. Dari pemandangan yang ia lihat sekarang itu agak sedikit tidak asing pikir Aleta.



Aleta menepuk pundak orang itu membuat orang itu menoleh. Aleta menyipitkan matanya. "Alexi?"



Orang itu membuka helmnya dan ternyats benar itu Alexi. "Yah gua kira lo gak bakal ngenalin gua."



Aleta memutar bola mataya malas. "Ck! Konsep lo yang serba dark gue hafal. Mau ngapain lo di sini?"



"Ketemu nyokap lo! Ya ketemu lo lah Leta."



Aleta menyilangkan tangannya di atas dada. "Tadi perasaan pas di sekolah lo diem aja sama gue."



Alexi tersenyum. "Jadi lo merasa gua diemin? Sedih ya kalo gua diemin?"



Aleta memukuk lengan Alexi. "Galucu lo! Pergi sana!"



"Yaelah ta dari tadi gua nungguin lo masa udah di suruh balik aja sih? Tawarin masuk kek atau basa basi kasih minum gitu.." Kata Alexi merengek seperti anak kecil.



"Kan gak ada yang nyuruh lo kesini."



"Ketukan hati seorang Alexi."



"Yee lebay!"



Alexi tertawa. "Hahaha bodoo ah gua mau masuk." Alexi berdiri. "Assalamualaikum..." Aleta menutup mulut Alexi. "Ssttt!"



Tapi sial ibu Aleta keluar. "Waalaikumsallam..." Ibu Aleta menghampiri Aleta dan Alexi. "Eh Aleta kamu udah pulang?"



"Iya mah."



"Ini temen kamu kenapa gak di suruh masuk?"



"Emang boleh tante?" Tanya Alexi.



"Boleh dong."



"Tapi tadi kata Aleta saya gak boleh masuk tante." Adu Alexi.



Ibu Aleta memukul anaknya sendiri. "Jangan di denger atuh Aleta mah, ayok masuk." Ibu Aleta menggandeng Alexi supaya masuk kedalam rumahnya dan mempersilahkan duduk di sofa yang berada di teras rumah Aleta itu. "Duduk dulu ya, tante buatin minum."



"Eh gak usah repot repot tante."



"Ih gak apa-apa! Sebentar ya?" Ibu Aleta kini menatap sang anak. "Kamu temenin dulu temen kamu ya?" Pinta ibu Aleta dan masuk kedalam rumah.



"Gue ganti baju dulu deh." Izin Aleta.



Alexi mengangguk. "Yaudah ganti baju aja."Aleta pun masuk kedalam rumahnya untuk berganti baju. Tidak berselang lama, ibu Aleta membawakan teko putih bermotif bungan yang berisikan teh beserta gelas yang tertata di atas nampan besi. "Aleta kemana?" Ibu Aleta bertanya ke Alexi.



"Ganti baju tante."



"Oh yaudah kamu tunggu aja ya gak lama kok Aleta."



Alexi hanya mengangguk paham. Tidak lama kemudian keluarlah Aleta dengan kaos berwarna merah dengan levis panjang berwarna hitam menghampiri Alexi dan ibunya berada lalu Aleta pun duduk.



"Kamu temen sekelasnya Aleta?"



"Calon tan.."



Ibu Aleta mengerutkan dahinya. "Calon apa?"



"Calon pacarnya Aleta, doain aja ya tante hehe."