
"Calon pacarnya Aleta, doain aja ya tante hehe."
Aleta mencubit pinggang Alexi membuat sang empu kesakitan. namun karena ini di depan ibu Aleta, Alexi memasang senyuman padahal ke adaannya tidak semanis yang ia rasakan sekarang.
Hp Alexi bergetar di dalam sakunya. Alexi mengambil hpnya bersamaan dengan Aleta melepaskan cubitannya. Alexipun melihat nama yanh tertera di layar ponsel miliknya itu. Seketika wajah sumringah Alexi berubah menjadi dingin dan datar.
"Tante Alexi jawab telpon sebentar." Izin Alexi kepada ibu Aleta.
"Oh iya nak Alexi silahkan." Jawab ibu aleta sembari tersenyum.
Sebelum mengangkat telponnya Alexi menjauh dari Aleta dan ibunya. Di sisi lain Aleta dan ibunya sedang berdebat kecil. "Leta sebenarnya pacar kamu itu yang mana sih? Al atau Alexi?" Tanya ibunya membuat Aleta kaget.
"Mamah... Mereka berdua bukan pacar Leta." Jawab Aleta geram. "Yang satu kakak kelas Leta, yang satu lagi temen sekelas Leta." Lanjutnya.
Ibunya mengangguk paham. "Tapi... Dari Al sama Alexi siapa yang kamu suka?"
Aleta sempat diam karena bingung ingin menjawab apa. Aleta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Emm... Untuk saat ini Aleta mau fokus belajar mah." Aleta menjawab asal.
Di tengah perdebatan Aleta dan ibunya Alexi datang dengan raut wajah yang sulit di artikan. "Maaf tante Alexi lama." Alexi berusaha mengulas senyuman di depan Aleta dan ibunya.
"Iya gak apa-apa nak Alexi."
"Oh iya tante, Alexi boleh gak besok ngajak Aleta pergi pulang sekolah?"
"Boleh, tapi Aleta harus ganti baju dulu. Mau main kemana pun harus ganti baju dulu. Soalnya tante gak suka main pakai baju seragam. Oke?"
Alexi mengangguk mantap. "Ok! Pasti tante."
"Kok lo gak bilang gue dulu?" Tanya Aleta sembari berbisik.
Alexi tidak menjawab pertanyaan Aleta. "Alexi pamit ya tante."
"Loh kok pamit?"
"Biasa tante, mamah minta di temenin belanja."
"Oh yaudah kalau gitu kamu hati-hati ya nak Alexi."
"Iya tante makasih." Alexi mencium tangan ibu Aleta. "Alexi pamit, assalamualaikum."
"Waalaikumsallam." Ibu Aleta mendorong tubuh Aleta. "Sana temanin sampai depan."
"Iya mah." Aletapun menyusul Alexi di belakangnya untuk sekedar mengantar Alexi sebelum Alexi pulang.
"So sweet banget sampe di anterin ke depan gerbang hehe."
"Yaudah gue masuk." Aleta berbalik hendak pergi namun Alexi menggapai tangan kurus Aleta.
"Yaelah cuma becanda aja kali..." Alexi memasang muka menggemaskan menurut orang lain tapi tidak dengan Aleta. Aleta malah mendorong wajah Alexi dengan telapak tangannya.
"Udah mending lo pergi nanti nyokap lo ngomel."
"Udah mulai perhatian nih? Takut gue di omelin nyokap gue?"
Aleta memutar bola matanya malas. "Alexi?"
"Hm?"
"Mending lo pergi sekarang sebelum kaki lo gua bikin bengkak." Aleta mengancam Alexi.
Alexi mengangkat kedua jarinya menjadi bentuk V. "Iya iya ampun.."
"Udah cepet pergi!" Aleta mendorong tubuh Alexi.
"Segitu pengennya apa gua pergi?"
"Pergi gak lo?" Aleta sudah mengambil ancang-ancang ingin menginjak kaki Alexi.
"Iya iyaa Aleta." Kata Alexi sembari mengelus puncak kepala Aleta membuat sang empu terdiam dengan perlakuan manis Alexi.
Alexipun naik ke atas motornya, tidak lupa memakai helm fullface berwarna hitam mikiknya itu. Alexi menghidupkan motor besarnya itu lalu berdadah kea arah Aleta yang masih terdiam lalu pergi meninggalkan Aleta yang masih terdiam di tempat.
Sepersekian detik akhirnya Aletapun sadar dari lamunanya. Ia menggeleng- gelengkan kepalnya. "Engga Aleta engga! Lo harus sadar ok!" Racaunya berbicara kepada diri sendiri.
Aleta masuk dengan langkah kaki tergesa gesa seperti seseorang sedang mengejarnya. Jantungnha yang berdetak dua kali... Tidak! Tjga kali lebih cepat membuat Aleta resah. Aleta sudah ada di dalam rumahnya ia mengatur nafas yang tidak teratur.
"Leta?"
"Astaga! Mamah bikin Leta kaget aja!" Aleta berbicara sedikit berteriak karena kaget.
"Leta mau ke kamar mau belajar." Aleta masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan ibunya yang sedang kebingungan melihat tingkah laku anaknya yang aneh itu hari ini.
"Kamu gak mau makan siang dulu Leta?" Tanya ibunya sedikit berteriak.
"Engga mah, Leta gak laper." Jawab Aleta dengan teriakan juga.
______________________________________
Di lain tempat, keluarga Early sedang berkumpul termasuk Alexi, ayah, dan ibunya. Yup benar, Alexi berbohong kepada Aleta dan ibunya tadi. Sebenarnya telpon yang Alexi terima adalah telpon dari ayahnya yang memintanya untuk segera pulang dan menghampiri ayahnya di kediaman eyang buyut Alexi.
Keluarga Early memang terkenal sebagai keluarga yang semuanya kaya raya. Semua bisnis dan usaha yang di jalani oleh keluarga Early akan makmur dan sejahtera.
Saking kayannya keluarga Early, eyang Alexi adalah pemilik asli dari Early company group. Bahkan perusahaan milik eyangnya itu sudah membuka berbagai bisnis seperti hotel bintang lima, sekolahan, Mall, dll.
Alexi yang baru bergabung menghampiri kedua orangtuanya. "Mah pah maaf Alexi telat."
"Engga papa, eyang juga belum keluar." Jawab sang Ayah.
"Emangnya kamu dari mana sih sayang?" Kini sang ibu bertanya kepada Alexi.
"Tadi Alexi ada perlu, lagian acara ini juga mendadak kok." Jawab Alexi acuh.
"Alexi!" Ayahnha mulai membentak.
"Ya ya ya...! Alexi harus masang muka tegas yang berkesan dingin tapi ramah, pakai bahasa yang baku di depan eyang. Gitu kan pah? Alexi udah hafal apa yang mau papah mau bilang sama Alexi."
"Bagus kamu ingat!"
Alexi mendesah kasar. "Ingat lah pah, setiap kerumah besar milik Early ini Alexi selalu di cekokin omongan itu sama papah. Gimana caranya Alexi lupa coba?"
Ayah Alexi mengepal tangannya geram. "Jaga sikap kamu Alexi! Eyang mendekat ke kita sekarang." Kata sang ayah membuat Alezi menoleh kearah di mana sang eyang sedang berjalan menuju ke arahnya.
"Kamu telat Alexi?" Tanya sang eyang setelah sampai di hadapan Alexi dan kedua orangtuanya.
Alexi mengagguk. "Maaf eyang, Alexi ada urusan sebentar tadi." Wajah Alexi berubah 180 derajat dari wajah Alexi sebelumnya.
Sang eyang mengelus pundak cucunya itu dengan lembut. "Tidak apa-apa."
"Eyang bagaimana sehat?"
"Seperti yang kamu lihat Alexi, eyang sudah tua sudah tidak bisa di bilang sehat lagi."
"Tetapi eyang tegap tampan dan gagah." Canda Alexi.
Ayang dan kedua orangtu Alexi yang saat itu ada di sampingnya tertawa. "Hahaha kau bisa saja cucuku."
Alexi membalas hanya dengan senyuman. Alexi memang salah satu cucu yang di sayangi oleh sang eyang. Selain Alexi menurut, selama ini Alexi tidak pernah membuat cacat atau kesalahan yang fatal untuk kakeknya itu.
"Kalau begitu eyang pergi dulu ya lex, mau menyambut yang lain." Eyang Alexi pun menjauh dari hadapan Alexi dan kedua orang tuanya.
"Maaf eyang Al telat."
Nah loh kok Al? Al yang mana nih? Al sih kakak kelas itu? apa ada Al yang lain? emang Al kakak kelas keturunan keluarga early? perasaan nama belakang Al bukan early deh. hehe
ayo mana tim aleta alexi!!
mana tim aleta al!!