
Malam itu Aleta dan Brian pergi ke toserba yang tidak jauh dari rumahnya. Jika ada yang bertanya kemana Alexi? Jawabannya ia ada, namun tidak bersama Aleta melainkan ia ada urusan penting bersama sang eyang. Entah kenapa akhir akhir ini Alexi sering di hubungi sang eyang dan di minta untuk bertemu. Tetapi Aleta tidak memperdulikan urusan Alexi, toh Aleta berpikir bahwa wajar saja bila kakek dan cucu selalu ingin bertemu.
Karena toserba jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Aleta, Aleta dan sepupunya Brian memilih untuk berjalan kaki sembari menikmati angin malam yang lebih segar di banding pagi hari.
"Ini jauh kaga sih ta?" Tanya Brian. Sedari tadi di rumah, Brian selalu menanyakan jarak dan berapa lama lagi mereka sampai. Sampai sampai membuat Aleta kesal di buatnya.
Aleta memukul lengan Brian cukup kencang, terbukti dengar suara yanh cukup nyaring saat Aleta memukul. Karena rasa perih dan sakit yang di rasakan Brian ketika di pukul Aleta, membuat lelaki jangkung itu meringis seraya memegangi bagian lengan yang terkena pukulan mau ala Aleta. "Sialan sakit woy!" Kata Brian sembari mengelus elus tangannya.
"Ya lagian lo nanya mulu bawel banget kaya mak mak komplek!" Sembur Aleta, hari ini ia sedang sensitif entah kenapa. Mungkin tidak lama lagi Aleta akan kedatangan tamu bulanan?
"Yaelah ta, marah marah mulu. Lagi dateng tamu lo ya?"
"Engga." Jawab Aleta singkat.
Keadaan kembali hening, Brian dan Aleta memilih diam. Aleta yang diam memandangi arah depan sembari berjalan, sedangkan Brian memilih untuk memainkan ponsel pintar miliknya.
Belum sampai di toserba tiba-tiba Aleta menghentikan langkah kakinya dan matanya menyipit. Kini ia sedang di penyebrangan jalan menungu lampu merah untuk ia menyebrang ke sisi lain jalan itu. Namun ada pemandangan yang menarik perhatian Aleta, Yaitu seorang wanita yang sangat mirip dengan dirinya tengah berdiri di arah berlawanan dengan Aleta. Speechless, itu yang bisa di gambarkan Aleta sekarang. Ia tidak tahu harus mengatakan dan berbuat apa. Ia baru melihat seseorang yang sama persis sepertinya. Mungkin yang membedakan Aleta dengan wanita yang ia lihat adalah rambut. Rambut Aleta yang panjang berwarna hitam, sedangkan wanita di sebrang itu memiliki rambut pendek berwarna coklat.
Sungguh Aleta tidak bisa berkata apa apa, sampai sampai Brian melihat Aleta yang terdiam menjadi kebingungan. Ia menggoyang goyangkan tubuh Aleta guna menyadarkan Aleta, namun Aleta masih terdiam. Sampai akhirnya tatapan mata orang yang di sebrang tadi bertemu dengan Alets membuat sadar Aleta seketika.
"Woy Leta?!" Sekali lagi Brian memanggil nama Aleta, kali ini Aleta merespon.
"Hm? Kenapa?" Tanya Aleta kebingungan.
"Lo kenapa sih? Bengong aja.." Kata Brian kesal.
Aleta menggeleng gelengkan kepalanys sembari menunduk. "Engga, gue gapapa."
Brian hendang berbicara lagi namun lampu sudah merah, menunjukan bahwa mereka bisa menyebrang. "Ayo." Brian menggandeng tangan Aleta membuat Aleta tertarik seluruh tubuhnya. Saat Aleta melihat lagi ke arah depan sambil berjalan, orang yang sangat mirip dengannya tadi hilang begitu saja seperti hantu. Membuat Aleta mengerutkan dahinya bingung. Kemana orang tadi? Siapa dia? Itu yang ada di dalam pikiran Aleta saat ini.
______________________________________
"Al?" Panggil Olin ketika mereka sedang duduk bersama di sebuah bangku taman.
Al hanya berdehem tanpa menoleh ke arah Olin, Membuat Olin tersenyum kecut sembari menunduk. "Makasih Al." Kata Olin yang membuat Al menoleh ke arah Olin yang masih menunduk.
"Buat apa?"
Olin mengangkat kembali kepalanya dan menatap Al lalu tersenyum. "Kamu ajak aku ke tempat favorit kamu, padahal awalnya kamu bilang kamu gak punya tempat favorit."
Al kembali memandang ke arah depan. "Gua baru inget kalo gua punya tempat favorit. Jadi lo gausah terima kasih segala. Lagian juga gua udah janji sama eyang buat nemenin lo kemana pun lo mau pergi."
Kata kata Al sungguh memupuskan harapan Olin, awalnya ia kira Al menyukai kehadirannya. Tapi Olin rasa ia salah, Al sama sekali tidak senang dan tidak terima kehadiran Olin di sini. Di tambah lagi Olin menumpang di rumah keluarga Al.
Olin memang kecewa, namun Olin berusaha menutupi kekecewaannya dengan selalu tersenyum dan terlihat ceria di hadapan Al dan yang lainnya. Ke adaan saat ini tidak ada apa apanya di bandingkan keadaan di rumahnya yang setiap harinya sangat mencengkam dan memuakan. Jika bisa, Olin ingin tinggal di indonesia tidak masalah jika ia harus tinggal sendiri di sini asalkan ia di jauhkan dari sang ayah yang sangat keras itu.
Di tengah tengah keheningan antara Al dan Olin, Al melihat Aleta sedang berjalan bersama seorang lelaki yang tidak lain adalah Brian sepupu Aleta. "Aleta?" Panggil Al membuat Brian dan Aleta menoleh, tidak lupa Olin juga ikut mengikuti arah pandangan orang yang Al panggil, terdengar helaan nafas dari Olin namun Al tidak memperdulikannya.
Dari jauh Aleta dan Brian terlihat menghampiri Al dan Olin. "Kak Al?" Kata Aleta, Al dan Olinpun berdiri menyambut Aleta.
"Mau ke toserba kak. Lo lagi ngapain di sini?"
"Ngajak temen gua jalan jalan." Al menoleh ke arah Olin. "Oyah kenalin ta, ini temen gua dari kanada namanya Olin. Olin ini Aleta sama... Sepupunya ya?" Pandangan Ak beralih ke Brian.
Brian hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Brian. "Hai, aku Olin." Olin memperkenalkan diri dan berjabat tangan dengan Aleta dan Brian secara bergantian.
"Aleta, ini Brian sepupu aku." Aleta memperkenalkan dirinya dan juga Brian.
"Temennya Al?" Tanya Olin ke Aleta.
Aleta mengangguk dan tersenyum. "Iya, dia kakak kelas aku di sekolah."
"Oh gitu. Kalian semua satu sekolah?"
Aleta mengangguk. "Yaudah kak Al, Olin kita lanjut jalan ke toserba lagi."
"Oh Ok, Hati hati ya Aleta." Kata Olin ramah di balas senyuman oleh Aleta.
"Hati hati." Kata Al. Aleta mengangguk.
Aleta dan Brianpun kembali berjalan menuju tujuan pertamanya tadi yaitu toserba. Olin kembali duduk lagi sedangkan Al masih berdiri dan memandangin punggung Aleta yang semakin menjauh.
"Cantik ya?" Celetuk Olin membuat Al menoleh memperhatikan wajah Olin yang tiba tiba berubah. Sejujurnya Olin sedang tersenyum, namun entah mengapa Al merasakan senyuman Olin penuh dengan kebohongan. Lalu Al duduk kembali di samping Olin.
"Maksud lo?"
"Aleta. Dia cantik banget."
Al mengerutkan dahinya masih bingung dengan ucapan yang di lontarkan Olin. "Iya dia cantik.." Al hanya menjawab apa adanya.
"Kamu.. Suka dia Al?" Al dan Olin saling bertatapan.
Al terdiam beberapa detik, kemudia ia mengangguk. "Iya."
Olin mendengus pelan dan tersenyum getir. "Pantes, dia cantik. Keliatannya juga baik."
Al membenarkan posisi menjadi lurus dan pandangan Al kini ke langit yang kosong akan bintangnya. "Iya, lo bener. Mungkin dia lebih sempurna dari lo kira. Tapi dia milik orang lain.." Kata Al dengan masih memandang ke langit.
Olin menoleh. "Maksud kamu.. Aleta udah punya pacar?"
Al diam tidak menjawab, ia malah berdiri. "Ayo kita pulang, besok gua udah harus sekolah." Kata Al ia berjalan lebih dulu meninggalkan Olin yang masih duduk diam di taman itu.
"Aku pasti bisa dapetin kamu Al, dan membuat kamu inget siapa aku.." Gumam Olin. Lalu ia pun bangun dan berjalan menyusul Al yang sudah melangkah jauh darinya.
turut berduka cita atas kepergiannya eyang BJ Habibi semoga tuhan memberi tempat yang terbaik untuk eyang habibi. amin πΊπͺ