ALEXI

ALEXI
ALEXI - 39. YANG TIDAK SANGKA AKAN TERJADI



"Tuan muda Al datang.." Ujar salah satu pelayan di rumah besar kediaman Neandro. Al pun masuk ke dalam ruangan Neandro.


"Selamat malam eyang." Sapa Al di hadpan Neandro yang sedang berdiri di hadpannya sekarang.


Plak! Neandro menampar Al cukup keras. "Kau..! Kau pasti telah membuat anak sahabatku tidak betah tinggal di sini ya?!"


Al hanya menuduk diam.


"Jawab!" Neandro membentak Al. "Jawab Sialan!" Neandro menendang Al hinggal Al terdorong dan jatuh ke lantai. Al menahan sakit dengan memegang perutnya yang tadi di tendang oleh sang kakek, dengan energi yang tersisa Al berusaha bangkit dan berdir tegap lagi seperti awal. "Tidak bisa di andalkan!" Neandro mendengus. "Wajar! Karena kau bukan cucuku!" Al yang semula menunduk kita menatap sang eyang dengan tatapan tajam. Al memang tidak mengatakan apapun, namun dengan tatapan yang menusuk dari Al mampu membuat Neandro sang eyang merasa terintimidasi dan tidak nyaman dengan tatapan itu. "Turunkan pandanganmu sialan! Kamu tidak di ajarkan soapan santun hah?!" Neandro melangkah lagi lebih dekat. "Banyak orang yang mengatakan bahwa cucu pertamaku itu cerdas! Namun mereka tidak tau bahwa cucu pertamaku tidak lebih dsri sampah! Tidak bisa di andalkan! Jauh seperti Alexi! Karena dia benar benar cucukku dia pintar, bijaksana dan bisa di andalkan!"


"Bagus!"


"Apa?!" Neandro menatap Al yang baru saja membuka mulutnya.


"Bagus jika Al bukan cucu eyang! Dulu, Al pikir bukan keturunan asli keluarga Early adalah suatu kutukan. Tapi Al baru sadar! Kalo itu semua sebenarnya adalah anugrah! Karena apa? Karena Al enggak mewarisi sifat eyang yang egois yang suka membeda bedakan!"


Plak!  "Kurang ajar!"


"Eyang bisa menampar Al berulang kali! Tapi itu engga membuat Al berubah eyang."


"Kau-"


"Eyang!" Saat Neandro hendak menampar lagi Al, suara Alexi mampu membuat Neandro mengurungkan niatnya.


Neandro tersenyum lebar begitu ia melihat wajah Alexi. "Alexi cucuku! Ada apa cucuku?"


"Alexi mencari Al eyang. Tadi waktu Alexi datang kerumah Al, Om Brata bilang eyang menyuruhnya ke sini jadi aku cari Al ke sini."


"Tapi.. Ada apa?"


"Alexi dan Al sudah membuat janji akan mengajari Alexi berbahasa asing."


"Ah seperti itu... Baiklah! Belajar yang ranjin ya cucuku.." Nenadro tersenyum.


Alexi ikut tersenyum lalu mengangguk. "Iya eyang." Kini Alexi melirik Al. "Ayo Al!" Ajak Alexi, Al pun menoleh dan kemudian berjalan mendekati Alexi.


_____________


Di cafe...


Alexi menyodorkan minuman dingin ke arah Al. "Thanks!" Al menerima minuman itu dari tangan Alexi lalu meminumnya. "Tadi lo kenapa bisa di rumah eyang?"


"Tadinya gua mau ada hal lain sama eyang, tapi pelayan rumah eyang bilang lo lagi berantem sama eyang. Jadi mau gak mau gue jadi pahlawan kesiangan." Kata Alexi tanpa mau menatap ke arah Al.


"Apapun alesan lo, thank you!" Ujar Al yang membuat Alexi menatapnya. "Kenapa?" Tanya Al.


"Engga, aneh aja. Selama ini gua sama lo selalu berantem kalo lagi ketemu, yakan?"


"Hm! Lo bener. Gua juga ngerasa sedikit aneh sih."


Alexi dan Al saling bertukar pandangan sampai akhirnya mereka berdua tertawa.


______________________________________


"Masih dua hari lagi lo udah packing aja." Ujar Brian yang berdiri di ambang pintu kamar Aleta.


"Kalo udah hari H nya suka males dan lupa mau bawa apa." Jawab Aleta semabri memasukan keperluannya ke dalam koper.


"Gua aja belom packing mager." Brian masuk dan membanting tubunya ke atas kasur Aleta.


"Ye.. Lo ini apa apa mager!" Kata Aleta seraya melempar body lotion ke arah Brian.


"Dulu kan gua apa apa nyokap."


"Sekarang beda! Lo di jakarta, nyokap lo jauh.. Masa lo mau minta packingin ke nyokap lo yang di luar negri?"


"Belum.."


"Kasih tau lah ta.. Dia bakal nyariin kalo lo gak pamitan sama dia." Ujar Brian memberi saran.


"Iya."


"Aleta..!" (Suara orang memanggil)


"Siapa tuh?" Tanya Aleta pada Brian.


"Ga tau! Gua di sini aja. Emangnya gua punya mata batin apa!" Kata Brian bercanda.


Aleta dan Brian menghampiri ke arah depan, mereka bisa melihat dari jendela bahwa di luar ada Febbi dan juga Al. Aleta langsung membukakan pintu untuk temannya itu. "Febbi? Kak Al?" Ujar Aleta.


Febbi memeluk Aleta. "Woy kemana aja!" Tidak lama Febbi melepaskan pelukannya. "Kemana aja lo?" Tanya Febbi lagi.


"Duduk dulu!" Aleta menyuruh Febbi dan Al duduk, mereka berdua pun mengikuti perintah Aleta.


"Eh jawab pertanyaan gue!" Kata Febbi.


"Yang mana?"


"Gausah pura pura lupa lo! Lo kemana aja let udah hampir seminggu lo gak masuk. Terus juga kenapa nyokap lo dateng ke sekolah?"


Aleta diam, ia sebenarnya belum siap mengatakan kata kata perpisahan pada Febbi.


"Aleta?" Kini Al yang berbicara. "Kalau mungkin lo ada masalah, kenapa gak di selesain?"


Aleta menggelengkan kepalanya. "Engga kak bukan gitu-"


"Gue tanya Alexi, dia bilang gak tau. Terus juga akhir akhir ini dia aneh. Pasti lo sama Alexi ada masalahkan?' Ujar Febbi.


Aleta menghela nafas. "Gue sama Alexi itu udah putus feb.." Aleta menundukan kepalanya.


"Apa?!"


"Apa?!" Febbi dan Al terkejut.


"Kenapa? Kok bisa sih? Wah pasti jiwa playboynya kambuh lagi ya!" Tanya Febbi dengan wajah kesal.


"Maaf feb, tapi gue gak bisa ngejelasin kenapa karena ini itu rumit banget..!"


Febbi mengelus pundak Aleta. "Ok gue ngerti!"


"Dan.. Feb.. Kak Al.. ?"


"Kenapa?"


"Kenapa?" Tanya Al dan Febbi bersamaan.


"Gue.. Bakal sekolah di luar negri dua hari lagi."


"Apa?! Let ini gak lucu! Jadi.. Nyokap lo ke sekolah mau ngurus pindahan lo?" Tanya Febbi dengan wajah tidak percaya.


Aleta hanya mengangguk lemas.


"Jahat lo!"


"Maaf febb.. "


"Lo tinggal dua hari lagi pindah dan lo gak ngasih tau gue? Let lo anggap gue apa?! Kalo lo dari awal bilang atau cerita sama gue, mungkin gue sama lo bisa pergi jalan jalan atau setidaknya bisa bikin kenangan dulu sebelum lo pergi ke luar negri! Gue kecewa sama lo let! " Febbi berdiri. "Kak Al gue balik duluan!" Febbi pergu lebih dulu sebelum Aleta bisa menghentikannya. Aleta menutupi wajahnya dnegan kedua telapak tanganya. Aleta mengangis sejadi jadinya, Al yang kala itu ada di sampingnya mencoba menenangkan Aleta dengan memeluk tubuh Aleta sembari mengusap usap rambut Aleta.


Tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memperhatikan mereka berdua...