
Aleta yang baru saja sampai di apartemen di sana langsung membereskan bajunya guna ia bisa cepat cepat beristirahat. Brian sedang tidak ada di sana saat itu, ia sedang membeli makan malam untuknya dan juga Aleta.
Kita kembali ke Aleta, Aleta duduk di tepi kasur dan meraih ponselnya yang berada di atas kasur itu. Aleta membuka sosial media miliknya. Namun, tidak ada tanda tanda Alexi memberinya salam perpisahan. Aleta menghela nafas, memang sudah jalan terbaik jika ia pergi dari Alexi. Supaya ia dan juga Alexi sama sama tidak terluka akhirnya. Namun tetap! Aleta maupun Alexi pasti merasakan hal yang sama, yaitu sakit hati di tinggal dan meninggalkan.
"Ta? Lo mau ngemil ga? Gua beli ini nih tadi." Tanya Brian begitu ia datang dan langsung menghampiri Aleta dengan menunjukan snack yang ia beli tadi.
"Boleh." Aleta menghampiri Brian dan mengambil snack yang tadi Brian tunjukan.
Setelah mengambil snack dari tangan Brian. Mereka berdua berjalan menuju sofa dan bersantai di sana sembari menonton tv. Tidak banyak acara yang Aleta suka, namun ia tetap menonton karena tidak ada pilihan lain karena ini bukan di indonesia.
Drrrttt! Ponsel Aleta bergetar, ia langsung meraba keberadaan ponselnya dan melihat di layar ponsel Aleta terdapat nama Alexi di sana. Aleta tidak langsung menjawab, ia memandangi ponselnya cukup lama sampai panggilan di telpon itu berakhir. Namun, ponsel Aleta kembali bergetar Aletapun langsung mengangkatnya.
"Halo?" Sapa Aleta.
"Hai! Gue Felly ta. Gue minjem hapenya Alexi karena gue gak punya nomor lo. Alexi juga gak ngasih nomor lo ke gue." Jelas Felly di sebrang sana.
"Ada apa?"
Terdengar helaan nafas di sana. "Gue mau ngasih tau lo sesuatu."
"Kalo tentang hubungan lo sama Alexi, gue cuma bisa bilang selamat."
"Bukan! Ini tentang lo sama gue."
Dahi Aleta berkerut. "Lo.. Sama gue..?"
"Iya! Lo harus denger baik-baik ya Aleta..."
"Iya gue dengerin."
"Sebenernya... Gue sama lo..."
"Kenapa? Cepet fel jangan bikin gue penasaran!"
"Kita... Kembar...."
"APA!" Aleta berteriak membuat Brian yang berada di sampingnya terkejut dan menoleh ke arah Aleta. "Ada apa ta?" Tanya Brian, namun Aleta tidak menjawab. "Lo ngomong yang bener dong Felly! Gimana caranya lo... Sama gue... Terserah! Intinya gue gak percaya!" Aleta langsung memutuskan sambungan sepihak tanpa mendengarkan penjelasan Felly terlebih dahulu.
"Ta lo kenapa sih? Itu tadi telpon dari siapa?" Tanya Brian dengan wajah khawatir.
Aleta menoleh ke arah Brian, ia memegang bahu Brian erat. "Brian! Bilang sama gue kalo yang di omongin Felly itu semuanya bohong!" Kata Aleta yang membuat Brian bingung.
"Apa sih maksud lo ta? Emang Felly ngomong apa?" Tanya Brian.
Aleta melepaskan cengkeraman tangannya dari bahu Brian dan menghela nafas. "Felly bilang... Gue sama dia itu.. Saudaraan.. Kita kembaran! Itu bohongkan Brian?"
Brian terkejut. "Hah! Dia... Bilang gitu?"
Aleta hanya mengangguk lemas.
"Kenapa lo gak tanya nyokap bokap lo aja?" Usul Brian.
Aleta menyipitkan matanya saat melihat Brian. "Lo... Tau sesuatu?"
Dengan wajah datar Brian menggelengkan kepalanya. "Gue gatau. Gue aja kaget waktu lo bilang gitu."
"Lo serius gak tau?"
"Engga."
"Apa? Tunggu!" Brian menahan tangan Aleta saat Aleta hendak beranjak dari sofa. "Kita baru sampe! Lo gila mau balik lagi ke indonesia! Lo pikir ini kita ke indonesia dari jakarta kebandung apa! Aleta lo pikir pikir dulu dong.." Brian membentak Aleta.
Aleta melepaskan tagannya yang di pegang oleh Brian. "Lo bilang gue harus tanya ke orang tua gue! Ini gue mau tanya Brian! Kalo gue gak balik ke indonesia dan cuma nanya lewat hp gue gak bisa liat orang tua gue jawab apa, ngomong apa, dan gimana ekspresi mereka! Gue mau liat sendiri! Dan gue juga mau bukti dari Felly, ga mungkin Felly omong kosong! Dia pasti punya buktinya!" Setelah mengatakan itu Aleta pergi ke kamarnya.
Di lain tempat...
Felly mengembalikan ponsel Alexi yang tadi ia pinjam untuk menelpon Aleta. "Di matiin.." Ada kekecewaan di balik itu semua.
"Dia percaya?" Tanya Alexi.
Felly menggelengkan kepalanya lemas. "Engga lex.."
"Udah gue duga, dia gak bakal langsung percaya." Alexi menepuk bahu Felly. "Lo pegang aja dulu buktinya. Gua kenal Aleta, dia pasti bakal dateng cari bukti." Ujar Alexi.
"Iya lex."
"Oyah! Jangan sampe bukti itu terdengar ke telinganya eyang, gua yakin kalo itu sampe bocor. Antek eyang bakal kejar lo kemana aja. Jadi lo hati-hati ya..." Alexi mengelus rambut Felly.
"Eum.. Lex?"
"Iya?"
"Aku.. Ah! Gue.. Mau nanya boleh?"
"Soal apa?"
"Soal... Perasaan lo sama.. Gue..?"
Alexi menghela nafas, lalu menatap mata Felly lekat. "Fell? Selama setahun ini gua ngira lo udah meninggal. Gua selalu sedih dan kecewa sama diri gua sendiri itu karena gua merasa bersalah sama lo yang ga bisa lindungin lo dari apapun. Setelah datangnya Aleta yang mirip banget sama lo itu bikin gua beralih pandangan menjadi apa apa semua Aleta. Gua lupa sama lo. Tapi, awalnya gua sangka gua suka Aleta karena dia mirip lo. Tapi engga! Gua bener bener jatuh cinta sama Aleta dan gatau alasannya kenapa bisa gua jatuh cinta sama Aleta yang dulu galak banget sama gua." Alexi tertawa. "Yang jelas.. Sejak hadirnya Aleta, perasaan gua sama lo udah.."
"Stop lex! Gue.. Ngerti hehe." Felly tertawa garing.
Alexi hanya tersenyum simpul. "Gua ke kamar mandi dulu sebentar." Fellt hanya mengangguk. Setelah Alexi pergi ke toilet, ponsel Alexi bergetar ada satu pesan masuk di sana. Fellt yang melihat itu pesan dari Aleta langsung mengambil ponsel Alexi dan membuka pesannya.
"Besok gue balik ke indonesia."
Satu pesan dari Aleta yang sukses membuat Felly membulatkan matanya karena terkejut. Felly tahu bahwa Aleta pulang bukan tanpa alasan, ia pulang pasti karena menuntut penjelasan dan bukti dari Felly dari apa yang ia bicarakan di telpon sebelumnya
Alexi datang mrnghampiri Felly yang tadi sebelumnya Alexi izin untuk ke kamar mandi. Alex langsung duduk dan ia terlihat heran Felly menyodorkan ponsel miliknya sendiri. "Kenapa?" Tanya Alexi.
"Ada yang chat lo tadi, ga sengaja gue baca. Maaf ya.." Kata Felly dengan wajah seolah merasa bersalah.
Alexi tidak mengatakan apapun, ia langsung meraih ponselnya dari tangan Felly. Ia membuka pesan dan Alexi langsung menoleh ke arah Felly seolah bertanya 'ini sungguh?' Felly hanya tersenyum ke arah Alexi. Fellypun menepuk pundak Alexi lalu bangkit dari duduknya dan hendak pergi dari cafe tempat mereka bertemu. "Mau kemana?" Tanya Alexi.
"Pulang."
"Gua anter." Mata Alexi. Alexi hendak bangun namun Felly menahan Alexi.
"Gausah lex.. Gua bisa sendiri kok!" Kata Felly menolak.
"Ok."
Fellypun pergi terlebih dahulu dari cafe itu meninggalkan Alexi sendiri di sana. Di perjalanan pulang, Cairan bening yang keluar dari matanya mengalir begitu saja tanpa meminta izin dari sang empu. Membuat Felly menghapus air mata itu secara kasar karena ia tidak mau terlihat lemah seperti ini.
__________________________________
chapeter Al yang flashback akan di lanjutka di lain chapter ya guys. dan besok aku akan update lagi menyusul keterlambatank minggu kemarin tidak update terimakasih ❤