ALEXI

ALEXI
ALEXI - 05. PROSES



Dugh!



"Jangan sebut nama itu pake mulut kotor lo sialan!" Al tiba-tiba memukul wajah Alexi yang membuat Alexi tersungkur karena serangan dadakan dari Al.



Alexi menyentuh sudut bibirnya yang berdarah menggunakan ibu jarinya. Alexi tersenyum remeh lalu bangun membenarkan posisinya. "Jadi lo gak lupa?" Alexi berjalan mendekati Al. "Maka-Dari-Itu-Jauhin-Aleta!" Alexi berbicara sembari mendorong dorong tubuh Al mennggunakan jari telunjuknya. Tidak ada jawaban maupun perlawanan dari Al, lalu Alexi berjalan menuju motornya dan pergi dari hadapan Al yang masih diam di tempat.






___________________________________





Suasana makan malam di rumah keluarga Aleta. Aleta dan kedua orangtuanya sedang menikmati santapan makan malam yang di hidangi di atas meja itu. Tidak ada suara selain suara benturan piring dan sendok yang mengadu. Namun tidak lama kemudian ayah Aleta membuka suara.



"Gimana tadi di sekolah baru kamu Aleta?"



Aleta menatap mata Ayahnya sembari tersenyum. "Aleta suka pah, tapi..."



"Tapi kenapa?"



"Muridnya bandel semua pah."



Ayah Aleta tertawa. "Namanya juga kelakuan anak ibu kota, di tambah lagikan itu sekolah swasta. Tapi kalau kamu mau pindah, ya gapapa. Tinggal bilang aja kamu mau pindah kemana?"



Aleta menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "engga apa-apa kok pah, lagian juga aku udah dapet temen di sekolah ini. Yaaa walaupun gak banyak."



"Tapi sayang?" Ibu Aleta ikut membuka suaranya.



Aleta mengangkat kedua halisnya. "Hm kenapa mah?"



"Cowok yang nganter kamu tadi... Mamah kok kaya gak asing ya sama mukanya?"



"Kamu tadi pulang di anter sama cowok? Siapa dia?" Tanya Ayah Aleta penasaran.



Ibu Aleta memukul pundak sebelah kanan suaminya itu. "Ih si papah mah! Biarin aja atuh kan cuma nganter aja."



"Iyah papah juga tau dia cuma nganter doang. Kan papah juga cuma nanya mah."



"Itu kak Al pah, kakak kelas aku di sekolah." Jawab Aleta.



"Kamu tau nama panjangnya nak Al?" Tanya Ibu Aleta.



Aleta mengangguk. "Tau mah."



"Apa nama panjangnya?"



"Kalau aku gak salah denger sih namanya Alfiandra... Widy.. Aditya. Iya itu namanya Alfiandra Widy Aditya."



"Hmm... Gimana kalau besok kamu bawa itu sih nak Al ke sini?" Pinta Ibu Aleta.



"Mau ngapain mah?" Tanya Aleta bingung.



"Ada yang mau mamah tanyain sama dia, besok kamu undang ya."



"Ya.. Yaudah kalau mamah yang minta. Eh tapi kalau kak Al nya mau juga ya mah."






_____________________________________







Keesokan harinya seperti biasa, Aleta bersiap untuk berangkat ke sekolahnya. Saat itu jam Menunjukan pukul 06.03 waktu setempat. Hari ini Aleta bersiap sembari sarapan roti yang kini penuh di mulutnya. Karena menurut Aleta jam segitu sudah sangat telat, di tambah lagi ia pikir jam segini ada jam jammya orang sibuk ada di pastikan akan macet. Maklum ibu kota. Jalanan lancar jaya pas hari raya idul fitri aja.



Aleta memakai sepatunya secara buru-buru selesai, ia pun keluar rumah dan tidak lupa menguci pintu rumahnya. Namun, baru hendak akan berjalan menuju gerbangnya, Aleta di suguhkan pemandangan aneh. Yaitu, ada seseorang lelaki dengan motor besar menunggunya di depan rumahnya.



"Alexi?" Ya siapa lagi kalau bukan Alexi. Lelaki penyuka warna hitam itu membuka helm fullfacenya dan tersenyum ke arah Aleta. "Hai!"



Aleta menghampiri Alexi. "Lo... Lo kok bisa tau rumah gue?" Tanya Aleta nampak kebingungan.



"Yaelah bingung-bingung amat." Alexi melihat ke arah dalam rumah Aleta. "Nyokap lo mana? Kok rumah lo kayanya sepi?"



"Lagi ke pasar!" Jawab Aleta



"Tapi tau dari mana lo rumah gue?!" Lagi, Aleta bertanya sedikit memaksa terbukti kaki Alexi yang tidak bersalah Aleta injak.



Alexi nampak menahan sakit di bagian kekinya. "Gua ngikutin lo sama Al kemaren!" Jawab Alexi sedikit berteriak melampiaskan rasa sakitnya.




"Engga, mending gue nanik angkot aja."



"Jam segini macet loh.. Di tambah lagi angkot pasti penuh semua." Kata Alexi berusaha menakut nakuti Aleta supaya mau ikit bersamanya.



"Gausah ngibul lo!" Aleta berkata dengan wajah gugup.



"Yee.. Siapa yang ngibul. Yaudah kalau lo mau telat nyampe sekolah sih gapapa. Silahkan menikmati angkot penuh sama jalanan macet auto telat hahaha." Alexi meledek Aleta. Karena Aleta hanya diam saja, Alexipun mulai melajukan motornya.



"Heh!" Aleta berteriak membuat Alexi berhenti. Senyum mengembang di balik helm fullface itu. Alexipun memundurkan motornya. "Kenapa?" Tanya Alexi sedikit menggoda.



Aleta mengulurkan tangannya di wajah Alexi seperti meminta sesuatu. "Apaan nih? Lo minta ongkos?"



Aleta memutar bola matanya. "Helm, lo mau kita di tilang?"



Alexi tertawa. "Hahaha iya iya galak banget." Alexi memberikan helmnya kepada Aleta. "Nih helmnya."



Aleta mengambil helm yang di sodorkan oleh Alexi dengan sedikit kasar lalu memakainya namun hanya memakainya tapi tidak memasang Tali pengikat (Retention System) yang ada di helm itu. "Ah percuma lo pake helm kalo ininya gak kaitin." Alexi mendekatkan tubuh Aleta dengannya supaya ia mudah mengaitkan helm yang di pake Aleta. Namu saat itulah mata Aleta dan Alexi bertemu. Sepersekian detik Aleta menyingkirkan tangan Alexi dan memakai helmnya sendiri. Selesai Aleta pun naik keatas motor Alexi.



Wajah merah Aleta tidak bisa di tutupi, Aleta mengipas wajahnya dengan telaoak tangannya sendiri. Tidak lupa mengatur nafasnya karena jatungnya yang berdegup kencang membuat nafasnya tidak teratur.



"Kemaren, lo sama Al ngomongin apa aja?" Tanya Alexi, karena sedang di atas motor dan Aletapun sedang menggunakan helm pertanya yang di lontarkan Alexi tidak terdengar oleh Aleta.



"Hah? Lo ngomong apa?" Tanya Aleta sedikit berteriak.



"Engga, gua bilang lo cantik." Jawab Alexi lagi-lagi membuat wajah Aleta memanas.



Aleta memukul bagian belakang helm Alexi. "Kampungan lo!"



Alexi hanya tersenyum di balik helmnya sedangkan Aleta sedang memudarkan rona pipinya yang memerah.



Alexi dan Aletapun sampai di sekolah mereka. Aleta menepuk nepuk pundak Alexi dengan kasar membuat Alexi memberhentikan motornya. Alexi menoleh ke arah Aleta dan membuka kaca helmnya. "Kenapa sih?"



"Turunin gue di sini!"



"Tanggung kali."



"Engga gak, gue mau turun di sini aja!" Aletapun turun dari motor Alexi dan pergi begitu saja namun satu lengan kanan Aleta berhasil di raih Alexi. "Heh mau kemana?"



"Kekelas lah."



"Lo mau kekelas pake helm gitu?"



Aleta tersadar dan dia segera melepaskan helm yang ia pakai dan ia kembalikan ke orang yang mempunyainya. "Nih makasih." Aleta berjalan sedikit cepat karena kejadian itu memalukan menurutnya.



"Aleta plis lo hari ini jadi orang paling idiot! Kenapa bisa lo lupa lepas helm?" Racau Aleta dalam hatinya.



Sedang bergulat dengan pikirannya satpam sekolah menyapa Aleta. "Pagi neng Aleta." Aleta menoleh ke arah satpam itu lalu tersenyum. "Pagi pak satpam."



"Tadi berangkatnya bareng Alexi ya..." Goda satpam itu.



Aleta tertawa canggung. "Haha iya."



"Aleta!" Dari arah belakang Aleta sesorang memanggil dan ternyata itu adalah febbi.



"Eh febb."



"Lo baru dateng?"



Aleta mengangguk. "Hm baru aja."



"Sama siapa lo dateng, di anterin? Apa naik angkot?"



"Di anterin Alexi tadi neng Aleta." Sahut satpam itu.



Seketika membuat Aleta ingin sekali membunuh seseorang sekarang juga. Febbi menoleh ke arah Aleta. "Waaahhh Aletaaa... Jadian lo ya?"



Seseorang merangkul Aleta dan Febbi dari belakang. "Belum, tapi lagi proses."












Ya gini kalau lagi numpuk ide, bawaanya mau up terus hehe. dukung terus cerita Alexi ya terima kasih