
Alexi pergi meninggalkan begitu saja, Agam yang melihat sikap Alexi yang aneh hanya terdiam sembari berpikir kenapa Alexi bisa berubah seperti itu. Agam menghela nafas pasrah, ia memutuskan untuk berjalan menyusul Alexi untuk masuk kedalam kelas.
Jangan lupakan bahwa Alexi dan Aleta satu kelas! Tatapan bingung dari Aleta ke Alexi saat pria bertubuh proporsional itu baru saja sampai di dalam kelas. Sempat bertemu pandangan dengan Aleta, Alexi memilih membuang muka.
"Alexi kenapa let?" Tanya Febbi bingung, ternyata sedari tadi Febbi memperhatikan sikap Alexi yang berbeda.
Aleta menggeleng lalu memasang senyum palsu. "Gatau, mungkin dia lagi ada masalah kali feb." Kata Aleta berusaha tidak berpikiran jelek terhadap sang kekasih Alexi.
"Tapi let.. Dia itu gak biasanya loh kaya gitu sama lo."
"Iya sih... Nanti gue tanya dia pas istirahat deh."
Febbi hanya mengangguk paham lalu kembali fokus dengan kesibukannya. Kebetulan saat itu ada mata pelajaran olahraga dan kebetulan juga pelajaran itu dua jam dari mata pelajaran pertama yang berarti pelajaran itu akan berlangsung sampai istirahat.
Singkat cerita pelajaran yang di tunggu tunggupun akhirnya datang, Aleta dan seluruh kelasnya berganti pakaian menjadi pakaian khusus pelajaran itu.
Saat Aleta kembali bersama Febbi dari toilet berganti baju, Aleta berpaspasan dengan Alexi yang baru saja hendak keluar. Mereka berdua terdiam sampai akhirnya Aleta mengulas senyuman di wajahnya dan menyapa Alexi. "Hai lex? Kemarin lo langsung tidur?" Tanya Aleta basa basi.
Namun Alexi memasang wajah datar, berbeda sekali dengan Alexi yang Aleta kenal. Di mana Alexi sangat murah senyum dengannya. "Hm." Sesingkat itu jawaban dari Alexi, namun tidak membuat Aleta luntur senyumannya.
Aleta memutuskan untuk masuk kedalam kelas dengan merangkul lengan Febbi meninggalkan Alexi dkk. Saat Aleta menoleh ke belakangpu Alexi dkk sudah tidak ada.
Kini semuanya sudah berkumpul di lapangan dan berbaris rapi antara perempuan dan laki-laki. Jejeran baris Aleta dan Alexi tidak sengaja ternyata bersebelahan membuat Aleta sedikit senang. Aleta melirik Alexi dengan senyuman yang ia kulum namun dari wakah Alexi berbanding terbalik. Alexi cuek dan tidak memperdulikan Aleta.
Di saat Aleta hendak mengajak Alexi berbicara Alexi memanggil Agam dan menyuruhnya untuk pindah ke tempat Alexi berada, Agam sempat menolak namun akhirnya ia mau karena Alexi terus menerus memaksa.
"Hata let?" Sapa Agam setelah ia sudah bertukar dengan Alexi.
Jangan lupakan senyuman palsu Aleta. "Hai gam.." Sapa balik Aleta.
Mereka berdua kembali terdiam setelah bersapa karena sang guru mata pelajaran itu sudah datang dan mulai berbicara kepada anak anak muridnya.
"Pagi anak anak?" Sapa sang guru.
"Pagi pak.." Sahut semua murid.
"Hari ini kita akan bermain bola kecil, futsal. Semua yang cowo bagi kelompok masing masing tapi sebelumnya harus lari kelilig lapangan sebanyak 15 kali. Yang putri bisa ikut bapak ke lapangan sebelah main voli."
Anak murid lelaki menyiapkam diri untuk bermain futsal sedangkan anak murid wanita mengikuti gurunya untuk bermain bola voli di lapangan satunya yang terletak di tengah kelas 12.
"Aleta?" Panggil seseorang ketika Aleta tengah berjalan bersama teman temannya. Aleta menengok di sekelilingnya namun ia tidak bisa melihat orang yang tadi memanggilnya.
"Aleta?" Seorang perempuan yang di ketahui kakak kelas itu memanggil Aleta namun membuat Aleta terkejut.
Aleta menepuk nepuk dadanya karena ia terkejut. "Kenapa kak?"
"Lo mantannya Alexi kan?"
Pernyataan sang kakak kelas membuat Aleta melongok. "Apa?"
"Dia masih pacarnya kali kak." Timpal Febbi yang ternyata dari tadi ada bersama Aleta.
"Masa sih? Tapi Alexi deketin adek gue."
"Adek lo?"
Kakak kelasnya itu mengangguk. "Iya! Adek gue kelas 10 namanya Elin, dia cerita sama gue kalo dia lagi di deketin sama kakak kelas 11 namanya Alexi."
"Tapi gak mungkin kak, dia masih pacaran sama gue." kata Aleta.
"Tapi bentar, lo tau dari mana kak kalo Alexi pacaran sama Aleta?" Tanya Febbi.
"Semua pacar atau orang yang di deketin Alexi walupun itu diem diem, satu sekolah ini pasti tau kok."
Aleta dan Febbi menoleh satu sama lain. "Tapi beneran kak gue sama Alexi belum putus." Aleta mempertegas lagi.
"Emang ya tuh cowo playboy dari dulu. Lagian kok lo mau aja sih jadi pacar dia? Kalo tau gini gue bakal jauhin tuh adek gue sama si playboy! Yaudah gue cabut ya, thanks!" Kakak kelas itu pergi menjauh.
Febbi mengelus pundak Aleta. "Sabar ya let.."
Aleta menggeleng dan tersenyum. "Gapapa Feb.. Gue percaya Alexi gak kaya gitu.."
"Yaudah yuk, kita samperin yang lain." Febbi berusaha tidak mengatakan apa apa yang membuat Aleta sedih.
Singkat cerita, kini Aleta dan seluruh teman sekelasnya sedang beristirahat. Aleta dan Febbi memutuskan untuk berganti baju terlebih dahulu, karena mereka tahu toilet akan penuh jika mereka mengganti pakaiannya nanti.
"Kita ke kantin yuk let, laper nih.." Kata Febbi sembari mengelus perut ratanya saat mereka sudah selesai mengganti pakaian.
"Ayok, tapi kita taro baju dulu."
"Ok."
Setelah menaruh baju, Aleta dan Febbi berjalan sembari berbincang dan bercanda saat menuju kantin. Suasana kantin saat itu sangat ramai lebih tepatnya kantin memang setiap hari ramai. Baru saja hendak duduk di kursi dan meja yang di sediakan, Aleta melihat Alexi bersama teman temannya sedang dudk bersama di pojokan. Namun, tidak lama ada seorang perempuan menghampiri Alexi dan duduk bersama di samping Alexi. Alexi melihat Aleta sedang memperhatikannya, namun Alexi tidak memperdulikan Aleta. Agam yang melihat Alexi seperti itu menoleh ke arah Aleta, ia bisa melibat betapa sedihnya Aleta namun ia lun tidak bisa berbuat apa apa. Begitu juga dengan sahabat Alexi yang lain, tidak bisa berbuat apa apa dengan sikap Alexi yang sekarang.
Febbi datang membawa nampan berisi bakso di atasnya, duduk di depan Aleta membuat pandangan Aleta ke Alexi terhalang. Setidaknya Aleta bisa makan tanpa melihat wajah Alexi dengan wanita lain.
"Leta.." Brian datang menghampiri Aleta.
"Nguli! Ya makan lah... Lo lagi pake nanya." Kesal Brian. "Mas pesen bakso ya campur" Kata Brian ke pedagang bakso itu. Sata hendak menyapa Febbi, Brian melihat pemandangan yang membuat Brian mengepalkan tangannya kesal. Yah! Brian melihat Alexi, lebih tepatnya siapapun bisa melihat Alexi yang sedang bermesraan dengan orang lain.
Tanpa basa basi Brian hendak berdiri dan menghampiri Alexi namun Aleta menahan tangan Brian dan menatap Brian dengan tatapan memohon. Brian luluh, ia kembali duduk dengan wajah kesal namun kemudian menatap dalam Aleta. Seperti biasa Aleta tersenyum dan mengisyaratkan bahwa ia baik baik saja membuat Brian menghela nafas pasrah.
"Leta.." Brian sangat kasihan dengan Aleta.
"Tuh tuh.. Bakso lo dateng." Aleta mengalihkan pembicaraannya.
Bel berbunyi, semua warga sekolah kembali ke kelasnya masing masing, begitu juga dengan Aleta dkk. Kini Aleta kembali ke kekelasnya. Melihat Alexi tengah duduk bersama dengan sahabat sahabatnya. Aleta berbelok berjalan ke arah Alexi.
"Gue.. Mau ngomong sama lo sebentar." Kata Aleta ke Alexi membuat suasana hening di sekitarnya. Tanpa menunggu persetujuan Alexi, Aleta berjalan lebih dahulu keluar kelas.
Kini Aleta dan Alexi tengan berada di belakang sekolah, di mana tempatnya sepi cocok untuk berbicara empat mata. "Mau ngomong apa?" Kata Alexi.
"Gue pikirin apa salah gue sama lo, sampe lo diemin gue kaya gini? Tapi, sekeras apapun gue pikirin gue gak bersikap yang bikin lo tersingung atau marah kan lex? Kalo mungkin iya, tolong jelasin sama gue apa salah gue? Biar gue bisa memperbaiki! Bukan malah lo diemin gue gini lex.."
"Lo gak salah." Kata Alexi singkat.
"Kalo gue gak salah, tapi kenapa lo diemin gue kaya gini? Hah?" Kata Aleta menuntut jawaban. "Jawab lex!"
Drrtt.. Ponsel Alexi bergetar ia merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. Ada satu pesan masuk mampu membuat Alexi menghela nafas kasar.
Alexi menatap Aleta. "Denger! Lo gak salah. Apapun yang gua lakuin itu demi kebaikan kita. Jadi, tolong tahan. " Setelah berkata seperti itu Alexi pergi meninggalkan Aleta dengab keadaan bingung dan juga sedih.
Aleta berjalan kembali menuju kelasnya, namun tidak lupa memasang topeng baik baik saja sebelum menuju kelasnya. Saat baru masuk ke dalam kelas, Aleta melihat sebentat Alexi lalu kembali berjalan menuju bangkunya.
"Dari mana lo?" Tanya Febbi begitu Aleta datang dan duduk di sebelahnya.
"Nanya sama Alexi."
"Terus dia kenapa?"
"Ada kesalah pahaman aja kok feb."
"Serius lo?"
Aleta mengangguk. "Hm, serius."
Kini Aleta menoleh lagi ke arah Alexi, namun yang ia dapat Alexi tengah duduk bersama seorang wanita yabg di ketahui adalah adik kelas mereka. Entah sejak kapan si adik kelas itu datang ke kelas mereka.
Saat Aleta melihat Alexi dengan wanita lain, perasaan yang selama ini ia tidak pernah rasakan kini Aleta merasakan. Bagaimana hatinya terasa perih namun Aleta tidak bisa berbuat apa-apa.
Saat Alexi tengah berbincang dan bercanda dengan wanita di sampingnya, ia tidak sengaja melihat Aleta yang sedang memandanginya. Pandangan mereka bertemu, Aleta tidak langsung mengalihkan padangannya, ia malah menatap dalam Alexi dan memberi isyarat bahwa ia terluka! Ia tidak suka Alexi bersama wanita lain. Terlihat dari dua mata Aleta yang berair, cairan yang kapanpun bisa tumpah tanpa permisi.
Alexi memotong pandangan mereka, ia kembali fokus dengan wanita di sampingnya. Aletapun memutuskan untuk tidak lagi melihat Alexi. Aleta menghela nafas, Aleta sudah tidaj tahan di buatnya! Aletapun berdiri yang secara otomatis membuat bangku terdorong kebelakang. Aleta melakukannya dengan kasar, membuat fokus semua orang teralihkan oleh Aleta. Aleta berjalan dengan terburu buru keluar kelas. Aleta tidak tahu ingin kemana. Yang ia tahu ia harus meluapkan apa yang harus ia luapkan sekarang.
Saat Aleta tengah berjalan dengan posisi menundukan kepalanya dugh! Aleta baru saja menabrak seseorang. "Maaf." Kata Aleta tanpa melihat orang yang ia tabrak. Tidak ada jawaban dari orang yang Aleta tabrak, Aletapun memutuskan untuk kembali berjalan namun tangan kekar menahan dengan memegang pergelangan tangan Aleta.
"Lep.. As.. Kak Al?" Yup! Al. Orang yang di tabrak oleh Aleta adalah Al.
Melihat Aleta yang tengah menangis membuat Al terkejut. "Lo kenapa?"
"Gue gapapa." Aleta berhasil melepaskan tangannya yang tadi di pegang oleh Al.
Namun juga Al berhasil menangkap tangan Aleta lagi. "Ikut gua." Al menarik paksa Aleta.
"Eh mau kemana?" Al tidak menjawab pertanyaan Aleta, ia masih terus menarik Aleta yang berusaha melepaskan tangan Al dari tangannya. Namun nihil, tenaga Al dan Aleta tidak sebanding jadilah Aleta mempasrahkan akan di bawa kemana ia oleh Al.
Langkah kaki Al terhenti di ikuti oleh Aleta di belakangnya. Ternyata Al membawa Aleta ke atap sekolah. Al pun melepaskan tangannya dsri tangan Aleta dan mulai mentap Aleta lekat. "Kalau lo sedih, lo bisa nenangin diri di sini." Kata Al dengan masih menatap Aleta.
Aleta menundukan kepalanya. "Makasih kak."
Al mengangguk, ia memutuskan untuk pergi membiarkan Aleta sendirian di sana. Al tahu bahwa Aleta butuh ketenangan saat ini, karena Al tahu juga apa penyebab Aleta seperti ini.
Hendak pergi namun tiba tiba Al terpaku. "Alexi?"
Kata Alexi sukses membuat Aleta yang sedang melihat ke arah lain membalikan tubuhnya dan ia mendapati Alexi yang tengah berdiri menatapnya dan juga Al secara bergantian. "Alexi..?"
"Lo bisa pergi." Kata Alexi ke Al. Tanpa melawan Al menuruti kata Alexi dan pergi dari sana.
Setelah Al pergi, Aleta menatap Alexi dengan menahan air matanya. Ia mendekat ke arah Alexi yang masih terdiam, yang hanya melihat Aleta. Setelah sudah dekat dengan Alexi, entah mengapa Aleta terdiam tidak bisa mengatakan satu patah katapun membuat butiran bening dari matanya terjun tanpa permisi.
Alexi menyeka air mata Aleta lalu ia memeluk Aleta, Aleta tidak membalas pelukan Alexi bahkan ia tidak berekspresi sama sekali. Yang Aleta lakukan sekarang hanya diam membisu. Sepersekian detik pun akhirnya Alexi melepaskan pelukannya dari Aleta. Ia memegang kedua bahu Aleta dengan telapak tangannya yang kekar dan besar itu. Aleta melihat Alexi yang berbeda dari beberapa saat yang lalu, di mana Alexi yang kini di hadapannya memiliki beban yang banyak dan penuh kesedihan, terlihat dari mata Alexi yang berari dan sayu. Muka lelah Alexi yang seperti ini membuat Aleta tidak tega.
Sampai akhirnya Alexi membuka suara. "Aleta...? Kita harus selesai sampai sini."
"Maksud lo?" Aleta tak kuasa membendung air matanya.
"Gue mau kita putus."
yuk di kepoin ❤