
Alexi seperti biasa berangkat ke sekolah. Kali ini Alexi bersama kedua temannya yang Agam tidak termasuk di sana karena sakit ayahnya yang semakin hari semakin parah membuat Agam terpaksa untuk tidak bersekolah dulu hari itu.
Setelah sampai di sekolah, Alexi dkk memarkirkan motornya di parkiran di sekolah itu. Alexi membuka helmbya namun ia tidak beranjak dari motornya itu membuat Tristan dan Mon kebingungan. "Kenapa lex?" Tanya Mon.
"Gua kepikiran Agam." Kata Alexi.
Mon menghela nafas. "Iya lex, gua juga kepikiran sama Agam. Udah mau kenaikan kelas gini dia malah jarang masuk gara gara bokapnya sakit."
Alexi mengambil ponselnya yang ia simpan di tasnya. Alexi seperti sedang menghubungi seseorang di ponsel miliknya itu. "Halo." Sapa Alexi ketika telponnya tersambung. "Tolong ke rumah keluarga Agam. Iya bokapnya sakit, makanya gua minta tolong lo dateng kesana bawa dia kerumah sakit. Lo jangan bilang suruhan gua, gua yakin Agam pasti nolak. Lo bilang dari mana kek. Ok thanks!" Alexi memutuskan telponnya.
"Lo telpon siapa?" Tanya Tristan.
"Adeknya sekertaris bokap, dia jadi sekertaris gua mulai sekarang. Gua minta dia buat bawa bokapnya Agam ke rumah sakit. Lo tau sendiri lah kalo gua sendiri yang bawa dan bujuk Agam pasti bakal gak mau. Makanya gua suruh orang lain yang Agam gak kenal." Ujar Alexi.
"Biaya rumah sakitnya gimana kalo gua bantu?" Saran Tristan.
Alexi mengangguk menyutujui usulan Tristan. "Oke, gak jadi masalah."
Tiba tiba raut wajah Mon berubah. "Tapi sorry guys gua gak bisa ikut bantu patungan buat Agam. Gua aja spp masih nunggak. Mungkin kalo ini bukan sekolahan lo lex, gua udah gak bakal bisa sekolah di sini lagi."
"Lo ngomong apa sih Mon! Gosah melow gitu anjing geli gua! Emang gua sama Alexi minta lo patungan juga? Enggakan beybihh?" Ujar Tristan membuat Alexi mengglepak kepala Tristan.
"Homo anjeeengg!" Alexi tertawa. "Udeh lo gausah kaya sama siapa aja deh Mon, gausah sok sedih gitu sakit saya melihatnya." Ucapan Alexi membuat gelak tawa mereka semua.
"Thanks bro kalian udah mau bantu Agam. Secara di sini cuma kalian yang ekonomi keluarga kalian yang kelas atas, sedangkan gua sama Agam cuma bisa nyusahin lo berdua doang."
Alexi merangkul Mon. "Udah ayo lah Mon katanya lo mau ajarin gua lagi ngegombal. Eh tapi semalem chat gua gak di bales lagi sih sama Aleta." Kata Alexi sembari berjalan beriringan dengan Mon dan Tristan.
"Ya lo lagi lex! Aleta jijik kali lo gombal gitu." Celetuk Tristan.
"Ga mungkin lah! Gombalan gua itu gak receh ya!" Kata Mon tak terima.
"Emang gombalan lo receh bangsyaatt." Tristan berbicara dengan nada lebay.
"Lo mgomong begitu lagi, gua usir dari sini tan!" Acam Alexi.
"Iya maap bang." Lalu Tristan menutup mulutnya rapat.
_____________________________________
"Bos, sepertinya Felly sudah tau bahwa dia dengan Aleta adalah kembar." Ujar salah satu antek Neandro memberi tahu informasi yang ia dapat.
"Bagimana dia tau?" Tanya Neandro dengan nada berat.
"Felly bertanya tanya dari panti asuhan tempat ia dan dulu Aleta di rawat saat bayi."
"Baik! Kamu boleh pergi." Tintah Neandro dan langsung mendapat respon dari sang antek. Antek Neandro pun pergi dari ruangan neandro.
Neandro mengepalkan tangannya lalu tersenyum penuh arti. "Semakin seru." Ujarnya. Lalu ia meraih ponselnya yang berada di atas meja. "Bawa anak itu ke hadapan saya sekarang." Ujarnya dengan orang di sebrang sana. Neandro menutup telpon dan berdecih. "Sialan!"
______________________________________
"Katanya gak mau ikuuuttt." Kata Aleta meledek Brian.
"Emang di sana ada tante tante?" Tanya Aleta.
Brian seperti memikirkan sesuatu. "Gatau sih." Ujar Brian setelahnya.
"Alah lo sih alasan aja!"
"Bodo amat gua mau tidur!"
Ya mereka berdua sudah ada di dalam pesawat. Brian yang semalam berkata tidak akan ikut Aleta kembali ke indonesia malah nyatanya dari pagi pagi tadi Brian sudah sibuk menyiapkan koper untuk pulang saat itu. Aleta saja yang hampir bangun kesiangan di bangunkan oleh Brian. Sungguh orang yang plinplan tapi Aleta senang Brian ikut pulang bersamanya.
Aleta hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah laku Brian yang seprti itu. Brian adalah sosok orang yang sangat dewasa namun terkadang juga Brian akan sangat egois. Yah bisa di bilang Brian ini akan dewasa atau egois tergantung ke adaannya.
Brian tertidur. Aleta hanya terdiam memandangi keluar jendela. Hanya ada pemandangan awan awan dari sana, tidak ada yang spesial namun tetap terlihat indah karena awan awan itu saling menyatu. Tidak seprti ia dengan Alexi yang selalu di pisahkan. Ngomong ngomong tentang Alexi, Aleta benar benar tidak membalas pesan dari Alexi. Bukan tidak suka atau apalah, namun Aleta hanya bingung harus menjawab apa di tambah lagi Aleta tertutup oleh gengsi dan keadaan. Mengingat itu hanya membuat Aleta hanya mampu menghela nafas. Ia tidak tahu akan bagaimana kelanjutanya hubungannya dengan Alexi.
"Seandainya waktu itu gue gak jatuh cinta sama lo lex.." Gumam Aleta dengan nada lirih.
"Namanya juga jatuh cinta, lo pikir bisa milih jatuh ke orang yang mana!" Celetuk Brian dengan keadaan dengan tubuh yang masih membelakangi Aleta.
"Lah kunyuk katanya mau tidur?"
"Mana bisa tidur! Orang masih pagi." Brian membenarkan posisinya menjadi duduk.
"Alah biasanya juga lo tidur mulu kaya kebo. Eh tapi mana ada kebo kurus gini ya kaya teriplek?" Ledek Aleta lalu Aleta tertawa.
"Sialan lo! Sekurus itu apa gua?"
"Ya emang lo kurus. Nih liat nih! Paha lo aja sama paha gua masih berisian paha gua." Aleta menunjukan pahanya pada Brian sembari tertawa.
"Nanti kalo badan gua gemukan lo jangan jatuh cinta ya nyet!" Ujar Brian kesal.
"Yakali jatuh cinta sama orang modelan kaya lo!" Tangkas Aleta.
"Waktu lo kecil gua rasa lo dul suka gadoin cabe setan deh, keliatan mulut lo pedes!"
Bukannya marah Aleta malah tertawa. "Hahahha sialan lo! Masih mending ya gue doyan gadoin sesuatu, nah lo? Dulu kaga doyan makan makanya sekarang kuyuuusss." Aleta terus meledek Brian membuat Brian kesal.
"Alexi juga kurus tuh!"
"Ye mana ada Alexi kurus. Dia badannya proporsional ya sorry! Hahhaha." Aleta tidak bisa berhenti tertawa.
"Iya hina aku sepuasnya Aleta syucihh Brian penuh dosyaa."
Aleta memukul Brian. "Najis lo! Hahaha."
Terus tertawa Aleta ini yabg Brian mau. Di saat Aleta terpuruk sedih Brian adalah sosok yang paling tersiksa karena ia seperti adik atau kakak untuk Aleta. Di saat Aleta senang, Brian adalah orang pertama yang akan merasakan kebahagiaan Aleta seperti sekarang. Begitu juga saat Aleta sedang ada masalah atau sedih, Brian akan merasakan kesedihan itu. Maka dari itu untuk saat ini Brian ikhlas jika ia di jadikan bahan olok olokan Aleta. Tunggu saja tanggal mainnya Brian akan membalas. T_T
______________________________________
Al flashback akan di next chapter minggu depan. selamat berakhir pekan besok!! terima kasih❤