
"Eyang?" Suara berat khas Alexi menyelunup masuk kedalam telinga Neandro. Saat itu Neandro sedang berada di ruang kerjanya yang siapapun sebenarnya di larang untuk memasuki ruangan tersebut. Karena apa? Karena Neandro akan dua kali lipat lebih kejam dari biasanya. Alexi sengaja masuk ke dalam ruangan itu, salah sendiri kenapa tidak ada penjaga di luar ruangan.
Saat Neandro tengah duduk dan membaca sebuah dokumen, ia pun melirik ke arah Alexi. Neandro tersenyum ke arah sang cucu. "Kau sudah datang cucuku?"
"Iya eyang."
"Duduk lah."
Melihat wajah Alexi yang tidak seperti biasa, membuat sang eyang Neandro penasaran. "Kau kesal?"
"Ya. Seharusnya eyang tidak perlu melakukan hal itu. Eyang hanya perlu menelpon Alexi dan meminta Alexi untuk datang menemui eyang. Alexi akan datang, tidak perlu di seret seperti rentenir yang sedang membawa paksa orang yang berhutang." Ujar Alexi panjang lebar.
Neandro tertawa. "Itu karena kamu tidak menuruti eyangmu."
"Alexi butuh waktu eyang. Itu semua tidak mudah!"
"Eyangmu ini sudah memberimu waktu Alexi.."
"Eyang? Alexi tidak pernah melawan apa kata eyang. Benar kan? Jadi tolong beri Alexi waktu. Alexi tidak bisa begitu saja melakukannya."
Neandro beranjak dari kursinya dan menghampiri Alexi dengan duduk di kursi single. "Kau tidak mau menanyakan wanita itu?"
Dahi Alexi mengerut.
"Kau tidak penasaran dengan cinta pertamamu Alexi? Dia masih hidup! Kau tidak senang?" Neandro malah mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah eyang.. Alexi hanya sedang bingung..." Alexi menundukan kepalanya.
"Mau eyang ceritakan sedikit?"
"Tidak perlu eyang.. Oh ya? Apa Alexi bisa pulang sekarang? Alexi lelah mau istirahat eyang.."
Neandro tersenyum dan mengangguk. "Ya boleh cucuku. Maaf kan eyangmu ini atas kejadian tadi."
"Iya tidak papa eyang. Kalau begitu Alexi pamit." Alexi pun pergi meninggalakan Neandro. Saat ia baru saja keluar dari ruangan sang eyang. Felly yang tengah menunggu sedari tadi, mengaggetkan Alexi. "Felly?"
"Mau makan siang bareng?" Tanya Felly sembari tersenyum.
"Aku capek Fell." Alexi hendak pergi namun lengannya di tahan oleh Felly.
"Tunggu! Ayo lah lex.. Anggap ini perayaan pertemuan kita setelah satu tahun.." Felly menatap Alexi dengan tatapan memohon.
"Ok."
"Yess! Kamu mau makan siang di mana?" Tanya Felly antusias.
"Terserah, aku ikut aja." Alexi berjalan lebih dulu dari Felly.
______________________________________
"Aletaaaaaa............!!!" Bryan berteriak di depan kamar Aleta setelah Bryan mengetahui Aleta belum kunjung keluar kamar dari sewaktu pulang sekolah.
"Brisik b*bi!" Kata Aleta dari dalam.
"Tanteee...! Aleta ngomong kasar nih..! Pukul mulutnya tante nanti tuman..." Kata Bryan teriak mengadu ke tantenya itu, sedangkan ibu Aleta hanya tertawa melihat Aleta dan Bryan seperti itu.
Cklek! Aleta membuka pintu kamarnya. "Gandeng wae! Minggir!" Aleta menggeser posisi Bryan yang menghalangi jalannya.
Sedangkan Bryan hanya mengangkat ibu jarinya sembari menyengir kuda. "PanutanQ! Tantee.. Aleta gak lagi galau kok, terbukti dengan adanya macan di dalam tubuh Aleta.." Bryan kembali berteriak.
"Brisik lo ah!" Aleta membentak Bryan. Aleta kini sedang di meja makan. Niat hati ingin makan siang, ternyata saat Alexi membuka tudung saji tidak ada makanan yang tersisa. "Mah? Kok ini makanan gak ada?"
Bryan datang dan duduk dengan santainya. "Abis dong sama gua.. Ya lagian lo siapa suruh di kamar mulu?"
Aleta memutar bola matanya malas. "Ck! Lo kemasukan jin mana ampe ngabisin makanan banyak gitu?" Tanya Aleta tidak habis pikir.
"Jin laper kali, apa.. Jin.. Perantau? Atau jin kos kosan?" Canda Bryan.
Dugh! Aleta memukul kepala Bryan. "Tanggung jawab gue laper niiihhh!"
"Yaudah yuk aa teraktir makan, sekalian aa Bryan juga mau makan lagi hehe.. Neng leta mau makan apa nih? Mumpung dompet gak pernah kempes.." Kata Bryan yang membuat Aleta malas.
"Ngomong begitu lagi gue tampol ya." Aleta mengambil ancang ancang ingin menampar Bryan.
"Ok. Tunggu!"
_____________________________________
"Gimana? Masakan di sini enak kan lex?" Tanya Felly, ia bertanya dengan mulut yang penuh dengan makanan.Felly dan Alexi saat itu sedang makan siang di restoran terkenal di jakarta atas usul Felly, Alexi hanya ikut saja.
"iya. Kamu tau dari mana restoran ini?"
"Aku liat di media sosial lex. Restoran ini banyak banget yang ngerekomendasiin. Awalnya aku pikir, aku ga akan bisa nyobain atau sekedar mampir ke restoran ini.." Tiba tiba Felly menjadi sentimental.
"Yaudah. Lagian sekarang kan udah kesampaian." Alexi tersenyum.
Felly ikut tersenyum. "Lex...?"
"Iya kenapa?"
Felly menghela nafas. "Aku rindu kamu lex.."
Alexi terdiam, ia juga berhenti makan setelah mendengar kata kata dari Felly. "Fell.."
"Maaf.. Maafin aku yang malah milih uang eyang kamu dan pergi dari kamu." Felly menunduk.
"Maksud kamu?"
"Aku gak pernah kecelakan Lex.. Gak pernah! Yang waktu itu sama Al bukan aku tapi orang lain. Saat itu aku lagi di rumah eyang kamu, aku lagi di intimidasi sama eyang kamu. Karena aku gak mau ngejauhin kamu. Karena aku miskin! Karena aku orang susah! Aku tergeiur sama apa yang eyang kamu iming imingin ke aku!" Felly mengambil nafas sejenak. "Tepat saat Al kecelakaan, eyang kamu dapet kabar dari om Brata ayah Al. Di sana eyang kamu seperti ingin melakukan sesuatu, dia nyuruh aku untuk tinggal dan sekolah di luar negri. Dan nyuruh aku untuk engga balik balik lagi ke indonesia. Aku nurutin apa yang eyang kamu bilang, karena ada imbalannya cukup buat siapapun terhipnotis. Akhirnya tepat saat Al kecelakaan aku pergi keluar negri. Aku tinggal sendiri di sana, di apartemen yang cukup mewah. Fasilitas aku emang terjamin, apa apa udah eyang kamu yang hendel aku tinggal duduk manis aja. Lex.. Aku cewek matre! " Jelas Felly panjang lebar.
"Tunggu! Jadi yang kecelakaan sama Al itu bukan kamu?"
Felly menggelengkan kepalanya. "Bukan lex.. "
"Terus dia siapa? Siapa wanita itu?"
"Aku juga gak tau lex.."
"Berarti selama ini Al tau dong, kalau kamu gak mati? Kenapa Al diam aja?" Alexi cukup emosi saat ini. Namun, ketika sedang cukup emosi, Aleta bersama Bryan tidak sengaja melihat Alexi bersama Felly.
"Alexi?"
Alexi menoleh ke arah Aleta. Mata Aleta begitu sendu. "Aleta?"
"Lo kok sama cewe lain lex?" Tanya Bryan, sebenarnya Bryan sudah kesal namun di tahan oleh Aleta.
"Bryan, lo duduk dan pesen duluan aja. Gue harus ngomong dulu sama Alexi." Kata Aleta berusaha meyakinkan Bryan. Bryan pun menuruti Aleta, ia pergi menjauh untuk mencari tempat duduk yang kosong. Saat Bryan sudah pergi, baru lah Aleta mulai kembali pembicaraan dengan Alexi.
"Kita bisa gak, ngomong berdua aja?" Tanya Aleta.
Alexi menoleh ke arah Felly seolah bertanya karena terlihat dari Felly yang mengangguk seperti mengijinkan Alexi untuk berbicara dengan Aleta.
"Fell? Aku keluar sebentar." Setelah mengatakan itu, Alexi memegang tangan Aleta dan menarik Aleta ke luar dari restoran itu. Setelah sampai di luar, Aleta menghempas tangan Alexi yang memegang tangannya.
"Aleta.."
"Itu Felly kan lex?"
Alexi menunduk, ia tidak berkata apa pun.
"Jawab Alexi!"
"Iya."
"Lo bilang dia udah meninggal, ini apa? Dia masih hidup dan sehat lex!"
"Gua juga gak tau, Tiba tiba dia dateng."
"Berarti dia juga yang tadi dateng jemput lo di rumah? Iya lex?"
"Iya."
Aleta tertawa, namun air matanya tidak bisa membohongi. "Oh pantes. Kamu lebih milih pulang bareng dia, dari pada nemenin aku." Aleta menatap Alexi yang kini tifak berani menatapnya. "Ternyata itu bukan mimpi lex. Bukan! Itu petunjuk, bahwa akan ada badai di hubungan kita."
Halo semua!! kalo di sana ada kalimat yang harusnya Brian tapi di tulis Bryan. itu karena yang nulis beda org yaa, mau di ganti tapi udah terlanjur. jadi keep enjoy aja ya guyss