ALEXI

ALEXI
ALEXI - 46. SIAPA ITU ANGGUN



"Felly?" Felly yang kala itu tengah fokus pada ponselnya menoleh ke arah sumber suara. Saat Felly menoleh, Felly bisa melihat sosok Aleta yang kini tengah berdiri di sampingnya dengan wajah tanpa ekspresi. Di belakang Aleta ada Brian yang ikut serta datang ke sana.


"Duduk." Titah Felly ramah pada Aleta dan juga Brian.


"Jadi lo ada bukti, kalo kita itu ada hubungan darah?" Tanya Aleta begitu ia duduk yang di susul Brian yang duduk di sebelahnya.


Felly mengangguk. Ia meraih tasnya dan Felly seperti mencari sesuatu di sana. Cukup lama Felly mengobrak abik isi tasnya namun barang yang ia cari tak kunjung di temukan. Aleta yang melihatnya sudah tak sabar, jika seperti ini Aleta merasa bahwa ia di permainkan oleh Felly.


"Mana?" Tanya Aleta.


"Sebentar." Kata Felly sembari masih membongkar seluruh isi tasnya. Lalu ia melihat Aleta dengan wajah khawatir. "Aleta.."


"Kenapa?"


"Bukti kalo kita itu sedarah hilang let.."


"Apa?! Felly! Kalo emang gak ada bukti ngomong aja! Lo ngada ngada kan?!" Aleta meninggikan Volume suaranya.


Felly menggelengkan kepalanya. "Engga Aleta! Sumpah! Gua gak bohong!" Felly berkata dengan wajah memohon supaya Aleta percaya, namun Aleta sudah terlanjur marah pada Felly.


Aleta hannya menggelengkan kepala seraya dengan helaan nafas kekecewaan, Aleta bangun dan memutar tubuhnya lalu pergi menjauh dari Felly. Sampai Aleta tidak menyadari bahwa ia kesana bersama dengan Brian yang masih terduduk menatap Felly.


Kini Felly mengalihkan pandangannya pada Brian yang tengah menatapnya. "Lo.. Mungkin gak percaya.." Felly menundukan wajahnya. "Tapi ini beneran, gue taro terus itu hasil DNA di tas ini." Felly berusaha terus meyakinkan Brian.


"Gua percaya sama lo. Tapi Aleta susah untuk percaya sama orang." Ujar Brian.


Felly mengangguk paham. "Iya.. Mungkin gue juga kalo ada di posisi Aleta bakal gak percaya."


"Tapi.. Lo serius hasil DNA itu nunjukin lo sama Aleta itu saudara? Tapi gimana caranya?"


"Sebenarnya..."


Flashback on


Gue waktu itu dateng ke rumah Aleta waktu Aleta sama lo lagi sekolah. Gue dateng kerumah lo karena gue mastiin sesuatu, yaitu Anggun. Yah Anggun itu sahabat gue, dulu dia tinggal di jakarta sama neneknya yang sekarang udah meninggal, itu terakhir gue denger dari seseorang yang kenal sama Anggun. Dan orang tua Anggun itu tinggal di bandung. Gue gak pernah ketemu langsung sama nyokapnya atau bokap Anggun, dia cuma ngasih foto bokap nyokapnya yang lagi gendong dia waktu kecil. Waktu di mana.. Gue sama eyangnya Alexi di tuntut untuk pindah dan menetap di luar negri, gue ga dapet lagi kabar dari Anggun. Sampai sekarang gue balik, gue gapernah sekalipun gak sengaja ketemu Anggun atau Anggun nyari keberadaan gue atau ngabarin. Gaada. Sampai di mana gue di suruh jemput Alexi di rumah Aleta gue lihat kalau rumah yang lo dan Aleta tempatin itu, di tempatin dulu sama Anggun. Gue penasaran, siapa tau penghuni baru yaitu kalian kenal sama Anggun dan tau Anggun pindah kemana. Tapi.. Waktu orang rumah buka pintu gue lihat di mana orang itu bener bener gak asing banget buat gue. Gue beraniin buat nanya.


"Perimisi." Kata gue.


"Iya kenapa? Temennya Aleta? Eh kok kamu mirip Aleta ya?" Kata nyokap sambil ketawa.


Gue senyum. "Iya saya temennya Aleta tante." Gue diem dulu merhatiin muka nyokapnya Aleta yang familiar. "Tante.. Aku boleh tanya gak?" Tanya gue kemudian.


"Tanya apa? Eum masuk dulu." Nyokap Aleta mempersilahkan gue masuk dan akhirnya gue sama nyokap Aleta masuk dan duduk di sofa di teras rumah.


Gue bingung. "Itu tante.." Gue cuma takut kalau ternyata nyokap Aleta itu gak tahu.


"Kenapa? Ngomong aja."


"Anggun.." Waktu gue ngeluarin nama itu, muka nyokap Aleta berubah. "Apa tante kenal Anggun?" Gue lanjutin omongan gue yang gantung.


"Kamu kenal dia?" Nyokap Aleta balik nanya dengan nada yang dingin, tapi penuh dengan luka dan rasa bersalah dari cara nyokap Aleta ngomong.


Gue cuma ngangguk.


Nyokap Aleta ngehela nafas dalem banget, seperti emang dia itu mau menceritakan masalah Anggun ini tapi dia gak tau harus ngomong sama siapa.


"Anggun anak saya." Satu kalimat itu yang bikin gue bener bener kaget, gue udah duga itu nyokap Anggun. Kaget bercampur senang gue rasa, karena gue pikir gue akan ketemu lagi sama Anggun. Tapi, gue liat nyokap Aleta aka Anggun ini malah murung.


"Tante... Gapapa?" Gua tanya sambil menyentuh pundaknya.


Tante lo natep gue dengan raut wajah sedih dan mata yang berkaca kaca. "Tapi.. Anggun sudah gak ada nak.." Setelah ngucapin itu, gue gak percaya. Gue bener bener gak percaya. Anggun meninggal? Gamungkin!


"Apa? Terus Anggun di makamkan di mana tante..? Lalu Aleta..?"


"Aleta bukan anak saya. Setelah saya mengadopsi Aleta dan memfokuskan perhatian saya pada Aleta, Anggun saya titipkan pada neneknya yang tinggal di sini. Bukan tanpa alasan saya menitipkan Anggun pada neneknya atau bisa di bilang saya membuang Anggun saat itu. Padahal itu adalah kesalah saya, tapi saya malah melampiaskan pada Anggun yang masih kecil. Saat saya di hubungi oleh lelaki tua kaya raya, bahwa anak saya sudah meninggal karena kecelakaan bersama cucunya, dan menyelesaikan masalah dengan uang yang banyak. Saya bodoh! Saya tergoda dengan uang! Saya tidak memperdulikan Anggun! Dia di rawat dimana? Bagaimana mengurus zenazahnya? Anggun akan makamkan dimana? Saya tidak perduli! Karena lelaki tua kaya raya itu meminta saya untuk melakukan seolah tidak terjadi apa apa dengan imbalan uang yang banyak. Bahkan sampai sekarang saya tidak tahu di mana tempat peristirahatan terakhir Anggun! Saya adalah ibu yang bodoh! Orang tua yang tolol! Anggun maaafkan mamah sayang." Dia histeris, nangis gak henti henti karena merasa bahawa dirinya hina dan berdosa telah membuang dan tidak memperdulikan Anggun saat itu.


"Tante adopsi Aleta di mana?" Entah kenapa gue nanya itu sama tante lo, yang seharusnya gue ngasih kalimat kalimat penenang buat tante lo, gue malah nanya hal yang di luar kendali gue.


"Kenapa kamu tanya itu?" Dengan nafas yang tidak teratur tante lo nanya sama gue.


"Saya juga anak yang di besarkan dari panti asuhan tante.." Jawab gue.


"Jadi lo juga dari panti asuhan." Tanya Brian memotong pembicaraan Felly.


"Tunggu gue selesaiin cerita dong.." Felly membentak Brian.


"Ok."


"Saya juga anak yang di besarkan dari panti asuhan tante.."


Wajah tante lo kaget banget. "Aleta saya adopsi dari panti asuhan kasih bunda harapan. Dia saya adopsi saat Aleta masih bayi." Tapo tiba tiba ekspresi wajah tante lo berubah dan natap gue dengan tatapan yang sulit di artikan. "Tante inget! Kalau waktu tante mau adopsi Aleta, tante di kasih tau kalau Aleta punya kembaran... Jangan jangan kamu..?"


kamu apa hayoooo?😂