
"Suka lo... "
Saat kalimat itu keluar dari bibir Alexi, seketika pipi Aleta memanas dan mengakibatkan pipinya memerah seperti kepiting rebus. Aleta menahan malu dengan mengalihkan pandangannya dari Alexi, ia tidak berani mengatakan satu patah kata pun.
Namun Aleta malah tertawa garing, menutupi kecanggungan di antara mereka berdua. Terus terang saja Aleta juga sedang mengontrol detak jantungnya yang benar benar berdetak kencang.
Sedangkan Alexi tengah menunggu dan melihat respon dari Aleta, sempat kecewa karena Aleta malah tertawa dengan ucapan yang ia lontarkan tadi. "Kenapa ketawa?" Hanya itu yang bisa di tanyakan oleh Alexi. Apakah pernyataannya tadi di anggap lelucon oleh Aleta? Oh ayolah Aleta perasaan Alexi tidak sebercanda itu.
"Ya... Lagian lo becanda aja lex gak lucu tau gak." Kata Aleta dengan masih tertawa. Sebenarnya Aleta juga tidak tahu mengapa ia malah tertawa, tetapi sudahlah yang terpenting sekarang adalah tidak ada kecanggungan di antara mereka berdua itu yang Aleta pikirkan. "Mana mungkin.."
"Mungkin!" Alexi memotong perkataan Aleta, ia sudah tau kalimat apa yang akan di lontarkan oleh Aleta.
Aleta sedikit terkejut karena Alexi tiba-tiba memotong pembicaraan dengan nada agak sedikit tegas. Namun Aleta berusaha biasa saja. "Lo mungkin berpikir tentang gua yang gak bakal bisa sama satu wanita. Tapi lo salah! Gua bisa, cuma... Gua gak pernah nemuin wanita yang bikin gua bener bener jatuh." Aleta hanya diam mendengar kalimat demi kalimat yang Alexi ucapkan. "Kalo orang bilang gua playboy, mereka gak salah mereka bener! Gua playboy. Itu pernyataan yang gak bisa gua elak, karena itu fakta. Gua tau gua salah! Cara gua salah! Tapi gua cuma..." Alexi tidak melanjutkan omongannya.
"Cuma apa?"
"Cuma..." Ada sedikit jeda saat Alexi ingin mengucapkannya. Drrrrrrtttt! Handphone Aleta berbunyi ia dengan sesegera mungkin mengambil ponselnya itu dari kantong celana jeans yang ia kenakan. "Sebentar." Ujar Aleta ke Alexi lalu mengangkat telpon dari nomor baru yang tidak Aleta kenal.
"Halo?"
"Halo leta."
"Ini siapa ya?"
"Brian, leta..."
"Brian? Loh lo ganti nomor?"
"Hm. Lebih tepatnya sih ganti hp juga, soalnya hp yang lama ilang nih. Oyah lo apa kabar?"
"Oh.. Baik kok."
"Good good. Oyah tante Ren udah ngasih tau?"
"Nyokap gue? Engga dia belum bilang apa-apa. Emang ada apa?"
"Lah buset tante Ren..! Besok gua ke jakarta."
"Ngapain lo? Jangan bilang lo mau numpang di rumah gue?"
"Haha yoi lo tau aja."
"Emang LA udah membosankan nih sekarang?"
"Hahaha engga juga sih, malah lebih enak di LA banyak bule pake bikini."
"Ye najisin lo! Gue kira lo udah engga mesum."
"Sialan lo! Udah lah pokoknya besok gelar karpet merah, soalnya cowo tampan ingin berkunjung."
"Karpet merah pala lo! Cowo tampan pala lo! Berkunjung pala lo! Mau numpang juga lo dasar. Ck!"
"Calm down, calm down hahahha... Bye..!"
Lelaki yang di ketahui bernama Brian itu menutup sambungan telphonenya. Membuat Aleta sedikit kesal, terbukti sekarang kini Aleta tengah komat kamit di hadapan ponselnya itu. Lalu apa kabar dengan Alexi? Dari sewaktu ponsel Aleta berdering dan berbicara dengan entah siapa Alexi tidak tahu, ia hanya diam dan memperhatikan Aleta yang sedang berbicara.
Menurut Alexi, kecantikan Aleta bertambah setiap kali Aleta berbicara dengan nada kesal, entah kenapa Alexi juga tidak tahu. Yang Alexi tahu adalah wanita yang sekarang ada di hadapannya ini sangat cantik. Alexi hampir terhanyut dengan kecantikan Alami yang Aleta miliki, tidak pernah berdandan tapi masih terlihat menawan dari sisi manapun.
Mungkin pada awalnya orang yang baru mengenal Aleta menganggap ia galak dan cuek, tetapi sebenarnya Aleta sangat baik dan perhatian. Namu, Alexi belum bisa seratus persen membuktikan itu semua karena Aleta belum sepenuhnya membuka diri untuk Alexi.
"Alexi?" Aleta mengayun tangan kirinya ke kiri dan ke kanan di depan wajah Alexi yang tengah diam memandangin Aleta. Aleta menghela nafas lalu memegang bahu Alexi pelan tetapi tetap membuat Alexi terkejut.
"Eh? Kenapa?" Kini Alexi sudah sadar dari lamunannya.
"Sorry gue tadi ngobrolnya agak lama."
"Engga apa-apa."
"Abis ini kita mau pulang aja atau... Mau naik wahana yang lain?"
"Alexi lo bengong mulu sih?!"
"Eh sorry, tadi lo ngomong apa?"
Aleta menghela nafas kesal. "Mau naik wahana lain atau pulang?" Aleta mengulang pertanyaannya.
"Kita makan dulu baru pulang."
"Al pulang."
Al baru saja menginjakan kakinya di rumah besar milik ibu dan ayahnya itu. Al berjalan dengan malas saat melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua rumah itu. Al sengaja pulang lebih awal dari ayahnya, menghindari ayahnya yang pasti saat melihat Al akan merasa kesal lagi.
"Al sayang kamu udah pulang, mamah pikir kamu gak akan pulang sayang." Ujar ibunya saat mendapati Al sudah sampai di rumah.
Nency, ibu Al memang sangat menyayangi Al walaupun Al bukan lah anak kandungnya, tetapi menurut Nency Al adalah segalanya bahkan ia rela kehilangan apapun demi Al.
Dengan terpaksa Al memasang senyuman. "Al ke kamar dulu ya mah."
Ibunya mengangguk. "Iya sayang, nanti makanannya mamah antar ke kamar kamu. Sekarang kamu mandi dan istirahat ok?" Nency mengelus sayang Al.
"Iya mah." Al pun berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Nency yang masih diam menatap ke arah anak semata wayangnya itu. Nency tahu! Tahu sekali bahwa seulas senyuman yang ada di wajahnya palsu, sangat palu. Nency bisa merasakan betapa tertekannya Al hidup di keluarga Early. Walaupun pada dasarnya Al bukanlah darah keturunan Neandro.
Nency menitihkan air matanya, ia sedih mengapa anak yatim piatu yang pernah tinggal di panti asuhan malah mengalami nasib seperti ini. Kekayaan yang sekarang ia dan Al nikmati bukanlah kekayaan Nency, melainkan kekayaan suaminya yang di turunkan oleh sang mertua. Tetapi tetap saja, mengapa hidup begitu tidak adil kepada Al.
Ting...dong....
Bunyi suara bel di rumah membuat Nency yang kala itu sedang menangis terkejut, dengan segera ia menghapus air matanya dan membuka pintu utama. Setelah pintu rumah itu terbuka, Nency membulatkan matanya ia terkejut dengan tamu yang datang ke rumahnya sore itu.
"Sore menantuku." Itu Neandro, mertua Nency yang sangat membenci anaknya, Al.
Dengan sedikit mengulas senyuman di depan sang mertua, Nency menyapa balik. "Sore pah, silahkan masuk." Nency mempersilahkan sang mertua masuk ke dalam rumahnya.
Neandro pun masuk dan berjalan di bantu oleh tongkat yang selalu ia bawa. Neandro datang pun tidak pernah sendiri, ia selalu datang dengan sekretarisnya kemana pun ia pergi. Sekretaris Kepercayaanya itu pun sedikit membantu Neandro berjalan sampai menuju ruang tamu.
"Saya kaget karena papah datang tiba-tiba ke rumah kami." Ujar Nency dengan formal dan nada lembut.
"Haha, maafkanku jika membuatmu terkejut Nency."
Nency tersenyum. "Tidak apa-apa papah, rumah ini selalu terbuka untuk papah. Jadi, kapan pun papah bisa datang."
"Sebenarnya saya juga tidak berniat untuk datang kesini." Lelaki paru baya itu tersenyum remeh membuat Nency terdiam dan kesal. Namun, sebisa mungkin Nency mengatur ekspresinya dan juga emosinya.
"Sebentar saya akan panggilkan pembantu saya untuk membuatkan minuman untuk papah." Nency mengalihkan pembicaraan. "Bibi!" Panggil Nency ke salah satu pelayan rumah itu, dan munculah satu wanita yang terbilang masih cukup muda ke hadapan Nency. "Iya nyonya?" Tanyanya dengan sopan. "Buatkan teh untuk mertua saya."
"Baik nyonya." pelayan rumah itupun pergi kembali ke dapur membuatkan pesanan yang di minta sang nyonya.
"saya tidak akan berbasa basi lagi menantuku." Nency diam memperhatikan yang akan di ucapkan sang mertua. "Setelah lulus, Al akan ku masukan ke universitas di luar negri."
"Untuk apa pah? Di sini banyak universitas yang bagus."
"Al harus belajar di luar negri."
"Apa papah sudah berbicara dengan mas Brata?"
Neandro tertawa. "Hahaha.. Nency nency kau sangat naif ternyata. Brata akan mengikuti apapun yang saya perintahkan, kau tidak perlu khawatir menantuku."
"Papah berniat untuk mengasingkan Al?"
"Oh, kau sudah paham rupanya. Hahaha.. Sungguh menantuku yang pintar."
"Kenapa papah sangat membenci Al?"
"Karena dia bukan keturunanku!"