
"Aku atau dia Fell?"
Seketika suasana menjadi mencengkam, Felly tidak tahu harus berkata apa, ia diam seribu bahasa seolah bibirnya sudah di kunci rapat rapat.
"Alexi!" Al sedikit membentak guna menggertak Alexi, namun itu tidak mempan. Mata Alexi yang penuh amarah masih setia menatap Felly yang kini sedang menunduk.
"Jawab aku Fell!" Alexi mulai meninggikan nada bicaranya, membuat Felly tersentak.
"Alexi! Ini bukan salah Felly."
"Lo diem aja ya brengsek!" Al menujuk nujuk Al.
"Aku..." Felly mulai membuka suara, membuat Alexi maupun Al menoleh ke arahnya. Dengan berani Felly menatap Alexi yang kini tengah menatapnya juga. "Aku... Suka kak Al tapi aku juga gak mau kehilangan kamu lex.. "
Alexi menghela nafas kasar. "itu bukan jawaban Fell, aku suruh kamu pilih! Aku atau lelaki brengsek ini?!"
Felly meraih tangan Alexi lalu menggenggamnya. "Maaf lex, aku pilih kak Al. Sebenarnya... Aku lebih dulu kenal sama kak Al dari pada sama kamu."
"Terus... Kalo kamu lebih suka sama dia, kenapa kamu terima aku fell? Kenapa?"
Dengan keadaan masih menggenggam tangan Alexi, Felly menunduk merasa bersalah kepada Alexi karena telah menyakiti hatinya. "Maafin aku lex... Aku salah."
Alexi melepas tautan tangannya dengan Felly lalu menggelengkan kepalanya. "Kamu gak perlu minta maaf fell, aku ngerti perasaan emang gak bisa di paksa." Perkataan Alexi membuat Felly kembali menatapnya. "Kalo kamu mau sama dia silahkan, tapi.. Kalo dia nyakitin kamu, datang lagi ke aku fell aku bakal nerima kamu lagi dengan senang hati." Setelah berkata seperti itu, Alexi pergi meninggalkan Felly yang masih terdiam di tempat. Langkah kaki Alexi terhenti ketika ia ingin melewati Al. "Dan lo! Gua pastiin bakal ngerebut dia lagi dari tangan lo." Alexi berbisik di telinga Al. Alexi melangkah pergi namun Al menahan. "Denger gua! Gua itu gak.."
"Gua gak ada waktu dengerin ucapan lo!" Alexi memotong ucapan Al lalu pergi berlalu dari rumah besar itu.
Flashback versi Alexi sudah and, lanjutan dari flashback akan ada di versi Al. Jadi tunggu ya flashback versi Al, di sana semua yang menggantung akan terjawab.
Hahhh... Alexi menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia tidak ingin mengingat ingat lagi tentang Felly. Pasti banyak yang bingung tentang hal yang di ketahui Alexi, contohnya seperti apakah Alexi tahu siapa yang menyebabkan kecelakan Felly yang mengakibatkan Felly harus meregang nyawanya? Jawabannya adalah Alexi tidak tahu. Ia tahu bahwa Felly kecelakaan dan meninggal, namun sampai sekarang Alexi tidak tahu apa penyebabnya. Ia hanya tahu Felly meninggal karena saat itu ia sedang berada di mobil yang Al kendarai. Namun, untuk kronologis cerita itu sendiri Alexi tidak tahu. Lagi pula bagaimana Alexi bisa tahu, Alexi sendiri saja masih egois untuk mendengar cerita dari Al.
Kini Alexi mengenyampingkan dulu masa lalunya yang menbuat sakit kepala itu. Kini tiba tiba saja Alexi teringat dengan Aleta yang sekarang berseatus sebagai pacarnya itu. Alexi mengambil ponselnya lalu mencari cari kontak bertuliskan nama Aleta.
From me :
Aleta?
From Aleta :
Iya lex?
From me :
Lo lagi apa?
Belum tidur?
From Aleta :
Belum nih, gue lagi belajar.
Lo sendiri?
Lo gak belajar?
From me :
Tadinya sih mau belajar
Tapi gak fokus
From Aleta :
Gue saranin mending sekarang lo belajar.
From me :
Gak bisa.
Makanya jadi orang jangan cantik cantik amat.
Bikin orang gak fokus aja
Bikin orang jatuh cinta aja
Hehehe
From Aleta :
Gak lucu ya!
From me :
Haha iya iya.
Gawat deh kalo ibu negara udah marah.
Yaudah gua belajar nih.
From Aleta :
Haha nah gitu
Yaudah semangat belajarnya.
Btw abis belajar gua suka langsung tidur
Jadi kalo chat lo gak gue bales berarti gue udah tidur.
From me :
Siap ibu negara
Yaudah lanjut sana belajarnya
Gua juga mau belajar nih
Bye bye❤
Aleta menaruh ponselnya di pinggir buku buku yang kini memenuhi meja belajarnya. Ia tidak bisa menahan senyumannya karena sebuah emotikon terakhir yang di berikan Alexi membuat Aleta salah tingkah. Bisa di maklumkan karena ini kali pertamanya Aleta mempunya pacar, karena selama ia tinggal di bandung Aleta tidak pernah punya pacar bahkan tidak pernah suka siapa-siapa akibat terlalu fokus belajar.
Tok..tok.. Suara ketukan pintu dari luar pintu kamar Aleta. "Leta mamah masuk ya..." Ibu Aleta bertanya dari balik pintu. "Iya mah masuk aja." Jawab Aleta, lalu pintu kamar Aleta perlahan terbuka dan masuklah ibu Aleta yang masuk dengan membawa nampan berisi susu hangat yang akan di berikan untuk Aleta.
"Kamu belajarnya lama banget ta.." Kata ibu Aleta sembari menyodorkan susu hangat di hadapan Aleta.
Aleta menerima susu itu lalu tersenyum. "Makasih mah.." Lalu pandangan Aleta ke arah buku buku yang berada di atas meja belajarnya itu. "Iya nih mah, aku banyak pr buat besok. Jadi, lama deh..."
Ibu Aleta mengelus sayang rambut Aleta. "Jangan terlalu belajar berlebihan leta, engga baik. Yaudah nanti kalo prnya udah selesai semua, kamu langsung tidur ya?"
Aleta mengangguk semangat. "Mm! Pasti kok mah."
"Oiyah tadi ada nak Alexi kan?"
Aleta mengangguk. "Iya mah, tapi Alexi buru-buru jadi dia pulang gak pamit dulu deh sama mamah."
"Iyah gak apa-apa."
"Kamu pacaran ya sama nak Alexi? Hayo ngaku.."
"Apasih mamah..."
Prok.. Prok.. Prok.. Suara tepukan tangan bersamaan dengan lampu yang menyala membuat Al yang baru saja samai di rumahnya terkejut. Perbuatan siapa lagi kalau bukan Brata ayah Al, namun ia tidak sendiri. Ibunya Nency ikut ambil andil di sini. Namun, beda dengan Brata yang penuh amarah, nency hanya mengikuti perkataan suaminya. Tidak aneh wajah merasa bersalah Nency sangat nampak.
Brata menghampiri ke arah Al dengan wajah penuh amarah, seprti harimau kelaparan yang ingin memangsa. "Dari mana aja kamu?!" Selalu! Brata tidak pernah bisa lembut dengan Al.
"Main." Jawab Al santai.
"Main aja kerjaan kamu Al! Harusnya kamu melakukan sesuatu untuk bisa merebut apa yang Alexi punya sekarang!"
"Kenapa harus Al?"
"Apa maksudmu?"
"Kenapa harus Al yang merebut apa yang Alexi punya, kenapa gak papah aja?"
Plak! Brata menampar Al cukup keras membuat pipi Al berbekas warna merah bergambar telapak tangan sang ayah. Nency sebenarnya juga terkejut dan tidak tega, namun Nency tidak bisa berbuat apa-apa karena kalau ia gegabah mungkin Al lebih parah dapat perlakuan dari suaminya itu.
"Dengar Al! Kamu harus bisa mengambil hati eyangmu bagaimanapun caranya! Walau pakai cara kotor dan hina sekalipun, supaya kita semua berbahagia pada akhirnya."
Al tersenyum remeh ke arah sang ayah. "Berbahagia pada akhirnya? Hahaha. Al udah pernah coba cara yang menjijikan pah! Tapi apa kenyataannya? Kita masih sama, jauh di bawah jeluarganya Alexi." Setelah berbicara seperti itu Al berbalik dan meninggalkan Brata dan Nency yang terdiam menatapi Al dengan amarah namun, Nency menatap kasian ke arah anak semata wayangnya.
"Dasar pecundang!"
Al berhenti sebentar lalu kembali melangkah, tidak menghiraukan perkataan sang ayah.